Chapter Nine
Mak Icah
POV: Bagas
Rumah kami di Kampung Bawah adalah rumah panggung kayu yang dibangun Bapak tahun 1998, dengan tiga anak tangga di depan, satu dapur tungku di belakang, dan atap seng yang berbunyi seperti genderang setiap kali hujan.
Selama empat tahun terakhir, satu-satunya tenaga kesehatan yang pernah naik ke tangga itu adalah Teh Euis, dua kali, untuk memeriksa Lilis yang demam.
Selasa sore, Bu Dokter naik ke tangga itu.
“Kunjungan rumah,” katanya di depan pintu, memeluk tas medis, mengenakan blus putih lengan panjang dan rok plisket biru tua yang bergoyang tertiup angin sore. Rambutnya digerai, diselipkan ke belakang telinga di satu sisi, memperlihatkan anting kecil berbentuk bunga. “Program puskesmas. Pemantauan pasien diabetes. Mak Icah masuk daftar.”
“Mak saya tidak pernah ke puskesmas, Bu Dokter.”
“Justru itu. Makanya masuk daftar.”
Aku berdiri di ambang pintu dengan sarung dan kaus oblong rumah, rambut masih basah habis mandi, dan obeng di tangan karena sedang membetulkan engsel lemari. Dia menatapku dari ujung kepala sampai sarung, dan sudut bibirnya naik.
“Mas kalau di rumah kayak gini, ya.”
“Mohon maaf, Bu Dokter. Saya ganti baju dulu.”
“Nggak usah.” Dia tersenyum lebar. “Aku suka.”
Sebelum aku sempat mencerna kalimat itu, sebuah suara melengking terdengar dari dalam rumah.
“MAAAAK! BU DOKTERNYA DATENG! BENERAN DATENG!”
Lilis meluncur dari kamar, menabrak bahuku dari belakang, dan berhenti tepat di depan Bu Dokter dengan mata berbinar dan rambut setengah dikepang.
“Halo, Bu Dokter! Aku Lilis! Adiknya Aa! Aku yang di video Kang Dede ketawa paling kenceng di belakang!”
“Halo, Lilis.” Bu Dokter tertawa, menyalami tangan Lilis. “Aku udah dengar banyak tentang kamu.”
“Dari Aa?” Lilis menoleh padaku dengan wajah tidak percaya. “Aa cerita tentang aku?”
“Dari Mang Odon,” kata Bu Dokter.
“Oh.” Lilis mengangguk paham. “Masuk akal.”
Mak menyambut Bu Dokter di ruang tengah dengan kebaya terbaiknya, kerudung baru yang dibeli untuk Lebaran tahun lalu, dan senyum yang sudah tidak kulihat sejak pemakaman Bapak.
“Ya Allah, Neng Dokter. Geulis pisan. Langkung geulis tibatan dina video.”
“Mak Icah juga cantik,” kata Bu Dokter, mencium tangan Mak dengan cara yang membuat Mak tersipu seperti gadis. “Terima kasih buat jahenya tiap malam, Mak. Itu jahe paling enak yang pernah aku minum.”
Mak menoleh padaku. Tatapannya mengatakan kamu cerita ke dia kalau itu dari Mak? Aku menatap engsel lemari.
Bu Dokter memeriksa Mak dengan teliti. Mengukur tekanan darah. Mengecek gula darah dengan glukometer kecil yang dibawanya. Melihat telapak kaki Mak, satu per satu, mencari luka. Menanyakan makanan Mak sehari-hari, jam minum obat, seberapa sering Mak kesemutan.
Gula Mak dua ratus empat puluh.
Bu Dokter menatap angka itu, lalu menatap Mak dengan sabar.
“Mak minum obatnya teratur?”
“Teratur, Neng.”
“Tiap hari?”
“Hampir.”
“Mak.”
Mak tertawa malu. “Kadang lupa, Neng. Kalau Bagas lagi lembur, nggak ada yang ngingetin.”
Bu Dokter mengangguk, lalu mengambil kertas resep dari tasnya dan mulai menulis. Bukan obat. Jadwal. Jam minum obat, porsi nasi, sayur yang boleh, gorengan yang tidak boleh. Dengan tulisan bulat yang besar-besar supaya Mak bisa membacanya tanpa kacamata.
Lalu dia menempelkan kertas itu di dinding ruang tengah, tepat di samping foto Bapak dengan mixer Gelar Sound.
“Ini, Mak. Biar kelihatan tiap hari.” Dia menepuk kertas itu pelan. “Kalau Mas Bagas lagi lembur, Lilis yang ngingetin. Kalau Lilis lupa, Mak kedipin senter ke puskesmas. Nanti aku telepon.”
“Kedipin senter?” tanya Mak bingung.
Lilis menoleh padaku dengan mata menyipit seperti detektif. Aku membetulkan engsel lemari yang sudah benar.
Pemeriksaan selesai pukul lima. Bu Dokter seharusnya pamit.
Bu Dokter tidak pamit.
“Mak, aku boleh bantu masak?”
Mak menatapnya dengan mata membulat. “Neng Dokter bisa masak?”
“Nggak bisa, Mak,” jawab Bu Dokter jujur. “Sama sekali. Di Jakarta aku pesan makanan terus. Di Cibening aku makan mi instan atau nitip Bi Onah. Tapi aku mau belajar.”
Mak tertawa sampai kerudungnya miring. Lalu dia menarik tangan Bu Dokter ke dapur tungku di belakang, dan aku mendengar suara Mak menjelaskan cara menanak nasi liwet dengan kastrol, dengan api tungku, dengan sereh dan daun salam dan teri.
Lilis duduk di sebelahku di ruang tengah, memeluk lutut, menatapku dengan senyum yang membuatku ingin memasukkannya kembali ke kamar.
“Aa.”
“Hm.”
“Bu Dokter kunjungan rumah ke berapa pasien hari ini?”
“Tidak tahu, Lis.”
“Aku tahu.” Lilis menyeringai. “Satu. Rani bilang di grup PKK. Cuma Mak.”
Aku diam.
“Terus kenapa Bu Dokter tahu nama Aa Bagas pas pertama kenalan, tapi manggil Aa Mas Bagas? Orang Cibening manggil Aa Kang.”
“Karena dia orang Jakarta, Lis.”
“Terus kenapa senter?”
“Lis.”
“Kenapa senter, Aa?”
Aku berdiri dan pergi ke dapur.
Dapur tungku kami kecil, berasap, dan gelap kecuali cahaya oranye dari api di bawah kastrol. Mak duduk di dingklik kayu, memberi instruksi. Bu Dokter berjongkok di depan tungku, rok plisket biru tua dilipat di bawah lutut, rambut dikuncir asal dengan karet gelang yang pasti dipinjam dari Mak, wajah merah karena panas api.
Pipinya ada noda arang. Di pelipis, ada butiran keringat.
Dan dia sedang meniup api dengan semprong bambu sekuat tenaga, dengan wajah serius seperti sedang melakukan resusitasi.
“Jangan kekencengan, Neng,” kata Mak. “Nanti nasinya gosong.”
“Apinya kecil, Mak.”
“Itu memang harus kecil.”
“Oh.” Bu Dokter berhenti meniup. Lalu menatap kastrol. “Mak, ini baunya kok kayak...”
Mak dan aku mencium bau yang sama pada saat yang sama.
Gosong.
Mak meraih tutup kastrol dengan kain lap. Uap mengepul. Di dalam, nasi liwet bagian atas putih dan wangi sereh. Bagian bawah hitam. Bukan cokelat keemasan seperti kerak yang enak. Hitam. Seperti arang di tungku.
Bu Dokter menatap kastrol itu dengan wajah orang yang baru saja kehilangan pasien.
“Mak,” bisiknya. “Aku bikin nasi jadi arang.”
“Teu nanaon, Neng.” Mak menepuk bahunya, menahan tawa. “Bagian atasnya masih bisa dimakan.”
“Bagian bawahnya nggak bisa.”
“Nanti Mak kasih ayam.”
Bu Dokter menatap kastrol itu lagi. Lalu menatapku, yang berdiri di ambang pintu dapur. Matanya sedikit berkaca-kaca. Bukan sedih. Malu. Seperti anak kecil yang menumpahkan susu di depan tamu.
“Mas,” katanya pelan. “Jangan ketawa.”
“Saya tidak ketawa, Bu Dokter.”
“Mukamu ketawa.”
Aku mengambil piring dari rak bambu, berjalan ke tungku, mengambil centong, dan mengeruk nasi liwet itu. Bukan bagian atas. Bagian bawah. Bagian yang hitam.
Aku menaruhnya di piringku. Penuh.
“Mas,” kata Bu Dokter, berdiri. “Itu gosong.”
“Saya suka kerak, Bu Dokter.”
“Itu bukan kerak. Itu arang.”
Aku duduk di dingklik di samping Mak, mengambil sedikit sambal dari cobek, dan mulai makan.
Rasanya pahit. Keras. Ada bagian yang berbunyi krek di gigi seperti kerupuk yang terlalu lama digoreng. Tapi di sela-sela pahitnya, ada wangi sereh dan teri dan daun salam.
Aku makan satu suapan. Dua. Tiga.
Bu Dokter berdiri di depan tungku dengan noda arang di pipi, menatapku makan, dan tidak bergerak.
Mak, di sampingku, juga tidak bergerak. Mak menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu Mak menatap Bu Dokter. Lalu Mak tersenyum, pelan, dan menunduk ke tangannya sendiri.
Aku menghabiskan nasi itu sampai butir terakhir.
“Enak,” kataku.
Bu Dokter menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar. Aku tidak tahu apakah dia tertawa atau menangis. Mungkin dua-duanya.
Dari ambang pintu, Lilis, yang entah sejak kapan berdiri di sana, berbisik keras sekali, “Ya Allah, Aa. Aa makan arang demi cinta.”
“LIS.”
Di tangga depan, saat Bu Dokter memakai sandal, Mak menahan tangannya.
“Neng,” kata Mak. “Ulah nyebut Mak Icah. Mak wae.”
Bu Dokter menatap Mak. “Mak?”
“Muhun. Mak.” Mak menepuk punggung tangannya dua kali, lalu menyelipkan sesuatu ke telapak tangan itu. Karet gelang hitam yang tadi dipinjamkan untuk menguncir rambut. “Ieu dibawa. Bisi kapake deui. Kalau mau belajar masak lagi, datang aja. Nggak usah alasan kunjungan rumah.”
Bu Dokter menggenggam karet gelang itu. Bibirnya bergetar sedikit. Lalu dia memeluk Mak. Lama. Dan Mak, yang tidak pernah memeluk siapa pun kecuali Lilis dan aku, memeluknya balik.
Pukul enam lewat sepuluh, langit Cibening berubah oranye dan ungu. Aku mengantar Bu Dokter pulang ke puskesmas lewat jalan setapak di pinggir kebun bambu.
Jalan itu gelap di beberapa bagian, di bawah rumpun bambu yang rapat. Aku menyalakan senter. Dia berjalan di sampingku, memeluk tas medis, diam lebih lama dari biasanya.
Lalu dia berkata, “Mak cerita tentang Mas.”
“Cerita apa, Bu Dokter?”
“Waktu aku lagi tiup api. Mas di ruang tengah sama Lilis.” Dia menatap jalan di depannya. “Mak bilang, Mas dari kecil nggak pernah minta apa-apa. Waktu SD, temen-temennya minta sepeda, Mas minta solder. Waktu SMP, Mas nabung buat beli buku elektronika bekas. Waktu Bapak meninggal, Mas pulang dari Bekasi dan nggak pernah ngomong kangen kerja di pabrik. Sekali pun.”
Aku tidak menjawab.
“Mak bilang dia sering lihat Mas berdiri di depan foto Bapak tengah malam. Nggak ngapa-ngapain. Cuma berdiri.” Dia berhenti di bawah rumpun bambu, di bagian paling gelap. “Terus Mak bilang ke aku, Neng, Bagas teh teu kungsi menta nanaon ka saha wae. Tapi Mak sok hayang aya nu mere ka manehna, tanpa diménta.“
Aku berhenti juga.
“Aku nggak terlalu ngerti bahasa Sundanya,” katanya pelan. “Tapi aku ngerti artinya. Mas nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun. Tapi Mak selalu pengen ada yang ngasih ke Mas. Tanpa diminta.”
Aku menatap senter di tanganku. Cahayanya bergetar sedikit. Aku tidak tahu kenapa.
Lalu aku merasakan sesuatu di lengan kiriku. Jari-jarinya. Memegang ujung lengan kausku. Bukan menggandeng. Hanya memegang ujung kain, seperti di jalan ke Kampung Atas, seperti anak kecil yang takut tertinggal.
“Gelap, Mas,” katanya. “Pegangan.”
Itu alasan yang masuk akal. Jalan di bawah bambu memang gelap.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berjalan lebih pelan, supaya jarinya tidak perlu terlepas.
Di depan puskesmas, dia melepas ujung lenganku dan naik ke tangga. Lalu berbalik.
“Mas.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Nasi tadi beneran enak?”
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius. Aku memikirkan rasa pahit, bunyi krek, dan wangi sereh di sela-selanya. Aku memikirkan wajahnya yang merah di depan tungku, noda arang di pipinya, dan matanya yang berkaca-kaca karena malu.
“Tidak, Bu Dokter,” kataku jujur.
Dia tertawa. Lepas.
“Tapi saya mau makan lagi,” lanjutku. “Kalau Bu Dokter masak lagi.”
Tawanya berhenti.
Dia menatapku dari tangga puskesmas, di bawah lampu teras yang baru menyala. Noda arang masih ada di pipinya. Dia belum sadar.
Aku tidak bilang.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-33 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: makan nasi liwet gosong buatanku satu piring penuh. Bagian bawahnya. Bagian yang hitam. Bilang suka kerak. Itu bukan kerak. Itu arang. Pasien tahu itu arang.
Pemeriksaan: pasien kalau di rumah pakai sarung dan kaus oblong, rambut basah, megang obeng. Aku nggak tahu kenapa itu bikin jantungku aritmia.
Riwayat dari Mak Icah: waktu SD minta solder, bukan sepeda. Nggak pernah bilang kangen pabrik. Suka berdiri di depan foto bapaknya tengah malam.
Diagnosis: pasien nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun. Mak-nya pengen ada yang ngasih tanpa diminta.
Terapi: aku. Aku mau jadi orang itu.
Catatan dokter: aku pegang ujung lengan kausnya di bawah bambu. Dia jalan lebih pelan biar aku nggak lepas. Terus dia bilang nasinya nggak enak, tapi dia mau makan lagi kalau aku masak lagi.
Aku sampai di ruang jaga, ngaca, dan ada arang di pipiku. Dari tadi. Dia lihat. Dia nggak bilang.
Aku mau marah. Aku nggak bisa. Soalnya aku tahu kenapa dia nggak bilang.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah reading
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup