Chapter Fifteen
Bianglala Macet
POV: Bagas
Pasar malam keliling datang ke Cibening setiap dua tahun sekali, biasanya menjelang musim panen, dan selalu membawa tiga hal: bianglala berkarat setinggi lima belas meter, komidi putar dengan kuda-kudaan yang catnya mengelupas, dan genset diesel tua yang lebih berisik dari pesawat terbang.
Tahun ini, pasar malam datang delapan belas hari sebelum pencoblosan.
“Bagas,” kata Pak Haji di kantor desa, Senin pagi. “Kamu awasi listriknya, ya. Tahun lalu di Desa Sukasari, kabel pasar malam korslet, gerobak cilok kebakaran.”
“Baik, Pak.”
“Ini bukan tugas panitia. Ini tugas Kaur Umum.”
“Saya tahu, Pak.”
Pak Haji menatapku sebentar. Lalu tersenyum tipis, dengan cara yang membuatku curiga dia tahu lebih banyak dari yang dia katakan. “Bu Dokter juga katanya mau datang. Sama Teh Euis.”
Aku memeriksa daftar kabel yang tidak perlu kuperiksa.
Rabu malam, lapangan Cibening berubah menjadi lautan lampu.
Lampu kelap-kelip merah hijau kuning di tiang-tiang bambu. Lampu neon di gerobak arum manis, kerak telor, dan sosis bakar. Lampu sorot di panggung dangdut kecil yang disewa terpisah. Dan bianglala, berdiri di ujung lapangan seperti raksasa yang memakai kalung bohlam, berputar pelan dengan dua belas keranjang besi yang berderit.
Aku sudah di sana sejak sore, merayap di bawah gerobak, mengecek sambungan kabel satu per satu, membungkus setiap sambungan dengan lakban hitam tiga lapis. Genset diesel milik pengelola pasar malam berdiri di belakang bianglala, menggeram seperti sapi yang sedang marah.
“Aman, Kang?” tanya Mang Karta, pemilik pasar malam, laki-laki gemuk dengan topi koboi dan cerutu yang tidak dinyalakan. Rupanya di dunia ini ada lebih dari satu orang yang memegang rokok tanpa menyalakannya.
“Sambungannya aman, Mang. Tapi gensetnya tua. Busi sama saringan solarnya sudah lama tidak diganti.”
“Ah, gensetnya bandel, Kang. Udah dua puluh tahun.”
“Itu masalahnya, Mang.”
Mang Karta tertawa dan menepuk bahuku terlalu keras.
Pukul delapan, dia datang.
Bersama Teh Euis, Rani, dan Lilis, yang tergantung di lengannya seperti adik yang sudah lama tidak bertemu kakak. Dia memakai jaket denim biru muda di atas kaus putih, celana kulot krem, dan sneakers putih yang baru. Rambutnya dikuncir setengah dengan karet gelang hitam yang kukenal. Karet gelang dari Mak.
Dan di lehernya, di atas kaus putih, tergantung tali kulit cokelat muda. Bukan stetoskop. Hanya talinya. Dipakai seperti kalung.
Aku berhenti di tengah lapangan dengan gulungan lakban di tangan.
Dia melihatku dari jauh. Tersenyum. Lalu mengangkat tangan dan menyentuh tali kulit itu dengan ujung jari, pelan, tanpa berkata apa-apa.
Di bawah lampu pasar malam yang kelap-kelip, dengan pipi merah karena udara dingin dan mata yang berbinar memantulkan bohlam warna-warni, dia terlihat seperti seseorang yang keluar dari film. Film yang tidak pernah kutonton karena bioskop terdekat ada di kota kabupaten.
“Aa!” Lilis berlari ke arahku. “Aa, Teh Dokter mau naik bianglala! Tapi Teh Euis takut tinggi, Teh Rani mabuk, aku mau naik komidi putar! Aa temenin!”
“Aa lagi kerja, Lis.”
“Aa udah lakban semua kabel dari jam tiga sore!” Lilis menarik lenganku. “Kabelnya udah aman! Kang Dadan yang bilang!”
Aku menoleh ke arah Kang Dadan, yang sedang makan arum manis di samping gerobak cilok. Dia mengangkat jempol dengan wajah tidak bersalah.
Lalu dia, yang berdiri di belakang Lilis, berkata, “Mas. Panitia boleh naik bianglala nggak? Ada di Perbup?”
Teh Euis tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan pada Rani.
Aku menatapnya. Dia menatap balik dengan wajah serius, kecuali lesung pipinya, yang sudah muncul setengah dan mengkhianati semuanya.
“Tidak diatur, Kinan,” kataku.
“Berarti boleh.”
Keranjang bianglala itu sempit. Bangku besi untuk dua orang, sandaran yang dingin, palang pengaman berkarat yang ditutup oleh asisten Mang Karta dengan bunyi klang.
Kami duduk berdampingan. Bahu kami menempel karena tidak ada ruang untuk tidak menempel.
Bianglala mulai berputar. Pelan. Berderit.
Keranjang kami naik. Lapangan menjauh di bawah. Lampu-lampu gerobak mengecil. Suara dangdut dari panggung melemah. Dan di atas, langit Cibening yang bersih, penuh bintang, seperti malam di pos ronda.
“Mas,” katanya. “Lihat.”
Dari ketinggian lima belas meter, seluruh desa terlihat. Lampu-lampu rumah di Kampung Atas yang berkelip di lereng bukit. Jalan desa yang membelah sawah. Balai desa. Puskesmas, kecil, dengan lampu ruang jaga yang menyala. Dan di antara keduanya, jalan selebar delapan meter yang setiap malam kuseberangi dengan termos biru.
“Dari sini kelihatan,” bisiknya. “Jendela aku sama jendela Mas.”
Aku melihatnya. Dua jendela kecil yang saling berhadapan, dipisah jalan gelap.
Keranjang kami sampai di puncak.
Lalu, dengan bunyi batuk yang sangat kukenal, genset diesel di bawah tersedak, menggeram sekali, dan mati.
Bianglala berhenti.
Semua lampu bohlam di rangkanya padam bersamaan.
Kami tergantung di puncak, dalam gelap, di keranjang besi yang bergoyang pelan tertiup angin.
Dari bawah, terdengar teriakan. Lalu tawa. Lalu suara Mang Karta yang panik, menyalakan senter, berlari ke genset.
“KANG BAGAS!” teriak seseorang. Mang Odon. Tentu saja Mang Odon. “GENSETNYA MATI! KANG BAGAS DI ATAS! GIMANA INI?”
Aku menatap ke bawah, ke arah genset yang sekarang dikerumuni lima orang dengan senter. Aku bisa melihat Mang Karta menarik tali starter dengan wajah merah. Tidak hidup. Menarik lagi. Tidak hidup.
“MANG ODON!” teriakku ke bawah. “BILANG KE MANG KARTA, JANGAN DITARIK TERUS! NANTI BANJIR! CABUT BUSINYA! BERSIHKAN! PAKAI AMPLAS DI KOTAK PERKAKAS SAYA, DI JOK MOTOR!”
“APA, KANG?”
“BUSI!”
“BUSI!” ulang Mang Odon ke arah genset. “KATA KANG BAGAS, BUSI!”
“BUSI KENAPA?”
“PAKAI AMPLAS!”
Di sebelahku, dia menutup mulut dengan dua tangan. Bahunya bergetar. Aku menoleh, dan dia sudah tertawa tanpa suara, membungkuk di bangku besi, air mata keluar dari sudut mata.
“Mas,” katanya di sela tawa. “Mas benerin genset dari ketinggian lima belas meter. Pakai teriak.”
“Itu satu-satunya cara, Kinan.”
“Iya. Aku tahu.” Dia menyeka matanya. “Itu yang bikin lucu.”
Dari bawah, Mang Odon berteriak lagi. “KANG! KATA MANG KARTA, KOTAK PERKAKASNYA DIKUNCI!”
“KUNCINYA DI SAKU SAYA, MANG.”
Hening di bawah.
“TERUS GIMANA, KANG?”
Aku menatap ke bawah. Menatap kunci di saku jaketku. Menatap jarak lima belas meter antara saku itu dan jok motorku.
“TUNGGU SEBENTAR, MANG,” kataku. “SAYA PIKIRKAN.”
Di sebelahku, dia tertawa sampai keranjang bergoyang.
Lima menit berlalu. Sepuluh. Mang Karta mencari amplas di gerobak-gerobak pedagang. Rizky, entah dari mana, menawarkan diri memanjat rangka bianglala untuk mengambil kunci, dan dilarang oleh Pak Haji dengan suara yang terdengar sampai puncak.
Angin malam bertiup lebih dingin di ketinggian. Keranjang bergoyang pelan. Dia merapatkan jaket denimnya, dan bahunya yang menempel di bahuku gemetar sedikit.
Tawanya sudah reda. Sekarang hanya ada sunyi, angin, dan bintang.
“Mas,” katanya pelan.
“Iya, Kinan.”
“Aku takut ketinggian.”
Aku menoleh. “Tadi kamu bilang tidak takut.”
“Tadi belum macet.” Dia menatap ke bawah, lalu cepat-cepat menatap ke atas lagi. “Sekarang takut. Ini darurat.”
Lalu tangannya, yang tadi memegang palang besi, bergerak. Turun ke bangku di antara kami. Menemukan tanganku.
Dan menggenggamnya.
Bukan ujung lengan baju. Bukan ujung rompi. Bukan tutup termos yang berpindah tangan. Tanganku. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku, dingin di ujung, hangat di telapak.
Aku tidak bergerak.
Lalu, pelan, jari-jariku menekuk. Menggenggam balik.
Dia menarik napas. Aku mendengarnya, napas yang tertahan sesaat lalu dilepaskan pelan, gemetar.
Kami duduk seperti itu di puncak bianglala yang mati, di atas lampu-lampu Cibening, di bawah bintang-bintang, dengan tangan saling menggenggam di bangku besi yang dingin.
“Mas,” bisiknya. “Delapan belas hari lagi.”
“Iya.”
“Aku hitung tiap malam.”
“Saya juga.”
Dia menoleh padaku. Di bawah cahaya bintang dan sisa cahaya dari lampu gerobak jauh di bawah, wajahnya hanya setengah terlihat. Mata yang berkilau. Pipi yang merah. Bibir yang sedikit terbuka.
“Aku nggak bisa nunggu delapan belas hari lagi,” katanya. Suaranya kecil, jujur, sedikit pecah. “Aku udah nyoba. Aku udah sabar. Aku udah bikin resep, tempel stiker, nulis jadwal di papan Teh Euis. Tapi tiap malam aku lihat Mas nyeberang jalan bawa termos, terus pergi lagi, dan aku...”
Dia berhenti.
“Aku capek pura-pura cuma pasien,” bisiknya.
Genggamannya mengencang.
Dan di dalam kepalaku, daftar itu muncul lagi. Ketua panitia. Netral. Gugatan. Gosip. Satu tahun. PPDS. Jakarta. Kardiolog. Gaji tiga juta. Rumah panggung. Motor 2012.
Aku menatap daftar itu.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak membacanya sampai selesai.
“Aku juga nggak bisa,” kataku.
Kata itu keluar sebelum otakku sempat memeriksanya. Seperti listrik yang melompat dari kabel yang terkelupas.
Aku.
Bukan saya.
Dia membeku.
Aku membeku.
Di bawah, terdengar teriakan Mang Odon yang menemukan amplas di gerobak sosis bakar. Tapi suara itu terdengar sangat jauh. Seperti dari desa lain.
“Mas,” bisiknya. “Barusan...”
“Saya.” Aku berdeham. Panik. “Maksud saya, saya juga tidak bisa.”
“Bukan. Tadi Mas bilang aku.”
“Itu...” Aku menatap palang besi. “Salah ucap.”
“Ulang.”
“Kinan...”
“Ulang, Mas.” Dia menarik tanganku sedikit, memaksaku menoleh. Matanya basah dan berbinar dan sangat dekat. “Resep dokter.”
Aku menatap matanya.
Lima belas meter di atas tanah. Dalam gelap. Dengan tangan yang tidak mau melepaskan tanganku.
“Aku juga nggak bisa,” kataku pelan. Sengaja kali ini. Setiap kata. “Aku nggak bisa nunggu juga, Kinan.”
Dia tidak bergerak selama tiga detik.
Lalu dia mendekat.
Pelan. Ragu sepersekian detik, seperti orang yang mengetuk pintu sebelum masuk. Hidungnya menyentuh pipiku, dingin. Napasnya hangat di dekat bibirku.
“Mas,” bisiknya, sangat dekat. “Ini darurat medis.”
Lalu dia menciumku.
Bibirnya dingin karena angin malam, dan sedikit manis karena arum manis yang dimakannya tadi. Gemetar. Ringan. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang takut pecah.
Aku membeku. Satu detik.
Dua detik.
Lalu aku membalasnya.
Tidak dalam. Tidak lama. Hanya membalas. Seperti menjawab senter dua kali dengan sekali. Pelan, canggung, dengan tangan yang masih menggenggam tangannya di bangku besi, dan tangan lain yang tidak tahu harus diletakkan di mana, lalu akhirnya, ragu, menyentuh pipinya.
Pipinya hangat. Basah sedikit di ujung.
Dia mengeluarkan suara kecil di antara ciuman itu. Seperti napas yang tertahan selama tujuh puluh sembilan hari dan akhirnya dilepaskan.
Saat kami berpisah, dahinya menempel di dahiku. Napas kami mengepul bersama di udara dingin.
“Mas,” bisiknya.
“Iya.”
“Itu nggak ada di Perbup, kan?”
“Tidak diatur.”
“Berarti boleh.”
Aku tertawa. Pelan, tidak percaya, lega. Tawa yang keluar dari tempat yang sudah lama tidak kubuka.
Dia menatap tawa itu dari jarak sedekat napas, seperti menatap sesuatu yang langka.
Di bawah, genset diesel batuk sekali. Dua kali. Lalu meraung hidup.
Lampu-lampu bohlam di rangka bianglala menyala serentak, dari bawah ke atas, seperti kembang api yang lambat. Dan keranjang kami, di puncak, bermandikan cahaya kuning dan merah dan hijau.
Kami tersentak menjauh satu sama lain. Duduk tegak. Menatap ke dua arah yang berlawanan.
Tapi tangan kami, di bangku besi di antara kami, tidak melepaskan.
Bianglala mulai berputar turun. Pelan. Berderit.
“Mas,” katanya tanpa menoleh, menatap lampu-lampu desa.
“Iya, Kinan.”
“Delapan belas hari lagi kita masih rahasia, ya?”
Aku menatap tangan kami. “Iya. Sampai pencoblosan.”
“Oke.” Dia menggenggam lebih erat. “Tapi rahasia yang ini, bukan rahasia yang kemarin.”
“Bedanya apa?”
“Yang kemarin, rahasia aku sendiri.” Dia akhirnya menoleh padaku, dan lesung pipinya muncul penuh, di bawah lampu bianglala yang warna-warni. “Yang ini, rahasia kita.”
Keranjang kami sampai di bawah.
Asisten Mang Karta membuka palang besi dengan bunyi klang. Mang Odon berdiri di sana dengan amplas di tangan dan wajah penuh oli. Lilis berlari dari komidi putar. Teh Euis menatap kami dengan mata menyipit seperti detektif.
Kami melepaskan tangan tepat satu detik sebelum turun.
Tidak ada yang melihat.
Kecuali Teh Euis, yang menatap bibir Bu Dokter, lalu menatap bibirku, lalu tersenyum sangat lebar dan tidak berkata apa-apa sama sekali.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-80 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Lokasi: puncak bianglala, 15 meter, genset mati. Pasien memperbaiki genset dari atas pakai teriak. Kunci kotak perkakasnya ada di sakunya sendiri. Aku ketawa sampai keranjangnya goyang.
Pemeriksaan: tangan pasien dingin di ujung, hangat di telapak. Aku genggam. Pasien genggam balik. Jari-jarinya nekuk pelan-pelan, kayak takut salah prosedur.
Temuan penting: pasien bilang “aku”. Bukan “saya”. Keceplosan. Terus panik balik ke “saya”. Aku suruh ulang. Resep dokter. Pasien ulang. Sengaja.
Tindakan: darurat medis. Dokter yang mulai.
Diagnosis: ciuman pertama. Bibir dingin. Rasanya arum manis. Pasien membalas. Pelan. Canggung. Tangannya ragu, terus akhirnya nyentuh pipiku.
Catatan dokter: delapan belas hari lagi kami masih rahasia. Tapi rahasia kita, bukan rahasia aku sendiri.
Dia ketawa di puncak bianglala. Ketawa beneran. Aku lihat dari jarak satu napas. Itu suara terbaik yang pernah aku dengar, lebih bagus dari detak jantung janin di USG pertama yang aku lakuin waktu koas.
Teh Euis lihat bibirku. Teh Euis nggak bilang apa-apa. Itu lebih menakutkan.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet reading
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup