Chapter Nineteen
Banjir Kampung Atas
POV: Bagas
Hujan turun Sabtu sore dan tidak berhenti.
Bukan hujan Cibening yang biasa, yang datang dari balik bukit, mengguyur satu jam, lalu pergi meninggalkan bau tanah. Ini hujan yang menetap. Turun lurus dan berat seperti tirai besi, membuat atap seng rumah panggung kami bergemuruh tanpa jeda, membuat selokan di depan balai desa meluap ke jalan dalam dua jam.
Pukul tujuh malam, Sungai Cikadu, yang biasanya hanya sungai kecil berbatu tempat anak-anak mandi, sudah berwarna cokelat pekat dan bergemuruh seperti truk.
Pukul delapan, telepon pertama masuk ke kantor desa.
“Kampung Atas! Tebing di belakang rumah Mang Ojo longsor! Airnya turun ke jalan setapak!”
Kantor desa berubah menjadi posko dalam setengah jam.
Pak Haji di telepon dengan BPBD kabupaten. Kang Dadan mencatat nama-nama warga Kampung Atas dari DPT yang masih terbuka di laptopku, karena itu satu-satunya daftar lengkap yang kami punya. Teh Nining mengatur ibu-ibu PKK untuk menyiapkan dapur umum di masjid. Dede dan pemuda karang taruna mengumpulkan senter, tali, dan jas hujan.
Aku memasang dua speaker corong di bak motor, seperti saat wabah DBD, dan menyambungkannya ke aki.
“Tes, tes,” kataku. Dua kali. Tidak ada waktu untuk tiga. “Warga Kampung Atas yang rumahnya dekat tebing, mohon turun ke masjid Kampung Tengah. Bawa dokumen penting. Jangan lewat pematang. Lewat jalan kebun teh.”
Lalu aku menoleh ke seberang jalan. Ke puskesmas.
Lampunya menyala. Pintunya terbuka. Teh Euis berdiri di ambang pintu dengan jas hujan dan tas medis, berteriak ke dalam.
Rani berlari keluar membawa kotak P3K.
Tapi dia tidak ada.
Aku menyeberang jalan dalam hujan. Ini interaksi dengan tim puskesmas, bukan interaksi pribadi. Aku akan menjelaskannya ke BPD nanti kalau perlu.
“Teh Euis. Bu Dokter di mana?”
Teh Euis menatapku. Wajahnya basah oleh hujan, dan matanya panik.
“Udah naik, Kang,” katanya. “Setengah jam lalu. Sendirian. Bawa tas medis. Katanya Abah Uha nggak bisa jalan, kalau ada yang luka di sana nggak ada yang nanganin.”
Aku berhenti bernapas.
“Saya udah larang, Kang,” lanjut Teh Euis, suaranya pecah. “Saya bilang tunggu tim SAR. Tapi dia bilang, Teh, Abah Uha pasien aku.”
Aku tidak ingat berlari ke Kampung Atas.
Aku ingat jalan setapak kebun teh yang berubah menjadi sungai kecil, air cokelat mengalir deras di antara batu-batu, setinggi mata kaki, lalu setinggi betis. Aku ingat senter di tangan kiri yang cahayanya hanya bisa menembus tiga meter tirai hujan. Aku ingat sepatu bot hijau Bapak yang kebesaran, yang terisi air setelah lima menit dan terasa seperti batu bata di kaki.
Aku ingat memikirkan satu hal, berulang-ulang, seperti mantra.
Abah Uha pasien aku.
Tentu saja dia naik. Tentu saja. Dia yang berlutut di depan anak empat tahun dalam gelap dan berkata tiup lilin. Dia yang ikut di ambulans sampai Cikadu pukul dua pagi. Dia yang berjanji Lilis sembuh.
Dia tidak pernah menunggu tim SAR untuk apa pun.
Rumah ayam jago di tengah kebun teh sudah gelap. Ayamnya entah ke mana. Aku berlari melewatinya. Tanjakan terakhir menuju Kampung Atas sudah tertutup lumpur setinggi lutut. Aku memanjat lewat samping, berpegangan pada akar bambu.
Lalu aku melihat cahaya.
Rumah Abah Uha masih berdiri.
Tapi rumah Mang Ojo, tetangga sebelahnya, yang paling dekat dengan tebing, sudah setengah tertimbun lumpur. Dinding biliknya jebol. Atap sengnya miring ke tanah. Dan di halaman rumah Abah Uha, di bawah terpal biru yang dipasang darurat di antara dua tiang, ada enam orang. Seorang anak kecil menangis. Seorang ibu memeluknya. Mang Ojo duduk di tanah dengan kaki berdarah. Cucu Abah Uha memegang senter.
Dan dia berlutut di depan Mang Ojo, dengan jas hujan puskesmas yang tudungnya sudah lepas, rambut basah menempel di wajah, kerudung entah di mana, tangan berlumuran darah dan lumpur, membalut luka sobek di betis Mang Ojo dengan gerakan cepat dan tenang.
“Tahan sebentar, Mang,” katanya. Suaranya tenang. Sama seperti di malam genset. “Seng-nya tajem, tapi nggak kena pembuluh besar. Mang Ojo beruntung. Aku jahit nanti di bawah. Sekarang ditekan dulu, ya.”
Dia mendongak saat cahaya senterku menyapu terpal.
Wajahnya pucat. Bibirnya biru karena dingin. Dan matanya, saat melihatku, membulat sedikit.
Lalu dia kembali menatap luka Mang Ojo.
“Abah Uha di dalam, Mas,” katanya tanpa menoleh lagi. Suaranya datar. Profesional. “Nggak bisa jalan. Rumahnya aman sekarang, tapi kalau tebingnya longsor lagi, kena. Harus turun.”
Mas. Bukan Kinan. Bukan aku.
Hanya Mas. Seperti dia memanggil Mang Odon Mang.
Aku mengangguk.
Abah Uha terbaring di kasur kapuk di ruang tengah rumah panggungnya, berselimut sarung, menatap atap yang bocor di tiga titik.
“Bagas,” katanya saat aku masuk. Suaranya serak, tapi matanya jernih. “Maneh datang.”
“Muhun, Abah. Urang turun ka masjid.”
Aku berjongkok di samping kasur, membelakangi Abah, dan meminta cucunya membantu mengangkat Abah ke punggungku. Abah Uha ringan. Lebih ringan dari dia di pematang dulu. Tulang-tulangnya terasa di punggungku seperti ranting kering.
Lengan Abah melingkar di leherku. Dagunya di bahuku. Seperti dia di pematang.
“Si Neng Dokter,” bisik Abah di telingaku saat aku berdiri. “Nanjak ka dieu sorangan. Hujan. Poek. Pikeun Abah.”
“Muhun, Abah.”
“Ari maneh?” Abah Uha mengencangkan pelukannya sedikit. “Abah geus bebeja. Ulah diantep.”
Aku berhenti di ambang pintu.
“Maneh ngantep, Gas,” bisik Abah. “Abah ningali di vidéo Dede. Cucu Abah nempokeun. Tuluy Abah ngadéngé ti radio masjid, maneh nyarios di balé. Ngan warga.” Napasnya berat di telingaku. “Éta mah lain ngajaga, Gas. Éta mah ngantep.”
Itu bukan menjaga, Gas. Itu melepaskan.
Aku tidak menjawab. Aku melangkah keluar ke hujan, dengan Abah Uha di punggungku.
Kami turun dalam satu rombongan. Delapan orang. Aku di depan dengan Abah Uha di punggung dan senter yang dipegang cucunya dari belakang. Mang Ojo dipapah dua pemuda karang taruna yang menyusul. Ibu dan anak kecil itu di tengah. Dan dia di paling belakang, dengan tas medis di bahu dan senter kecilnya sendiri.
Dia tidak bicara padaku sepanjang jalan.
Di kebun teh, airnya sudah setinggi lutut. Aku berhenti setiap dua puluh langkah untuk memastikan semua orang masih di belakang. Setiap kali aku menoleh, cahaya senter kecilnya ada di sana. Paling belakang. Bergoyang di tengah tirai hujan.
Di pertigaan dekat Sungai Cikadu, jalan setapak menyempit. Di sebelah kiri, sungai yang biasanya dua meter di bawah jalan sekarang hanya setengah meter di bawahnya, bergemuruh cokelat, membawa batang pohon dan seng dan sesuatu yang mungkin pagar bambu.
“Pelan-pelan,” kataku ke belakang. “Pinggir kanan. Jangan dekat sungai.”
Semua orang lewat. Satu per satu. Pemuda karang taruna memapah Mang Ojo. Ibu dan anaknya. Cucu Abah Uha.
Lalu dia.
Dia melangkah ke pinggir kanan. Kakinya menginjak batu yang ditutupi lumpur.
Batu itu bergeser.
Aku melihatnya dari sudut mata. Cahaya senter kecilnya berputar liar, terbang ke kiri, ke arah sungai.
Aku tidak berpikir.
Aku memutar badan dengan Abah Uha masih di punggung, menyambar lengannya dengan tangan kanan, dan menariknya keras ke arahku. Senternya jatuh. Lenyap ke dalam sungai cokelat dalam satu detik, cahayanya berputar di bawah air lalu padam.
Dia menabrak dadaku.
Aku memeluknya.
Dengan satu tangan, karena tangan lain menopang Abah Uha. Satu tangan yang melingkar di punggungnya, menekannya ke dadaku begitu keras sampai aku bisa merasakan jantungnya berdebar menembus dua lapis jas hujan. Atau mungkin itu jantungku sendiri. Aku tidak tahu.
Hujan menderu. Sungai menggelegar setengah meter dari kaki kami.
Dia tidak bergerak. Wajahnya di dadaku. Tangannya mencengkeram jas hujanku.
“Jangan,” kataku. Suaraku keluar serak, pecah, tidak seperti suaraku sendiri. “Jangan begitu lagi. Jangan naik sendirian. Jangan jalan di pinggir sungai. Jangan...”
Aku berhenti. Napasku terengah.
Di punggungku, Abah Uha diam. Dagunya di bahuku. Tidak berkata apa-apa.
Dia mengangkat kepala dari dadaku. Pelan. Menatapku dari jarak sangat dekat, wajahnya basah oleh hujan, atau mungkin bukan hanya hujan.
“Kenapa?” bisiknya.
Aku tidak mengerti. “Kenapa apa?”
“Kenapa Mas peduli?” Suaranya bergetar. “Aku cuma warga yang Mas layani. Sama kayak warga lain.”
Aku membeku.
Kalimat itu. Kalimatku sendiri. Diucapkan kembali dengan suaranya, di tengah hujan, setengah meter dari sungai yang hampir mengambilnya.
Aku tidak bisa menjawab.
Dia menatapku tiga detik. Empat. Lima. Menunggu.
Aku tidak menjawab.
Lalu dia melepaskan cengkeramannya dari jas hujanku. Pelan. Mundur selangkah, ke pinggir kanan jalan yang aman.
“Makasih, Mas,” katanya. Datar. “Udah nolongin.”
Dia berjalan melewatiku, menyusul rombongan di depan, tanpa senter, dalam gelap.
Aku berdiri di pinggir Sungai Cikadu dengan Abah Uha di punggung, dan tangan kanan yang masih terasa hangat dari punggungnya.
“Gas,” bisik Abah Uha di bahuku.
“Muhun, Abah.”
“Éta budak awéwé teh nangis.”
“Abdi terang, Abah.”
“Ari terang, naha cicing wae?”
Kalau tahu, kenapa diam saja?
Aku tidak punya jawaban untuk Abah Uha. Aku tidak punya jawaban untuk siapa pun.
Masjid Kampung Tengah dipenuhi pengungsi sampai pukul dua dini hari. Empat puluh tiga orang. Ibu-ibu PKK memasak mi instan di dapur umum. Pak Haji dan Juragan Ujang, untuk pertama kalinya sejak kampanye dimulai, bekerja berdampingan, membagikan selimut dan tikar tanpa atribut apa pun.
Dia menjahit luka Mang Ojo di serambi masjid, di bawah lampu darurat yang kupasang dari aki motor. Empat belas jahitan. Tangannya tidak gemetar sekali pun.
Aku berdiri di ujung serambi, memegang kabel lampu darurat supaya tidak tersandung orang yang lalu lalang.
Dia tidak menoleh ke arahku.
Saat jahitan terakhir selesai, dia memotong benang, membalut luka, menepuk lutut Mang Ojo pelan. Lalu dia berdiri, berjalan ke keran wudu, mencuci tangannya yang berlumuran darah dan lumpur.
Dia mencucinya lama. Lebih lama dari yang diperlukan.
Dari ujung serambi, aku melihat bahunya bergetar.
Teh Euis yang menghampirinya. Memeluknya dari samping. Membawanya masuk ke ruang dalam masjid.
Aku tetap berdiri di ujung serambi, memegang kabel lampu yang tidak perlu dipegang.
Lima hari lagi, kataku pada diri sendiri. Lima hari lagi pencoblosan. Setelah itu aku bukan ketua panitia. Setelah itu aku bisa bicara. Setelah itu...
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak yakin ada yang tersisa untuk dibicarakan setelah itu.
Pukul tiga dini hari, hujan berhenti.
Aku pulang ke rumah panggung dengan sepatu bot penuh air dan jas hujan yang sobek di bahu. Mak masih terjaga di ruang tengah, duduk di depan foto Bapak.
“Gas,” kata Mak pelan. “Neng Dokter teu kunanaon?”
“Teu kunanaon, Mak.”
Mak menatapku lama. Lalu menatap tangan kananku, yang tanpa sadar sedang kupegang dengan tangan kiri, seperti menahan sesuatu supaya tidak hilang.
“Gas,” kata Mak lagi. “Bapak maneh oge kitu baheula. Ngajaga Mak tina kajauhan. Mikir Mak bakal leuwih bagja tanpa manéhna nu miskin.” Mak tersenyum kecil, menatap foto Bapak. “Tilu taun Mak ngadagoan. Tilu taun. Ahirna Mak nu datang ka imahna.”
Aku menatap Mak.
“Tong nyieun Neng Dokter ngadagoan tilu taun, Gas,” bisik Mak. “Manéhna lain Mak. Manéhna moal ngadagoan.”
Jangan bikin Neng Dokter nunggu tiga tahun. Dia bukan Mak. Dia nggak akan nunggu.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-93 di Cibening.
Pasien 1: Mang Ojo, 54 th. Vulnus laceratum regio cruris sinistra, 8 cm, kena seng. Hecting 14 jahitan. Stabil.
Pasien 2: Abah Uha, 82 th. Dievakuasi. Digendong. Stabil.
Pasien 3: Bagas Pramudya. Naik ke Kampung Atas di tengah banjir tanpa disuruh. Gendong Abah Uha turun. Nyelamatin aku dari pinggir sungai pakai satu tangan.
Dia peluk aku. Erat banget. Satu tangan. Bilang “jangan begitu lagi” dengan suara yang pecah.
Aku nanya kenapa dia peduli, kan aku cuma warga yang dia layani.
Dia nggak jawab.
Senter aku jatuh ke Sungai Cikadu. Senter yang buat kode. Udah hilang.
Aku nangis di keran wudu sambil nyuci tangan. Teh Euis peluk aku. Aku bilang ke Teh Euis, aku nggak tahu lagi harus nunggu apa.
Teh Euis bilang, tunggu dia sadar.
Aku bilang, Teh, aku udah nunggu sembilan puluh tiga hari.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas reading
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup