Chapter Twenty One
Demi Masa Depanmu
POV: Bagas
Pasien menolak dirujuk.
Keputusan terapi diambil bersama dokter. Bukan sendirian.
— dr. K.
Aku membaca tulisan itu empat puluh kali sejak Senin sore.
Di meja kantor desa, saat Kang Dadan sudah pulang. Di pos ronda, di bawah senter. Di kamar, di meja kayu, di bawah foto Bapak dan Mak yang diambil di hari pernikahan mereka, Bapak dengan kemeja putih kebesaran dan Mak dengan kebaya dan senyum yang sama dengan senyum Lilis.
Tulisannya bulat, miring sedikit ke kiri. Tintanya biru. Di huruf n pada kata sendirian, tintanya sedikit menyebar, seperti terkena tetesan air.
Aku tahu air apa.
Senin malam, saat senter HP-nya berkedip dua kali dari jendela ruang jaga, aku menatapnya satu menit penuh sebelum menjawab.
Aku menjawab sekali. Siap.
Tapi aku tidak menyeberang jalan. Karena aku tahu, kalau aku menyeberang malam itu, aku akan berdiri di depan pintu puskesmas dan memintanya tinggal.
Dan aku tidak boleh memintanya tinggal.
Selasa pagi, Cibening merayakan.
Pak Haji memesan spanduk ucapan selamat. SELAMAT kepada dr. Kinanti Larasati atas diterimanya di Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak. Warga Cibening Bangga! Juragan Ujang, tidak mau kalah, memesan spanduk yang lebih besar dengan tulisan yang sama, tapi tambah Kami Akan Selalu Merindukanmu, Bu Dokter.
Keduanya datang ke kantor desa pukul delapan, berebut minta izin pasang di pagar puskesmas.
“Ini bukan kampanye, Ketua,” kata Juragan Ujang. “Ini ucapan selamat.”
“Kalau ada nama Bapak di spanduknya, itu kampanye, Pak.”
“Nggak ada nama saya.”
Aku menatap spanduk Juragan Ujang. Di pojok kanan bawah, kecil, ada logo kambing bertanduk dan tulisan J.U.
“Itu inisial, Ketua!”
Aku menghela napas. Lalu menatap kedua spanduk itu. Lalu menatap jendela ruang periksa di seberang jalan, yang tirainya masih tertutup sejak Jumat.
“Desa saja yang pasang,” kataku. “Satu spanduk. Atas nama pemerintah desa. Tanpa logo. Tanpa inisial. Saya yang cetak.”
Aku mencetaknya sendiri di percetakan kecamatan, siang itu, dengan uang kas desa. Tulisannya kupilih sendiri.
Selamat, dr. Kinanti. Terima kasih sudah menjaga Cibening. — Warga Cibening.
Aku memasangnya di pagar puskesmas pukul tiga sore, dengan tali tambang dan simpul pangkal. Dua lilitan. Pak Haji dan Juragan Ujang membantu memegang ujungnya, untuk pertama kalinya tanpa saling sikut.
Saat aku mengikat simpul terakhir, pintu puskesmas terbuka di belakangku.
Aku tidak menoleh.
Aku mendengar langkahnya di tangga. Berhenti. Mendengar napasnya, yang tertahan sesaat. Lalu langkahnya lagi, kembali ke dalam. Pintu menutup.
Juragan Ujang menatapku dari ujung spanduk. Untuk pertama kalinya, dia tidak tersenyum dan tidak berteriak.
“Ketua,” katanya pelan. “Saya mah kalah dari awal. Saya tahu. Tapi Ketua juga mau kalah?”
Aku tidak menjawab.
Selasa malam, pukul sembilan kurang lima, aku berdiri di depan jendela kantor desa dengan senter di tangan dan termos biru di meja.
Termos itu terisi penuh. Mak yang mengisinya, sore tadi, tanpa bertanya, dan meletakkannya di depan pintu kamarku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Aku sudah menyusun kalimatnya. Sejak Senin. Kalimat demi kalimat. Seperti surat edaran. Seperti pernyataan di depan BPD.
Kali ini aku tidak akan salah ucap. Kali ini aku tidak akan keceplosan. Kali ini aku akan memakai saya, karena saya adalah kata untuk hal-hal yang harus dilakukan dengan benar.
Aku menyalakan senter. Mengarahkannya ke jendela ruang jaga.
Klik-klik.
Dua kali.
Untuk kedua kalinya, aku yang memanggil. Pertama kali di hari ulang tahunnya, untuk memberinya Pupuh Kinanti dan surabi dan tali stetoskop.
Kali ini, untuk mengembalikan semuanya.
Dia keluar dari puskesmas dua menit kemudian.
Sweter rajut krem. Rambut tergerai. Tanpa jas putih. Tali stetoskop kulit cokelat muda masih di lehernya.
Dia duduk di bangku panjang. Aku duduk di ujung yang lain, dengan jarak satu orang di antara kami. Termos biru di tengah.
Lampu teras puskesmas berkedip sekali. Di kandangnya, Si Jagur mengembik pendek, lalu diam. Spanduk ucapan selamat bergoyang pelan tertiup angin di pagar.
“Mas yang manggil,” katanya. Suaranya pelan. “Itu yang kedua.”
“Iya, Bu Dokter.”
Dia menoleh padaku. Matanya membulat sedikit.
Bu Dokter.
Dia menatapku lama. Lalu menatap termos biru di antara kami. Lalu kembali menatap halaman puskesmas yang gelap.
“Oh,” katanya pelan. “Jadi gitu.”
Aku menarik napas. Kalimat pertama.
“Bu Dokter harus ambil PPDS-nya.”
Dia tidak menjawab.
“Itu kesempatan yang langka. Prof Hartono yang memberi rekomendasi. dr. Reza bilang Bu Dokter salah satu yang terbaik di angkatan.” Aku menatap tanganku. Kalimat kedua. “Cibening beruntung punya Bu Dokter satu tahun. Tapi Bu Dokter bisa menyelamatkan lebih banyak anak di rumah sakit besar.”
“Itu kalimat Kak Reza,” katanya.
“Itu kalimat yang benar.”
Dia diam lagi.
Kalimat ketiga. Kalimat yang paling sulit. Kalimat yang kususun ulang sebelas kali dan masih terasa seperti menelan obeng.
“Dan supaya Bu Dokter tidak punya alasan untuk tinggal,” kataku, “saya pikir kita sebaiknya selesai.”
Angin malam bertiup. Spanduk di pagar berderak.
Dia tidak bergerak. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya duduk di sana, menatap halaman yang gelap, dengan tangan di pangkuan.
Lalu dia bertanya, sangat pelan, “Mas baca tulisanku di agenda?”
“Saya baca.”
“Terus?”
Aku tidak menjawab.
“Aku tulis pasien menolak dirujuk,” katanya. “Aku tulis keputusan terapi diambil bersama dokter, bukan sendirian. Mas baca itu. Mas baca empat puluh kali, kan? Lilis bilang Mas nggak tidur.”
“Dokter juga bisa salah diagnosis, Bu Dokter.”
Dia menoleh padaku dengan sangat cepat.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat dia benar-benar marah.
Bukan cemburu seperti di ruang obat. Bukan kesal seperti saat aku bilang dia pantas di tempat yang lebih besar. Marah. Matanya berkilat. Rahangnya mengeras. Tangannya di pangkuan terkepal sampai buku-buku jarinya putih.
“Salah diagnosis,” ulangnya. “Mas bilang aku salah diagnosis.”
“Saya...”
“Aku dokter, Mas. Aku udah sembilan puluh lima hari meriksa Mas. Aku tahu tensi Mas waktu cemburu. Aku tahu detak jantung Mas waktu aku peluk dari belakang. Aku tahu Mas jalan lebih pelan di pematang biar aku nggak lepas pegangan. Aku tahu Mas ngitung tiap senter yang aku kedipin dan tiap termos yang Mas anter. Dari hari kedua.” Suaranya pecah. “Itu bukan salah diagnosis. Itu data.”
Aku tidak bisa menatapnya.
“Mas yang salah,” lanjutnya. Air mata mulai jatuh sekarang, tapi suaranya tidak berhenti. “Mas mikir kalau Mas mundur, aku bakal pergi dengan tenang. Mas mikir kalau Mas bilang selesai, aku bakal ambil PPDS dan nggak nengok lagi. Mas mikir Mas lagi ngelindungin aku. Kayak di BPD. Kayak Mas ngelindungin Mak dari tahu soal kerjaan di Bandung. Kayak Mas ngelindungin semua orang dari semua hal.”
“Bu Dokter...”
“KINAN.” Suaranya naik. Lalu turun lagi, gemetar. “Nama aku Kinan, Mas. Mas yang ngajarin aku Pupuh Kinanti. Mas yang ukir nama aku pakai solder tiga malam. Jangan panggil aku Bu Dokter sekarang. Jangan.”
Aku menutup mata.
“Saya akan di sini seumur hidup,” kataku pelan. Kalimat yang tidak ada di daftar. Kalimat yang keluar sendiri. “Mak tidak bisa ditinggal. Lilis masih sekolah. Gelar Sound punya Bapak. Saya tidak akan pernah ke Jakarta. Saya tidak akan pernah jadi seseorang yang bisa berdiri di samping dokter spesialis di rumah sakit besar.”
“Siapa yang minta Mas ke Jakarta?”
Aku membuka mata.
“Siapa yang minta Mas jadi orang lain?” Dia menatapku, basah, marah, dan sangat lelah. “Aku nggak pernah minta. Sekali pun. Mas yang mutusin sendiri apa yang aku mau. Mas nggak pernah nanya.”
Aku tidak punya jawaban.
Dia menungguku. Lima detik. Sepuluh. Tiga puluh.
Aku tidak menjawab.
Lalu dia berdiri.
Dia menatap termos biru di bangku, di antara kami. Stiker Coblos Aku, Mas! masih menempel. Tulisan Sah di bawahnya masih ada, sedikit pudar karena sering dipegang.
Dia tidak mengambilnya.
“Malam ini aku nggak minum jahe, Mas,” katanya pelan. “Aku nggak mau resep dari orang yang nggak percaya diagnosisku.”
Dia melepas tali stetoskop kulit dari lehernya. Pelan. Menatapnya sebentar, ukiran namanya yang dibakar dengan ujung solder. Lalu, dengan tangan yang gemetar, dia memakainya lagi.
“Ini nggak aku balikin,” bisiknya. “Ini punya aku. Mas yang bikin. Mas nggak bisa narik itu juga.”
Dia berbalik dan naik ke tangga puskesmas.
Di ambang pintu, dia berhenti. Tidak menoleh.
“Konfirmasi PPDS batasnya Jumat, Mas,” katanya ke pintu. “Pencoblosan Kamis. Aku belum jawab Prof Hartono.”
Lalu, lebih pelan:
“Sesuai prosedur, aku mau nunggu sampai Mas bukan panitia lagi. Biar Mas nggak bisa pakai itu jadi alasan.”
Pintu menutup.
Aku duduk di bangku panjang sampai pukul satu dini hari.
Termos biru di sebelahku tidak dibuka. Jahenya dingin. Lampu ruang jaga di belakangku menyala sampai pukul dua belas, lalu padam.
Tidak ada senter.
Mang Odon lewat pukul sebelas dengan motor. Berhenti di depan pagar. Menatapku dari balik helm. Menatap termos. Menatap spanduk ucapan selamat yang bergoyang.
“Mas,” katanya.
“Iya, Mang.”
“Saya biasanya jual info ke siapa aja,” kata Mang Odon. “Tapi saya nggak pernah jual info ke orang bodoh. Soalnya orang bodoh nggak bakal pakai infonya.”
Dia menyalakan motor dan pergi.
Rabu pagi, pukul tujuh, aku berdiri di depan mik pengeras suara balai.
Aku menyalakan amplifier. Mendekatkan mulut ke mik.
Aku tidak mengetes.
Aku langsung membacakan pengumuman. Pencoblosan besok. TPS dibuka pukul tujuh. Bawa KTP dan undangan. Lansia dan ibu hamil didahulukan. Petugas kesehatan berjaga di setiap TPS.
Satu desa mendengar Kaur Umum membacakan pengumuman tanpa tes, tes, tes untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
Ceu Imas tidak datang ke kantor desa untuk protes. Mungkin karena dia tahu. Mungkin karena satu desa sudah tahu.
Di seberang jalan, tirai jendela ruang periksa tetap tertutup.
Pukul sepuluh, Lilis datang ke kantor desa dengan seragam SMA. Dia tidak bicara. Dia hanya meletakkan sesuatu di mejaku, lalu pergi.
Selembar kertas tulis bergaris dari buku catatannya. Dengan tulisan tangan Lilis yang besar dan berantakan.
Aa. Teh Dokter nangis di ruang obat dari jam tujuh. Teh Euis bilang ke aku. Teh Euis juga nangis.
Bapak dulu bikin Mak nunggu tiga tahun. Mak yang cerita. Aa mau bikin Teh Dokter nunggu berapa lama? Tiga tahun? Selamanya?
Aa bukan ngelindungin. Aa takut.
— Lilis (adik Aa yang lebih pinter)
Aku membaca kertas itu.
Lalu aku membuka agenda kulit cokelat ke halaman belakang. Ke tulisan biru yang miring ke kiri, dengan tinta yang sedikit menyebar di huruf n.
Bukan sendirian.
Aku menatapnya sampai Kang Dadan menyentuh bahuku dan bertanya apakah aku sakit.
“Tidak, Kang,” kataku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu itu bohong, dan aku tidak peduli wajahku benar atau tidak.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-96 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya.
Keluhan: memanggil aku “Bu Dokter” lagi. Pakai “saya” lagi. Sengaja. Kayak hari pertama. Kayak tiga bulan nggak pernah terjadi.
Pernyataan pasien: “Supaya Bu Dokter tidak punya alasan untuk tinggal, saya pikir kita sebaiknya selesai.”
Aku tanya dia baca tulisanku atau nggak. Dia bilang baca. Terus dia bilang dokter juga bisa salah diagnosis.
Aku marah. Pertama kali aku marah ke dia. Aku teriak namaku sendiri.
Dia bilang dia akan di sini seumur hidup. Dia bilang dia nggak akan pernah jadi orang yang bisa berdiri di samping dokter spesialis. Aku tanya siapa yang minta dia ke Jakarta. Dia nggak jawab.
Termos biru aku tinggal di bangku. Tali stetoskop nggak aku balikin. Itu punya aku.
Pagi ini nggak ada tes. Sama sekali. Satu desa dengar. Aku nangis di ruang obat dari jam tujuh.
Pencoblosan besok. Konfirmasi PPDS Jumat.
Aku masih nunggu, Mas. Sesuai prosedur. Sampai kamu nggak punya alasan lagi.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu reading
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup