← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Twenty Six

Jadi Kalian Baru Jadian?

POV: Raka

Hubungan kami diketahui orang lain karena Alya lupa bahwa tidak semua orang sudah tahu.

Menurutku itu alasan yang cukup akurat.

Kami sedang duduk bersama beberapa teman setelah kelas. Dimas ada. Naya ada. Dua teman seangkatan lain juga ada.

Aku sedang menjelaskan sesuatu ketika Alya datang.

Dia menyapa semua orang.

Lalu, tanpa berpikir, duduk di sebelahku dan mengambil tanganku.

Natural.

Seperti yang selalu dia lakukan kalau hanya ada kami atau Dimas dan Naya.

Percakapan berhenti.

Aku melihat teman di seberang.

Dia melihat tangan kami.

Kemudian wajahku.

Kemudian Alya.

“Kalian pacaran?”

Aku belum sempat menjawab.

“Iya,” kata Alya.

Mudah sekali.

Teman itu mengangguk.

“Oh.”

Aku menunggu reaksi berikutnya.

Dia malah bertanya, “Baru?”

Aku mengernyit. “Maksudnya?”

“Kirain dari dulu.”

Teman satunya ikut tertawa.

“Iya. Kalian sering bareng.”

Aku menatap Alya.

Dia menatapku.

Kami sama-sama sedikit salah tingkah.

Dimas mulai tertawa.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.”

Alya menunjuknya. “Kamu jangan mulai.”

Naya yang duduk di sebelah Alya ikut tersenyum.

Teman kami mulai menyebut bukti.

Raka sering muncul di kantin tengah.

Alya sering mencari Raka.

Kami makan bersama.

Pulang bersama.

Pernah pergi berdua sebelum resmi.

Aku mendengarkan daftar itu dan mulai menyadari satu hal.

Mungkin memang tidak halus.

“Serius baru?” tanya salah satu lagi.

Alya mengangguk.

“Beberapa minggu.”

“Wah.”

Aku tidak tahu kenapa “wah” terdengar seperti penilaian.

Dimas akhirnya berkata, “Kalian nggak tahu setengahnya.”

Aku menoleh tajam.

Alya juga.

Naya langsung tertarik.

“Setengah apa?”

“Dia,” Dimas menunjukku, “muter kantin berbulan-bulan.”

“Dim.”

Terlambat.

Alya menatapku dengan mata berbinar.

“Aku tahu dia muter. Tapi berbulan-bulan?”

Dimas mengangguk.

“Korban jalannya gue.”

“Dimas.”

“Gue cuma memberi konteks sejarah.”

Naya tertawa.

Kemudian dia berkata, “Alya juga pernah sengaja nungguin.”

Sekarang Alya yang menoleh.

“Naya.”

Aku langsung tertarik.

“Nungguin?”

“Jangan dengar.”

Naya sudah mulai.

“Pernah juga sengaja lewat gedung barat.”

Aku menatap Alya.

Dia menutup wajah dengan satu tangan.

Dimas menatap Naya.

“Kamu tahu Raka sengaja lewat kantin?”

“Tahu.”

“Sejak kapan?”

“Lama.”

“Kenapa nggak bilang?”

Naya mengangkat alis. “Kamu sendiri kenapa nggak bilang Alya juga suka?”

Dimas berhenti.

Keduanya saling pandang.

Hening.

Aku dan Alya ikut melihat mereka.

Akhirnya Dimas berkata, “Karena bukan rahasia gue buat dibocorin.”

Naya mengangguk. “Sama.”

Aku tersenyum kecil.

Di balik semua ejekan, mereka memang menjaga kami.

Dimas bisa saja memberitahu Alya sejak awal.

Naya juga bisa memberitahuku.

Mereka tidak.

Karena bagian menyenangkan sekaligus menyiksa itu memang harus kami temukan sendiri.

Alya menggoyangkan tangan kami yang masih bertaut.

Aku menoleh.

Dia tersenyum.

“Jadi semua orang tahu?”

“Kayaknya.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

Alya mengangkat bahu. “Biar aku nggak perlu pura-pura.”

Dadaku hangat.

Dulu aku bahkan takut terlihat terlalu lama memandangnya.

Sekarang Alya duduk di sampingku dan dengan santai mengatakan kepada orang lain bahwa aku pacarnya.

Tidak ada rasa malu.

Tidak ada ragu.

Aku bukan lelaki yang berdiri jauh dari dunianya.

Aku ada di sebelahnya karena dia sendiri yang memilih.

Salah satu teman kami masih terlihat penasaran.

“Terus siapa yang nembak?”

Alya dan aku saling pandang.

Dimas langsung berkata, “Nah, ini lucu.”

Aku menghela napas.

Alya tertawa.

“Aku yang tanya.”

Teman kami membelalak.

“Kamu?”

“Iya.”

“Raka ngapain?”

Alya menjawab sebelum aku bisa menyelamatkan diri.

“Dia suka aku dari hari pertama dan nggak punya rencana jelas buat bilang.”

Semua orang melihatku.

Aku mempertahankan wajah setenang mungkin.

Dimas menepuk bahuku.

“Legenda.”

“Diam.”

Meja meledak tertawa.

Aku ikut tertawa pada akhirnya.

Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Aneh, ternyata rasanya ringan.

Saat semua orang mulai bubar, Alya masih menggenggam tanganku.

Kami berjalan keluar bersama.

“Marah?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Diceritain.”

“Nggak.”

“Bener?”

Aku mengangguk.

Alya merapat sedikit.

“Bagus.”

Kami melewati beberapa mahasiswa.

Dulu aku mungkin otomatis menjaga jarak.

Sekarang tidak.

Tangannya tetap di tanganku.

Dan untuk pertama kalinya, kalau ada orang yang melihat dan bertanya-tanya, aku tidak punya alasan untuk gugup.

Jawabannya sederhana.

Alya pacarku.

Dan ternyata mengakuinya di depan dunia sama menyenangkannya dengan mengakuinya kepada diri sendiri.