Chapter One
Mik yang Berdenging
POV: Bagas
“Tes. Tes. Tes.”
Suaraku keluar dari dua speaker besar di kiri-kanan panggung balai desa, memantul ke dinding kantor kecamatan di seberang sawah, lalu kembali dengan sedikit gema. Pukul enam pagi. Kabut masih menempel di ujung pohon pinus, dan embun menetes dari terpal biru yang semalam kupasang sendiri.
Aku memutar kenop treble seperempat ke kiri. Mencoba lagi.
“Tes. Tes. Tes.”
Lebih bersih. Bapak dulu bilang, sound yang baik itu seperti orang jujur: tidak perlu keras, yang penting jelas. Mixer tua di depanku ini dibelinya tahun 2009, dengan uang hasil menyewakan sound ke dua ratus hajatan. Di sisi kanannya masih ada stiker yang ditempelnya sendiri, sudah pudar: GELAR SOUND — Cibening & Sekitarnya.
Sudah empat tahun Bapak tidak ada. Stikernya tidak pernah kucabut.
“Gas! Bagas!”
Pak Haji Darsa, kepala desa kami, berlari kecil dari arah kantor desa dengan peci miring dan sarung yang terlalu tinggi. Wajahnya pucat seperti orang yang akan diperiksa BPK.
“Sound aman?”
“Aman, Pak.”
“Mik cadangan?”
“Dua. Sudah saya tes.”
“Genset?”
“Bensinnya penuh, Pak. Kabel sudah saya lakban di tiga titik supaya tidak ada yang tersandung.”
Pak Haji menghela napas panjang, menepuk bahuku dua kali. “Kamu memang paling bisa diandalkan, Gas. Kalau semua pemuda desa kayak kamu, saya bisa pensiun tenang.”
Lalu dia menoleh ke arah lapangan, dan napasnya tertahan lagi.
Aku ikut menoleh.
Lapangan di depan balai desa, yang biasanya hanya ramai saat tujuh belasan dan pertandingan voli antarkampung, pukul enam pagi sudah penuh. Ibu-ibu PKK dengan kerudung seragam ungu. Anak-anak SD yang seharusnya sudah berangkat sekolah. Bapak-bapak dengan cangkir kopi. Dan pemuda.
Banyak sekali pemuda.
Rizky, anak Pak Haji, berdiri paling depan dengan kemeja slim fit putih yang jelas baru dibeli di Bandung. Rambutnya disisir ke belakang dengan gel yang berkilau kena matahari pagi. Di sebelahnya, Kang Asep, guru honorer SD, komat-kamit menghafal sesuatu dari secarik kertas. Dede, ketua karang taruna, sudah memasang ponsel di tongsis dan bicara ke kamera depan: “Halo, gaes, balik lagi di Dede Vlog Cibening, hari ini spesial banget...”
Lalu sebuah mobil bak terbuka berhenti di pinggir lapangan. Juragan Ujang turun dengan kacamata hitam dan jaket kulit, meski udara pagi di Cibening tidak pernah lebih hangat dari delapan belas derajat. Di bak belakangnya, seekor domba garut jantan bertanduk melingkar mengembik dengan tidak sabar. Lehernya dililit pita merah.
“Itu domba buat apa?” tanya Pak Haji lemah.
“Kayaknya hadiah selamat datang, Pak,” kataku.
“Buat dokter?”
“Iya, Pak.”
Pak Haji memejamkan mata.
Semua ini karena satu kabar yang menyebar lewat grup WhatsApp ibu-ibu tiga hari lalu: Puskesmas Cibening, yang sudah delapan bulan hanya dijaga Teh Euis si bidan dan Rani si perawat, akhirnya mendapat dokter. Dokter pengabdian dari Jakarta. Perempuan. Dua puluh tujuh tahun.
Dan, menurut Rani yang katanya sudah melihat foto berkasnya, geulis pisan, kayak artis sinetron.
Itu cukup untuk membuat satu desa bangun sebelum subuh.
Pukul tujuh lewat lima belas, mobil puskesmas yang dijadwalkan menjemput dokter dari terminal kecamatan belum juga datang.
