← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Five

Ketika Dia Tidak Lewat

POV: Alya

Aku baru tahu sesuatu bisa terasa hilang padahal tidak pernah menjadi milikku.

Hari itu dimulai biasa.

Kelas pagi terlalu dingin, dosen memberi tugas tambahan, dan Naya menghabiskan setengah perjalanan ke kantin dengan mengeluh karena kelompok presentasinya tidak bisa membedakan “revisi sedikit” dengan “ganti semuanya”.

Aku mendengarkan sambil sesekali menjawab.

Kami mengambil meja yang cukup sering kami pakai.

Aku meletakkan tas, membuka minuman, lalu melihat ke jalur depan kantin.

Kosong.

Aku tidak memikirkan apa-apa.

Setidaknya begitu yang kukatakan pada diri sendiri.

Naya masih bicara.

Aku makan beberapa suap.

Lima menit kemudian, pandanganku kembali ke jalur yang sama.

Masih kosong.

Belum lewat.

Aku berhenti mengunyah.

Kenapa ada kata “belum”?

Aku segera memusatkan perhatian pada makanan.

“Nah, terus dia bilang file yang kukirim salah,” kata Naya.

“Hmm.”

“Padahal?”

“Hmm.”

Naya berhenti.

Aku menatapnya. “Kenapa?”

“Aku baru nanya padahal apa.”

“Oh.”

Dia menyipitkan mata.

Aku mengambil minuman.

“Maaf. Terus?”

Naya melanjutkan cerita.

Aku benar-benar mencoba mendengarkan kali ini.

Berhasil sekitar tiga menit.

Kemudian ada beberapa mahasiswa berjalan dari arah koridor.

Mataku otomatis bergerak.

Bukan dia.

Aku kembali melihat Naya.

Kenapa aku nyariin dia?

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa geli sekaligus sedikit malu.

Aku tidak sedang menunggu.

Kami tidak punya janji.

Aku bahkan belum tahu namanya.

Mungkin hari ini dia memang tidak punya kelas di sekitar sini.

Mungkin selama ini aku salah dan dia tidak sesering itu lewat.

Mungkin—

“Kalau lehermu sakit, bilang,” kata Naya.

Aku mengernyit. “Kenapa leherku?”

“Dari tadi nengok terus.”

“Aku lihat orang lewat.”

“Menarik?”

“Biasa aja.”

“Hmm.”

Aku mulai membenci suara itu.

“Naya.”

“Hm?”

“Jangan hmm.”

“Oke.”

Jawaban patuhnya justru lebih menyebalkan.

Aku menatap jalur itu sekali lagi, kali ini dengan sadar.

Tetap tidak ada.

Aneh.

Biasanya ketika cowok itu lewat, tidak terjadi apa-apa. Kami cuma bertatapan sebentar. Kadang senyum. Kemarin dia bahkan menyapaku, dan aku sempat merasa lucu sendiri setelahnya.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada sesuatu yang seharusnya membuat hari berubah.

Tapi sekarang, ketika dia tidak muncul, aku justru menyadari keberadaannya selama ini seperti satu bagian kecil dari jam makan siang.

Seperti lagu yang biasa diputar sebuah kafe lalu mendadak tidak terdengar.

Kita baru sadar karena sunyi.

Ah.

Aku menggigit sedotan.

Jadi aku memang nungguin?

Aku langsung menyangkal.

Enggak.

Lalu beberapa detik kemudian:

Mungkin sedikit.

Aku tidak suka jawaban kedua.

“Nyari siapa?” tanya Naya akhirnya.

“Nggak nyari siapa-siapa.”

Cepat sekali jawabanku sampai terdengar mencurigakan bahkan di telingaku sendiri.

Naya mengangguk perlahan.

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu mau ngomong sesuatu, kan?”

“Nggak.”

Dia mengambil satu kentang gorengku.

Kali ini aku bahkan terlambat protes.

Naya menatap kentang itu, lalu menatapku lagi.

“Wah.”

“Apa?”

“Biasanya yang ini lebih penting daripada hidupku.”

Aku menarik piring mendekat. “Sekarang juga penting.”

“Nah, kembali.”

Aku memutar mata.

Kami selesai makan.

Cowok itu tidak muncul.

Saat berjalan kembali menuju gedung kelas, aku sempat menoleh sekali ke belakang.

Kantin mulai lebih sepi.

Tidak ada tas gelap di bahu.

Tidak ada cowok yang berjalan di samping temannya yang cerewet.

Tidak ada senyum kecil.

Aku merasa konyol.

Memangnya kenapa kalau dia nggak lewat sehari?

Tidak kenapa-kenapa.

Tentu saja.

Sore itu aku bahkan sudah lupa—atau mengira sudah lupa—sampai Naya dan aku keluar kelas.

Di ujung halaman ada seseorang dengan bentuk tubuh yang familiar.

Jantungku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku.

Aku hampir tersenyum.

Lalu orang itu berbalik.

Bukan dia.

Aku menahan langkah sepersekian detik.

Naya melihat.

Aku tahu dia melihat.

Untungnya dia tidak berkata apa-apa.

Itu justru membuatku semakin sadar.

Malamnya, aku duduk di meja belajar sambil membuka laptop. Ada tugas yang harus kuselesaikan, tetapi beberapa kali pikiranku kembali ke jam makan siang.

Bukan karena cowok itu tidak lewat.

Lebih karena aku baru mengetahui bahwa ternyata aku memperhatikan kapan dia lewat.

Perbedaannya kecil.

Efeknya tidak.

Aku menyandarkan dagu pada tangan.

Kenapa aku nungguin dia?

Tidak ada jawaban.

Besoknya aku dan Naya kembali ke kantin pada jam yang hampir sama.

Aku berjanji pada diri sendiri tidak akan melihat jalur itu terus-menerus.

Aku berhasil.

Sekitar dua menit.

Kemudian suara langkah dan percakapan datang dari arah koridor.

Aku menoleh.

Dia ada.

Entah kenapa, bagian dalam dadaku langsung terasa terang.

Cowok itu sedang mendengarkan temannya bicara. Beberapa meter sebelum meja kami, dia mengangkat wajah.

Matanya menemukan mataku.

Dan senyum kecil itu muncul.

Aku membalas sebelum sempat memikirkan apakah seharusnya aku membalas secepat itu.

Dia lewat.

Sederhana.

Seperti biasanya.

Tetapi hari ini aku akhirnya mengerti bahwa hal sederhana itu sudah menjadi sesuatu yang kutunggu.

Naya menyedot minumannya.

Aku menatap piring.

“Dia lewat,” katanya.

Aku langsung menoleh. “Siapa?”

Naya menahan senyum.

Aku tahu aku kalah.

“Bukan siapa-siapa.”

“Hmm.”

Aku tidak memprotes kali ini.

Karena di balik rasa malu yang aneh, aku masih bisa merasakan hangat kecil tadi.

Aku menatap jalur yang sekarang sudah kosong.

Lalu tersenyum sendiri.

Kenapa aku nungguin dia?

Pertanyaannya masih sama.

Hanya saja sekarang aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa aku tidak menunggu.