← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Seven

Lumpur di Pematang

POV: Bagas

Kampung Atas tidak bisa dicapai dengan motor.

Ada jalan setapak berbatu yang menanjak di sela kebun teh, lalu pematang sawah sepanjang hampir satu kilometer, lalu tangga tanah yang dipahat di lereng bukit. Empat puluh menit jalan kaki kalau cuaca bagus. Satu jam kalau habis hujan. Selamanya kalau kau orang Jakarta yang memakai kets putih.

“Saya nggak bisa nemenin, Bu Dokter,” kata Teh Euis Rabu pagi, sambil memasukkan tensimeter ke tas. “Ada ibu mau lahiran di Kampung Bawah, bukaan empat. Rani jaga poli.”

“Terus aku ke Abah Uha sama siapa, Teh?”

Teh Euis tersenyum, menoleh ke jendela, dan berteriak ke seberang jalan dengan suara yang bisa membangunkan seluruh kecamatan.

“KANG BAGAAAS! HARI INI COKLIT KAMPUNG ATAS, KAN?”

Aku mengangkat kepala dari laptop. Pencocokan dan penelitian data pemilih untuk Kampung Atas memang dijadwalkan minggu ini. Aku belum bilang ke siapa pun hari apa.

“Iya, Teh,” jawabku dari jendela. “Hari ini.”

“KEBETULAN! BU DOKTER JUGA KE SANA! BARENG, NYA!”

Di belakang Teh Euis, Bu Dokter menutup wajahnya dengan buku status pasien.


Kami berangkat pukul sembilan.

Bu Dokter memakai celana kargo cokelat, kaus lengan panjang abu-abu, rompi puskesmas warna biru, dan topi rimba yang jelas dibeli khusus untuk penugasan di desa. Rambutnya dikepang satu di belakang. Tas medis di bahu kanan. Kets putih di kaki.

Kets putih yang sama dengan hari pertama. Sudah dicuci. Masih putih.

“Bu Dokter,” kataku di awal jalan setapak. “Sepatunya.”

“Kenapa sepatuku?”

“Jalannya becek, Bu Dokter. Kemarin malam hujan.”

“Ini kets outdoor, Mas. Anti-air. Mahal.” Dia mengangkat satu kaki, memamerkan solnya yang bergerigi. “Aku riset dulu sebelum ke sini.”

Aku tidak berkomentar. Aku memakai sepatu bot karet hijau yang dibeli Bapak di pasar kecamatan, dua nomor lebih besar dari ukuranku, dengan kaus kaki dua lapis.

Lima belas menit pertama berjalan lancar. Kebun teh di kiri-kanan, hijau dan rapi seperti karpet yang disisir. Udara pagi masih dingin, dan kabut tipis menggantung di lembah. Bu Dokter berjalan di depanku, sesekali berhenti untuk memotret, sesekali bertanya nama tanaman.

“Itu apa, Mas?”

“Pohon suren, Bu Dokter.”

“Itu?”

“Kopi. Punya Abah Uha.”

“Itu?”

Aku menatap arah telunjuknya. Di pinggir jalan setapak, di depan sebuah rumah panggung kecil, seekor ayam jago berbulu merah berdiri tegak, menatap kami dengan satu mata.

Bu Dokter berhenti berjalan.

“Itu ayam, Bu Dokter,” kataku.

“Aku tahu itu ayam, Mas.”

Ayam itu berkokok sekali. Keras. Bu Dokter melompat ke belakang, dan karena aku berdiri tepat di belakangnya, punggungnya menabrak dadaku.

Dia membeku. Aku membeku.

Ayam itu, dengan arogansi khas ayam jago, berjalan menyeberang jalan setapak tepat di depan kaki kami, perlahan sekali, seperti pejabat yang sedang menginspeksi pasukan.

“Mas,” bisik Bu Dokter tanpa bergerak. Punggungnya masih menempel di dadaku. “Mas, dia jalan ke sini.”

Aku melangkah ke depan, berdiri di antara dia dan ayam itu, dan mengibaskan tangan sekali. Ayam itu mengepakkan sayap, berkokok marah, lalu lari ke kolong rumah panggung.

Aku berbalik. Bu Dokter berdiri dengan kedua tangan memegang tali tas medis, wajah merah sampai ke leher.

“Mas lihat itu,” katanya, “dan Mas nggak lihat apa-apa.”

“Saya tidak lihat apa-apa, Bu Dokter.”

“Bagus.”

Kami melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini dia berjalan di belakangku. Dan setiap kali kami melewati rumah warga, tangannya diam-diam memegang ujung rompi panitia yang kupakai.


Abah Uha berusia delapan puluh dua tahun, tinggal di rumah panggung paling ujung Kampung Atas bersama cucunya, dan sudah tiga tahun tidak bisa turun ke puskesmas karena kakinya lemah setelah stroke ringan.

Dia mengenali Bapak dari wajahku.

“Ieu teh putra Almarhum Pramudya?” Abah Uha menggenggam tanganku dengan dua tangan yang keriput dan gemetar. “Si Gelar Sound?”

“Muhun, Abah.”

“Bapak maneh teh pasang sora di nikahan cucu Abah. Taun dua rebu lima welas. Alus pisan.” Abah Uha tersenyum, giginya tinggal empat. “Ayeuna maneh nu pasang?”

“Muhun, Abah. Sekarang saya.”

Abah Uha mengangguk-angguk puas, lalu menoleh ke Bu Dokter yang sedang memasang manset tensimeter di lengannya.

“Ieu saha? Bu Dokter anyar?”

“Iya, Abah,” jawab Bu Dokter dengan bahasa Sunda yang patah-patah dan sangat sopan. “Abdi dokter enggal di puskesmas.”

“Geulis pisan.” Abah Uha menatapnya lama, lalu menatapku, lalu menatapnya lagi. Matanya yang keruh oleh katarak tiba-tiba berbinar dengan cara yang tidak kusukai. “Ieu teh kabogohna si Bagas?”

Aku tersedak udara.

Bu Dokter, yang sedang memompa tensimeter, berhenti memompa.

“Kabogoh teh naon, Mas?” bisiknya ke arahku.

“Itu...” Aku menatap dinding bilik bambu. “Tidak penting, Bu Dokter.”

“Kabogoh teh pacar, Bu Dokter,” kata cucu Abah Uha, perempuan muda yang sedang menyeduh kopi di dapur, dengan nada sangat membantu.

Bu Dokter menatap tensimeter di tangannya. Lalu menatapku. Lalu, dengan senyum paling manis yang pernah kulihat ia berikan ke pasien, dia berkata pada Abah Uha:

“Belum, Abah.”

Belum.

Abah Uha tertawa terkekeh-kekeh sampai harus memegang dada. Bu Dokter melanjutkan memompa tensimeter dengan wajah sangat profesional. Dan aku membuka map daftar pemilih dan mencocokkan nama Abah Uha di DPT dengan konsentrasi penuh, meskipun sudah kucocokkan tadi di jalan.

Tekanan darah Abah Uha seratus enam puluh per sembilan puluh. Bu Dokter mengganti obatnya, menjelaskan cara minum ke cucunya dua kali, memijat betis Abah Uha yang kaku sambil mengajarkan gerakan latihan sederhana, dan berjanji akan datang lagi dua minggu kemudian.

Saat kami pamit, Abah Uha menggenggam tangan Bu Dokter.

“Hatur nuhun, Neng Dokter.” Lalu dia menoleh padaku, menunjuk dengan dagu. “Si Bagas mah bageur. Ulah diantep.”

“Artinya apa, Mas?” bisik Bu Dokter lagi.

Aku tidak menjawab. Cucu Abah Uha, dari dapur, dengan nada sangat membantu lagi: “Kang Bagas mah orangnya baik, Bu Dokter. Jangan dilepas.”


Hujan turun di tengah pematang.

Bukan gerimis. Hujan Cibening, yang datang tanpa aba-aba dari balik bukit, tebal dan dingin, membuat pematang selebar satu jengkal berubah menjadi selokan licin di antara dua petak sawah yang baru ditanami.

“Pelan-pelan, Bu Dokter,” kataku dari belakang. “Injak bagian yang ada rumputnya.”

“Iya, iya.” Dia berjalan dengan dua tangan terentang seperti pemain akrobat, topi rimbanya meneteskan air. “Mas, ini pematang apa titian?”

“Pematang, Bu Dokter.”

“Kenapa sempit banget?”

“Supaya sawahnya luas, Bu Dokter.”

“Itu logis banget, aku benci.” Dia tertawa. Lalu tawanya berubah menjadi teriakan pendek.

Kaki kanannya, kets outdoor anti-air yang mahal, tergelincir di tanah liat. Tubuhnya oleng ke kanan. Aku melompat maju dan menangkap lengan kirinya, tapi terlambat setengah detik. Dia tidak jatuh sepenuhnya, tapi kaki kanannya masuk ke sawah sampai lutut.

Lumpur sawah yang baru dibajak. Hitam, kental, dingin, dan menghisap.

Dia berdiri di sana, satu kaki di pematang, satu kaki tenggelam di lumpur, memegangi lenganku dengan dua tangan, hujan menetes dari ujung hidungnya.

Lalu dia mencoba menarik kakinya keluar.

Kakinya keluar. Kets outdoor anti-air yang mahal itu tidak.

Kami berdua menatap lubang di lumpur tempat sepatu itu menghilang.

“Mas,” katanya pelan.

“Iya, Bu Dokter.”

“Sepatuku dimakan sawah.”

Aku berlutut di pematang, menggulung lengan kemeja, dan memasukkan tangan ke lumpur sampai siku. Meraba-raba. Menemukan sesuatu yang bergerigi. Menariknya keluar dengan bunyi plop yang sangat tidak bermartabat.

Kets putih itu sekarang sepenuhnya hitam. Air lumpur mengucur dari lubang talinya.

Bu Dokter menatap sepatu itu. Menatap tanganku yang hitam sampai siku. Menatap kakinya sendiri, yang bertelanjang, berlumpur sampai lutut, berdiri di atas pematang licin di tengah hujan.

Lalu dia tertawa.

Bukan tawa sopan. Bukan tawa yang ditahan di balik clipboard. Tawa yang keras, lepas, membungkuk, sampai bahunya bergetar dan dia harus berpegangan pada lenganku supaya tidak jatuh lagi. Tawa jelek. Tawa yang membuat burung kuntul di petak sebelah terbang ketakutan.

Aku tidak pernah melihatnya tertawa seperti itu.

Aku berdiri di tengah hujan, memegang sepatu berlumpur, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kujelaskan dengan istilah teknik mana pun.


“Aku nggak bisa jalan nyeker di pematang, Mas,” katanya setelah tawanya reda. “Kakiku licin. Nanti jatuh lagi.”

“Pakai sepatunya lagi, Bu Dokter. Nanti saya bersihkan di puskesmas.”

“Sepatunya penuh lumpur. Kayak pakai ember.”

Aku menatap pematang yang masih panjang. Menatap kakinya. Menatap hujan yang tidak menunjukkan tanda akan berhenti.

Lalu aku berjongkok di depannya, membelakanginya.

Dia diam.

“Bu Dokter,” kataku tanpa menoleh. “Naik.”

Hening. Hanya suara hujan di daun padi.

Lalu aku merasakan dua tangan di bahuku. Ragu. Lalu berat tubuhnya di punggungku, dan dua lengan yang melingkar di leherku dari belakang, dan dagunya yang dingin dan basah jatuh di bahu kananku.

Aku berdiri. Dia tidak berat. Lebih ringan dari sekarung pupuk. Lebih ringan dari speaker kecil Gelar Sound.

Tapi rasanya jauh lebih berat dari semua itu.

“Mas,” bisiknya di dekat telingaku. Napasnya hangat di kulit leherku yang dingin. “Gendong sampai puskesmas, ya.”

“Sampai ujung pematang, Bu Dokter. Habis itu jalannya batu, Bu Dokter bisa pakai sepatu.”

“Sampai puskesmas.” Lengannya mengencang sedikit di leherku. “Resep dokter.”

