Chapter Ten
Rantang Neng Wulan
POV: Bagas
Rantang pertama datang hari Senin, pukul dua belas kurang lima, dibawa dengan dua tangan oleh perempuan berkerudung merah muda yang berdiri di depan mejaku dengan wajah tertunduk.
“Kang Bagas,” katanya pelan. “Ieu. Kanggo Akang.”
Neng Wulan, guru PAUD Melati, dua puluh lima tahun, anak bungsu Ajengan Uci. Orang Cibening menyebutnya kembang desa sejak dia masih SMP. Kulitnya putih bersih, matanya teduh, suaranya selembut kapas, dan dia tidak pernah berbicara lebih keras dari bisikan kepada laki-laki mana pun.
“Untuk apa, Neng?”
“Hatur nuhun, Kang. Kemarin Akang benerin sound PAUD buat pentas anak-anak. Gratis.” Dia meletakkan rantang tiga susun di mejaku. “Abdi teu tiasa mayar. Jadi abdi masak.”
Rantang itu masih hangat. Dari celah tutupnya keluar wangi sambal goreng kentang.
“Neng, tidak perlu...”
“Tos, Kang.” Dia tersenyum, menunduk lebih dalam, lalu berbalik dan berjalan keluar kantor desa dengan langkah cepat.
Kang Dadan, di meja sebelah, menatap rantang itu. Lalu menatapku. Lalu menatap ke luar jendela, ke seberang jalan, ke jendela ruang periksa puskesmas.
“Gas,” katanya pelan. “Kamu tahu Bu Dokter bisa lihat meja kamu dari sana?”
“Tahu, Kang. Kenapa?”
Kang Dadan menghela napas panjang seperti orang tua yang lelah. “Nggak apa-apa. Bagi dua, ya, rantangnya.”
Rantang kedua datang hari Selasa. Rantang ketiga hari Rabu.
Isinya berganti setiap hari. Senin sambal goreng kentang dan ayam goreng. Selasa sayur asem, ikan asin, dan lalap. Rabu telur balado, perkedel, dan sambal terasi yang dibuat sendiri.
Setiap hari, aku berusaha menolak. Setiap hari, Neng Wulan sudah berjalan pergi sebelum aku selesai bicara. Dan setiap hari, aku membagi isinya dengan Kang Dadan, Teh Nining, dan Pak Haji, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tiga susun makanan yang dibuat dengan niat baik.
Pada hari Rabu, Cibening sudah punya topik gosip baru.
“Kembang desa lawan Bu Dokter,” bisik Bi Onah ke pelanggannya, sambil membalik bala-bala. “Seru, nya?”
“Saya pegang Neng Wulan,” kata Mang Odon di pangkalan ojek. “Orang lokal. Masakannya enak. Bu Dokter kan nggak bisa masak. Nasi aja gosong.”
“Saya pegang Bu Dokter,” balas tukang ojek lain. “Kang Bagas makan nasi gosong itu satu piring. Itu namanya cinta, Don.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari Lilis.”
Dede membuat video berjudul SIAPA PILIHAN KANG BAGAS?? (Kembang Desa vs Bidadari Puskesmas) — Dede Vlog Cibening, dengan thumbnail fotoku yang sedang menggulung kabel, wajahku dilingkari merah, dan tanda tanya besar.
Aku tidak menontonnya. Lilis menontonnya empat kali dan memberiku laporan lengkap.
Yang tidak kusadari, sampai Rabu malam, adalah perubahan di seberang jalan.
Pukul sembilan, aku mengantar termos biru seperti biasa. Bu Dokter membuka pintu. Dia memakai sweter rajut krem seperti biasa, rambutnya tergerai seperti biasa, dan wajahnya cantik seperti biasa di bawah lampu teras.
Tapi dia tidak tersenyum.
“Makasih, Mas,” katanya, mengambil termos.
Lalu dia menutup pintu.
Tidak ada Mas udah makan? Tidak ada Hari ini nggak sakit? Tidak ada lesung pipi. Tidak ada ujung jari yang menyentuh jariku saat termos berpindah tangan.
