← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Two

Jalan yang Sedikit Lebih Panjang

POV: Raka

Namanya Alya Maheswari.

Aku mengetahuinya tiga hari kemudian tanpa perlu melakukan apa-apa. Dimas yang memberitahu ketika kami melihatnya berbicara dengan salah satu teman seangkatan di depan gedung administrasi.

“Itu Alya,” katanya santai.

Aku menoleh terlalu cepat.

Dimas langsung menyeringai.

Kesalahan pertama.

“Kenapa?” tanyaku.

“Aku cuma bilang namanya.”

“Terus?”

“Nggak ada.”

Nada suaranya mengatakan ada banyak sekali.

Sejak hari itu, nama itu menempel dengan mudah di kepala.

Alya.

Ternyata mengetahui nama seseorang membuat keberadaannya terasa sedikit berbeda. Sebelumnya dia hanya perempuan yang pernah berpapasan denganku. Sekarang, ketika melihatnya dari jauh, pikiranku otomatis memberi nama.

Ada Alya.

Masalah berikutnya muncul tanpa sengaja.

Aku menemukan bahwa beberapa kali dalam seminggu Alya makan di kantin tengah sekitar jam makan siang.

Aku juga menemukan fakta lain: jalan dari gedung kelasku menuju perpustakaan tidak perlu melewati kantin tengah.

Sama sekali.

Ada rute yang lebih pendek hampir seratus meter.

Aku tahu. Dimas juga tahu.

Karena itulah ketika aku berbelok ke arah kantin setelah kelas, dia tidak ikut selama beberapa langkah.

Aku menoleh. “Kenapa?”

Dimas menunjuk ke arah sebaliknya. “Perpus sana.”

“Lewat tengah juga bisa.”

“Bisa. Jakarta ke Bandung lewat Cirebon juga mungkin bisa.”

“Nggak sejauh itu.”

Dia akhirnya menyusul, wajahnya sudah menunjukkan bahwa lima menit berikutnya akan menyebalkan.

“Kenapa lewat sini?”

“Teduh.”

Dimas mendongak. Koridor menuju rute pendek juga beratap.

“Oh.”

“Apa?”

“Nggak apa-apa. Aku suka alasanmu.”

Aku mengabaikannya.

Semakin dekat dengan kantin, semakin aku merasa keputusan ini bodoh.

Kalau dia nggak ada, ya sudah.

Kalau ada juga cuma lewat.

Jangan mondar-mandir. Itu aneh.

Aturanku sederhana. Aku boleh memilih jalan ini. Aku boleh berharap melihatnya. Tapi aku tidak akan mencari-cari kalau dia tidak ada, tidak akan mengikuti ke mana dia pergi, dan tidak akan memaksakan percakapan.

Aku menyukainya. Itu urusanku.

Dia tidak punya kewajiban apa pun terhadap perasaan yang bahkan tidak dia ketahui.

Kami masuk ke area kantin.

Aku langsung melihatnya.

Tentu saja.

Alya duduk bersama perempuan yang sering kulihat bersamanya. Ada gelas minuman di depan mereka dan beberapa buku ditumpuk di sisi meja.

Dadaku melakukan hal bodoh yang sama seperti pertama kali.

Ada dia.

Aku tidak mengubah langkah. Tidak melambat. Setidaknya menurutku begitu.

Dimas berdeham di samping.

“Jalanmu melambat.”

“Nggak.”

“Oke.”

Aku tidak menatap Alya terus-menerus. Itu justru akan terasa aneh. Tapi ketika kami hampir melewati mejanya, aku melirik.

Kebetulan dia juga mengangkat wajah.

Mata kami bertemu.

Aku tersenyum kecil.

Alya membalas.

Selesai.

Hanya itu.

Aku terus berjalan sampai keluar dari kantin. Entah kenapa langkahku terasa jauh lebih ringan.

“Jadi,” kata Dimas.

Aku sudah tahu dia akan mulai. “Apa?”

“Kita tadi ngapain?”

“Lewat kantin.”

“Kenapa?”

“Mau ke perpus.”

“Perpus arah sana.”

Aku menatap lurus.

“Aku cuma kebetulan lewat.”

Dimas berhenti.

Aku terus berjalan dua langkah sebelum menyadarinya dan menoleh. Dia sedang memandangku dengan ekspresi prihatin.

“Apa?”

“Aku sedang mencoba memahami konsep kebetulan versi kamu.”

“Terserah.”

Dia menyusul sambil tertawa kecil.

Aku membiarkannya. Yang penting aku tidak mengganggu siapa pun.

Dan kalau jalan memutar beberapa menit bisa membuat hari terasa sedikit lebih menyenangkan, menurutku itu bukan keputusan yang terlalu buruk.

Hari berikutnya aku tidak lewat sana. Aku memang punya kelas di arah lain.

Dua hari kemudian, jadwalku memungkinkan. Aku mengambil rute tengah lagi.

Alya ada.

Senyum kecil.

Lalu pergi.

Lama-lama itu menjadi sesuatu yang tidak pernah kutulis di jadwal, tetapi entah bagaimana selalu kuingat.

Bukan pertemuan. Bukan janji. Cuma beberapa detik dalam satu hari.

Pernah suatu hari kursi yang biasa ditempati Alya kosong. Aku tetap berjalan. Tidak berhenti untuk mencari ke meja lain.

Ada sedikit kecewa, tentu saja, tetapi justru itu mengingatkanku kenapa aturan kecil tadi penting.

Aku ingin melihatnya.

Bukan membuatnya merasa sedang dilihat.

Dua hal itu berbeda.

Keesokan harinya dia ada lagi. Ketika mata kami bertemu dan dia membalas senyumku, rasa kecewa kemarin hilang secepat datangnya.

Aneh sekali betapa beberapa detik bisa cukup.

Ketika Dimas kembali mengeluh karena kami harus berjalan lebih jauh, aku hanya mengangkat bahu.

Lumayan.

Aku tidak mengatakan bagian lainnya.

Hari ini aku melihatnya.