Chapter Fourteen
Ini Bukan Kencan
POV: Alya
Aku dan Raka pergi berdua pada hari Sabtu.
Bukan kencan.
Aku perlu mengatakan itu dari awal karena Naya punya pendapat berbeda.
Awalnya benar-benar ada urusan.
Aku harus mencari buku referensi untuk tugas, dan Raka pernah bilang toko buku dekat kampus punya bagian akademik yang cukup lengkap.
Jadi aku mengirim pesan.
*Besok kamu sibuk?*
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
*Siang nggak. Kenapa?*
*Temenin cari buku?*
Ada jeda.
Lalu:
*Boleh. Jam berapa?*
Sederhana.
Normal.
Tidak ada kata kencan.
Jadi bukan kencan.
Naya tidak setuju.
“Kalian pergi berdua hari Sabtu.”
“Cari buku.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Makan?”
“Mungkin.”
“Berdua?”
Aku menatapnya.
Dia mengangkat kedua tangan. “Baik. Bukan kencan.”
Nada suaranya menyebalkan.
Hari Sabtu aku tiba lima menit lebih awal.
Raka ternyata sudah ada.
Dia berdiri dekat pintu toko buku dengan kemeja kasual sederhana dan celana gelap.
Aku berhenti sepersekian detik.
Selama ini aku selalu melihatnya dalam pakaian kampus.
Versi hari libur ternyata...
Bagus juga.
Raka melihatku.
Senyumnya muncul.
“Hai.”
“Hai. Lama?”
“Nggak.”
“Kamu duluan.”
“Baru.”
Aku curiga dia berbohong, tapi kali ini kubiarkan.
Kami masuk.
Mencari buku ternyata selesai lebih cepat daripada perkiraanku. Raka tahu rak yang harus dituju. Dia bahkan membantu membandingkan dua edisi yang kubutuhkan.
Dua puluh lima menit kemudian aku sudah memegang kantong belanja.
Seharusnya kami pulang.
Aku tidak mau pulang.
Untungnya perutku memberikan alasan.
“Kamu udah makan?”
Raka menggeleng. “Belum.”
“Makan?”
“Boleh.”
Satu kata yang belakangan terlalu sering membuatku senang.
Kami memilih tempat makan kecil tidak jauh dari toko buku.
Bukan restoran mewah.
Mejanya kayu sederhana, musiknya pelan, dan menu ditulis di papan dekat kasir.
Raka sempat terlihat ragu.
“Tempatnya nggak apa-apa?”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Ya... sederhana.”
Aku melihat sekeliling.
“Terus?”
“Nggak apa-apa.”
Aku baru memahami maksudnya.
Mungkin karena dia tahu keluargaku cukup berada.
Aku menahan keinginan untuk menghela napas.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku lapar.”
Dia menunggu.
“Kalau makanannya enak, aku nggak peduli kursinya berapa.”
Raka tertawa kecil.
“Oke.”
Kami memesan.
Aku mengambil satu kentang dari piringnya setelah makanan datang.
Raka melihat tanganku.
“Apa?”
“Punyaku.”
“Sekarang punyaku.”
“Kamu punya kentang sendiri.”
“Yang kamu lebih renyah.”
Dia menatap kedua piring.
“Bentuknya sama.”
“Perasaan.”
Raka menggeleng, tapi membiarkanku mengambil satu lagi.
Aku tersenyum puas.
Percakapan kami mengalir.
Tentang buku.
Tentang kelas.
Tentang keluarga sedikit.
Tentang hal-hal bodoh yang pernah dilakukan Dimas dan Naya.
Aku baru tahu Raka punya kebiasaan merapikan meja sebelum belajar karena kalau berantakan dia tidak bisa fokus.
Raka baru tahu aku sering kehilangan jepit rambut lalu menemukannya di tempat yang sama.
“Berarti bukan hilang,” katanya.
“Hilang sementara.”
“Itu namanya lupa.”
“Jangan menghakimi.”
Dia tertawa.
Aku berhenti makan sesaat.
Lagi-lagi.
