← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Eleven

Demam Berdarah

POV: Bagas

Kasus pertama datang hari Senin: anak laki-laki tujuh tahun dari Kampung Bawah, demam tinggi tiga hari, bintik merah di lengan.

Kasus kedua hari Selasa. Kasus ketiga, keempat, dan kelima hari Rabu.

Pada hari Kamis, papan tulis kecil di ruang jaga puskesmas, yang biasanya berisi jadwal posyandu, sekarang berisi daftar nama dengan angka-angka di sebelahnya. Trombosit. Hematokrit. Jam pemeriksaan terakhir. Empat belas nama dalam empat hari, sebagian besar anak-anak.

Dan di urutan kesebelas, dengan tulisan tangan Bu Dokter yang bulat dan sedikit miring ke kiri:

Lilis P., 16 th, Kampung Bawah. Hari ke-3. Tromb 98.000.


Lilis demam sejak Selasa malam. Awalnya dia bilang cuma masuk angin, minum jahe, dan tetap berangkat sekolah. Rabu siang, Teh Nining meneleponku dari SD tempat Lilis membantu mengajar ekstrakurikuler: Lilis pingsan di kelas.

Aku menggendongnya ke puskesmas. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku masuk ke puskesmas sebagai keluarga pasien.

Bu Dokter sudah menunggu di pintu. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menunjuk ke ranjang observasi nomor tiga, memasang infus di lengan Lilis dengan dua gerakan cepat, mengambil sampel darah, dan memberi instruksi ke Rani dengan suara yang tenang dan sangat jelas.

Lalu dia menatapku.

“Mas,” katanya. “Duduk. Mas pucat.”

“Saya tidak apa-apa, Bu Dokter.”

“Duduk.” Dia mendorongku pelan ke kursi plastik di samping ranjang Lilis. “Trombositnya turun, tapi belum bahaya. Cairannya cukup. Aku pantau tiap enam jam. Kalau di bawah lima puluh ribu, kita rujuk ke RSUD. Tapi aku nggak bakal biarin sampai situ.”

Aku menatap Lilis yang tertidur dengan infus di lengan, wajahnya pucat, bibirnya kering.

“Mas,” kata Bu Dokter lagi, lebih pelan. Dia berjongkok di depan kursiku, menatapku dari bawah. “Lihat aku.”

Aku melihatnya.

“Lilis bakal sembuh,” katanya. “Aku janji.”

Dokter tidak seharusnya berjanji. Aku tahu itu. Bapak dulu dirawat oleh dokter yang tidak pernah berjanji apa-apa, dan Bapak tidak pulang.

Tapi dia berjanji. Dengan mata yang menatap lurus, dan tangan yang memegang lututku sebentar sebelum dia berdiri dan pergi memeriksa pasien berikutnya.

Aku percaya.


Hari Kamis dan Jumat, Cibening berubah menjadi medan perang melawan nyamuk.

Bu Dokter mengoordinasikan semuanya dari meja jaga puskesmas, dengan ponsel di satu tangan, buku catatan di tangan lain, dan kopi saset yang sudah dingin di samping keyboard. Dia menghubungi dinas kesehatan kabupaten untuk fogging. Dia membagi desa menjadi empat zona dan menugaskan kader posyandu untuk pemeriksaan jentik dari rumah ke rumah. Dia menulis selebaran 3M Plus dengan bahasa yang bisa dipahami nenek-nenek, lalu meminta Teh Nining menerjemahkannya ke bahasa Sunda.

Dan dia memintaku memasang sound.

“Bukan buat acara, Mas,” katanya Kamis pagi. “Buat pengumuman. Keliling desa. Tiap kampung. Pagi dan sore. Aku butuh suara yang semua orang dengar.”

Aku memasang dua speaker corong di bak motor bebekku, mengikatnya dengan tali tambang, menyambungkannya ke aki dan amplifier kecil. Lalu aku berkeliling Cibening dari pukul enam pagi, pelan, dengan mik di tangan kiri dan setang di tangan kanan.