Aku tidak membantah. Aku berjalan.

Dua ratus langkah di pematang. Pelan, hati-hati, menginjak rumput. Hujan mengguyur kami berdua. Sepatu kets berlumpur tergantung di jari tangan kananku. Dan di punggungku, dia diam. Tidak tertawa lagi. Hanya bernapas pelan di dekat telingaku, dagunya bersandar di bahuku, lengannya melingkar di leherku.

Di ujung pematang, aku tidak berhenti.

Di jalan berbatu, aku tidak berhenti.

Di kebun teh, di depan rumah ayam jago tadi, di tanjakan terakhir menuju Kampung Tengah, aku tidak berhenti.

Dia juga tidak minta turun.


Kami sampai di jalan desa pukul satu siang. Hujan sudah reda menjadi gerimis. Dan, tentu saja, jalan desa tidak kosong.

Mang Odon sedang duduk di pangkalan ojek dengan dua tukang ojek lain. Bi Onah sedang menggoreng bala-bala di depan warungnya. Tiga ibu-ibu sedang berteduh di teras rumah Bu RW. Dan Dede, entah dari mana, sudah memegang ponsel di tongsis.

Mereka semua menatap kami.

Ketua panitia Pilkades, berlumpur sampai siku, memakai sepatu bot hijau kebesaran, menggendong dokter puskesmas yang bertelanjang kaki dan berlumpur sampai lutut, dengan topi rimba miring dan kepala di bahunya.

“Gaes,” bisik Dede ke kamera. “Gaes. Ini juga bukan filter.”

Bu Dokter mengangkat kepala dari bahuku. Melihat semua orang. Melihat Dede.

Lalu, alih-alih minta diturunkan, dia membenamkan wajahnya lagi di bahuku dan mengencangkan pelukannya di leherku.

“Jalan terus, Mas,” gumamnya. “Jangan berhenti. Aku malu.”

Aku jalan terus.


Di halaman puskesmas, aku menurunkannya di bangku panjang. Pelan. Dia melepaskan lengannya dari leherku dengan sangat lambat.

Lalu aku membawa sepatu kets berlumpur itu ke keran, berjongkok, dan mulai mencucinya dengan sikat dan sabun batangan.

Dia duduk di bangku dengan kaki berlumpur menjuntai, memeluk tas medisnya, menatapku menggosok sol sepatunya satu per satu.

“Mas.”

“Iya, Bu Dokter.”

“Tadi Abah Uha nanya aku pacar Mas atau bukan.”

“Saya dengar, Bu Dokter.”

“Aku jawab belum.”

Sikat di tanganku berhenti.

“Saya dengar, Bu Dokter,” ulangku pelan.

Dia tidak berkata apa-apa lagi. Dan aku tidak berani menoleh. Aku hanya terus menggosok sepatu putih itu sampai benar-benar putih lagi, lebih lama dari yang diperlukan, sampai gerimis berhenti sepenuhnya dan matahari keluar dari balik bukit.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-24 di Cibening.

Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: tangan berlumpur sampai siku karena ngambil sepatuku dari perut sawah. Pinggang mungkin pegal. Pasien nggak ngaku.

Pemeriksaan: punggung pasien hangat. Bahu pasien lebar. Leher pasien wangi sabun batangan dan hujan. Detak jantung pasien, dari posisi digendong, kerasa sampai ke dadaku. Cepat. Lebih cepat dari jalan nanjak biasa.

Diagnosis: pasien nggak berhenti di ujung pematang. Pasien nggak berhenti di jalan batu. Pasien nggak berhenti di depan Dede.

Terapi: digendong. Sekali lagi. Kapan-kapan. Resep dokter.

Catatan dokter: Abah Uha nanya aku pacarnya atau bukan. Aku jawab belum. Dia dengar. Dia bilang “saya dengar” dua kali, terus gosok sepatuku dua puluh menit.

Abah Uha juga bilang jangan dilepas. Iya, Abah. Nggak akan.

Aku ketawa jelek banget di pematang. Dia lihat. Dia nggak ketawa. Dia malah natap aku kayak lagi lihat sesuatu yang bagus.