Hanya makasih, Mas, dan pintu yang menutup.
Aku berdiri di tangga puskesmas selama sepuluh detik, menatap pintu itu, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, aku duduk di meja kantor desa dengan senter di tangan, menatap jendela ruang jaga di seberang jalan.
Tidak ada kedipan.
Pukul sepuluh. Tidak ada.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh. Lampu ruang jaga masih menyala. Aku bisa melihat siluetnya di meja jaga. Duduk. Tidak membaca. Tidak menulis. Hanya duduk, menatap sesuatu di mejanya.
Termos biru.
Tidak ada kedipan sampai lampu itu padam pukul sebelas.
Aku pulang dan tidak bisa tidur. Aku memeriksa agenda kulit cokelat, mencari resep yang mungkin terlewat. Tidak ada yang baru. Aku memeriksa ponsel. Tidak ada pesan. Aku memeriksa ulang semua yang kukatakan padanya dalam tiga hari terakhir, dan tidak menemukan satu pun kesalahan prosedur.
Pukul satu dini hari, Lilis mengetuk pintu kamarku dengan wajah mengantuk.
“Aa. Aa kenapa nyalain senter terus dari tadi? Silau ke kamar aku.”
“Tes baterai, Lis.”
Lilis menatapku lama dengan mata setengah tertutup. “Aa bego, ya?”
“Lis.”
“Bu Dokter cemburu, Aa. Sama rantang Neng Wulan.” Dia menguap. “Satu desa tahu. Cuma Aa yang nggak tahu.”
Pintu ditutup.
Aku duduk di tepi kasur, memegang senter, dan merasakan sesuatu di dadaku yang lebih rumit dari rangkaian elektronik mana pun yang pernah kurakit.
Kamis pagi, pukul sepuluh, Rani datang ke kantor desa membawa selembar surat.
“Kang Bagas,” katanya, dengan wajah yang terlalu serius untuk Rani. “Surat dari puskesmas. Wajib.”
SURAT PANGGILAN
Kepada Yth. Ketua Panitia Pilkades Cibening
Sehubungan dengan program pemeriksaan kesehatan bagi panitia penyelenggara pemilihan, Saudara diminta hadir di Puskesmas Cibening hari ini, pukul 10.30, untuk pemeriksaan kesehatan berkala.
Pemeriksaan bersifat wajib.
— dr. Kinanti Larasati
Aku membaca surat itu dua kali.
“Rani,” kataku. “Panitia lain juga dipanggil?”
Rani menatap langit-langit. “Nggak tahu, Kang. Saya cuma kurir.”
“Teh Nining? Kang Dadan? Ajengan Uci?”
“Saya cuma kurir, Kang.” Rani berbalik, dan sebelum keluar, menambahkan dengan sangat cepat, “Kayaknya cuma Akang. Jangan bilang dari saya.”
Pukul sepuluh lewat tiga puluh, aku berdiri di ruang obat puskesmas.
Bukan ruang periksa. Ruang obat. Ruangan kecil di ujung lorong dengan lemari kaca berisi obat, rak kardus, dan satu jendela kecil yang tirainya ditutup.
Bu Dokter berdiri di depan lemari obat dengan jas putih, stetoskop di leher, clipboard di tangan. Rambutnya dikuncir tinggi. Wajahnya serius. Sangat serius. Profesional sampai ke ujung kuku.
“Silakan duduk, Mas,” katanya, menunjuk kursi plastik.
Aku duduk.
Dia memasang manset tensimeter di lenganku tanpa bicara. Memompa. Mendengarkan dengan stetoskop. Menatap jarum.
“Seratus tiga puluh per delapan puluh lima,” katanya datar. “Agak tinggi.”
“Biasanya seratus dua puluh, Bu Dokter.”
“Hari ini seratus tiga puluh.” Dia mencatat di clipboard. “Kebanyakan makan sambal goreng kentang, mungkin.”
Aku diam.
“Atau telur balado.” Dia mencatat lagi. “Atau sambal terasi buatan sendiri.”
Aku diam lebih lama.
Dia melepas manset dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari perlu. Lalu berkata, tanpa menatapku, “Berdiri, Mas. Hadap lemari. Saya periksa paru-paru dari belakang.”
Aku berdiri. Menghadap lemari obat. Di kaca lemari, aku bisa melihat bayangan samar wajahku sendiri dan, di belakangnya, bayangannya.
Dingin logam stetoskop menyentuh punggungku, menembus kemeja.
“Tarik napas,” katanya.
Aku menarik napas.
“Buang.”
Aku membuang napas.
Stetoskop itu pindah ke sisi kiri punggungku. Lalu ke kanan. Lalu ke tengah, tepat di antara tulang belikat.
Lalu diam.
“Mas,” katanya pelan. Suaranya tidak datar lagi.
“Iya, Bu Dokter.”
“Rantangnya punya siapa?”
Aku menatap bayangannya di kaca lemari. Dia menunduk. Stetoskop masih menempel di punggungku, tapi tangannya yang memegang kepala stetoskop sedikit gemetar.
“Punya Neng Wulan, Bu Dokter. Dia berterima kasih karena saya membetulkan sound PAUD.”
“Tiga hari berturut-turut.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Mas makan semuanya?”
“Saya bagi dengan Kang Dadan, Teh Nining, dan Pak Haji.”
Hening sebentar.
“Semuanya dibagi?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku ingin berbohong. Aku tidak bisa.
“Telur baladonya saya makan sendiri, Bu Dokter.”
Di kaca lemari, aku melihat bayangannya mengangkat kepala. Menatap punggungku. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup. Lalu dia mengeluarkan suara kecil, setengah geram setengah rengek, seperti anak kucing yang ekornya terinjak.
Lalu stetoskop itu jatuh dari punggungku.
Aku mendengarnya terbentur lantai. Dan sebelum aku sempat berbalik, dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.
Erat.
Dahinya menempel di punggungku, di tempat stetoskop tadi berada. Aku bisa merasakan napasnya menembus kemeja, hangat, sedikit terengah.
Aku membeku. Total. Seperti genset yang businya basah.
“Aku cemburu,” gumamnya di punggungku. Suaranya teredam, kesal, dan sangat jujur. “Aku dokter. Aku dua puluh tujuh tahun. Aku pernah presentasi kasus di depan profesor jantung se-Jakarta. Dan aku cemburu sama rantang.”
“Bu Dokter...”
“Rantang tiga susun. Isinya telur balado.” Pelukannya mengencang. “Aku cuma bisa bikin arang.”
Aku menatap bayangan kami di kaca lemari obat. Perempuan berjas putih dengan kuncir tinggi, memeluk laki-laki berkemeja krem dari belakang, wajahnya tersembunyi di punggungnya. Di kaca, aku bisa melihat kupingnya. Merah. Sama seperti kupingku.
“Detak jantung Mas kedengeran dari sini,” bisiknya. “Nggak perlu stetoskop. Kenceng banget.”
“Itu karena tensi saya seratus tiga puluh, Bu Dokter.”
“Bohong.”
Aku menelan ludah. Lalu, pelan, aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang terkait di depan perutku. Hanya meletakkan. Tidak menggenggam. Tapi dia merasakannya, karena napasnya berhenti sebentar.
“Bu Dokter,” kataku. “Besok saya kembalikan rantangnya ke Neng Wulan. Saya bilang terima kasih, dan tidak perlu lagi.”
Dia diam.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya, sangat pelan.
Aku memikirkan jawaban yang sesuai prosedur. Tidak ada.
Jadi aku menjawab dengan yang jujur.
“Karena saya sudah ada yang masakin arang.”
Pelukan di pinggangku membeku sedetik. Lalu bahunya mulai bergetar. Aku tidak tahu dia tertawa atau menangis sampai dia mengeluarkan suara yang jelas-jelas tawa, teredam di punggungku.
“Mas jahat,” katanya di sela tawa.
“Mohon maaf, Bu Dokter.”
“Jangan minta maaf.” Dia tidak melepaskan pelukannya. “Diem dulu. Sepuluh detik lagi. Aku belum selesai periksa.”
Aku diam.
Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh.
Dia tidak menghitung dengan benar. Aku tidak mengoreksinya.
Jumat siang, aku mengembalikan rantang tiga susun itu ke PAUD Melati, sudah dicuci bersih, dengan sekantong jeruk dari kebun Mak di dalamnya.
Neng Wulan menerimanya di depan pintu kelas, dengan anak-anak PAUD yang mengintip dari jendela.
“Hatur nuhun, Neng,” kataku. “Masakannya enak sekali. Tapi tidak perlu repot lagi. Sound PAUD memang tugas saya.”
Neng Wulan menatap rantang di tangannya. Lalu menatapku. Lalu, dengan senyum kecil yang tenang dan sedikit sedih, dia berkata, “Bu Dokter, nya, Kang?”
Aku tidak menjawab.
Dia tidak menunggu jawaban. Dia hanya mengangguk pelan, seperti orang yang sudah tahu jawaban soal ujian sebelum membuka kertasnya.
“Bu Dokter teh sae,” katanya. “Abdi ningali anjeunna ngagendong murangkalih di posyandu. Sareng Akang.” Dia memeluk rantang itu. “Mugia lancar, Kang.”
Aku mengangguk. Tidak tahu harus bilang apa. Neng Wulan masuk ke kelas, dan anak-anak PAUD langsung mengerubunginya, menanyakan jeruk.
Malam itu, pukul sembilan, dia membuka pintu puskesmas sebelum aku sampai di tangga.
Sweter rajut krem. Rambut tergerai. Lesung pipi.
“Pagi tadi aku lihat Mas bawa rantang ke PAUD,” katanya, mengambil termos.
“Iya, Bu Dokter.”
“Isinya jeruk.”
“Dari kebun Mak.”
Dia menatapku lama, memeluk termos. Lalu tersenyum. Lebar. Lalu tiba-tiba menyodorkan sesuatu dari saku sweternya.
Selembar kertas resep, terlipat dua.
Pro: Tn. Bagas Pramudya
R/ Telur balado. Buatan dr. Kinanti. Jumlah: 1 (satu). Bentuk: mungkin gosong.
Aturan pakai: dimakan sendiri. Tidak boleh dibagi ke Kang Dadan.
Aku membaca resep itu. Lalu menatapnya.
“Bu Dokter mau masak telur balado?”
“Mak udah janji ngajarin besok sore.” Dia mengangkat dagu. “Mas harus makan. Semuanya. Walaupun hitam.”
“Baik, Bu Dokter.”
“Sesuai prosedur?”
“Sesuai resep.”
Dia tertawa, dan menutup pintu.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, dari meja kantor desa, aku melihat cahaya di jendela ruang jaga.
Dua kedip.
Aku menjawab sekali.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-40 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: tensi 130/85. Penyebab yang dicurigai: sambal goreng kentang, sayur asem, dan telur balado buatan kembang desa selama tiga hari.
Pemeriksaan fisik: auskultasi paru dari belakang. Normal. Lalu stetoskopnya jatuh. Lalu dokternya meluk pasien dari belakang. Ini bukan prosedur standar. Aku tahu.
Diagnosis: dokternya cemburu sama rantang. Akut. Memalukan. Nggak nyesel.
Terapi: rantangnya dikembalikan, isinya jeruk dari kebun Mak. Pasien bilang dia udah ada yang masakin arang.
Catatan dokter: Rabu malam aku nggak kedipin senter. Lilis bilang ke Rani, Rani bilang ke aku, kalau semalaman dia nyalain-matiin senter di kamarnya sampai Lilis kesilauan. Nunggu jawaban yang nggak pernah dateng.
Maaf ya, Mas. Besok aku masakin telur balado. Pasti gosong. Tapi itu punya kamu semua.
Waktu aku peluk, dia naruh tangannya di atas tanganku. Nggak digenggam. Cuma ditaruh. Aku nggak jadi ngitung sepuluh detik. Aku lupa angka.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan reading
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup