← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Twenty Two

Karena Kamu Memang Begitu

POV: Alya

Aku pernah jatuh sedikit lebih dalam kepada Raka karena tiga kardus.

Hari ini aku diingatkan lagi kenapa.

Kami sedang berjalan menuju kantin ketika seorang mahasiswa di depan kami menjatuhkan setumpuk kertas.

Angin langsung mengambil beberapa lembar.

Raka bergerak sebelum aku sempat berkata apa-apa.

Dia mengejar dua lembar ke dekat taman, mengambil satu yang tersangkut di bawah bangku, lalu membantu merapikan tumpukan.

“Lengkap?” tanyanya.

Mahasiswa itu menghitung cepat.

“Kayaknya. Makasih banget.”

“Sama-sama.”

Raka kembali kepadaku.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku menatapnya.

Dia menatap balik.

“Kenapa?”

“Nggak.”

Kami berjalan lagi.

Beberapa meter kemudian petugas kantin sedang mencoba menggeser galon ke dispenser.

Raka berhenti.

“Pak, saya bantu.”

Aku hampir tertawa.

Tentu.

Setelah selesai, dia kembali.

Aku masih melihatnya.

Raka mulai curiga.

“Kenapa dari tadi lihat-lihat?”

Aku tersenyum. “Kamu sering begitu, ya?”

“Begitu gimana?”

“Bantu orang.”

Dia terlihat benar-benar bingung.

“Ya masa dibiarin?”

Jawaban itu.

Sama seperti yang kubayangkan.

Tidak ada “aku memang suka membantu”.

Tidak ada usaha terlihat baik.

Bagi Raka, kalau bisa membantu, ya bantu.

Sesederhana itu.

Kami duduk di kantin.

Aku masih memikirkan hal tersebut.

Raka membuka minuman.

“Alya.”

“Hm?”

“Kamu beneran kenapa?”

Aku menopang dagu.

“Aku suka kamu yang begitu.”

Tangannya berhenti.

Aku tersenyum.

Kali ini aku tidak sedang menggoda.

“Aku suka kamu yang kalau lihat orang butuh bantuan langsung bantu. Terus habis itu kayak nggak terjadi apa-apa.”

Raka mengalihkan pandangan.

Telinganya mulai merah.

Aku senang sekali.

“Malu?”

“Enggak.”

“Telingamu merah.”

Refleks, dia menyentuh telinganya.

Aku tertawa.

“Ketahuan.”

“Panas.”

“Di sini kipasnya nyala.”

Raka menghela napas.

Aku semakin gemas.

Tapi kemudian ekspresinya berubah sedikit.

“Aku nggak merasa itu sesuatu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Itu justru yang aku suka.”

Raka diam.

Aku melihat sesuatu di wajahnya.

Seperti kalimatku masuk lebih dalam daripada yang kuduga.

Aku tahu Raka masih kadang melihat perbedaan antara kami.

Keluargaku lebih berada.

Aku lebih dikenal.

Banyak orang memperhatikanku.

Kadang dia masih bersikap seolah aku pihak yang lebih istimewa.

Padahal dari tempatku berdiri, aku juga melihat banyak hal yang membuat Raka istimewa.

Hanya bentuknya tidak berisik.

“Raka.”

“Hm?”

“Aku nggak pacaran sama kamu cuma karena kamu suka aku.”

Dia melihatku.

“Aku pacaran karena aku juga suka kamu. Orangnya.”

Hening.

Aku sendiri mulai malu setelah mengatakannya.

Tapi aku tidak menarik kembali.

Raka tersenyum.

Lembut.

Tulus.

Senyum yang dulu selalu kutunggu.

“Makasih.”

Aku memutar mata. “Kok makasih?”

“Ya... senang dengarnya.”

“Harusnya bilang sesuatu balik.”

Raka berpikir.

Aku langsung tertawa.

“Jangan dipikir serius banget.”

Tapi dia sudah menatapku.

“Aku juga suka kamu yang begitu.”

Sekarang aku bingung.

“Yang gimana?”

“Yang sekarang.”

“Apa maksudnya?”

Raka minum.

“Rahasia.”

Aku melotot.

“Raka.”

Dia tersenyum.

Orang ini semakin berani.

Aku menendang sepatunya pelan di bawah meja.

Dia tertawa.

Sore itu, saat kami berjalan pulang, aku terus mendesaknya menjelaskan.

“Yang sekarang itu apa?”

“Nggak tahu.”

“Tadi katanya tahu.”

“Lupa.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Aku mencubit lengannya.

Tapi di balik semua protes, aku bahagia.

Karena aku melihat sesuatu berubah.

Raka mulai menerima bahwa perasaanku bukan hadiah yang kebetulan dia dapat.

Aku benar-benar memilihnya.

Dan aku ingin dia tahu kenapa.

Bukan karena dia sempurna.

Bukan karena dia melakukan sesuatu yang spektakuler.

Justru karena hal-hal kecil.

Cara dia menahan pintu.

Cara dia mendengarkan.

Cara dia datang membawa es krim karena tidak tahu cara membujuk.

Cara dia membantu tanpa melihat siapa yang menonton.

Aku jatuh cinta kepada kebaikan yang menurutnya biasa.

Saat kami berpisah, Raka menggenggam tanganku sedikit lebih lama.

“Alya.”

“Hm?”

“Yang tadi.”

“Apa?”

Dia terlihat malu lagi.

“Aku senang.”

Dadaku menghangat.

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Raka mengangguk.

Aku berjalan pergi sambil merasa ringan.

Dulu aku hanya ingin tahu kenapa cowok itu sering melewati kantin.

Sekarang aku tahu jawabannya.

Tapi ternyata setelah mengenal Raka, ada jauh lebih banyak hal yang ingin kulihat daripada sekadar dia lewat.