“Tes, tes, tes. Bapak, Ibu, warga Cibening. Mohon perhatian. Dari Puskesmas Cibening. Kuras bak mandi, tutup tempat air, kubur barang bekas. Kalau ada anggota keluarga demam lebih dari dua hari, segera ke puskesmas. Gratis. Bu Dokter siap dua puluh empat jam.”

Aku mengucapkannya empat puluh kali dalam sehari, di empat kampung, sampai suaraku serak.

Setiap kali motorku lewat di depan puskesmas, ada seseorang di jendela ruang jaga yang mengangkat jempol. Rambut berantakan, jas putih kusut, telepon di telinga. Tapi jempolnya selalu naik, empat puluh kali, tanpa terlewat satu putaran pun.

Di Kampung Atas, Abah Uha melambai dari jendela rumah panggungnya.

Di Kampung Tengah, Bi Onah memberiku bala-bala gratis di setiap putaran.

Di Kampung Bawah, Juragan Ujang menghadangku di tengah jalan dengan mesin fogging pribadi yang baru dibelinya dari Bandung. Di tangki mesin itu ada stiker wajahnya sendiri dengan tulisan UJANG PEDULI CIBENING SEHAT.

“Saya sumbangkan ke puskesmas, Ketua!” serunya bangga.

“Terima kasih banyak, Pak.” Aku turun dari motor, menghampiri mesin itu, dan dengan hati-hati mengelupas stiker di tangkinya. “Tapi stikernya saya lepas, ya. Surat edaran nomor satu.”

Juragan Ujang menatap stiker di tanganku dengan wajah terluka. Lalu menghela napas, mengambil stiker itu, dan menempelkannya di jaket kulitnya sendiri.

“Yang penting mesinnya dipakai,” gumamnya.

Mang Odon, yang sejak Kamis memakai kelambu di atas helmnya dan menolak membukanya bahkan di dalam warung, menggeleng-geleng di pangkalan ojek. “Juragan Ujang mah, nyumbang aja kampanye.”

“Mang Odon pakai kelambu di helm,” kataku.

“Ini darurat, Mas! Nyamuk teh licik!”


Jumat malam, jumlah pasien di puskesmas sudah dua puluh satu. Ranjang observasi hanya enam. Sisanya dirawat di rumah dengan pemantauan kader, atau tidur di tikar di ruang tunggu karena rumahnya terlalu jauh.

Bu Dokter belum tidur sejak Kamis pagi.

Aku tahu karena aku juga belum tidur. Aku duduk di kursi plastik di samping ranjang Lilis sejak Rabu, pulang hanya untuk mengambil baju dan memastikan Mak minum obat. Dari kursi itu, aku bisa melihat Bu Dokter bekerja.

Dia tidak berhenti.

Memeriksa trombosit setiap enam jam. Menghitung cairan infus. Menenangkan ibu-ibu yang menangis. Menggendong anak yang muntah. Menelepon RSUD untuk merujuk dua pasien yang trombositnya turun di bawah lima puluh ribu, lalu ikut di ambulans sampai Cikadu untuk memastikan perjalanannya aman, lalu kembali dengan ojek Mang Odon pukul dua dini hari.

Pada pukul dua lewat sepuluh, dia masuk ke ruang observasi, berdiri di samping ranjang Lilis, dan menempelkan punggung tangannya di dahi adikku.

Lalu dia menatap hasil lab terakhir di tangannya. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, aku melihat bahunya turun.

“Seratus dua belas ribu,” bisiknya. “Naik, Mas. Fase kritisnya lewat.”

Aku tidak bisa bicara.

Lilis membuka mata setengah, menatap Bu Dokter, lalu tersenyum lemah. “Bu Dokter belum mandi, ya?”

“Lilis!”

“Bau, Bu Dokter.”

Bu Dokter tertawa. Tawa yang lelah sekali, serak, dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya, Lis. Tiga hari. Jangan bilang siapa-siapa.”

“Aa juga bau.”

“Aa kamu lebih bau.”

Lilis tertawa kecil, lalu tertidur lagi. Kali ini napasnya teratur. Wajahnya tidak sepucat tadi.

Aku menatap adikku. Lalu menatap perempuan di sebelahnya, dengan jas putih kusut, rambut yang lepas dari kuncir, lingkaran hitam di bawah mata, dan noda kopi di lengan baju.

Dia tetap terlihat cantik. Aku tidak tahu bagaimana itu mungkin. Tapi dia tetap terlihat cantik.

“Terima kasih,” kataku. Suaraku pecah di tengah.

Dia menoleh padaku. Lalu tersenyum. “Aku udah janji, kan?”


Pukul tiga, semua pasien sudah stabil. Rani tertidur di meja depan. Teh Euis pulang untuk tidur dua jam sebelum shift pagi.

Bu Dokter keluar ke teras puskesmas dan duduk di bangku panjang.

Aku mengikutinya. Membawa termos biru, yang tadi sore diantar Mak sendiri ke puskesmas dengan pesan buat Neng Dokter, jangan sampai sakit juga.

Aku menuang jahe ke tutup termos dan menyodorkannya. Dia menerimanya dengan dua tangan, menyesapnya, dan memejamkan mata.

“Mas,” gumamnya.

“Iya, Bu Dokter.”

“Aku capek banget.”

“Saya tahu, Bu Dokter.”

“Tiga puluh enam jam nggak tidur. Di IGD Jakarta, rekor aku cuma dua puluh empat.” Dia membuka mata, menatap langit yang mulai sedikit abu-abu di ujung timur. “Tapi aku nggak nyesel.”

“Bu Dokter harus tidur.”

“Nanti.” Dia meletakkan tutup termos di bangku. “Lima menit aja. Di sini. Udaranya enak.”

Lalu dia bersandar ke sandaran bangku. Matanya terpejam.

Satu menit kemudian, kepalanya miring.

Ke kiri.

Ke bahuku.

Aku membeku.

Kepalanya bersandar di bahu kiriku, berat dan hangat. Rambutnya, yang wangi sampo bayi dan sedikit antiseptik, menyentuh leherku. Napasnya pelan dan teratur. Tangannya terjatuh di pangkuannya, terbuka, jari-jarinya sedikit menekuk.

Dia sudah tertidur.

Aku tidak bergerak.


Pukul tiga lewat tiga puluh, angin subuh mulai turun dari bukit. Dingin. Aku melihat bahunya bergidik sedikit dalam tidur.

Dengan tangan kanan, sangat pelan, tanpa menggerakkan bahu kiri sedikit pun, aku melepas sarung dari pundakku dan menyampirkannya ke tubuhnya. Membetulkan ujungnya supaya menutupi tangannya.

Dia bergumam sesuatu yang tidak jelas, lalu menyamankan kepalanya lebih dalam di bahuku.

Aku tidak bergerak.

Pukul empat, adzan Subuh terdengar dari masjid. Aku tidak bergerak.

Pukul empat lewat lima belas, Mang Odon lewat dengan motor, melihat kami, berhenti, membuka kelambu di helmnya, menatap lama, lalu menutupnya lagi dan pergi tanpa suara. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mang Odon tidak berkata apa-apa.

Aku tidak bergerak.

Pukul lima, bahu kiriku mati rasa. Aku tidak bergerak.

Pukul lima lewat dua puluh, Teh Euis datang untuk shift pagi. Dia berhenti di gerbang puskesmas. Menatap kami. Mengeluarkan ponsel, memotret satu kali, tanpa flash.

Lalu dia mendekat, berbisik, “Kang Bagas. Udah berapa lama?”

“Dua jam, Teh,” bisikku balik.

“Bahunya nggak pegel?”

