Chapter One
Hari Pertama Aku Melihatnya
POV: Raka
Kalau Dimas tidak menyenggol lenganku sore itu, mungkin aku akan berdiri lebih lama seperti orang bodoh di tengah koridor.
“Rak.”
Aku tidak menjawab.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau mau bengong, minggir sedikit. Orang lewat.”
Aku otomatis bergeser setengah langkah. Dua mahasiswa membawa map besar melewati kami, lalu Dimas melanjutkan cerita yang entah sejak kapan sudah tidak kudengarkan.
Bukan salahku.
Setidaknya, rasanya bukan sepenuhnya salahku.
Beberapa meter di depan, seorang perempuan berjalan bersama temannya.
Aku belum tahu namanya saat itu.
Aku hanya tahu mahasiswa yang tadi sibuk dengan ponselnya mengangkat kepala ketika dia lewat. Dua anak laki-laki di dekat tangga menoleh hampir bersamaan. Bahkan Dimas, yang mulutnya sejak tadi tidak berhenti, sempat kehilangan satu kata sebelum meneruskan kalimat.
Perempuan itu sendiri seperti tidak menyadari apa-apa.
Dia sedang mendengarkan temannya bicara. Rambut panjangnya bergerak ringan setiap kali angin dari halaman masuk ke koridor. Lalu temannya mengatakan sesuatu dan dia tertawa.
Entah kenapa, dadaku ikut terasa ringan.
Cantik.
Pikiran itu muncul begitu saja. Terlalu sederhana untuk menjelaskan kenapa aku mendadak lupa kami tadi sedang membicarakan apa.
“Tuh, kan,” kata Dimas.
Aku masih melihat ke depan. “Apa?”
“Kamu nggak dengar.”
“Dengar.”
“Aku tadi ngomong apa?”
Aku akhirnya menoleh kepadanya. Dimas menunggu dengan wajah penuh kemenangan.
“Tentang kelas?” tebakku.
“Luar biasa. Kita memang mahasiswa. Peluang benarnya tinggi.”
Aku mendecakkan lidah kecil, lalu mulai berjalan lagi.
Masalahnya, perempuan itu dan temannya juga bergerak ke arah kami.
Jarak yang tadi terasa aman perlahan mengecil.
Aku tidak tahu kenapa langkahku mendadak terasa perlu diawasi. Biasanya aku bisa berjalan tanpa memikirkan cara berjalan. Sekarang aku jadi sadar pada posisi tangan, bahu, bahkan arah pandangan.
Normal saja.
Orang berjalan setiap hari. Aku juga.
Dimas masih bicara di sampingku. Kali ini aku berusaha mendengarkan, sungguh. Hanya saja ketika jarak kami tinggal beberapa langkah, suara di sekitar rasanya turun sedikit.
Perempuan itu mengangkat wajah.
Mata kami bertemu.
Cuma sebentar. Mungkin satu detik. Mungkin dua.
Aku refleks tersenyum kecil. Bukan senyum lebar, bukan pula sesuatu yang sengaja kulakukan untuk menarik perhatiannya. Rasanya aneh kalau sudah bertatapan lalu aku memasang wajah datar.
Yang tidak kuduga, dia membalas.
Senyumnya tipis dan sopan, mungkin sama seperti yang akan dia berikan kepada siapa saja.
Tetap saja jantungku memukul sekali lebih keras.
Oh.
Kami berpapasan.
Setelah itu dia sudah berada di belakangku.
Aku terus berjalan.
Jangan nengok.
Lima langkah.
Jangan.
Sepuluh langkah.
Keinginan untuk menoleh justru makin besar. Aku memasukkan tangan ke saku dan memaksa pandangan lurus ke depan.
“Sekarang coba jawab,” kata Dimas.
“Apa?”
Dia berhenti berjalan. Aku ikut berhenti.
“Aku baru ngomong hampir satu menit.”
Aku memandangnya beberapa detik. “Maaf.”
Dimas mengikuti arah yang tadi kami lewati. Perempuan itu sudah jauh di belakang, tetapi rupanya itu cukup untuk membuat wajahnya berubah mengerti.
“Oh.”
Aku tidak suka nada itu. “Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu jelas mau ngomong sesuatu.”
“Nggak jadi. Aku menghormati momen bersejarah.”
“Momen apa?”
Dimas menepuk bahuku sekali lalu berjalan lagi. “Hari ketika Raka Adinata kehilangan kemampuan mendengar.”
Aku menyusul sambil menghela napas. “Lebay.”
“Tentu.”
Hari itu berjalan seperti hari kuliah biasa. Kami masuk kelas, mencatat, mengeluh soal tugas, lalu pulang menjelang sore. Aku bahkan sempat yakin pertemuan singkat tadi sudah hilang dari kepala.
Ternyata tidak.
Malamnya, ketika lampu kamar sudah mati dan aku tinggal menunggu kantuk, wajah perempuan itu muncul lagi begitu saja.
Bukan seluruh wajahnya, malah.
Senyumnya.
Senyum kecil yang mungkin sudah dia lupakan lima detik setelah kami berpapasan.
Aku menatap langit-langit yang gelap.
Siapa namanya?
Aku bisa saja mencari tahu. Kampus tidak sebesar itu. Tapi rasanya tidak perlu malam ini. Aku juga tidak punya alasan untuk mulai mencari akun seseorang yang bahkan belum kukenal.
Kalau memang satu kampus, mungkin aku akan melihatnya lagi.
Aneh, karena biasanya kemungkinan berpapasan dengan orang asing besok tidak pernah masuk daftar hal yang kupikirkan sebelum tidur.
Aku memejamkan mata.
Bayangan senyum tadi muncul lagi.
Sudut bibirku ikut naik sedikit.
Semoga besok ketemu lagi.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya reading
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat