← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Nineteen

Hari Pertama Punya Pacar

POV: Raka

Aku bangun sebagai orang yang sama.

Kamar yang sama. Alarm yang sama. Jadwal kelas jam delapan yang sama.

Lalu tiga detik setelah membuka mata, aku ingat sesuatu.

Aku punya pacar.

Aku menatap langit-langit.

Lebih tepatnya:

Alya pacarku.

Ponsel di samping bantal berbunyi.

*Pagi, pacar. Bangun.*

Aku menatap kata kedua cukup lama.

Pesan lain masuk.

*Jangan pura-pura belum baca.*

Aku tertawa kecil.

*Pagi. Udah bangun.*

Balasannya cepat.

*Kok nggak manggil pacar balik?*

Aku memejamkan mata.

Hari baru berjalan lima menit dan Alya sudah mulai.

*Pagi, Alya.*

*Pengecut 😌*

Aku meletakkan ponsel.

Baik.

Aku harus bertemu perempuan ini kurang dari dua jam lagi.

Di kampus, Dimas sudah menunggu dekat kelas.

“Pagi, orang punya pacar.”

Aku berhenti. “Siapa yang kasih tahu?”

“Alya chat Naya. Naya chat gue.”

“Kenapa Naya chat kamu?”

“Karena kami sama-sama veteran perang.”

Aku tidak mau tahu perang apa.

Dimas menepuk bahuku. “Selamat.”

Kali ini tanpa ejekan.

“Makasih.”

Dua jam kemudian, pesan Alya masuk.

*Aku di taman depan.*

Dadaku langsung bergerak.

Selama ini pesan seperti itu sudah biasa. Tapi sekarang ada label baru di kepalaku.

Pacarku menunggu.

Aku keluar kelas. Alya berdiri dekat bangku taman.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

Efeknya masih sama. Mungkin malah lebih buruk.

Aku mendekat.

“Pagi.”

“Pagi.”

Lalu aku berhenti.

Biasanya setelah ini kami bicara.

Sekarang entah kenapa aku tidak tahu prosedurnya.

Haruskah aku berdiri lebih dekat? Pegang tangan? Tidak?

Alya menatapku beberapa detik.

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kaku.”

“Nggak.”

Tanpa peringatan, Alya mengambil tanganku. Jari-jarinya menyelip di antara jariku.

Semua pertanyaan selesai.

Telingaku langsung panas.

Alya melihat tangan kami lalu wajahku.

“Begini.”

“Begini apa?”

“Ketemu pacar.”

Aku mengangguk seolah baru menerima materi kuliah.

“Oh.”

Alya tertawa. “Kenapa ‘oh’?”

“Belum tahu.”

“Sekarang tahu.”

“Iya.”

Kami mulai berjalan. Tanganku sedikit kaku.

Alya menggoyangkannya.

“Raka.”

“Hm?”

“Tanganmu.”

“Kenapa?”

“Kaku.”

“Nggak.”

Dia mengangkat tangan kami sedikit. “Ini kalau dilepas bisa tetap bentuk begini kayaknya.”

Aku akhirnya tertawa.

Ketegangan perlahan hilang.

Kami menuju kantin. Hal paling aneh adalah tidak banyak yang berubah.

Alya masih mengeluh soal kelas pagi. Aku masih mendengarkan. Dia masih mengambil makanan dari piringku. Aku masih protes meskipun tahu akan membiarkan.

Tapi di bawah semuanya ada rasa baru.

Aku boleh menatapnya sedikit lebih lama.

Boleh duduk lebih dekat tanpa bertanya apakah aku salah membaca situasi.

Ketika Alya menyentuh tanganku, aku tidak perlu mencari seratus penjelasan alternatif.

Dia pacarku.

Saat harus berpisah untuk kelas, Alya melepaskan tanganku.

Baru beberapa detik dan telapak tanganku sudah terasa kosong.

Alya berjalan mundur dua langkah.

“Nanti ketemu lagi.”

“Iya.”

“Jangan kabur.”

“Ke mana?”

“Pokoknya.”

Aku tersenyum.

Dulu momen seperti ini akan berakhir di sana. Aku akan berharap besok bertemu lagi.

Sekarang aku mengeluarkan ponsel.

*Kelas selesai jam berapa?*

Alya membalas:

*Jam 2. Kangen?*

Aku berhenti.

Dimas hampir menabrakku.

“Kenapa?”

Aku menunjukkan layar tanpa sadar.

Dia membaca. “Jawab.”

“Apa?”

“Pacar lo.”

Aku mengetik.

*Baru juga pisah.*

*Bukan jawaban.*

Aku menatap layar lalu tersenyum.

Kali ini aku tidak menghapus.

*Sedikit.*

Tiga titik muncul.

*Jam 2. Jangan telat ❤️*

Aku mengunci layar.

Ternyata memiliki pacar tidak mengubah dunia.

Kampus tetap ramai. Tugas tetap banyak. Dosen tetap memberi deadline.

Yang berubah hanya satu hal kecil.

Sekarang, ketika aku ingin melihat Alya, aku tidak perlu berharap pada kebetulan.

Aku bisa mencarinya.

Dan lebih ajaib lagi—

dia ingin aku datang.