“Pegel, Teh.”

“Terus kenapa nggak dibangunin?”

Aku menatap wajah yang tertidur di bahuku. Bulu matanya yang panjang. Bibirnya yang sedikit terbuka. Garis lelah di keningnya yang, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sudah melunak.

“Dia sudah janji ke saya, Teh,” kataku pelan. “Dan dia tepati. Sekarang giliran dia tidur.”

Teh Euis menatapku lama. Lalu dia menyeka sudut matanya dengan ujung kerudung, mengangguk, dan masuk ke puskesmas tanpa berkata apa-apa lagi.


Bu Dokter bangun pukul enam lewat sepuluh, saat matahari pertama menyentuh atap seng balai desa.

Dia membuka mata pelan. Menatap halaman puskesmas yang mulai terang. Menatap sarung kotak-kotak hijau di tubuhnya. Lalu, perlahan, menyadari di mana kepalanya berada.

Dia duduk tegak dengan sangat cepat.

“Mas,” katanya. Suaranya serak karena baru bangun. “Aku... berapa lama?”

“Tiga jam, Bu Dokter.”

“Tiga JAM?”

“Tiga jam sepuluh menit.”

Dia menatapku dengan mata membulat. Lalu menatap bahu kiriku. Lalu wajahnya, yang tadi pucat lelah, berubah merah perlahan dari leher.

“Mas,” bisiknya, menunjuk bahuku dengan jari gemetar. “Itu...”

Aku menoleh. Di bahu kiri kemejaku, ada noda basah kecil.

“Tanda tangan, Bu Dokter,” kataku.

Dia menutup wajahnya dengan sarung. Seluruh wajahnya. Dan dari balik kain kotak-kotak hijau itu, aku mendengar suara yang jelas-jelas jeritan kecil yang ditahan sekuat tenaga.

“Kenapa nggak dibangunin?” katanya dari balik sarung.

“Bu Dokter capek.”

“Bahu Mas pasti mati rasa.”

“Sedikit.”

Dia menurunkan sarung sampai matanya terlihat. Menatapku. Matanya basah, entah karena malu, entah karena baru bangun, entah karena sesuatu yang lain.

“Mas,” katanya pelan. “Kenapa sih Mas kayak gini?”

“Kayak gimana, Bu Dokter?”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku lama di bawah matahari pagi yang pertama, dengan sarung yang menutupi separuh wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya kembali di bahu kiriku.

Kali ini dengan sengaja.

“Lima menit lagi,” gumamnya. “Bahu yang mati rasa sekalian aja.”

Aku tidak bergerak.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-46 di Cibening.

Pasien: Lilis Pramudya, 16 th. DBD derajat II. Tromb terendah 98.000, naik ke 112.000 pukul 02.10. Pulih. Bilang aku bau.

Pasien kedua: Bagas Pramudya. Keluhan: tidak tidur tiga hari di kursi plastik samping ranjang adiknya. Keliling desa empat puluh kali sehari pakai speaker corong di motor sampai suaranya serak. Mengelupas stiker Juragan Ujang dari mesin fogging.

Pemeriksaan: bahu kiri pasien jadi bantal dokter selama tiga jam sepuluh menit. Pasien tidak bergerak. Pasien menyelimuti dokter pakai sarung. Pasien membiarkan dokter ngiler.

Diagnosis: aku udah nggak bisa nulis diagnosis yang objektif tentang orang ini.

Catatan dokter: aku janji Lilis bakal sembuh. Dokter nggak boleh janji. Aku tahu. Tapi waktu aku lihat muka dia di samping ranjang Lilis, aku tahu dia pernah kehilangan orang di rumah sakit, dan nggak ada yang janji apa-apa ke dia waktu itu.

Jadi aku janji. Dan aku tepati.

Teh Euis nunjukin foto yang dia ambil subuh tadi. Aku minta dikirim. Aku jadiin wallpaper. Jangan bilang siapa-siapa.