Pukul tujuh lewat dua puluh, Mang Odon, tukang ojek pangkalan yang entah bagaimana selalu tahu segalanya lebih dulu dari siapa pun, datang dengan motor bebeknya dan berteriak dari ujung lapangan.
“MOBIL PUSKESMAS MOGOK DI TANJAKAN CIKADU! BU DOKTER JALAN KAKI!”
Seratus kepala menoleh bersamaan ke arah jalan desa.
Lalu aku melihatnya.
Dia berjalan di samping Teh Euis, menenteng koper kecil beroda yang rodanya jelas tidak dirancang untuk jalan berbatu. Celana bahan krem. Kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Sepatu kets putih yang ujungnya sudah cokelat terkena lumpur tanjakan. Rambutnya hitam, panjang, dikuncir tinggi, dan bergoyang setiap kali dia melangkah.
Kulitnya kuning langsat, sedikit merah di pipi karena berjalan menanjak. Matanya bulat dan terang, seperti mata orang yang selalu penasaran dengan apa yang ada di depannya. Dan saat Teh Euis mengatakan sesuatu yang membuatnya tertawa, ada lesung kecil yang muncul di pipi kirinya.
Rani tidak berlebihan. Rani malah kurang.
Lapangan menjadi sunyi dengan cara yang hanya terjadi saat adzan Maghrib dan saat listrik padam.
Lalu Dede berbisik ke kamera dengan suara gemetar, “Gaes. Gaes. Ini bukan filter.”
Upacara penyambutan dimulai dua puluh menit terlambat, karena Juragan Ujang bersikeras menyerahkan domba garutnya terlebih dahulu.
“Selamat datang di Cibening, Bu Dokter,” katanya di depan panggung, membuka kacamata hitamnya dengan gerakan lambat. “Ini dari saya. Domba terbaik di kecamatan. Juara kontes ketangkasan dua tahun berturut-turut.”
Dokter itu menatap domba yang mengembik di depannya. Domba itu menatap balik.
“Wah,” katanya sopan. “Makasih banyak, Pak. Tapi... saya taruh di mana, ya?”
“Di puskesmas, Bu.”
“Puskesmasnya nggak ada kandang, Pak.”
“Saya buatkan!”
Teh Euis menarik lengan dokter itu ke kursi kehormatan sebelum Juragan Ujang sempat menjelaskan rancangan kandangnya.
Aku menyerahkan mik ke Pak Haji untuk sambutan. Pak Haji berbicara selama dua belas menit tentang sejarah Desa Cibening, harapan pembangunan, dan sebuah pengumuman yang membuat lapangan bergemuruh lagi: Pemilihan Kepala Desa akan digelar tiga bulan lagi. Dia akan mencalonkan diri lagi.
Juragan Ujang, di barisan depan, tersenyum lebar. Semua orang tahu dia juga akan mencalonkan diri.
“Dan untuk ketua panitia pemilihan,” lanjut Pak Haji, “BPD sudah sepakat menunjuk Kaur Umum kita, Bagas Pramudya.”
Semua orang menoleh ke meja sound. Aku mengangkat tangan sedikit, kaku, lalu menurunkannya lagi.
“Kenapa Bagas, Pak?” teriak seseorang dari belakang.
“Karena dia netral,” jawab Pak Haji. “Bagas mah nggak pernah punya pilihan.”
“Pilihannya cuma kabel!” sambar Mang Odon.
Lapangan tertawa. Aku pura-pura sibuk dengan kenop volume.
Lalu Pak Haji mempersilakan dokter baru itu naik ke panggung.
Dia naik dengan langkah ringan, menerima mik dari Pak Haji dengan dua tangan, lalu tersenyum ke arah lapangan. Senyum yang membuat beberapa bapak-bapak lupa sedang memegang cangkir kopi.
“Assalamualaikum, Bapak, Ibu, warga Cibening,” katanya. Suaranya jernih, sedikit serak di ujung karena udara dingin. “Perkenalkan, nama saya Kinanti Larasati. Panggil aja dr. Kinan. Atau Bu Dokter. Atau...”
NGIIIIIIIIIIIIING.
Dengingan tajam merobek udara pagi. Anak-anak SD menutup telinga. Domba garut melompat di tempat. Seorang ibu PKK menjatuhkan rantang.
Dokter itu tersentak, menjauhkan mik dari wajahnya.
Aku sudah berdiri sebelum dengingan itu selesai. Aku tahu penyebabnya bahkan tanpa melihat. Feedback. Sesuatu yang memancarkan suara terlalu dekat dengan speaker, sesuatu yang tidak ada saat aku mengetes tadi pagi.
Aku menoleh ke kiri panggung.
Dede, dengan tongsis terangkat tinggi, berdiri tepat di depan speaker kiri. Ponselnya sedang siaran langsung dengan volume penuh, memutar ulang suara dokter itu dengan jeda dua detik.
Aku menarik turun kenop gain channel satu, mengangkat mik cadangan dari meja, berjalan ke panggung, dan dalam perjalanan itu menyentuh bahu Dede sambil berbisik, “Mundur tiga langkah. Kecilkan volume HP.”
Dede mundur lima langkah.
Aku naik ke panggung dan menyodorkan mik cadangan ke dokter itu.
“Mohon maaf, Bu Dokter,” kataku. “Pakai yang ini.”
Dia menerima mik itu, menatapnya, lalu menatapku. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung, dan sebutir lumpur kering di ujung dagunya yang mungkin tertinggal dari tanjakan Cikadu.
“Tadi kenapa?” tanyanya.
“Feedback, Bu Dokter. Ada sumber suara terlalu dekat dengan speaker.” Aku melirik Dede yang sekarang berdiri jauh sekali di dekat pohon jamblang. “Sesuai prosedur, mik memang harus dites dulu. Tadi pagi sudah saya tes. Yang tidak saya tes, HP Dede.”
Dia menatapku selama dua detik.
Lalu tertawa. Lepas. Lesung pipi kirinya muncul lagi.
Dan dia tidak sadar mik cadangan di tangannya sudah menyala.
“Mas yang benerin suara saya,” katanya, masih tertawa, suaranya keluar jernih sekali dari dua speaker besar dan menggema ke dinding kantor kecamatan, “namanya siapa?”
Seratus orang di lapangan mendengar pertanyaan itu.
Aku membeku di tengah panggung.
“Bagas, Bu Dokter,” kataku pelan. Tidak ke mik. Tapi entah bagaimana, karena lapangan mendadak sunyi, semua orang tetap mendengarnya.
Dia mengulang namaku pelan, setengah berbisik, seperti sedang mencatat sesuatu di kepalanya. “Bagas.”
Itu terdengar di dua speaker.
Hening sesaat.
Lalu dari barisan ibu-ibu PKK, terdengar satu suara panjang yang kemudian diikuti seluruh lapangan:
“CIEEEEEEEEEEE.”
Dokter itu menatap mik di tangannya. Menatap lampu indikator hijau kecil di gagangnya. Lalu wajahnya, yang tadi hanya merah muda karena tanjakan, berubah merah sampai ke telinga.
Aku turun dari panggung secepat mungkin tanpa berlari, kembali ke meja sound, dan menatap mixer dengan sangat serius sampai riuh rendah itu reda.
Kupingku panas. Aku tidak berani mengangkat kepala sampai pidatonya selesai.
Pidatonya bagus, kata orang-orang. Tentang jadwal pelayanan, tentang posyandu, tentang pentingnya cuci tangan. Aku tidak ingat satu kalimat pun. Aku hanya ingat bahwa di tengah pidato, setiap kali dia berhenti untuk mengambil napas, matanya bergerak ke arah meja sound.
Tiga kali.
Aku tahu karena aku juga melihat ke arahnya tiga kali.
Setelah acara selesai, terjadi perebutan.
Rizky menyambar koper dokter itu. Kang Asep menyambar tas jinjingnya sambil membacakan pantun yang tidak selesai karena dia lupa baris ketiga. Juragan Ujang menuntun domba garutnya ke arah puskesmas seperti sedang mengantar pengantin. Dede merekam semuanya.
Aku menggulung kabel.
Itu pekerjaanku. Kabel XLR delapan meter, dua puluh empat gulungan, dilingkarkan dengan teknik yang diajarkan Bapak: satu putaran ke atas, satu putaran ke bawah, supaya kabelnya tidak terpilin dan awet sepuluh tahun.
“Teknik over-under, ya?”
Aku mendongak.
Dokter itu berdiri di samping meja sound. Sendirian. Di belakangnya, di kejauhan, Rizky dan Kang Asep sedang berebut koper di depan puskesmas, dan Teh Euis berusaha melerai sambil memegang tali domba.
“Iya, Bu Dokter,” kataku. “Bu Dokter tahu?”
“Papa saya dulu suka main band waktu kuliah.” Dia memiringkan kepala, menatap kabel di tanganku. “Dia selalu marah kalau ada yang gulung kabel asal-asalan.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku terus menggulung.
Dia tidak pergi. Dia berdiri di sana, memperhatikan tanganku, seolah menggulung kabel adalah pertunjukan yang menarik.
“Mas Bagas.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Tadi saya malu banget.”
“Mohon maaf, Bu Dokter. Itu kelalaian saya. Seharusnya saya mematikan mik cadangan sebelum menyerahkannya.”
“Bukan itu maksudnya.” Dia tertawa kecil. “Maksudnya, saya malu karena satu desa tahu saya nanya nama Mas duluan.”
Tanganku berhenti di putaran ketujuh belas.
Dia tersenyum. Bukan senyum sopan seperti di panggung. Senyum yang sedikit nakal di sudut bibir, dengan lesung pipi yang muncul setengah.
“Tapi nggak apa-apa,” lanjutnya. “Saya emang mau tahu.”
Lalu dia berbalik dan berjalan ke arah puskesmas, kuncir kudanya bergoyang, kets putihnya yang berlumpur meninggalkan jejak samar di rumput lapangan.
Aku berdiri di samping meja sound dengan kabel setengah tergulung, dan baru sadar putaran ketujuh belas tadi terpilin. Over-over. Bukan over-under.
Bapak pasti akan memarahiku.
Malam itu, aku lembur di kantor desa sampai pukul sembilan, memasukkan data daftar pemilih sementara ke laptop kantor yang kipasnya berbunyi seperti blender.
Kantor desa sudah kosong. Lampu jalan di depan berkedip-kedip seperti biasa. Dan di seberang jalan, delapan meter dari jendela di samping mejaku, Puskesmas Cibening menyala untuk pertama kalinya dalam delapan bulan dengan lampu ruang jaga malam yang putih terang.
Aku melirik ke sana tanpa sengaja. Hanya sekali.
Dia sedang duduk di meja jaga, masih memakai kemeja putih tadi pagi, rambutnya sudah tergerai. Satu tangan menopang dagu, satu tangan membalik halaman buku tebal. Di luar, di halaman puskesmas, domba garut Juragan Ujang terikat di tiang bendera, mengunyah rumput dengan damai.
Lalu dia mengangkat kepala.
Dan menatap tepat ke jendela kantor desa.
Aku tidak sempat berpaling. Kami saling menatap melintasi jalan desa yang gelap, melintasi delapan meter udara dingin dan suara jangkrik.
Dia tersenyum. Lalu mengangkat tangan dan melambai. Pelan. Dua kali.
Aku mengangkat tangan juga. Kaku. Setengah. Seperti robot yang baru dipasang baterai.
Dia tertawa. Aku bisa melihatnya dari sini, bahunya yang bergetar dan tangannya yang menutup mulut.
Aku menurunkan tangan, kembali menatap layar laptop, dan mengetik nama pemilih berikutnya dengan sangat hati-hati.
Baru setengah jam kemudian aku sadar, dua puluh nama terakhir yang kuketik semuanya salah eja.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-1 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya, Kaur Umum, operator sound, ketua panitia Pilkades. Keluhan: tidak ada. Justru itu masalahnya. Satu desa antre caper, cuma dia yang sibuk gulung kabel.
Diagnosis: kuping merah kronis. Muncul tiap kali saya ngomong lebih dari tiga kalimat ke dia.
Terapi: observasi lanjutan. Dari jendela ruang jaga. Tiap malam.
Catatan dokter: aku nanya nama dia lewat mik yang nyala di depan seratus orang. Malu banget. Tapi waktu dia bilang “Bagas, Bu Dokter” pelan banget kayak takut kedengeran, aku nggak nyesel. Oh ya, ada domba di halaman puskesmas. Aku nggak tahu harus ngapain sama domba.
- 1 Mik yang Berdenging reading
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup