Chapter Three
Antrean Pasien Paling Sehat
POV: Kinan
Senin pagi, hari pelayanan penuh pertamaku di Puskesmas Cibening, ada tiga puluh satu nomor antrean.
Sembilan belas di antaranya laki-laki berusia antara dua puluh dan empat puluh tahun.
Dan dari sembilan belas itu, menurut pemeriksaan tanda vital yang dilakukan Rani di meja depan, tidak ada satu pun yang sakit.
“Nomor tujuh, Bu Dokter,” bisik Teh Euis dari balik tirai ruang periksa, dengan nada komentator sepak bola. “Rizky. Anak Pak Kades. Keluhan di kartu: sakit hati.”
“Sakit hati?”
“Ditulis begitu, Bu Dokter. Pakai tinta biru. Ada gambar hati retaknya.”
Aku memejamkan mata sebentar, lalu memanggil, “Nomor tujuh, silakan.”
Rizky masuk dengan kemeja slim fit biru muda, lengan digulung, jam tangan besar yang sengaja diposisikan supaya terlihat saat dia duduk. Wangi parfumnya masuk ke ruang periksa tiga detik sebelum orangnya.
“Pagi, Dok,” katanya, tersenyum. Senyum yang sudah dilatih di depan cermin, aku yakin. “Saya Rizky. Lulusan Bisnis Unpad. Sekarang bantu Bapak di desa sambil merintis usaha coffee shop.”
“Pagi, Mas Rizky. Keluhannya apa?”
“Sakit hati, Dok.”
“Sakit hati itu bisa berarti banyak, Mas. Nyeri di perut kanan atas? Mual? Kulit kekuningan?”
Rizky tersenyum lebih lebar. “Bukan yang itu, Dok. Yang ini.” Dia menepuk dada kirinya. “Sejak kemarin, waktu lihat Dokter di panggung.”
Di balik tirai, Teh Euis tersedak.
Aku menatap Rizky dengan senyum paling profesional yang kumiliki, senyum yang sudah kupakai sejak koas, sejak dosen penguji, sejak setiap laki-laki di setiap rumah sakit yang pernah kudatangi mengatakan hal yang kurang lebih sama.
“Mas Rizky,” kataku. “Itu dada kiri. Hati letaknya di kanan.”
Rizky berkedip.
“Tensinya normal, nadinya normal. Mas sehat.” Aku menulis di kartu status. “Kalau masih nyeri dada kiri, besok ke sini lagi, kita rekam jantung. Serius. Jangan dibuat bercanda.”
Rizky keluar dengan wajah yang tidak terlalu yakin dia baru saja ditolak atau diperhatikan.
Nomor delapan adalah Kang Asep, guru honorer SD, yang membacakan keluhannya dalam bentuk pantun.
“Ka mana nya ka mana, ka pasar meuli lauk. Ti mimiti nempo Ibu Dokter, haté abdi teu bisa cicing.“
“Itu artinya apa, Teh?” bisikku ke arah tirai.
“Artinya dia mau ke pasar beli ikan, terus hatinya nggak bisa diam,” bisik Teh Euis balik. “Rimanya salah, Bu Dokter. Lauk sama cicing nggak nyambung.”
Aku memeriksa tekanan darah Kang Asep. Seratus dua puluh per delapan puluh. Sempurna. Aku menyarankan dia minum air putih lebih banyak karena bibirnya kering, dan dia keluar dengan wajah seperti baru saja diberi surat cinta.
Nomor sebelas adalah Juragan Ujang, yang datang dengan keluhan pegal-pegal di punggung karena semalaman membangun kandang domba di samping puskesmas.
“Kandang?” tanyaku.
“Buat Si Jagur, Bu Dokter. Dombanya. Kasihan diikat di tiang bendera terus.”
Aku melirik ke jendela. Benar. Di samping puskesmas sekarang berdiri kandang kayu lengkap dengan atap seng, papan nama bertuliskan SI JAGUR, dan, entah kenapa, lampu kelap-kelip warna-warni.
“Pak Ujang,” kataku hati-hati, “saya benar-benar berterima kasih. Tapi saya nggak bisa pelihara domba. Saya dokter.”
“Nggak usah dipelihara, Bu Dokter. Biar saya yang kasih makan tiap pagi.” Juragan Ujang tersenyum, membuka kacamata hitamnya. “Sekalian lihat Bu Dokter.”
Aku memberinya koyo.
Nomor empat belas adalah Dede, ketua karang taruna, yang masuk dengan ponsel di tongsis dan bertanya apakah boleh merekam pemeriksaan untuk konten berjudul Periksa ke Dokter Paling Cantik se-Kabupaten (GAK CLICKBAIT).
Aku menolak. Dede merekam dari luar jendela.
Nomor tujuh belas adalah Mang Odon, tukang ojek, dengan keluhan sakit kantong.
“Kantong apa, Mang?”
“Kantong celana, Bu Dokter. Kosong. Udah seminggu nggak ada penumpang, semua penumpang naik motor Juragan Ujang yang dibikin gratis selama kampanye.”
Aku tertawa. Tidak bisa ditahan. Mang Odon tersenyum puas, seperti itu memang tujuannya, lalu sebelum keluar, dia mencondongkan tubuh dan berbisik.
“Bu Dokter. Ada info. Murah.”
“Info apa?”
“Tentang orang yang nggak ikut antre.” Dia mengedip. “Gorengan tiga.”
Aku menatapnya. Lalu, tanpa berpikir dua kali, aku membuka laci meja periksa, mengambil tiga bungkus biskuit dari stok camilan pribadiku, dan menyodorkannya.
Mang Odon menerima biskuit itu dengan khidmat. “Kang Bagas nggak pernah ke puskesmas, Bu Dokter. Empat tahun. Waktu dia demam tinggi dua tahun lalu, dia tetap pasang sound buat nikahan anak Pak RT. Pingsan di belakang speaker.”
Aku diam.
“Itu info pertama. Info kedua lebih mahal.” Mang Odon memasukkan biskuit ke kantong celananya yang, katanya, kosong. “Termos biru itu punya almarhum bapaknya. Kang Bagas nggak pernah minjemin ke siapa-siapa. Sampai Sabtu malam kemarin.”
Dia keluar sebelum aku sempat bertanya apa-apa lagi.
Pukul dua belas, poli selesai. Tiga puluh satu pasien. Dua belas yang benar-benar sakit: batuk, darah tinggi, diare anak, satu luka sabit yang harus dijahit, dan satu ibu hamil tujuh bulan yang kakinya bengkak.
Sembilan belas yang tidak sakit.
Satu yang tidak datang.
Aku duduk di meja periksa, menatap tumpukan kartu status, lalu menatap ke luar jendela, ke seberang jalan, ke jendela kantor desa yang selalu terbuka.
Dia ada di sana. Kemeja krem seragam kantor desa, lengan digulung dua kali, kacamata baca bertengger di ujung hidung. Membungkuk di atas laptop tua yang bahkan dari sini terdengar berisik. Sesekali mengetik. Sesekali membetulkan kacamata dengan jari tengah.
Dia tidak sekali pun menoleh ke arah puskesmas.
Sepanjang pagi, sembilan belas laki-laki datang ke ruanganku dengan parfum, pantun, domba, dan senyum yang dilatih. Semuanya menatapku dengan cara yang sama: mata yang turun dari wajah ke bibir ke leher, lalu naik lagi ke wajah dengan kekaguman yang sudah kuhafal sejak SMA.
Aku tahu aku cantik. Aku tidak bodoh. Sejak kecil, orang selalu bilang begitu. Tante-tante di arisan Mama. Guru-guru. Senior di kampus. Pasien di IGD. Cantik banget, sayang kalau jadi dokter. Cantik banget, pasti banyak yang ngejar. Cantik banget, pantesan lulus.
Seolah wajahku adalah prestasiku yang paling besar.
Dan di seberang jalan, satu-satunya laki-laki di desa ini yang tidak ikut antre, sedang memasukkan data daftar pemilih dengan kacamata melorot.
Dua malam berturut-turut dia datang tepat pukul sembilan dengan termos biru. Dia tidak pernah menatap wajahku lebih dari tiga detik. Dia menatap tanganku saat aku gemetar kedinginan. Dia menatap mataku saat aku butuh jawaban “bisa”.
Dia menatapku seperti aku orang.
“Teh Euis,” panggilku.
Teh Euis muncul dari balik tirai sambil mengunyah kerupuk. “Kenapa, Bu Dokter?”
“Surat keterangan domisili itu bikinnya di kantor desa, kan?”
Teh Euis berhenti mengunyah. Dia menatapku. Lalu menatap ke luar jendela, ke arah yang sama dengan arah pandanganku tadi. Lalu menatapku lagi.
Senyumnya perlahan melebar seperti adonan bakwan yang dimasukkan ke minyak panas.
“Di meja Kaur Umum, Bu Dokter,” katanya. “Meja paling deket jendela.”
Kantor desa pukul satu siang hanya berisi tiga orang: Pak Haji yang tertidur di kursinya dengan peci menutupi mata, Mang Odon yang entah sejak kapan sudah duduk di bangku tamu sambil makan biskuitku, dan dia.
“Selamat siang, Mas Bagas.”
Dia mendongak dari laptop. Kacamatanya melorot. Dia membetulkannya dengan jari tengah, lalu berdiri. Berdiri betulan, seperti siswa yang dipanggil guru.
“Selamat siang, Bu Dokter. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bikin surat keterangan domisili. Buat administrasi Dinkes.”
“Baik, Bu Dokter. Silakan duduk.” Dia mengambil selembar formulir dari laci, meletakkannya di depanku bersama sebuah pulpen. “Diisi sesuai KTP. Alamat domisili tulis Puskesmas Cibening, RT 02 RW 01.”
Aku duduk. Mengambil pulpen. Menulis namaku.
Lalu, dengan sengaja, menulis tanggal lahirku di kolom alamat.
“Aduh,” kataku. “Salah, Mas.”
Dia menatap formulir itu. Tidak berkomentar. Dia mengambil formulir baru dari laci dan meletakkannya di depanku.
Aku menulis namaku lagi. Lalu, dengan sengaja, menulis alamat Jakarta di kolom domisili.
“Aduh. Salah lagi.”
Dia mengambil formulir ketiga.
Di bangku tamu, Mang Odon berhenti mengunyah biskuit.
Pada formulir ketiga, aku menulis semuanya dengan benar. Kecuali di kolom paling bawah, Keperluan, yang seharusnya kuisi administrasi kepegawaian, aku menulis dengan tulisan kecil:
Biar bisa ngobrol sama Kaur Umum.
Lalu aku menyerahkan formulir itu padanya.
Dia membaca dari atas. Nama, benar. Tempat tanggal lahir, benar. Alamat, benar. Lalu matanya turun ke kolom terakhir.
Dia berhenti.
Aku melihatnya. Kuping kirinya, yang paling dekat dengan jendela, berubah merah dari ujung ke cuping dalam waktu kurang dari dua detik. Seperti lampu indikator yang baru dinyalakan.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengambil formulir keempat dari laci, dan dengan tulisan tangan yang rapi, sedikit miring ke kanan, dia menyalin semua dataku dari formulir ketiga. Kolom keperluan dia isi sendiri: Administrasi kepegawaian.
Lalu dia mencetak surat domisili, menandatanganinya, membangunkan Pak Haji untuk tanda tangan dan cap, dan menyerahkannya padaku dalam map plastik.
Formulir ketiga, yang ada tulisanku di kolom bawah, tidak dia buang. Dia melipatnya dua kali dan memasukkannya ke dalam agenda kulit cokelat di samping laptopnya.
Aku melihatnya. Dia tahu aku melihatnya.
“Mas Bagas,” kataku, menerima map plastik itu.
“Iya, Bu Dokter.”
“Mas nggak pernah ke puskesmas, ya?”
Dia diam sebentar. “Sesuai prosedur, saya akan ke puskesmas kalau perlu, Bu Dokter.”
“Kapan perlunya?”
“Kalau sakit.”
Aku berdiri, memeluk map plastik itu, dan tersenyum. Senyum yang tidak kupakai untuk sembilan belas laki-laki tadi pagi. Senyum yang mungkin terlalu lebar, dengan lesung pipi yang, kata Mama, adalah senjata paling berbahaya yang Tuhan kasih ke kamu.
“Kalau gitu,” kataku, “saya bikin Mas perlu.”
Di bangku tamu, Mang Odon menjatuhkan biskuit terakhirnya.
Di kursinya, Pak Haji, yang tadi kukira sudah tertidur lagi, mengangkat peci dari matanya sedikit, mengintip, lalu menurunkannya kembali dengan sangat pelan.
Dan dia, laki-laki di balik meja paling dekat jendela, tidak bisa menjawab. Dia hanya berdiri di sana dengan kacamata melorot, kuping merah dua-duanya sekarang, dan pulpen yang dia pegang terbalik.
Aku keluar dari kantor desa dan menyeberang jalan dengan langkah yang terasa terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja memeriksa tiga puluh satu pasien.
Sore itu, aku berjalan ke pematang di belakang puskesmas, ke satu-satunya tempat di Cibening yang sinyalnya cukup kuat untuk video call: di bawah pohon jamblang tua yang buahnya berjatuhan ungu di rumput.
Papa mengangkat telepon di dering kedua. Di belakangnya, ruang praktiknya di Menteng dengan lukisan jantung anatomis di dinding.
“Gimana, Nak? Udah betah?”
“Belum tahu, Pa.” Aku duduk di akar pohon jamblang, menatap sawah bertingkat yang mulai keemasan. “Di sini ada domba. Namanya Si Jagur. Dia punya kandang lampu kelap-kelip.”
Papa tertawa. “Kamu jangan lama-lama di desa, ya. Setahun cukup. Habis itu PPDS. Papa udah ngobrol sama temen di Jakarta.”
“Iya, Pa.”
“Udah ada yang ganggu kamu di sana?”
Aku menatap ke arah kantor desa, yang jendelanya kelihatan dari sini, kecil di kejauhan, dengan satu sosok membungkuk di depan laptop.
“Banyak, Pa,” kataku. “Sembilan belas orang.”
“Sembilan belas?”
“Tapi nggak ada yang ganggu, kok.” Aku tersenyum. “Yang satu malah nggak ganggu sama sekali.”
Papa diam di layar, menatapku dengan alis berkerut seperti sedang membaca EKG yang aneh.
Aku tidak menjelaskan.
Pukul sembilan malam, aku sudah berdiri di jendela ruang jaga lima menit sebelum waktunya.
Pukul delapan lewat lima puluh sembilan, dia muncul dari kegelapan jalan desa dengan sarung di bahu dan termos biru di tangan.
Aku membuka pintu sebelum dia sampai di tangga.
“Bu Dokter,” katanya, menyodorkan termos.
“Mas Bagas,” kataku, menerimanya. “Hari ini nggak sakit?”
“Tidak, Bu Dokter.”
“Sayang banget.”
Dia menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku datang ke Cibening, sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Hanya sepersekian detik. Tapi aku melihatnya.
Dia hampir tersenyum.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-4 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Status kunjungan: nggak pernah datang. Empat tahun. Pernah pingsan di belakang speaker nikahan dan tetap nggak ke puskesmas.
Keluhan: belum ada. Akan saya ciptakan.
Diagnosis sementara: pasien menyimpan formulir domisili yang ada tulisanku di agenda kulit cokelat. Dilipat dua kali. Rapi.
Terapi: kunjungan rutin ke kantor desa. Alasan administrasi. Selalu ada alasan administrasi.
Catatan dokter: sembilan belas cowok antre pura-pura sakit hari ini. Yang satu-satunya bikin aku deg-degan malah nggak datang. Malam ini dia hampir senyum. Hampir. Aku hitung itu sebagai kemajuan klinis.
Papa nanya ada yang ganggu atau nggak. Aku bohong. Ada yang ganggu banget. Di sini. Dada kiri. Letaknya bukan hati, aku tahu. Tapi tetep aja.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat reading
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup