← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Ten

Sekarang Giliranku

POV: Alya

Ada tahap tertentu ketika alasan yang kita buat untuk diri sendiri berhenti terdengar meyakinkan.

Aku sampai di tahap itu pada hari Kamis.

“Aku mau lewat gedung barat dulu,” kataku.

Naya yang sedang memasukkan buku ke tas berhenti.

“Kenapa?”

“Pengen aja.”

“Tujuan kita kantin.”

“Iya.”

“Kantin di tengah.”

“Aku tahu.”

“Gedung barat di barat.”

Aku menatapnya.

Dia menatap balik.

Tidak ada yang bergerak.

Akhirnya Naya menyampirkan tas ke bahu. “Baiklah.”

“Kok baiklah?”

“Takut kalau banyak tanya nanti jawabannya makin kreatif.”

Aku mendecakkan lidah lalu keluar kelas.

Sebenarnya aku tahu persis kenapa ingin lewat sana.

Raka punya kelas di gedung barat pada jam sebelumnya.

Aku pernah melihatnya keluar sekitar waktu ini.

Dan setelah kejadian beberapa hari lalu, rasa ingin melihatnya justru semakin sulit disebut sekadar penasaran.

Aku ingin melihat apakah dia ada.

Itu saja.

Dan mungkin mau lihat dia senyum.

Baik.

Dua hal.

Kami menuruni tangga.

Naya masih diam.

Aneh sekali. Biasanya dia sudah memberikan minimal tiga komentar.

“Kenapa diam?” tanyaku.

“Aku mendukung.”

“Mendukung apa?”

“Perjalanan kita.”

“Naya.”

“Hm?”

Aku tahu dia sengaja.

Kami keluar menuju koridor panjang yang menghubungkan gedung.

Semakin dekat ke gedung barat, aku semakin sadar betapa tidak natural rute ini.

Kalau Raka dulu benar-benar melakukan hal yang sama untuk melewati kantin, aku sekarang mulai memahami campuran malu dan senang yang mungkin dia rasakan.

Apa dia juga begini?

Memikirkan Raka merencanakan jalan hanya untuk mendapatkan kemungkinan melihatku membuat pipiku hangat.

Menyebalkan.

Tapi manis.

Sangat manis.

“Kenapa senyum?” tanya Naya.

“Aku nggak senyum.”

“Kalimat itu sudah basi.”

Kami tiba dekat halaman gedung barat.

Belum ada Raka.

Aku memperlambat langkah.

Naya ikut.

“Kalau ditanya kenapa kita di sini, jawab apa?” katanya.

Aku tidak berpikir panjang.

“Aku cuma kebetulan lewat.”

Naya berhenti.

Aku baru sadar apa yang kukatakan.

Wajahnya berubah perlahan.

Pertama kaget.

Lalu sangat terhibur.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Jangan ketawa.”

“Aku belum ketawa.”

Bahu Naya sudah bergerak.

“Naya.”

Dia menutup mulut.

Aku berjalan lebih cepat.

Ya ampun.

Aku benar-benar sudah menjadi Raka.

Belum sempat rasa malu itu hilang, pintu gedung terbuka.

Beberapa mahasiswa keluar.

Lalu aku melihatnya.

Raka.

Dia sedang bicara dengan Dimas.

Aku otomatis melambat lagi.

Kali ini Naya cukup baik untuk tidak berkomentar.

Raka belum melihatku.

Aku punya pilihan.

Bisa terus berjalan dan menunggu mata kami bertemu seperti biasa.

Atau—

“Raka!”

Namanya keluar sebelum aku berubah pikiran.

Dia menoleh.

Dan ada ekspresi itu lagi.

Kejutan kecil.

Mata yang sedikit lebih cerah.

Senyum tulus yang langsung muncul ketika tahu aku yang memanggil.

Dadaku berbunga dengan cara yang sangat memalukan.

Raka mendekat bersama Dimas.

“Hai.”

“Hai.”

Aku tersenyum. “Baru selesai?”

“Iya. Kamu ada kelas sini?”

Pertanyaan yang sangat wajar.

Sayangnya jawabannya tidak.

Aku melirik Naya.

Pengkhianat itu malah melihat ke arah lain.

“Nggak,” jawabku.

Raka menunggu.

Aku bisa saja mengarang.

Tapi setelah mendengar kebohongannya yang buruk beberapa hari lalu, rasanya tidak adil kalau aku lebih ahli.

“Cuma lewat.”

Sudut bibir Raka bergerak.

Bukan senyum penuh.

Tapi aku tahu dia menahan sesuatu.

“Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Nada itu.

Sekarang aku mengerti kenapa dia terlihat kesal setiap Dimas menggunakannya.

Aku menyipitkan mata.

Raka akhirnya tersenyum.

Dan aku tiba-tiba merasa senang karena berhasil membuatnya begitu.

Dimas dan Naya saling pandang.

Aku tidak tahu komunikasi rahasia apa yang terjadi di antara mereka, tapi keduanya memilih diam.

Kami akhirnya berjalan bersama sampai persimpangan.

Percakapannya ringan.

Dimas mengeluh tentang dosen.

Naya ikut menimpali.

Aku dan Raka sesekali bicara di sela-sela mereka.

Yang menarik, sekarang rasanya tidak secanggung pertemuan pertama kami.

Aku bisa bertanya sesuatu tanpa mencari alasan.

Raka juga mulai lebih santai.

Ketika aku mengeluh belum makan sejak pagi, dia menatapku.

“Kenapa nggak makan?”

“Nggak sempat.”

“Jangan dibiasain.”

Aku menaikkan alis.

“Kamu nyuruh?”

Raka sedikit terdiam.

Aku sengaja menunggu.

“Ngasih saran.”

Aku tertawa.

“Takut, ya?”

“Lumayan.”

Jawabannya begitu jujur sampai aku yang terdiam.

Raka tersenyum kecil.

Bahaya.

Kalau dia terus menjawab seperti itu, aku tidak yakin siapa yang sebenarnya sedang menggoda siapa.

Kami sampai di persimpangan.

Raka dan Dimas harus ke arah parkiran. Aku dan Naya menuju kantin.

“Duluan,” kata Raka.

Aku mengangguk.

Lalu sebelum dia pergi, aku berkata, “Besok lewat kantin?”

Aku sendiri kaget mendengar pertanyaan itu.

Raka juga.

Dimas langsung melihat ke langit.

Naya menunduk.

Raka menatapku beberapa detik.

“Ada kemungkinan.”

Aku menahan senyum. “Kebetulan?”

Sekarang dia benar-benar tertawa kecil.

“Mungkin.”

“Ya sudah.”

Kami berpisah.

Begitu Raka cukup jauh, Naya meraih lenganku.

“Alya.”

“Apa?”

“Kamu tadi ngajak dia lewat kantin.”

“Nggak ngajak.”

“Terus?”

“Cuma nanya.”

“Bedanya tipis.”

Aku mencoba mempertahankan wajah datar.

Gagal.

Naya melihatku dan akhirnya tertawa.

Aku ikut tertawa, setengah malu, setengah tidak peduli lagi.

Saat makan siang, aku memilih kursi yang menghadap jalur depan.

Naya melihat.

Tidak berkomentar.

Aku juga tidak menjelaskan.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu.

Besok aku mungkin akan menunggu Raka lewat.

Dan sekarang aku tahu kenapa.

Bukan karena ingin memastikan dia menyukaiku.

Bukan pula karena penasaran pada kebiasaannya.

Aku ingin melihatnya karena aku sendiri senang melihatnya.

Sore itu, ketika pulang, aku mengulang percakapan kami di kepala.

Cara Raka menjawab “lumayan” ketika kutanya apakah dia takut.

Cara dia tertawa saat kusebut kebetulan.

Cara wajahnya berubah ketika aku memanggil namanya.

Aku suka dia?

Pertanyaan itu membuat jantungku berdebar.

Aku belum siap menjawabnya keras-keras.

Tapi kali ini aku juga tidak buru-buru menyangkal.

Besoknya, sekitar jam makan siang, aku duduk bersama Naya di kantin tengah.

Aku tidak melihat jam.

Setidaknya tidak sering.

Ketika sosok Raka akhirnya muncul dari ujung jalur, aku langsung menemukannya.

Dia juga menemukan mataku.

Senyum kami muncul hampir bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar permainan kecil ini sudah berubah.

Dulu Raka yang mengambil jalan lebih panjang hanya untuk melihatku.

Sekarang aku juga tahu rasanya.

Ternyata menyenangkan.

Sangat menyenangkan.

Sekarang giliranku.