Chapter Eighteen
Video Dede
POV: Bagas
Video itu berjudul SUNSET PALING ROMANTIS DI CIBENING (Bikin Baper!!) — Dede Vlog Cibening.
Durasinya empat menit dua belas detik. Diunggah Rabu malam pukul sembilan lewat empat puluh. Tiga menit pertama berisi matahari terbenam di balik bukit, burung kuntul, sawah bertingkat yang keemasan, dan suara Dede yang membacakan narasi dengan nada sinetron.
Pada menit ketiga lewat dua puluh detik, kamera Dede bergerak dari kanan ke kiri, menyapu pematang, dan berhenti sebentar di pohon jamblang tua di ujung sawah.
Di bawah pohon itu, kecil, di pojok kanan bawah layar, ada dua orang.
Seorang perempuan berkerudung krem, duduk di akar pohon. Seorang laki-laki berkemeja krem seragam kantor desa, duduk di sampingnya. Dahi mereka bersentuhan. Tangan laki-laki itu di pipi perempuan itu.
Hanya empat detik. Lalu kamera bergerak lagi ke sawah.
Dede tidak menyadarinya. Dede hanya ingin memotret matahari terbenam.
Tapi tiga ribu orang yang menonton video itu dalam dua belas jam pertama menyadarinya.
Aku melihatnya Kamis pagi, pukul enam lewat lima belas, ketika Mang Odon mengetuk pintu rumah panggung kami dengan wajah yang belum pernah kulihat.
Bukan wajah puas. Bukan wajah orang yang membawa info.
Wajah orang yang membawa kabar duka.
“Mas,” katanya pelan, menyodorkan ponselnya. “Maaf. Saya nggak tahu harus gimana.”
Aku menatap layar. Video Dede. Diputar ulang di detik ke-200. Diperbesar. Dilingkari merah oleh seseorang yang bukan Dede, lalu dibagikan ke grup WhatsApp Info Warga Kecamatan Sukaraja, dengan keterangan:
KETUA PANITIA PILKADES CIBENING PACARAN SAMA BU DOKTER??? NETRAL APANYA???
Di bawahnya, tiga ratus empat puluh komentar.
Aku tidak membaca komentarnya. Aku tidak perlu.
Mak berdiri di belakangku, menatap layar dari atas bahuku. Lalu Mak meletakkan tangannya di punggungku. Tidak berkata apa-apa. Hanya meletakkan tangan.
Pukul delapan, kantor desa penuh.
Tim sukses Juragan Ujang datang lebih dulu, dua puluh orang berkaos kuning, dipimpin Kang Darma, koordinator kampanye yang suaranya keras dan matanya selalu menyipit.
“Kami menuntut penjelasan!” katanya, membanting ponsel di meja Pak Haji. “Ketua panitia pacaran sama Bu Dokter! Bu Dokter itu dekat sama keluarga Pak Haji! Spanduk pengajian kemarin, siapa yang pasang? Tim Pak Haji! Terus Rizky nembak Bu Dokter di debat! Ini jelas, panitia sudah dikondisikan!”
“Darma, tenang dulu,” kata Pak Haji, wajahnya pucat.
“Tenang gimana, Pak? Pilkades seminggu lagi! Kalau ketua panitianya nggak netral, kami minta pemilihan ditunda! Ketua panitia diganti!”
Ditunda. Kata itu jatuh di ruangan seperti batu ke kolam. Menunda Pilkades berarti mengulang tahapan dari awal. Daftar pemilih. Kampanye. Anggaran tambahan dari kabupaten yang tidak akan cair sampai tahun depan. Empat bulan lagi tanpa kepala desa definitif.
Tim Pak Haji datang lima belas menit kemudian. Rizky di depan, dengan wajah yang tidak marah tapi juga tidak membela. Hanya bingung, dan sedikit terluka.
“Kang Bagas,” katanya pelan, berdiri di depan mejaku. “Itu beneran Akang?”
Aku menatapnya.
Aku tidak bisa berbohong dengan wajah yang benar. Rizky melihatnya. Dia mengangguk pelan, menelan ludah, lalu berbalik dan berdiri di sudut ruangan, tidak berkata apa-apa lagi.
Yang paling buruk bukan kantor desa.
Yang paling buruk adalah puskesmas.
Dari jendela, aku melihatnya. Antrean pagi yang biasanya tiga puluh orang hari ini hanya dua belas. Ibu-ibu yang biasanya duduk di bangku tunggu sambil mengobrol, hari ini berbisik sambil melirik ke ruang periksa.
Pukul sepuluh, Bi Onah datang ke warung dan berkata, cukup keras untuk terdengar sampai kantor desa, “Aduh, kasihan Kang Bagas. Dijadiin mainan sama dokter kota.”
Pukul sebelas, seorang ibu dari Kampung Bawah membatalkan imunisasi anaknya di puskesmas dan memilih ke bidan swasta di kecamatan. “Takut, ah,” katanya ke Teh Euis. “Dokternya lagi sibuk pacaran.”
Teh Euis menutup pintu ruang KIA dengan keras.
Pukul dua belas, aku melihat Bu Dokter keluar dari ruang periksa. Jas putih. Tali stetoskop kulit di leher. Wajah yang sangat tenang, sangat profesional, sangat pucat. Dia berjalan ke bangku panjang, duduk, membuka nasi bungkus Bi Onah yang dikirim lewat Rani.
Dia tidak makan.
Dia hanya duduk, menatap nasi itu, dengan tangan di pangkuan. Dan di jalan desa di depannya, dua ibu-ibu lewat, melirik, berbisik, tertawa kecil.
Dia tidak mengangkat kepala.
Aku berdiri di jendela kantor desa dengan tangan terkepal di sisi tubuh, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memecahkan sesuatu.
Ponselku bergetar.
Kinan: Mas
Kinan: Aku nggak apa-apa
Kinan: Jangan ke sini. Banyak yang lihat.
Kinan: Nanti malam kita ngomong, ya
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu Pak Haji memanggilku ke ruangannya.
“Rapat darurat BPD,” kata Pak Haji. “Malam ini. Jam tujuh. Di balai. Terbuka untuk umum. Dua tim sukses hadir.”
“Baik, Pak.”
“Gas.” Pak Haji menatapku dengan mata lelah. “Saya nggak marah sama kamu. Saya tahu kamu orang lurus. Saya kenal Bapak kamu dua puluh tahun.” Dia menghela napas. “Tapi kalau malam ini nggak beres, Pilkades bisa ditunda. Dan kalau ditunda, Darma bakal bikin cerita ke kabupaten bahwa Bu Dokter ikut campur. Bu Dokter bisa dipanggil Dinkes. Penugasannya bisa dievaluasi.”
Aku membeku.
“Saya cuma mau kamu tahu taruhannya,” kata Pak Haji pelan. “Bukan buat saya. Buat dia.”
Pukul tujuh malam, balai desa penuh. Seperti malam debat. Tapi kali ini tidak ada rebana. Tidak ada terompet. Tidak ada tawa.
Ajengan Uci, sebagai ketua BPD, duduk di tengah meja depan. Di kiri, Pak Haji dan tim. Di kanan, Kang Darma dan tim Juragan Ujang. Juragan Ujang sendiri duduk di barisan depan dengan tangan bersilang, tanpa kacamata hitam, wajahnya lebih serius dari biasanya.
Aku berdiri di depan, di samping meja sound. Tidak di belakang mixer. Di depan semua orang.
“Kang Bagas,” kata Ajengan Uci. “Silakan jelaskan.”
Aku menatap dua ratus wajah di depanku. Menatap Kang Darma yang menyipitkan mata. Menatap Rizky di sudut. Menatap Mang Odon di barisan belakang, yang menunduk. Menatap Teh Euis, yang duduk di dekat jendela dengan wajah tegang.
Aku tidak melihatnya di mana pun.
Bagus, pikirku. Dia tidak perlu mendengar ini.
Di kepalaku, aku sudah menyusun kalimatnya sejak siang. Kalimat demi kalimat. Seperti dokumentasi sistem. Seperti surat edaran. Aku menyusunnya sambil menatap jendela ruang periksa, sambil melihatnya duduk di bangku panjang dan tidak makan.
Bu Dokter bisa dipanggil Dinkes. Penugasannya bisa dievaluasi.
Dijadiin mainan sama dokter kota.
Dokternya lagi sibuk pacaran.
Dia sudah bekerja keras. Dia menyelamatkan dua puluh satu orang dari demam berdarah tanpa satu pun yang meninggal. Dia berjanji Lilis sembuh dan menepatinya. Dia tidak pantas jadi gosip. Dia tidak pantas kehilangan pasien karena aku.
Kalau aku yang salah, hanya aku yang salah.
“Video itu benar saya,” kataku.
Ruangan menjadi sunyi.
“Rabu sore, saya mengantar Bu Dokter ke pohon jamblang,” lanjutku. Suaraku datar. Tenang. Seperti membacakan daftar pemilih. “Karena hanya di sana ada sinyal, dan Bu Dokter perlu menelepon keluarganya. Di telepon itu, Bu Dokter mendapat kabar dari keluarga. Beliau menangis. Saya menghibur beliau sebagai warga.”
Kang Darma mengangkat alis. “Pegang-pegang pipi?”
“Menyeka air mata, Kang.” Aku menatapnya. “Saya salah. Saya seharusnya menjaga jarak. Saya minta maaf.”
“Jadi nggak ada hubungan apa-apa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Aku memikirkan senter dua kali. Termos biru dengan stiker Coblos Aku, Mas! dan tulisan Sah. Tangan di bawah taplak bermotif bunga. Ruang genset. Kak Reza nggak bakal bisa ngelakuin itu.
Aku memikirkan dia yang duduk di bangku panjang siang tadi dan tidak mengangkat kepala saat ibu-ibu lewat dan tertawa.
“Tidak ada,” kataku. “Bu Dokter hanya warga yang saya layani. Sama seperti warga lain.”
Aku mendengar sesuatu di belakang ruangan. Suara pintu kayu yang berderit sedikit.
Aku tidak menoleh.
“Kalau BPD menganggap saya tidak netral,” lanjutku, “saya siap mundur sebagai ketua panitia malam ini juga. Tapi saya mohon, Pilkades jangan ditunda. Dan saya mohon nama Bu Dokter tidak dibawa ke mana-mana. Beliau tidak salah apa pun. Kesalahan ada di saya.”
BPD berunding selama dua puluh menit di ruang kantor desa.
Ajengan Uci kembali dengan keputusan: aku tetap menjadi ketua panitia, dengan syarat. Tidak ada interaksi pribadi dengan Bu Dokter sampai pencoblosan selesai. Seluruh koordinasi panitia dengan puskesmas dilakukan melalui Teh Nining. Pilkades tetap pada tanggalnya.
Kang Darma berunding dengan Juragan Ujang. Juragan Ujang menatapku lama, dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu dia mengangguk.
“Kami terima,” kata Kang Darma, tidak puas, tapi tidak punya pilihan lain.
Ajengan Uci mengetuk meja. Rapat ditutup.
Orang-orang mulai bangkit, berbisik, keluar dari balai. Mang Odon menatapku dari barisan belakang dengan mata merah, lalu pergi tanpa berkata apa-apa.
Lalu aku menoleh ke belakang ruangan.
Ke pintu kayu yang tadi berderit.
Dia berdiri di sana.
Kerudung krem. Jas putih yang belum dilepas sejak pagi. Tali stetoskop kulit cokelat muda di leher. Satu tangan memegang kusen pintu, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri.
Dia sudah di sana sejak awal. Sejak video itu benar saya. Sejak beliau menangis karena kabar keluarga. Sejak tidak ada.
Sejak Bu Dokter hanya warga yang saya layani. Sama seperti warga lain.
Kami saling menatap melintasi balai yang mulai kosong.
Wajahnya tidak menangis. Tidak marah. Hanya diam. Sangat diam. Seperti genset yang tiba-tiba berhenti di tengah malam, dan yang tersisa hanya sunyi yang terlalu keras.
Teh Euis bergerak ke arahnya. Tapi dia sudah berbalik.
Dia pergi.
Pukul sembilan, aku mengantar termos biru.
Aku tidak tahu kenapa. BPD baru saja melarangku berinteraksi pribadi dengannya. Tapi tubuhku menyeberang jalan, menaiki tangga puskesmas, dan berdiri di depan pintu, seolah tidak menerima memo dari kepalaku.
Lampu ruang jaga menyala.
Aku tidak mengetuk.
Pintu tidak terbuka.
Aku berdiri di sana lima menit. Sepuluh. Dari dalam, tidak ada suara. Tidak ada langkah. Hanya cahaya lampu yang jatuh dari celah bawah pintu.
Aku meletakkan termos biru di anak tangga paling atas. Stiker Coblos Aku, Mas! menghadap ke pintu. Tulisan Sah di bawahnya.
Lalu aku berjalan kembali ke kantor desa.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, aku duduk di meja dengan senter di tangan, menatap jendela ruang jaga di seberang jalan.
Tidak ada kedipan.
Pukul sepuluh. Pukul sebelas. Pukul dua belas.
Lampu ruang jaga padam pukul satu dini hari.
Termos biru masih di anak tangga.
Jumat pagi, pukul tujuh, aku berdiri di depan mik pengeras suara balai.
Aku menyalakan amplifier. Mendekatkan mulut ke mik.
“Tes,” kataku.
Lalu berhenti.
Di seberang jalan, jendela ruang periksa puskesmas tertutup tirai. Untuk pertama kalinya sejak dia datang.
Aku membacakan pengumuman desa tanpa tes kedua dan ketiga.
Pukul sembilan, Rani datang ke kantor desa dan meletakkan sesuatu di mejaku tanpa berkata apa-apa. Termos biru. Sudah dicuci. Kosong.
Stikernya masih ada.
Tidak ada resep di dalamnya.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-91 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya.
Pernyataan pasien di depan dua ratus orang: “Bu Dokter hanya warga yang saya layani. Sama seperti warga lain.”
Aku berdiri di pintu. Dari awal.
Aku tahu kenapa dia bilang gitu. Aku dokter. Aku bisa baca gejala. Antrean pagi tinggal dua belas. Ada ibu yang batalin imunisasi. Pak Haji bilang ke Teh Euis kalau Dinkes bisa evaluasi penugasanku. Dia tahu semua itu. Dia ngelindungin aku.
Aku tahu.
Tapi aku juga lihat mukanya waktu bilang “tidak ada”. Datar. Tenang. Kayak lagi baca daftar pemilih. Dan aku sadar, dia bisa ngomong gitu dengan muka yang benar. Orang yang nggak pernah bisa bohong, malam ini bisa.
Itu yang paling sakit.
Termosnya aku cuci. Aku balikin. Aku nggak bisa minum jahe dari orang yang bilang aku sama kayak warga lain.
Pagi ini tesnya cuma sekali.
Aku denger.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede reading
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup