← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Two

Termos Biru

POV: Bagas

Mak tahu semuanya sebelum aku sempat menghabiskan sarapan.

“Katanya dokternya geulis pisan, nya, Gas?”

Aku menunduk ke piring nasi goreng. “Kata siapa, Mak?”

“Kata grup PKK.” Mak menyendokkan sambal ke piringku, meskipun aku tidak minta. “Kata Ceu Imas juga. Kata Bi Onah juga. Kata Mang Odon, kamu yang dipanggil namanya pakai mik.”

Lilis, yang sedang memakai sepatu sekolah di ambang pintu, langsung menoleh dengan mata berbinar. “HAH? Aa dipanggil Bu Dokter pakai mik?”

“Itu kecelakaan teknis.”

“Kecelakaan teknis apa?” Lilis tertawa sampai hampir jatuh dari bangku kayu. “Aa, satu sekolah udah nonton videonya Kang Dede! Bu Dokter nanya ‘namanya siapa?’, terus Aa jawab ‘Bagas, Bu Dokter’ kayak lagi diinterogasi polisi!”

“Lis, berangkat. Nanti telat.”

“Udah empat ribu views, Aa!”

Dia berlari keluar sebelum aku sempat melempar kerupuk. Mak tertawa pelan sambil menuang air hangat ke gelas obatnya. Aku melirik tangan Mak, yang sedikit gemetar saat memegang teko. Gula darahnya naik lagi minggu ini. Aku sudah tahu dari angka di glukometer yang Mak kira kusembunyikan di laci.

“Mak udah cek gula pagi ini?”

“Udah.”

“Berapa?”

“Normal.”

“Mak.”

Mak tersenyum, menepuk tanganku. “Dua ratus sepuluh. Nanti Mak ke puskesmas, sekalian kenalan sama dokter geulis itu.”

Aku menghela napas. Mak tertawa lagi.


Hari kedua dr. Kinanti di Cibening dimulai dengan domba.

Aku melihatnya dari jendela kantor desa pukul delapan pagi. Domba garut Juragan Ujang, yang semalam terikat di tiang bendera, entah bagaimana berhasil melepaskan diri. Sekarang ia berdiri di depan pintu puskesmas, menghalangi jalan masuk, dengan tanduk melingkar dan tatapan seperti penjaga gerbang kerajaan.

Dan Bu Dokter berdiri di tangga puskesmas, memegang tas dan gelas kopi, membeku.

“Teh Euis!” serunya. Suaranya sampai ke kantor desa. “Teh, dombanya ngeliatin saya!”

“Jalan aja atuh, Bu Dokter! Dombanya baik!” Teh Euis berteriak dari jendela ruang KIA, jelas sedang menahan tawa.

“Dia nunduk-nunduk, Teh! Itu tandanya mau nyeruduk!”

“Itu tandanya mau makan rumput!”

Pak Haji, di meja sebelahku, menutup wajah dengan map. Aku berdiri, keluar kantor, menyeberang jalan, dan mengambil tali domba yang menjuntai di tanah. Domba itu menoleh padaku, mengembik pendek, lalu membiarkan dirinya dituntun kembali ke tiang bendera tanpa protes.

Aku mengikat talinya dengan simpul pangkal. Dua lilitan.

Saat aku berbalik, Bu Dokter masih berdiri di tangga, memeluk gelas kopinya erat-erat.

“Makasih, Mas Bagas,” katanya. Pagi itu dia memakai jas putih dengan pin stetoskop kecil warna merah muda di saku dada, rambutnya dikuncir tinggi, dan wajahnya tanpa riasan berlebihan selain sedikit warna di bibir. Bahkan dalam keadaan ketakutan pada domba, dia terlihat seperti dokter di iklan pasta gigi.

“Sama-sama, Bu Dokter.”

“Mas nggak takut sama domba?”

“Tidak, Bu Dokter.”

“Sama ayam?”

Aku menatapnya. “Ayam?”

Dia menggigit bibir. “Lupakan pertanyaan itu.”