Kalau Raka tertawa seperti itu, wajahnya berubah.
Lebih terbuka.
Lebih hangat.
Aku suka.
Wah.
Aku cepat-cepat minum.
Setelah makan, kami tidak langsung pulang.
Ada kedai minuman kecil di dekat sana.
Raka bertanya, “Mau?”
Aku mengangguk.
Kami duduk lagi.
Satu jam berubah menjadi dua.
Tidak ada yang terburu-buru.
Pada satu titik aku menyadari sesuatu yang membuat jantungku berdebar kecil.
Kalau tujuan kami hanya membeli buku, urusannya sudah selesai lama.
Kami masih bersama karena kami ingin.
Bukan karena tugas.
Bukan karena kebetulan.
Bukan karena orang lain.
Aku menatap Raka yang sedang menjelaskan kenapa Dimas tidak boleh dipercaya memilih film.
Ini kencan nggak, sih?
Aku hampir tertawa sendiri.
Tidak.
Aku tidak akan memberi Naya kemenangan semudah itu.
Raka tiba-tiba berhenti.
“Kenapa senyum?”
“Nggak apa-apa.”
“Kayaknya ada.”
Aku menggeleng.
Kemudian sengaja bertanya, “Kamu senang hari ini?”
Raka tidak menjawab langsung.
Dia melihatku sebentar.
“Iya.”
Jantungku bergerak.
“Kenapa?”
Aku memang sengaja.
Raka pasti tahu.
Dia tetap menjawab.
“Karena sama kamu.”
Selesai.
Aku yang memulai.
Aku juga yang kalah.
Aku menatap minuman.
Pipiku panas.
Raka sepertinya baru sadar kalimatnya bisa terdengar seperti rayuan.
“Bukan maksud—”
“Jangan minta maaf.”
Dia berhenti.
Aku mengingat kejadian perpustakaan dan hampir tertawa.
“Kamu sering banget mau minta maaf.”
“Refleks.”
“Dikurangin.”
“Oke.”
Aku mengangkat wajah.
Raka tersenyum.
Tidak menggoda.
Tidak mencoba mengambil keuntungan dari reaksiku.
Itulah yang justru membuatnya lebih parah.
Sore mulai turun ketika kami akhirnya pulang.
Raka menemaniku sampai titik jemput.
Saat kendaraan datang, aku mengangkat kantong buku.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
“Lain kali lagi.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Raka menatapku.
Aku menahan napas.
Kemudian dia tersenyum.
“Boleh.”
Sepanjang perjalanan pulang, aku beberapa kali melihat ponsel.
Tidak ada pesan.
Lima menit kemudian layar menyala.
*Udah jalan?*
Aku menjawab.
*Udah.*
*Hati-hati.*
Aku tersenyum.
Sesampainya di rumah, Naya sudah mengirim pesan.
*Gimana kencannya?*
Aku mengetik:
*Itu bukan kencan.*
Balasan datang.
*Pergi berdua?*
*Iya.*
*Makan berdua?*
*Iya.*
*Ngobrol sampai sore?*
Aku menatap layar.
*Iya.*
Tiga titik muncul.
*Baik. Bukan kencan.*
Aku melempar ponsel ke kasur.
Kemudian ikut menjatuhkan diri di sampingnya.
Wajah Raka saat mengatakan “karena sama kamu” muncul lagi.
Aku menutupi wajah dengan kedua tangan.
Ini parah.
Ponsel berbunyi lagi.
Kali ini Raka.
*Makasih buat hari ini. Seru.*
Aku tersenyum begitu lebar sampai pipiku sakit.
Aku mengetik tanpa terlalu banyak berpikir.
*Aku juga. Lain kali lagi.*
Kirim.
Aku menatap dua kata terakhir.
Lain kali.
Ya.
Aku benar-benar menginginkan ada lain kali.
Mau disebut kencan atau bukan, ternyata itu tidak terlalu penting.
Yang penting aku ingin pergi bersamanya lagi.
Dan mungkin, hanya mungkin, aku mulai tidak keberatan kalau suatu hari nanti Naya benar.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan reading
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat