← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Eight

Ternyata Memang Sengaja

POV: Alya

Sekarang aku tahu namanya.

Raka.

Nama itu cocok dengan wajahnya. Sederhana, tidak berisik, gampang diingat.

Masalahnya, setelah tahu nama, aku jadi semakin mudah menyadari keberadaannya.

“Raka lewat,” kata Naya suatu siang.

Aku langsung menoleh.

Dia tertawa.

Aku baru sadar jebakannya setelah terlambat.

“Naya.”

“Apa?”

“Kamu sengaja.”

“Sengaja apa?”

Aku menatapnya.

Dia kembali makan dengan wajah paling polos yang pernah kulihat.

Raka memang ada di jalur depan kantin, berjalan bersama Dimas. Kali ini dia belum melihat ke arah meja kami.

Aku memperhatikannya beberapa detik.

Ada sesuatu yang sejak beberapa hari lalu mengganggu rasa penasaranku.

Setelah pertemuan di sekretariat, aku tahu kelas Raka sering berada di gedung sebelah barat. Aku juga tahu perpustakaan ada di arah utara.

Kantin tengah tidak benar-benar berada di antara keduanya.

Aku bukan ahli peta kampus.

Tapi aku cukup bisa membaca arah.

Jadi kenapa dia sering lewat sini?

Pertanyaan yang dulu cuma terasa lucu sekarang punya dasar lebih kuat.

Raka akhirnya melihat.

Senyum kecil.

Aku membalas.

Kali ini, sebelum dia sempat lewat begitu saja, aku mengangkat tangan.

“Raka.”

Dia berhenti.

Dimas ikut berhenti.

Ekspresi Raka berubah sedikit terkejut, lalu dia mendekat beberapa langkah.

“Iya?”

Jantungku ikut bergerak aneh karena ternyata memanggilnya secara langsung terasa berbeda dari sekadar tersenyum.

Aku pura-pura santai.

“Kelasmu di gedung barat, kan?”

Raka mengangguk. “Iya.”

“Perpus juga bukan sini.”

Dia diam.

Dimas menoleh ke samping. Bahunya bergerak kecil seperti sedang menahan tawa.

Aku hampir ikut tersenyum.

Raka sepertinya sudah tahu ke mana pertanyaan ini menuju.

“Kok kamu sering lewat kantin tengah?”

Ada satu detik hening.

Raka terlihat sedang mencari jawaban yang aman.

Aku menunggu.

“Aku cuma kebetulan lewat.”

Kalimatnya begitu tenang sampai hampir meyakinkan.

Hampir.

Aku melihat Dimas menutup mulut dengan tangan.

Raka meliriknya.

“Apa?”

“Nggak apa-apa,” kata Dimas cepat.

Aku menggigit bagian dalam pipi supaya tidak tertawa.

“Oh,” kataku.

Raka melihatku lagi.

Aku sengaja tidak mengatakan apakah aku percaya.

“Ya sudah.”

Dia mengangguk.

Ada warna tipis di telinganya atau mungkin cuma karena udara panas.

“Duluan, ya.”

“Iya.”

Raka dan Dimas pergi.

Begitu jarak mereka cukup jauh, Naya meletakkan sendok.

“Jadi?”

Aku masih melihat punggung Raka.

“Jadi apa?”

“Kamu percaya?”

Aku menoleh kepadanya.

“Enggak.”

Naya tertawa.

Aku ikut tersenyum.

“Dia bohongnya jelek.”

“Lumayan sopan.”

“Itu bukan pujian.”

“Buat Raka mungkin iya.”

Aku mengaduk es dalam gelas.

Sekarang aku punya jawaban yang selama ini kucari.

Tidak seratus persen.

Raka tidak mengaku.

Tapi terlalu banyak hal yang cocok.

Jalan memutar.

Waktu yang hampir sama.

Senyum setiap kali mata kami bertemu.

Cara dia mendadak sedikit kaku ketika aku memanggil namanya.

Dan jawaban tadi.

Dia sengaja lewat sini.

Seharusnya aku merasa aneh.

Kalau seseorang sengaja berada di tempat yang sering kudatangi hanya untuk melihatku, ada garis yang bisa membuat hal itu tidak nyaman.

Tapi Raka tidak pernah melewati garis itu.

Dia tidak pernah mengikuti setelah aku pergi.

Tidak pernah duduk terlalu dekat tanpa diundang.

Tidak pernah memaksakan percakapan.

Bahkan ketika aku tidak melihatnya, dia cuma lewat.

Seolah dia benar-benar puas dengan satu senyum kecil.

Pikiran itu justru membuat sesuatu di dadaku menghangat.

“Kenapa senyum?” tanya Naya.

Aku langsung menyentuh bibir.

“Aku senyum?”

“Banget.”

Aku menurunkan tangan. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Hmm.”

“Kamu punya kosakata lain nggak?”

“Ada. Mau?”

“Jangan.”

Dia tertawa.

Sore harinya aku melihat Raka lagi, kali ini di depan minimarket kampus.

Dia sedang membantu Dimas memasukkan beberapa botol minum ke tas.

Aku bisa saja lewat.

Aku justru menyapa.

“Raka.”

Dia menoleh.

Lagi-lagi ada perubahan kecil itu.

Seperti hari mendadak memberinya sesuatu yang menyenangkan.

“Hai.”

Aku mendekat bersama Naya.

“Kebetulan lewat lagi?”

Kalimat itu keluar sebelum sempat kupikirkan.

Dimas batuk.

Raka menatapku.

Aku menahan senyum.

Beberapa detik kemudian dia ikut tersenyum kecil.

“Kali ini beneran.”

“Oh, ya?”

“Iya. Ada bukti belanja.”

Dia mengangkat kantong minimarket.

Aku tertawa.

Ternyata Raka bisa membalas.

Sedikit.

Percakapan kami hanya beberapa menit. Tentang kelas, tugas, dan Dimas yang membeli minuman terlalu banyak karena sedang diskon.

Tapi ketika berpisah, rasanya lebih ringan daripada sebelumnya.

Aku mulai menyukai cara Raka berbicara.

Tidak banyak.

Tidak berusaha membuat dirinya terdengar menarik.

Kalau lucu, lucunya muncul begitu saja.

Kalau gugup, dia tetap menjawab.

Dan kalau tersenyum, rasanya tulus.

Malamnya aku memikirkan pertanyaan yang sama dengan beberapa minggu lalu.

Kenapa aku senang dia sengaja lewat?

Kali ini jawabannya mulai terasa dekat.

Karena berarti aku bukan satu-satunya yang memperhatikan.

Karena ketika aku menunggu dia muncul, mungkin di sisi lain ada seseorang yang juga berharap melihatku.

Aku menutup wajah dengan bantal sebentar.

Itu terlalu manis untuk dipikirkan.

Ponselku berbunyi.

Naya mengirim pesan.

*Besok makan di kantin tengah?*

Aku tahu maksudnya.

Aku mengetik:

*Memangnya kenapa?*

Balasan datang.

*Nggak kenapa-kenapa. Kebetulan aja.*

Aku melempar ponsel ke samping.

Lalu mengambilnya lagi karena takut jatuh.

Menyebalkan.

Tapi aku tetap tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya, kemungkinan bahwa Raka sengaja datang untuk melihatku tidak lagi terasa seperti pertanyaan.

Dan ternyata aku sangat, sangat tidak keberatan.