Lalu dia masuk ke puskesmas dengan cepat, dan sebelum pintu menutup, aku melihat kupingnya merah.

Pukul sepuluh, Mang Odon mampir ke meja kantor desa dengan senyum yang sudah kukenal.

“Mas Bagas. Ada info.”

“Saya tidak beli info, Mang.”

“Ini info penting. Tentang Bu Dokter.” Mang Odon mendekat, berbisik. “Bu Dokter takut ayam. Tadi pagi ayam Bi Onah masuk ke ruang tunggu puskesmas, dan Bu Dokter naik ke atas kursi.”

Aku diam.

“Gratis buat Mas,” kata Mang Odon, menepuk bahuku. “Yang berikutnya baru bayar. Gorengan dua.”


Malam itu, pukul sembilan kurang sepuluh, listrik padam di seluruh Cibening.

Itu bukan hal aneh. Listrik di desa kami padam rata-rata dua kali seminggu, biasanya karena pohon tumbang di jalur kabel Cikadu. Mak sudah menyalakan lampu minyak sebelum aku sempat mencari senter.

Yang aneh adalah ponselku yang bergetar tiga detik kemudian.

Rani Puskesmas: KANG BAGAS

Rani Puskesmas: GENSET PUSKESMAS NGGAK MAU NYALA

Rani Puskesmas: Ada pasien anak sesak, butuh nebulizer, nggak ada listrik!!!

Rani Puskesmas: Bu Dokter udah nyuruh aku nelepon siapa aja yang ngerti mesin, terus kata Teh Euis yang ngerti mesin di desa ini cuma Kang Bagas

Aku sudah memakai jaket sebelum membaca pesan keempat.

“Mau ke mana, Gas?”

“Puskesmas, Mak. Gensetnya mati.”

Mak berdiri dari kursi, berjalan ke dapur dengan langkah yang terlalu cepat untuk orang dengan gula dua ratus sepuluh, lalu kembali dengan sesuatu di tangan.

Termos biru. Termos tua bertutup putih, yang dulu selalu dibawa Bapak saat menyewakan sound ke hajatan sampai subuh.

“Bawa,” kata Mak.

“Mak, saya mau benerin genset, bukan mau ronda.”

“Bawa.” Mak menyelipkan termos itu ke tanganku dengan kekuatan yang tidak bisa ditolak. “Wedang jahe. Tadi sore Mak bikin. Dokter itu dari Jakarta, Gas. Orang Jakarta nggak kuat dingin Cibening. Kasihan jaga malam sendirian.”

Aku tidak sempat berdebat. Aku memasukkan termos ke kantong jaket, mengambil kotak perkakas, dan berlari.


Puskesmas gelap total, kecuali satu titik cahaya dari senter ponsel di ruang tindakan.

Di dalam, seorang ibu menggendong anak laki-laki kecil, mungkin empat tahun, yang napasnya berbunyi seperti peluit. Rani memegang senter ponsel tinggi-tinggi. Dan Bu Dokter berlutut di depan anak itu, satu tangan mengusap punggungnya, suaranya pelan dan tenang.

“Napasnya pelan-pelan, ya, Sayang. Tiup lilin. Fuuuh. Pinter.”

Dia mendongak saat aku masuk. Di cahaya senter yang bergoyang, wajahnya terlihat pucat dan matanya sangat serius. Tidak ada lesung pipi. Tidak ada senyum nakal. Hanya dokter.

“Mas Bagas,” katanya. “Gensetnya di belakang. Saya butuh listrik lima menit lagi. Bisa?”

“Bisa, Bu Dokter.”

Aku tidak tahu apakah bisa. Tapi aku bilang bisa.

Ruang genset ada di belakang puskesmas, bangunan kecil berdinding bata dengan pintu seng. Genset di dalamnya sudah tua, mungkin lebih tua dari mixer Bapak. Aku menyalakan senter di mulut, membuka penutupnya, dan mulai memeriksa.

Bensin ada. Oli cukup. Aku mencabut busi. Hitam pekat oleh kerak. Busi itu jelas tidak pernah dibersihkan sejak puskesmas kehilangan dokter delapan bulan lalu.

Aku mengikisnya dengan amplas kecil dari kotak perkakas, meniupnya, mengatur ulang celahnya dengan ujung obeng. Memasangnya kembali. Menarik tali starter.

Batuk. Mati.

Menarik lagi.

Batuk. Batuk. Mati.

Di balik dinding, aku bisa mendengar napas anak kecil itu, peluit kecil yang terputus-putus.

Aku membuka karburator, menemukan saringan yang tersumbat lumpur halus, membersihkannya dengan jari dan ujung kaus. Menutupnya. Menarik napas.

Menarik tali starter sekuat tenaga.

Genset itu batuk, tersedak, lalu meraung hidup.

Lampu di jendela puskesmas menyala satu per satu. Dari dalam, aku mendengar suara Rani berteriak, “NYALAAA!”, lalu dengungan mesin nebulizer, lalu suara Bu Dokter yang pelan dan tenang lagi.

Aku duduk di lantai ruang genset, bersandar ke dinding bata, dengan tangan hitam oleh oli dan jantung yang berdebar lebih keras dari suara mesin.


Pukul sepuluh lewat dua puluh, anak itu sudah bernapas normal dan tertidur di bahu ibunya. Bu Dokter memberikan obat, menjelaskan cara pemakaian dengan sabar dua kali, lalu mengantar mereka sampai ke pintu, tempat suami si ibu menunggu dengan motor.

Lalu dia keluar dan duduk di bangku panjang di depan puskesmas.

Aku sedang mencuci tangan di keran halaman, menggosok oli dengan sabun batangan yang tidak terlalu membantu.

“Mas.”

Aku menoleh.

Dia duduk dengan siku di lutut, jas putih di bahu, rambut setengah lepas dari kuncirnya. Di bawah lampu teras puskesmas, wajahnya terlihat lelah, tapi ada sesuatu yang lembut di sana. Lega.

“Makasih,” katanya. “Kalau gensetnya nggak nyala, saya harus rujuk ke RSUD. Satu jam setengah lewat Cikadu. Malam-malam. Hujan.”

“Itu tugas saya, Bu Dokter.”

“Benerin genset puskesmas tugas Kaur Umum?”

Aku memikirkannya. “Tidak, Bu Dokter.”

Dia tertawa kecil. Lesung pipinya kembali.

Udara malam Cibening turun ke enam belas derajat. Aku bisa melihat napasnya mengepul tipis. Dia menarik jas putihnya lebih rapat di bahu, dan jari-jarinya yang memegang kerah terlihat sedikit gemetar.

Aku teringat sesuatu di kantong jaket.

“Bu Dokter.”

“Hm?”

Aku mengeluarkan termos biru itu dan menyodorkannya. “Dari Mak saya. Wedang jahe. Kata Mak, orang Jakarta tidak kuat dingin Cibening.”

Dia menatap termos itu. Lalu menatapku. Matanya membulat sedikit.

“Mak Mas bikinin buat saya?”

“Iya.”

“Mak Mas belum pernah ketemu saya.”

“Belum, Bu Dokter. Tapi Mak sudah tahu semuanya dari grup PKK.”

Dia tertawa lagi, kali ini lebih keras, lalu mengulurkan tangan dan menerima termos itu. Dia membuka tutup putihnya, dan uap jahe yang hangat dan pedas langsung naik di antara kami. Dia menuang wedang jahe ke tutup termos, karena tidak ada gelas, lalu meniupnya dan menyesap pelan.

Matanya terpejam.

“Ya Allah,” bisiknya. “Enak banget.”

“Ada gula aren sama sereh, Bu Dokter. Resep keluarga.”

Dia membuka mata, menuang lagi ke tutup termos, lalu menyodorkannya padaku.

“Mas juga. Tangan Mas dingin. Saya lihat tadi gemetar waktu cuci tangan.”

Aku hendak menolak. Tapi dia sudah menyodorkan tutup termos itu terlalu dekat, dan untuk mengambilnya, jariku harus menyentuh jarinya.

Hanya satu detik. Jarinya hangat karena tutup termos. Jariku dingin karena air keran.

Dia tidak menarik tangannya lebih dulu. Aku yang menarik.

Aku meminum jahe itu dalam dua tegukan. Rasanya persis seperti malam-malam ketika Bapak pulang dari hajatan pukul tiga pagi, dan Mak sudah menunggu dengan termos yang sama.

“Mas,” kata Bu Dokter, mengambil kembali tutup termos dariku. “Tadi Mas bilang ‘bisa’ waktu saya nanya lima menit. Mas yakin waktu itu?”

Aku diam sebentar. “Tidak, Bu Dokter.”

“Terus kenapa bilang bisa?”

“Karena Bu Dokter butuh jawaban ‘bisa’.”

Dia menatapku lama. Lampu teras puskesmas berkedip sekali, dan dengung genset di belakang bangunan terdengar stabil.

“Mas Bagas,” katanya pelan.

“Iya, Bu Dokter.”

“Besok malam bawa lagi, ya.”

Aku menatap termos biru di pangkuannya. “Gensetnya, Bu Dokter?”

“Jahenya.” Dia tersenyum, memeluk termos itu ke dadanya seperti memeluk boneka. “Ini resep dokter, Mas. Wajib. Satu kali sehari, malam hari. Diantar langsung.”

“Bu Dokter, saya tidak yakin itu sesuai...”

“Prosedur?” Dia mengangkat alis. “Saya dokternya. Saya yang bikin resep.”

Aku tidak bisa membantah logika itu. Jadi aku tidak membantah.

Dia berdiri, mengembalikan termos ke tanganku, lalu berjalan ke pintu puskesmas. Di ambang pintu, dia menoleh.

“Jam sembilan, ya, Mas. Jangan telat. Saya nunggu di jendela.”

Pintu menutup.

Aku berdiri sendirian di halaman puskesmas, memegang termos biru yang masih hangat, dengan domba garut Juragan Ujang yang menatapku dari tiang bendera sambil mengunyah.


Malam berikutnya, pukul delapan lewat lima puluh sembilan, aku berdiri di depan pintu puskesmas dengan termos biru di tangan.

Aku tidak mengetuk. Aku belum sempat.

Karena pintu itu sudah terbuka, dan dia sudah berdiri di sana, dengan sweter rajut krem di bawah jas putih dan senyum yang terlalu lebar untuk jam sembilan malam.

“Satu menit lebih awal,” katanya. “Sesuai prosedur?”

“Sesuai prosedur, Bu Dokter.”

Dia tertawa, dan mengambil termos itu dari tanganku dengan dua tangan. Lalu, sebelum aku sempat menarik diri, dia menahan tangan kananku dan membaliknya, memeriksa garis hitam oli yang masih tertinggal di bawah kukuku.

“Belum hilang,” gumamnya. “Besok pakai sabun cuci piring. Itu saran dokter. Gratis.”

Dia melepaskan tanganku. Lambat. Lebih lambat dari kemarin.

Kali ini dia yang terakhir melepas.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-3 di Cibening.

Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: tangan gemetar karena dingin, tapi nggak ngaku. Pasien bilang “bisa” padahal belum tahu bisa. Pasien bikin genset hidup dalam tujuh menit.

Diagnosis: sindrom orang baik yang nggak sadar dirinya baik.

Terapi: wedang jahe resep Mak-nya, satu kali sehari, malam, jam sembilan. Diantar langsung. Saya yang tulis resepnya, saya yang minum, tapi tutup termosnya harus gantian.

Catatan dokter: jari kami sentuhan satu detik. Dia yang narik duluan. Lain kali aku nggak bakal ngelepas duluan juga. Oh, dan aku naik ke kursi gara-gara ayam Bi Onah. Semoga dia nggak tahu.

Mang Odon bilang dia tahu.