Chapter Seventeen
Tinggal Satu Kalimat
POV: Raka
Kalau hubungan punya bentuk tanpa nama, mungkin bentuk hubungan kami saat ini adalah ini:
Alya mengirim pesan menanyakan aku di mana.
Aku menjawab kantin.
Sepuluh menit kemudian dia muncul.
Tidak ada janji sebelumnya.
Tidak ada urusan penting.
Dia hanya datang.
“Hai.”
“Hai.”
Alya menarik kursi di sebelahku, bukan di seberang.
Sekarang dia selalu begitu.
Dimas yang tadi duduk bersamaku sudah pergi ke kelas.
Jadi cuma kami berdua.
“Kamu makan apa?” tanyanya.
Aku menunjuk piring.
Alya mengambil satu kentang.
Aku melihat tangannya.
“Kenapa?”
“Itu punyaku.”
“Sekarang punyaku.”
Aku tertawa kecil.
Percakapan ini terasa familiar.
Nyaman.
Terlalu nyaman untuk dua orang yang secara teknis tidak punya status apa-apa.
Alya mengeluh soal tugas.
Aku mendengarkan.
Dia menunjukkan chat dari Naya.
Aku tertawa.
Dia mengambil minumanku sekali karena katanya punyanya terlalu manis.
Aku membiarkan.
Di satu titik, Alya menyandarkan siku ke meja lalu menatapku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Terus lihat-lihat?”
“Boleh.”
Aku kehilangan jawaban.
Alya tersenyum puas.
Beberapa minggu terakhir seperti itu.
Dia semakin berani.
Dan aku semakin kesulitan meyakinkan diri bahwa semuanya hanya keramahan.
Masalahnya, sulit bukan berarti mustahil.
Aku tahu apa yang kuinginkan.
Aku ingin Alya menyukaiku.
Sangat.
Justru karena itu aku tidak mau menjadikan keinginanku sebagai bukti.
Kami selesai makan dan berjalan ke taman kecil dekat gedung kelas.
Alya punya waktu sekitar empat puluh menit sebelum mata kuliah berikutnya.
Kami duduk di bangku.
Angin cukup sejuk.
Alya bicara tentang sesuatu yang dilakukan Naya pagi tadi.
Aku mendengarkan sambil sesekali melihat wajahnya.
Ada momen ketika aku sadar:
Sekarang.
Kalau aku ingin mengatakan perasaanku, sekarang terasa seperti kesempatan yang sempurna.
Tidak ramai.
Kami berdua.
Percakapan nyaman.
Alya terlihat senang.
Kalimat itu sudah ada di ujung lidah.
Alya, aku suka kamu.
Sederhana.
Sudah benar sejak hari pertama.
Aku menarik napas kecil.
Alya menoleh.
“Hm?”
Aku hampir mengatakannya.
Lalu bayangan lain muncul.
Bagaimana kalau aku salah?
Bukan penolakan yang paling kutakuti.
Kalau Alya bilang tidak, aku akan malu. Mungkin sakit beberapa waktu. Itu bisa kuterima.
Yang sulit adalah kemungkinan setelahnya.
Chat malam yang berhenti.
Makan bersama yang jadi canggung.
Alya yang tidak lagi datang mencariku.
Senyum yang kembali menjadi sekadar sopan.
Aku sudah mendapatkan terlalu banyak hal indah tanpa pernah memintanya.
Aku tidak ingin menghancurkannya hanya karena terlalu cepat menamai sesuatu.
“Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.
Alya menatapku sedikit lama.
Aku tahu dia curiga.
Tapi dia tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian dia harus pergi.
Aku mengantarnya sampai depan gedung.
“Nanti chat,” katanya.
“Iya.”
Alya melangkah dua kali, lalu berbalik.
“Raka.”
“Hm?”
Dia tersenyum.
“Jangan hilang.”
Aku bingung. “Ke mana?”
“Ya jangan.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri seperti orang bodoh.
Jangan hilang.
Apa maksudnya?
Aku berjalan menuju kelas berikutnya sambil memikirkan dua kata itu terlalu serius.
Dimas menemukanku di koridor.
“Kenapa muka lo?”
“Kenapa?”
“Kayak habis gagal ujian tapi nilainya belum keluar.”
Aku mendesah.
Kami berjalan bersama.
Entah kenapa, mungkin karena kepalaku sudah terlalu penuh, aku akhirnya cerita.
Tidak semuanya.
Cukup bagian bahwa aku hampir mengatakan perasaanku.
Dimas berhenti.
“Terus?”
“Nggak jadi.”
Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Kenapa?”
Aku menjawab jujur.
“Takut salah.”
“Rak.”
“Bukan takut ditolak.”
Aku menjelaskan sebelum dia mulai.
“Kalau aku salah baca, setelah ini bisa beda. Sekarang dia nyaman. Kita chat. Makan bareng. Kadang pergi. Kalau ternyata buat dia ini cuma teman dan aku tiba-tiba ngomong begitu... mungkin dia jadi jaga jarak.”
Dimas diam.
Untuk pertama kalinya dia tidak langsung mengejek.
“Gue ngerti.”
Aku sedikit terkejut.
“Tapi,” lanjutnya.
Nah.
“Kalau dia kasih sinyal lebih jelas lagi, kayaknya dia harus bawa spanduk.”
Aku menatapnya.
“Lebay.”
“Tentu.”
Kami berjalan lagi.
Dimas mengangkat bahu.
“Gue nggak akan bilang apa-apa. Itu urusan kalian. Cuma jangan sampai terlalu hati-hati sampai dia mikir lo nggak tertarik.”
Aku hampir tertawa.
“Dia tahu.”
“Yakin?”
Aku teringat semua jalan memutar yang sudah terbongkar.
“Kayaknya.”
“Bagus.”
Malamnya Alya mengirim pesan.
*Udah sampai?*
*Udah. Kamu?*
*Udah dari tadi.*
Beberapa detik.
*Tadi kamu mau ngomong apa?*
Aku menatap layar.
Jantungku langsung cepat.
Aku bisa mengatakannya sekarang.
Lewat chat.
Tidak.
Kalau aku akan mengaku, aku ingin melihat wajahnya.
Aku mengetik:
*Nanti.*
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
*Nanti kapan?*
Aku tersenyum.
*Belum tahu.*
Balasannya:
*Raka 😑*
Aku tertawa.
Kemudian pesan lain masuk.
*Ya udah. Jangan tidur terlalu malam. Besok kamu kelas pagi.*
Aku membaca dua kali.
Alya ingat jadwalku.
Seperti aku ingat jadwalnya.
Aku mengetik:
*Iya. Kamu juga.*
Dia mengirim stiker.
Percakapan selesai.
Aku meletakkan ponsel.
Dimas mungkin benar.
Mungkin semua orang yang melihat dari luar sudah punya jawaban.
Aku sendiri bahkan sudah hampir yakin.
Tapi hampir tetap hampir.
Aku tidak ingin menjadi lelaki yang menganggap perhatian seorang perempuan sebagai janji.
Kalau Alya benar-benar menyukaiku, aku ingin mendengarnya dari Alya.
Bukan dari harapanku sendiri.
Aku mematikan lampu.
Beberapa menit kemudian ponsel berbunyi lagi.
Alya.
*Besok makan bareng. Jangan kabur.*
Aku tersenyum dalam gelap.
*Siap.*
Setelah itu aku menatap langit-langit.
Harapan di dadaku sudah tidak kecil lagi.
Aku tahu.
Aku hanya belum berani menyebutnya kepastian.
Dan mungkin itulah masalah kami sekarang.
Tinggal satu kalimat.
Entah siapa yang akan mengatakannya lebih dulu.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat reading
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat