Chapter Twenty Five
Dua Jam ke Bandung
POV: Bagas
Jarak Cibening ke Bandung adalah seratus dua kilometer.
Dengan motor bebek tahun 2012 yang businya selalu diganti setiap tiga bulan, lewat jalan Cikadu yang sudah diaspal, lalu jalan provinsi yang berkelok di antara kebun teh dan tebing, lalu jalan tol yang sebenarnya tidak boleh dilewati motor sehingga aku harus memutar lewat Cileunyi, waktu tempuhnya dua jam sebelas menit.
Aku tahu karena aku menghitungnya. Setiap Sabtu. Selama dua tahun pertama.
Kinan bilang itu kebiasaan ketua panitia. Aku bilang aku sudah bukan panitia. Dia bilang sekali panitia, tetap panitia.
Sabtu pertama setelah dia pindah ke Bandung, aku berangkat pukul empat subuh dengan termos biru di dalam tas selempang, dibungkus sarung supaya tetap hangat.
Kosnya di gang sempit dekat rumah sakit pendidikan, di lantai dua rumah tiga lantai milik seorang ibu pensiunan guru bernama Bu Hasnah yang memelihara dua belas kucing dan tidak mengizinkan tamu laki-laki naik ke lantai dua.
“Ini Mas Bagas, Bu,” kata Kinan di depan pagar, pukul enam lewat sebelas. “Dari Cibening. Bawa jahe.”
Bu Hasnah menatapku dari balik kacamata. Menatap termos biru. Menatap sepatu bot karet hijau yang kupakai karena hujan di Cileunyi.
“Tamu laki-laki duduk di teras,” katanya. “Pintu pagar dibuka. Jam sembilan malam pulang.”
“Baik, Bu,” kataku. “Sesuai prosedur.”
Bu Hasnah mengangkat alis. Lalu, entah kenapa, tersenyum sedikit dan masuk ke dalam.
Kinan menatapku dengan mata membulat. “Mas, Bu Hasnah nggak pernah senyum. Ke siapa pun. Mbak Dita yang kos di kamar sebelah udah dua tahun di sini, belum pernah lihat Bu Hasnah senyum.”
“Mungkin karena jahe.”
“Mungkin karena sesuai prosedur.” Dia tertawa, lalu mengambil termos dari tanganku, membuka tutupnya, menuang jahe, dan menyesapnya di teras kos sambil memejamkan mata. “Ya Allah. Seminggu nggak minum ini, rasanya kayak seminggu nggak tidur.”
Dia memang terlihat seperti seminggu tidak tidur.
Lingkaran hitam di bawah mata. Rambut dikuncir asal dengan karet gelang hitam dari Mak, yang sekarang sudah melar. Jas putih residen yang kusut tergantung di kursi teras. Di lehernya, tali stetoskop kulit cokelat muda, sudah lebih gelap lagi warnanya, dengan sedikit retak di salah satu ujung.
Dan dia tetap cantik. Aku tidak tahu bagaimana itu mungkin. Tapi dia tetap cantik.
“Talinya retak,” kataku.
“Iya. Kena alkohol tiap hari.”
“Aku bikinin yang baru.”
“Jangan.” Dia memegang tali itu dengan dua tangan, seperti melindunginya. “Yang ini aja. Retaknya dibenerin, jangan diganti.”
Itu pola kami selama dua tahun.
Sabtu pukul empat subuh, aku berangkat dari Cibening. Pukul enam lewat sepuluh, kurang lebih, aku sampai di teras kos Bu Hasnah. Kadang dia sudah menunggu di pagar dengan rambut basah dan sandal jepit. Kadang dia belum pulang dari jaga malam, dan aku menunggu di teras sambil memberi makan dua belas kucing Bu Hasnah, yang lama-lama menganggapku bagian dari keluarga.
Kadang dia pulang pukul sembilan pagi, dengan jas putih kusut dan mata merah, setelah tiga puluh enam jam di bangsal anak, dan langsung tertidur di kursi teras dengan kepala di bahuku, bahkan sebelum termosnya dibuka.
Bu Hasnah, pada minggu keempat, mulai mengizinkan pintu ruang tamu dibuka supaya aku bisa duduk di sofa, bukan di teras, kalau hujan.
Pada bulan ketiga, dia mulai membuatkan kopi.
Pada bulan keenam, dia mulai memanggilku Nak, ditambah namaku, dan memintaku membetulkan kipas angin, pompa air, dan televisi tabung yang sudah mati sejak tahun 2015.
“Bu Hasnah suka kamu,” kata Kinan suatu Sabtu.
“Bu Hasnah suka kipas anginnya hidup lagi.”
“Itu sama aja.” Dia menyandarkan kepala di bahuku. “Semua orang suka kamu, Mas. Kucing-kucingnya juga. Si Oren tidur di sepatu bot kamu tiap Sabtu.”
Bulan kedelapan, aku mendaftar kuliah.
Aku tidak bilang ke siapa pun dulu. Tidak ke Mak, tidak ke Lilis, tidak ke Kinan. Aku hanya mengisi formulir pendaftaran S1 Teknik Elektro kelas karyawan di sebuah kampus swasta di Bandung, yang kuliahnya hanya hari Jumat malam dan Sabtu. Dengan uang tabungan selama empat tahun, yang awalnya untuk memperbaiki atap rumah panggung.
Lalu aku memberitahu Mak.
Mak menatapku lama di ruang tengah, di bawah foto Bapak. Lalu Mak menangis. Lalu Mak memukul bahuku pelan. Lalu Mak berkata, “Atap mah gampang, Gas. Ember aya.”
Lalu aku memberitahu Kinan.
Sabtu itu, di teras kos Bu Hasnah, aku menyodorkan kartu mahasiswa yang baru dicetak.
Dia menatap kartu itu. Membaca namaku. Membaca Teknik Elektro. Membaca Kelas Karyawan — Jumat/Sabtu.
Lalu dia menatapku.
“Mas,” bisiknya. “Jumat malam sama Sabtu.”
“Iya.”
“Di Bandung.”
“Iya.”
“Jadi Mas tiap Jumat sore udah di Bandung. Terus Sabtu kuliah. Terus...”
“Terus Sabtu sore sampai jam sembilan malam, aku di teras ini,” kataku. “Sesuai aturan Bu Hasnah.”
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu tiba-tiba menarik kartu mahasiswa itu dari tanganku dan memeluknya ke dada, seperti dia memeluk termos dulu di tangga puskesmas.
“Mas kuliah,” katanya, suaranya pecah. “Mas yang nggak pernah minta apa-apa buat diri sendiri. Mas kuliah.”
“Kamu yang bilang,” kataku pelan, “keputusan diambil bareng. Kamu ambil spesialis. Aku ambil S1. Bareng.”
Dia menangis di teras kos. Bu Hasnah keluar dengan dua cangkir kopi, melihat kami, lalu masuk lagi dan menutup pintu dengan pelan.
Tidak semua Sabtu manis.
Ada Sabtu di bulan kesebelas, ketika dia tidak menunggu di pagar dan tidak membalas pesan sampai pukul sepuluh pagi. Ketika dia akhirnya keluar dari rumah sakit dengan mata bengkak dan duduk di teras tanpa bicara selama satu jam.
Pasien pertamanya yang meninggal di bangsal anak. Bayi empat bulan. Jantung bawaan.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku menuang jahe ke tutup termos, meletakkannya di tangannya, dan duduk di sampingnya.
Dia tidak minum. Dia hanya memegang tutup termos itu sampai jahenya dingin.
Lalu, pukul sebelas lewat dua puluh, dia berkata, sangat pelan, “Mas. Nyanyiin.”
Aku menyanyikan Pupuh Kinanti. Pelan. Di teras kos Bu Hasnah, dengan dua belas kucing yang tertidur di sekitar kaki kami.
Dia menangis sampai pupuh itu selesai. Lalu menyandarkan kepala di bahuku dan tertidur.
Dua jam. Aku tidak bergerak.
Bu Hasnah membawakan selimut.
Ada juga Sabtu di bulan keempat belas, ketika aku yang terlambat.
Motor 2012 mogok di Cileunyi. Bukan busi. Rantai. Putus di tengah hujan, di bahu jalan provinsi, dengan truk-truk yang melintas terlalu dekat. Aku mendorong motor itu tiga kilometer ke bengkel terdekat, menunggu dua jam, dan sampai di teras kos Bu Hasnah pukul sebelas siang, basah sampai ke celana dalam.
Dia menunggu di pagar. Sejak pukul enam. Lima jam.
Dia tidak marah. Dia tidak bertanya. Dia hanya menatapku dari ujung kepala sampai sepatu bot yang penuh lumpur, lalu menarikku masuk ke ruang tamu, mendudukkanku di sofa, dan mengambil handuk dari kamarnya.
Lalu dia mengeringkan rambutku dengan handuk itu. Pelan. Dengan dua tangan. Seperti mengeringkan rambut anak kecil.
“Mas tahu nggak,” katanya sambil menggosok rambutku, “tadi aku lihat berita ada kecelakaan truk di Cileunyi.”
Aku membeku.
“Aku telepon Mas dua puluh tiga kali.” Tangannya berhenti di atas kepalaku. “Nggak diangkat. HP Mas mati kena hujan.”
“Maaf, Kinan.”
“Jangan minta maaf.” Dia menurunkan handuk. Lalu memelukku. Erat. Dengan handuk masih di tangan dan rambutku masih basah. “Kamu bilang kalau takut, takutnya bareng. Tadi aku takut sendirian lima jam.”
Aku memeluknya balik.
Minggu depannya, aku membeli ponsel tahan air bekas dari pasar kecamatan dan power bank yang bisa dipakai tiga hari. Dan sejak itu, setiap Sabtu pukul empat subuh, sebelum berangkat, aku mengirim satu pesan suara.
Tes. Tes. Tes.
Dan pukul enam lewat sepuluh, saat sampai di pagar, satu lagi.
Tes. Tes. Tes. Sampai.
Bulan kedua puluh dua. Desember. Dua minggu sebelum ujian nasional tahap pertama untuk residennya.
Aku datang Jumat malam setelah kuliah, karena dia memintaku datang lebih awal. Bu Hasnah, yang sekarang menganggapku seperti cucu, mengizinkanku duduk di ruang tamu sampai pukul sepuluh.
Dia duduk di meja makan kecil di sudut ruang tamu, dikelilingi tumpukan buku setebal batu bata, kertas catatan berwarna-warni, laptop yang menampilkan soal latihan, dan tiga gelas kopi kosong. Rambutnya digelung dengan pulpen. Jas residen tergantung di kursi. Dia memakai kaus oblong abu-abu dan, kusadari setelah beberapa saat, sarung kotak-kotak hijau tua yang kuberikan di pos ronda dua tahun lalu, diikat di pinggang seperti rok.
Dia tidak menoleh saat aku masuk. Dia sedang membaca, bibirnya bergerak sedikit, kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Aku duduk di sofa. Menunggu. Membuka laptopku sendiri, mengerjakan tugas rangkaian digital.
Pukul sembilan, aku mendengar suara kecil dari meja makan. Suara seperti napas yang tertahan.
Aku mengangkat kepala.
Dia duduk dengan siku di meja, dahi di telapak tangan. Bahunya bergetar sedikit. Pulpen di rambutnya miring.
“Aku nggak hafal,” bisiknya ke buku. “Dua minggu lagi, dan aku nggak hafal kriteria diagnosis Kawasaki. Aku dulu presentasi kasus Kawasaki, Mas. Di depan Prof Hartono. Aku hafal waktu itu. Sekarang aku nggak inget.”
Aku menutup laptop.
Aku berdiri, berjalan ke meja makan, dan berdiri di belakang kursinya.
Lalu, pelan, aku melingkarkan kedua lenganku di bahunya dari belakang, dan menyandarkan daguku di puncak kepalanya.
Dia membeku.
Selama dua tahun lebih, selalu dia yang memelukku dari belakang. Di ruang obat, dengan stetoskop yang jatuh. Di pematang, dengan dagu di bahuku. Di motor, di lampu merah. Aku selalu yang dipeluk.
Kali ini aku yang memeluk.
“Demam lima hari atau lebih,” kataku pelan di rambutnya. “Ditambah empat dari lima kriteria. Konjungtivitis bilateral tanpa eksudat. Perubahan bibir dan rongga mulut. Ruam polimorfik. Perubahan ekstremitas. Limfadenopati servikal.”
Dia tidak bergerak.
“Kamu presentasiin itu ke aku,” lanjutku, “di bangku panjang puskesmas. Malam ke empat puluh. Waktu kamu nggak bisa tidur karena takut lupa. Kamu ngulang lima kali. Aku hafal karena kamu ngulang lima kali.”
Dia menyentuh lenganku yang melingkar di bahunya. Pelan. Lalu menggenggamnya.
“Mas hafal,” bisiknya.
“Aku hafal semua yang kamu bilang, Kinan.”
Dia tertawa kecil. Basah. Lalu menyandarkan kepalanya ke belakang, ke dadaku, dan menutup mata.
“Diem dulu,” bisiknya. “Sepuluh detik. Aku mau ngecas.”
Aku diam.
Sepuluh detik. Dua puluh. Satu menit.
Dia tidak menghitung dengan benar. Aku tidak mengoreksinya.
Dua minggu kemudian, dia lulus ujian tahap pertama dengan nilai tertinggi di angkatannya. Soal nomor tujuh belas tentang Kawasaki.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Tahun ke-2 di Bandung.
Pasien: Bagas Pramudya, mahasiswa S1 Teknik Elektro kelas karyawan, semester 4. IPK 3,71. Dia bilang “lumayan”. Itu bukan lumayan. Itu bagus banget.
Riwayat dua tahun: tiap Sabtu jam 04.00 berangkat dari Cibening. Jam 06.10 sampai di teras Bu Hasnah. 102 kilometer. 2 jam 11 menit. Dia hitung.
Bu Hasnah nggak pernah senyum ke siapa pun. Sekarang manggil dia “Nak Bagas”. Si Oren tidur di sepatu botnya tiap Sabtu.
Kejadian penting: hari bayi pertama aku meninggal di bangsal. Dia nyanyiin Pupuh Kinanti di teras. Aku tidur di bahunya dua jam. Hari motornya putus rantai di Cileunyi, aku telepon dua puluh tiga kali. Habis itu dia kirim voice note tiap subuh. “Tes, tes, tes.”
Malam ini: aku nangis karena lupa kriteria Kawasaki. Dia peluk aku dari belakang. Pertama kali dia yang back hug. Terus dia nyebutin kriterianya satu-satu di rambutku. Katanya dia hafal soalnya aku ngulang lima kali di bangku panjang puskesmas, malam ke-40.
Aku lupa aku pernah ngelakuin itu. Dia inget.
Dua tahun lagi aku spesialis. Dua tahun lagi dia sarjana.
Dua tahun lagi kami pulang.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung reading
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup