Chapter Eleven
Sedang Mengetik...
POV: Raka
Aku mendapatkan nomor Alya karena sebuah file PDF.
Kalau dipikir-pikir, itu jauh lebih aman daripada semua skenario yang pernah muncul di kepalaku.
Tidak perlu mencari alasan aneh.
Tidak perlu berdiri di depannya sambil bertanya apakah boleh minta nomor.
Tidak perlu memikirkan kemungkinan dia salah paham.
Hanya file PDF.
“Rak, kamu punya materi minggu lalu?” tanya Alya setelah kelas umum selesai.
Aku sedang memasukkan buku ke tas. Tanganku berhenti sepersekian detik.
“Yang dari Pak Arman?”
“Iya. Punyaku ada halaman yang nggak kebuka.”
“Ada.”
“Boleh kirim?”
“Tentu.”
Jawabanku terlalu cepat.
Alya tersenyum.
“Lewat apa?”
Nah.
Pertanyaan sederhana.
Efeknya tidak sederhana.
Aku menyebut aplikasi chat yang biasa kupakai. Alya mengangguk, lalu membuka ponsel.
Beberapa detik kemudian aku berdiri dengan ponsel di tangan sambil mengetik nomor yang dia sebutkan.
Dimas ada dua meter dariku.
Aku tidak melihatnya.
Aku tahu kalau melihatnya, konsentrasiku akan rusak.
Kontak baru muncul.
*Alya Maheswari.*
Aku menatap nama itu sedikit terlalu lama.
“Udah?” tanya Alya.
“Udah.”
Ponselnya berbunyi ketika kukirim pesan singkat supaya nomorku ikut tersimpan.
Dia melihat layar.
“Raka.”
“Iya.”
“Foto profilmu kosong.”
Aku mengangguk. “Iya.”
“Kenapa?”
“Nggak punya foto yang bagus.”
Alya menatapku seolah jawaban itu kurang memuaskan.
“Padahal bisa foto sekarang.”
Aku hampir menatapnya terlalu lama.
Itu bercanda, kan?
Alya tersenyum kecil.
Aku akhirnya membalas, “Nanti kalau fotografernya bagus.”
Dia terdiam.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuatku sadar mungkin aku baru saja membalas godaannya.
Lalu Alya tertawa.
“Oke. Nanti cari yang bagus.”
Dimas yang berdiri di belakangku tiba-tiba batuk.
Aku tahu batuk palsu kalau mendengarnya.
Aku tidak menoleh.
Setelah kami berpisah, Dimas baru bicara.
“Fotografernya bagus.”
“Diam.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Kamu mengulang.”
“Itu bukan ngomong?”
Aku mempercepat langkah.
Sore itu aku mengirim PDF yang diminta.
*Ini filenya. Coba cek halaman 12.*
Balasan datang satu menit kemudian.
*Bisa! Makasih, Raka.*
Aku mengetik:
*Sama-sama.*
Selesai.
Aku meletakkan ponsel.
Bagus.
Normal.
Keperluan selesai.
Tiga menit kemudian layar menyala lagi.
*Kamu ngerti bagian tugas terakhir nggak?*
Aku langsung mengambil ponsel.
Percakapan berlanjut soal tugas.
Lima menit.
Sepuluh.
Lalu tugas selesai dibahas.
Aku pikir chat akan berhenti.
Alya mengirim:
*Btw Dimas tadi kenapa batuk-batuk?*
Aku menatap pesan itu.
Dia sadar.
Aku mengetik:
*Alergi.*
Tiga titik muncul.
Alya sedang mengetik...
Hilang.
Muncul lagi.
Aku tidak tahu kenapa indikator tiga titik bisa membuat seseorang begitu fokus.
Pesan masuk.
*Alergi apa?*
Aku mengetik:
*Urusan orang lain.*
Balasan datang hampir langsung.
*Kasihan banget 😭*
Aku tertawa kecil.
Dimas yang sedang duduk di ujung meja kosku menoleh dari laptop.
“Kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Dia melihat ponselku.
Lalu wajahku.
“Ah.”
Aku meletakkan ponsel terbalik.
“Kerjain tugasmu.”
“Aku lagi ngerjain.”
Ponselku berbunyi.
Dimas tersenyum.
“Silakan.”
Aku mengambilnya lagi.
Alya sudah mengubah topik.
Dia mengirim foto minuman dengan tulisan:
*Ini yang kemarin kamu bilang enak?*
Aku memang pernah menyebut satu menu ketika kami bicara di kantin.
Aku tidak menyangka dia ingat.
*Iya. Tapi yang less sugar.*
*Aku udah pesan normal 😭*
*Semoga selamat.*
*Jahat.*
Aku tersenyum lagi.
Percakapan itu tidak penting.
Justru itu yang membuatnya terasa penting.
Kami tidak lagi bicara karena formulir, tugas, atau kebetulan berdiri di tempat yang sama.
Alya mengirim sesuatu hanya karena dia ingin mengirimnya kepadaku.
Dan aku bisa membalas tanpa harus mengambil jalan memutar.
Malam semakin larut.
Topiknya berpindah dari minuman ke dosen, dari dosen ke tugas, dari tugas ke Dimas, lalu entah bagaimana sampai ke makanan yang tidak disukai.
Aku mengetahui Alya tidak suka kismis.
Informasi itu sama sekali tidak berguna.
Aku tetap mengingatnya.
Sekitar pukul sebelas, percakapan mulai melambat.
Aku melihat tulisan:
*Alya sedang mengetik...*
Hilang.
Aku menunggu.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Aku menatap layar seperti orang tidak punya pekerjaan.
Akhirnya pesan masuk.
*Besok kamu kelas pagi?*
*Iya. Jam 8.*
*Sama.*
Lalu beberapa detik.
*Tidur sana. Nanti bangun telat.*
Aku tersenyum.
*Kamu juga.*
Aku pikir selesai.
Kemudian satu pesan terakhir muncul.
*Selamat tidur, Raka.*
Dadaku menghangat dengan cara yang sudah mulai kukenal.
Aku mengetik jawaban.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Dimas yang masih di kamar menatapku.
“Negosiasi internasional?”
“Belum pulang?”
“Ini kosku juga.”
Aku lupa.
Aku kembali ke layar.
Akhirnya kukirim sesuatu yang seharusnya sejak awal saja.
*Selamat tidur, Alya.*
Dia memberi reaksi hati kecil pada pesan itu.
Aku membeku.
Dimas melihat ekspresiku.
“Apa?”
“Nggak ada.”
“Kalau nggak ada, kenapa mukamu kayak baru lulus sidang?”
Aku mengunci layar.
“Tidur.”
“Ini masih jam sebelas.”
“Ya terserah.”
Dimas tertawa.
Lampu kamar akhirnya dimatikan beberapa waktu kemudian.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit.
Dulu, satu-satunya cara untuk melihat Alya adalah berharap kami berpapasan.
Sekarang namanya ada di ponselku.
Aku bisa mengirim pesan.
Dia juga bisa mencariku.
Pikiran itu sederhana.
Efeknya tidak.
Ponselku ada di samping bantal.
Aku tidak membukanya lagi.
Tapi sebelum tidur, aku masih mengingat satu hal.
Bukan emoji hati kecilnya.
Bukan chat panjang kami.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Dia mengingat minuman yang pernah kuceritakan.
Aku menutup mata sambil tersenyum.
Akses kecil ke kehidupan seseorang ternyata bisa terasa seperti hadiah besar ketika orang itu adalah Alya.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik... reading
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat