← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Twenty Four

Kali Ini Aku yang Mulai

POV: Raka

Selama pacaran, ada satu pola yang terbentuk tanpa pernah kami bicarakan.

Alya biasanya mengambil tanganku lebih dulu.

Dia yang menyelipkan jemari.

Dia yang merapat.

Dia yang menyender.

Aku tidak pernah keberatan.

Sama sekali.

Tapi sore itu, kami berjalan keluar kampus dan Alya sedang sibuk bercerita sambil memegang ponsel di tangan kiri.

Tangan kanannya kosong.

Berada dekat tanganku.

Aku melihatnya.

Lalu muncul pikiran sederhana.

Aku mau pegang.

Biasanya aku akan menunggu.

Bukan karena tidak berani.

Lebih karena selama ini membiarkan Alya memulai terasa seperti cara paling aman memastikan dia nyaman.

Tapi sekarang aku tahu.

Dia pacarku.

Kami sudah berkali-kali berpegangan tangan.

Dia bahkan pernah protes kalau aku melepas terlalu cepat.

Tidak ada lagi ketidakpastian yang perlu kulindungi.

Jadi aku mengulurkan tangan.

Mengambil tangannya.

Alya berhenti bicara.

Aku menoleh.

Dia masih berjalan, tapi wajahnya kosong sepersekian detik.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku hampir melepas karena refleks.

Lalu sadar.

Tidak.

Aku tetap menggenggam.

Alya melihat tangan kami.

Kemudian ke depan.

Pipinya sedikit merah.

Aku mulai memahami.

Dia salah tingkah.

Penemuan langka.

Sudut bibirku naik.

Alya langsung menoleh.

“Kamu senang, ya?”

Aku bisa menyangkal.

Tapi aku sudah belajar dari dia.

“Sedikit.”

Alya menatapku.

Aku tetap berjalan.

Beberapa langkah kemudian dia berkata, “Tumben berani.”

Aku menjawab sebelum berpikir terlalu panjang.

“Kan pacarku.”

Alya berhenti.

Kali ini benar-benar berhenti.

Aku ikut berhenti.

Baru setelah melihat wajahnya, aku sadar apa yang baru kukatakan.

Telingaku langsung panas.

Alya menatapku seperti baru saja terkena sesuatu.

Aku hampir minta maaf.

Tidak jadi.

Dia benci kalau aku minta maaf untuk hal seperti ini.

Akhirnya aku hanya berkata, “Kenapa?”

Alya menyipitkan mata.

“Kamu sekarang bahaya.”

“Apa?”

“Dulu enak digodain.”

“Sekarang?”

“Bisa balas.”

Aku tertawa.

Kami berjalan lagi.

Tanganku masih menggenggam tangannya.

Malah sekarang jemari kami bertaut lebih nyaman.

Alya menggoyangkannya kecil.

“Jangan besar kepala.”

“Kenapa?”

“Baru menang sekali.”

“Aku nggak lomba.”

“Itu yang bikin kesel.”

Aku tidak mengerti sepenuhnya.

Tapi aku senang.

Kami berhenti membeli minum.

Saat aku hendak mengambil dompet, tangan kami harus terlepas.

Alya langsung berkata, “Yah.”

Aku menoleh.

Dia pura-pura melihat menu.

Aku tersenyum.

Setelah selesai membayar, kali ini aku yang mencari tangannya lagi.

Alya menatapku.

Aku mengangkat alis.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia menyelipkan jemarinya dengan senyum kecil.

Kami melanjutkan perjalanan.

Ada rasa berbeda ketika aku yang memulai.

Bukan kemenangan.

Lebih seperti sebuah pintu kecil di kepalaku akhirnya terbuka.

Selama ini aku selalu berpikir tentang apa yang boleh kulakukan agar tidak melewati batas.

Itu penting.

Tetap penting.

Tapi hubungan kami sekarang juga memberi ruang untuk hal lain:

apa yang kuinginkan.

Aku ingin menggenggam tangannya.

Aku boleh.

Aku ingin mengajaknya kencan.

Aku boleh.

Aku ingin mengatakan dia cantik.

Aku boleh.

Mungkin mencintai seseorang bukan hanya soal menjaga agar dia nyaman.

Kadang juga soal berani menunjukkan bahwa kita menginginkannya dekat.

Alya tiba-tiba menyenderkan bahu ke lenganku sambil berjalan.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu mikir apa?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Aku melihat tangan kami.

“Enak juga.”

“Apa?”

“Pegang tangan kamu.”

Alya hampir tersandung.

Aku refleks menarik tangannya agar seimbang.

Dia langsung menatapku.

Aku juga kaget dengan kalimatku sendiri.

Tapi kali ini aku tidak menariknya kembali.

Alya menutup setengah wajah dengan tangan bebas.

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Jangan polos.”

“Aku ngomong biasa.”

“Nah. Itu masalahnya.”

Aku tertawa.

Sampai di titik jemput, kami berdiri beberapa menit.

Alya masih tidak melepas tanganku.

Aku juga tidak.

Ketika kendaraannya datang, baru jemari kami terpisah.

Alya berjalan dua langkah, lalu menoleh.

“Besok.”

“Iya.”

“Pegang lagi.”

Aku tersenyum.

“Siap.”

Dia pergi.

Aku berdiri sambil melihat kendaraan menjauh.

Dulu aku mengambil jalan memutar hanya untuk melihat Alya beberapa detik.

Sekarang aku bisa menggenggam tangannya karena aku ingin.

Perubahan itu terasa hampir tidak masuk akal.

Tapi mungkin bagian terbaiknya adalah ini:

Aku tidak lagi merasa sedang meminjam tempat di sisinya.

Alya sudah berkali-kali mengatakan aku boleh berada di sana.

Sekarang tugasku hanya percaya.

Aku memasukkan tangan ke saku.

Masih terasa sisa hangat jemarinya.

Besok pegang lagi.

Aku tersenyum sendiri.

Ternyata aku menantikannya.