Chapter Thirteen
Terlalu Dekat
POV: Raka
Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang kehilangan konsentrasi saat mengerjakan tugas.
Notifikasi ponsel.
Suara orang ngobrol.
Lapar.
Kurang tidur.
Aku menemukan satu kategori baru.
Alya duduk terlalu dekat.
Kami berada di perpustakaan, di meja panjang dekat jendela. Awalnya posisi kami normal. Aku di satu kursi, Alya di kursi sebelah dengan jarak yang cukup.
Lalu dia ingin melihat bagian presentasi di laptopku.
Kursinya bergeser.
Sedikit.
Kemudian sedikit lagi.
Sekarang lengannya hampir menyentuh lenganku.
Aku menatap layar.
Slide ketujuh berisi grafik.
Aku sudah membaca grafik itu tiga kali.
Tidak ada satu angka pun yang masuk.
“Yang ini terlalu penuh nggak?” tanya Alya.
“Hm.”
“Hm apa?”
Aku berkedip.
“Sedikit penuh.”
“Bagian mana?”
Dia mendekat lagi untuk melihat layar.
Lengan kami bersentuhan.
Otakku berhenti.
Manusia ternyata punya lengan.
Informasi revolusioner.
Aku mencoba menggerakkan kursor.
Salah klik.
Slide pindah ke halaman pertama.
Alya menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kok salah terus?”
“Mouse-nya.”
Alya melihat mouse.
Kemudian melihatku.
Aku tahu ekspresi itu.
Dia tidak percaya.
“Mouse-nya kenapa?”
“Licin.”
“Raka.”
Aku menahan napas kecil.
Alya tersenyum.
Dia tahu.
Entah sejak kapan Alya mulai menikmati membuatku gugup, tapi sekarang dia melakukannya dengan kesadaran penuh.
Dia tidak menjauh.
Justru sedikit memiringkan badan agar bisa melihat wajahku.
“Kamu gugup?”
Aku bisa menyangkal.
Pilihan paling aman.
Masalahnya, aku tidak pandai berbohong kepadanya.
“Sedikit.”
Senyum Alya melebar.
“Kenapa?”
Aku menatap layar.
Tidak membantu.
Aku tetap bisa merasakan jaraknya.
Akhirnya aku melihatnya.
“Kamu dekat banget.”
Hening.
Senyum Alya berhenti sepersekian detik.
Matanya membesar sedikit.
Aku baru sadar kalimat itu mungkin terdengar seperti sesuatu yang lain.
“Bukan maksudku—”
“Jangan minta maaf.”
Aku berhenti.
Alya sudah mundur sedikit.
Tidak jauh.
Cukup untuk membuat bahu kami tidak lagi bersentuhan.
Anehnya aku justru merasa kehilangan sesuatu.
“Maaf,” kataku refleks.
Alya menatapku.
Aku menutup mulut.
Dia tertawa pelan.
“Baru dibilang jangan.”
“Refleks.”
“Kenapa minta maaf terus?”
Aku memikirkan jawabannya.
“Takut bikin kamu nggak nyaman.”
Ekspresi Alya berubah.
Bukan lagi menggoda.
Lebih lembut.
“Aku nggak nggak nyaman.”
Kalimatnya sedikit berantakan.
Dia sendiri menyadarinya.
Aku menahan senyum.
Alya menyipitkan mata.
“Jangan senyum.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu.”
Aku tidak tahu.
Tapi aku mulai punya dugaan.
Dan dugaan itu jauh lebih berbahaya daripada jarak kursi.
Kami kembali mengerjakan tugas.
Alya tidak memindahkan kursinya kembali ke posisi awal.
Jarak kami tetap dekat.
Tidak sedekat tadi.
Tapi cukup untuk membuatku sadar setiap kali dia bergerak.
Beberapa menit kemudian, tangannya meraih pulpen yang berada di antara kami.
Tanganku juga.
Jari kami bersentuhan.
Keduanya berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Alya menarik tangan lebih dulu.
“Ambil aja.”
“Kamu dulu.”
“Kan kamu yang mau.”
“Kamu juga.”
Kami saling menatap.
Lalu sama-sama tertawa kecil karena betapa bodohnya situasi itu.
Alya mengambil pulpennya.
Aku mencoba kembali membaca.
Tangannya tadi nyentuh.
Aku benar-benar harus menaikkan standar ketahanan mental.
Setelah tugas selesai, kami keluar perpustakaan bersama.
Dimas dan Naya yang tadinya ikut sudah pergi lebih dulu karena punya urusan masing-masing.
Aku dan Alya berjalan berdua menuju halaman.
“Capek?” tanyaku.
“Lumayan.”
“Mau minum?”
“Boleh.”
Kami berhenti di mesin minuman.
Alya memilih satu botol, lalu melihatku.
“Kamu tadi beneran gugup?”
Aku hampir menjatuhkan uang kembalian.
“Masih dibahas?”
“Iya.”
Aku menyerahkan botol kepadanya.
“Beneran.”
Alya menerimanya.
“Karena aku dekat?”
“Iya.”
Dia menatap botolnya, bukan aku.
Aku mulai curiga pipinya sedikit merah.
Apa mungkin...
Pikiran itu datang cepat.
Aku langsung menahannya.
Alya bisa saja cuma malu karena percakapan kami terlalu langsung.
Jangan mengambil kesimpulan.
Tapi kemudian dia berkata, “Kalau aku dekat lagi, gugup lagi?”
Aku menoleh.
Alya sekarang menatapku.
Ada kilatan nakal di matanya.
Aku menghela napas.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Besar kemungkinan.”
Dia tertawa.
Aku ikut tersenyum.
Kami berjalan lagi.
Beberapa meter kemudian, Alya sengaja berjalan sedikit lebih dekat.
Bahu kami bersentuhan ringan.
Dia tidak menjauh.
Aku juga tidak.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Tapi seluruh perjalanan menuju gerbang terasa berbeda.
Malamnya aku berbaring sambil menatap chat terakhir dari Alya.
*Tugasnya jangan lupa dikirim.*
Aku sudah menjawab.
*Udah.*
Seharusnya selesai.
Tetapi pikiranku kembali ke perpustakaan.
Ke jarak kursi.
Ke jari yang bersentuhan.
Ke pertanyaannya.
Kalau aku dekat lagi, gugup lagi?
Aku menutup wajah dengan tangan.
Ada kemungkinan yang mulai tumbuh, meskipun aku terus berusaha realistis.
Apa dia tadi sengaja?
Aku diam cukup lama.
Kemudian menjawab diriku sendiri.
Enggak.
Beberapa detik.
Aku mengingat bahunya yang sengaja menyentuh bahuku saat berjalan.
...tapi kalau iya?
Aku mematikan layar ponsel.
Tidur.
Besok ada kelas.
Sayangnya, jantungku tidak tertarik pada logika jadwal kuliah.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat reading
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat