Chapter Thirteen
Coblos Aku, Mas
POV: Kinan
Strategi kampanye itu ditulis di papan tulis kecil di ruang KIA, di balik kalender imunisasi, dengan spidol merah milik Teh Euis.
TIM SUKSES BU DOKTER
Target: Kaur Umum.
Waktu: 6 minggu (42 hari).
Hambatan: netralitas, prosedur, Perbup, kuping merah.
Kekuatan: termos, senter, Mak Icah, Lilis.
“Teh,” kataku. “Ini kayak strategi militer.”
“Ini lebih susah dari militer, Bu Dokter.” Teh Euis mengetuk papan dengan ujung spidol. “Militer mah musuhnya ngelawan. Kang Bagas mah nggak ngelawan. Dia cuma diem. Itu lebih bahaya.”
Rani, yang duduk di kursi pasien sambil makan cilok, mengangkat tangan. “Usul, Teh. Gimana kalau Bu Dokter pura-pura pingsan di depan kantor desa?”
“Rani, aku dokter. Aku tahu cara pingsan yang meyakinkan, tapi aku nggak mau.”
“Usul dua. Bu Dokter pura-pura dilamar Juragan Ujang, biar Kang Bagas cemburu.”
“Juragan Ujang beneran mau ngelamar, Ran. Itu bukan pura-pura. Itu bencana.”
Teh Euis menghapus dua usul itu dari papan, lalu menulis satu kata besar di tengah.
KONSISTEN.
“Kang Bagas mah orangnya prosedural, Bu Dokter,” katanya. “Dia nggak bakal luluh sama yang heboh. Dia luluh sama yang tiap hari. Kayak termos jam sembilan. Kayak senter dua kali.” Dia menatapku. “Bu Dokter harus jadi rutinitas dia.”
Aku menatap papan itu lama.
“Teh Euis,” kataku. “Teteh udah berapa lama nikah?”
“Dua belas tahun.” Teh Euis tersenyum. “Suami saya juga dulu kayak kulkas.”
Hari pertama kampanye, aku menempelkan stiker di termos biru.
Stiker itu dicetak Dede di percetakan kecamatan dengan syarat dia boleh membuat video behind the scene. Aku menolak syaratnya. Dede mencetaknya tetap, gratis, karena katanya demi konten masa depan.
Bulat, sebesar tutup gelas, dengan latar merah muda dan tulisan putih:
COBLOS AKU, MAS!
Di bawahnya, gambar kecil stetoskop berbentuk hati.
Pukul sembilan malam, saat dia datang menjemput termos kosong untuk diisi ulang, aku menyerahkannya dengan stiker menghadap ke atas.
Dia menatap stiker itu. Lama.
Lalu menatapku.
“Bu Dokter,” katanya. “Ini atribut kampanye.”
“Ini termos, Mas.”
“Atribut kampanye ditempel di termos.”
“Aku bukan calon kades. Aku calon...” Aku berhenti, tersenyum. “Pokoknya bukan calon kades. Nggak ada di surat edaran.”
Dia membuka mulut. Menutupnya. Kupingnya mulai merah, perlahan, dari ujung.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia memasukkan termos itu ke kantong jaket. Dengan stiker masih menempel.
Dia tidak mencabutnya.
Besok malamnya, termos itu datang kembali penuh jahe hangat. Stikernya masih ada. Dan di bawah stiker itu, dengan spidol hitam kecil dan tulisan tangan miring ke kanan yang sudah kuhafal, ada satu kata tambahan:
Sah.
Aku menatap tulisan itu lima menit penuh di ruang jaga. Lalu memotretnya. Lalu memotretnya lagi dari sudut berbeda.
Teh Euis, keesokan paginya, menambahkan satu baris di papan: Hari 2: target membalas atribut. Kemajuan signifikan.
Hari ketiga sampai hari kesepuluh, aku menjadi rutinitas.
Pukul tujuh empat puluh, aku duduk di bangku panjang di depan puskesmas dengan gelas kopi, menghadap jendela kantor desa. Saat dia datang dan menyalakan laptop, aku melambai. Setiap hari. Hari kelima, dia mulai melambai balik tanpa kaku. Hari ketujuh, dia sudah menoleh ke bangku itu sebelum duduk.
Pukul dua belas, aku makan siang di bangku yang sama. Kadang nasi bungkus Bi Onah. Kadang mi instan dalam gelas. Hari kedelapan, ada piring kecil berisi dua potong pisang goreng yang muncul di sebelah gelas mi-ku saat aku kembali dari ruang periksa. Tidak ada yang mengaku. Mang Odon yang memberiku info, gratis: Kang Bagas yang naruh, Bu Dokter. Pakai piring kantor desa.
Pukul tiga sore, aku menyelipkan resep ke agendanya. Kadang lewat Rani. Kadang lewat Lilis. Kadang aku sendiri, dengan alasan administrasi.
R/ Istirahat. 15 menit. Di bangku puskesmas. Ditemani dokter.
R/ Senyum ke Kang Dadan. Kasihan, dia kayak nggak pernah disenyumin.
R/ Jangan begadang ngetik DPT. Kantung matamu udah kayak tas kresek.
R/ Bilang sesuatu yang bukan “Iya, Bu Dokter”. Satu kalimat aja.
Lilis, kurir paling setia dan paling mahal (bayarannya cilok kuah dua bungkus per resep), melaporkan perkembangannya setiap sore lewat WhatsApp.
Lilis: Teh Dokter, laporan. Resep hari ini udah dibaca Aa jam 9 malem.
Lilis: Abis dibaca, Aa diem lama. Terus senyum. Terus pura-pura batuk pas aku masuk kamar.
Lilis: Terus resepnya dilipet dua, dimasukin agenda. Rapi banget. Kayak nyimpen surat tanah.
Lilis: Btw Teh, cilok kuah naik seribu.
Aku membayar dua ribu lebih. Lilis membalas dengan stiker kucing dan satu kalimat: Teteh calon kakak ipar terbaik sedunia. Aku menatap kalimat itu jauh lebih lama dari yang pantas dilakukan seorang dokter berusia dua puluh tujuh tahun.
Dia tidak pernah membalas resep-resep itu dengan kata-kata.
Tapi hari kesembilan, saat aku lewat di depan kantor desa pukul tiga lewat lima, dia sedang duduk di kursinya dengan mata terpejam. Bukan tidur. Bersandar, tangan di dada, wajah menghadap jendela. Kang Dadan menatapnya dengan bingung dari meja sebelah.
“Gas, kamu ngapain?”
“Istirahat, Kang. Lima belas menit.”
“Sejak kapan kamu istirahat?”
“Sejak ada resep.”
Aku harus berlari ke ruang obat dan menutup pintu sebelum ada yang melihat wajahku.
Hari kesebelas, aku datang ke kantor desa dengan alasan yang benar-benar administratif. Dinkes minta data jumlah KK per RT untuk program jamban sehat.
Dia sedang di gudang belakang, kata Kang Dadan. Mengambil berkas lama. Sebentar lagi kembali.
Aku duduk di kursi tamu di depan mejanya, menunggu.
Mejanya rapi. Laptop tua yang berisik. Tumpukan map berlabel. Gelas teh yang sudah dingin. Buklet Perbup yang sudah lecek di ujung. Dan agenda kulit cokelat, terbuka, di samping keyboard.
Aku tidak berniat melihat. Sungguh.
Tapi agenda itu terbuka di halaman kalender. Dan di halaman kalender itu, ada satu tanggal yang dilingkari tinta biru. Tebal. Dilingkari lebih dari sekali, seperti orang yang terus menebalkannya setiap kali membuka halaman itu.
Tanggal pencoblosan.
Dan di bawah halaman kalender, terselip di antara lembaran, aku bisa melihat ujung-ujung kertas kecil berwarna putih dengan kop biru. Kertas resep Puskesmas Cibening. Banyak. Terlalu banyak untuk dihitung dari kursi tamu. Ditumpuk rapi, ujungnya sejajar sempurna, seperti tumpukan dokumen yang sudah diarsipkan.
Formulir domisili ada di paling belakang, terlipat dua.
Semuanya dia simpan. Semuanya.
“Bu Dokter?”
Aku menegakkan punggung terlalu cepat. Dia berdiri di ambang pintu gudang dengan setumpuk map di tangan, menatapku. Lalu menatap agendanya yang terbuka. Lalu menatapku lagi.
Kupingnya merah dalam satu detik. Rekor baru.
“Aku nggak lihat apa-apa,” kataku.
“Iya, Bu Dokter.”
“Aku cuma mau minta data KK per RT. Buat jamban sehat.”
“Iya, Bu Dokter.” Dia meletakkan map, menutup agendanya dengan sangat pelan, lalu mencetak data yang kuminta tanpa berkata apa-apa.
Saat dia menyerahkan kertas itu, aku tidak langsung mengambilnya.
“Mas.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Aku mau protes.”
Dia menatapku, menunggu.
“Nama aku Kinan, Mas,” kataku. “Bukan Bu Dokter. Ini bukan poli umum. Aku bukan lagi nanganin Mas. Mas juga bukan lagi ngurus surat aku.” Aku menatapnya tepat di mata. “Kalau lagi berdua, panggil aku Kinan.”
Kang Dadan, di meja sebelah, tiba-tiba sangat sibuk dengan stapler.
Dia diam. Lama.
Lalu dia membuka mulut. Aku melihat bibirnya membentuk sesuatu, ragu, seperti orang yang belajar mengucapkan kata asing untuk pertama kali.
“...Kinan.”
Pelan sekali. Hampir tidak terdengar. Tapi aku mendengarnya.
Dan entah bagaimana, namaku sendiri, yang sudah kudengar dua puluh tujuh tahun dari ribuan mulut, terdengar seperti nama yang baru diberikan hari itu.
Aku mengambil kertas data KK dari tangannya. Tanganku gemetar. Tangannya juga.
“Lagi,” bisikku.
“Bu Dok...” Dia berhenti. Menelan ludah. “Kinan.”
Kang Dadan menjatuhkan stapler.
Malam harinya, aku melaporkan semuanya ke Teh Euis lewat telepon, di bawah pohon jamblang.
“Dia nyimpen semua resepnya, Teh. Semua. Ditumpuk rapi kayak arsip negara. Dan tanggal pencoblosan dia lingkerin sampai tebel banget, kayak dia ngitung hari.”
“Terus, Bu Dokter?”
“Terus dia manggil aku Kinan.”
Teh Euis menjerit di telepon. Aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.
“Teh, jangan teriak, ini udah malam.”
“BU DOKTER, ITU MAH UDAH MENANG!”
“Belum, Teh. Dia masih bilang tunggu pencoblosan.”
“Itu mah formalitas!” Teh Euis tertawa. “Orang kayak Kang Bagas teh, kalau udah nyimpen kertas, udah nyimpen nama, tinggal nunggu dia sadar sendiri.”
Aku menatap sawah gelap di depanku. Kunang-kunang berkedip di atas pematang. Di kejauhan, lampu kantor desa masih menyala.
“Teh,” kataku. “Gimana kalau dia nggak pernah sadar?”
Teh Euis diam sebentar. Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, lebih lembut, suara yang mungkin dia pakai untuk ibu-ibu yang takut melahirkan.
“Bu Dokter, kemarin saya lihat Kang Bagas istirahat lima belas menit gara-gara resep. Kang Bagas yang dulu pingsan di belakang speaker tapi nggak mau ke puskesmas. Itu udah sadar, Bu Dokter. Dia cuma belum berani.”
Pukul sembilan, termos datang seperti biasa. Stiker Coblos Aku, Mas! masih menempel, dengan tulisan Sah di bawahnya.
Tapi malam itu, dia tidak langsung pergi setelah menyerahkan termos.
Dia berdiri di tangga puskesmas, dua anak tangga di bawahku, sehingga mata kami hampir sejajar. Tangannya di saku jaket. Wajahnya menatap sesuatu di belakang bahuku, di dinding puskesmas, di mana pun kecuali mataku.
“Kinan,” katanya.
Jantungku melompat.
“Tadi siang,” lanjutnya, sangat pelan, “Bu Dok... kamu lihat agenda saya.”
“Aku bilang aku nggak lihat.”
“Kamu lihat.”
Aku diam.
Dia menarik napas panjang. Lalu, untuk pertama kalinya sejak dia berdiri di tangga itu, dia menatap mataku.
“Saya juga,” katanya.
Aku tidak mengerti. “Juga apa, Mas?”
“Yang kamu bilang di bawah pohon jamblang.” Kupingnya merah. Lehernya merah. Tapi dia tidak berpaling. “Saya juga. Dari mik yang berdenging. Dari kamu ketawa di panggung waktu saya bilang HP Dede belum dites.”
Aku berhenti bernapas.
“Tapi saya tetap ketua panitia,” lanjutnya cepat, seperti takut kehilangan keberanian di tengah kalimat. “Saya tetap harus netral sampai pencoblosan. Saya tetap nggak bisa...” Dia berhenti. “Saya cuma nggak mau kamu nunggu sambil mikir saya nggak... saya nggak...”
“Nggak suka aku?” bisikku.
“Iya. Itu.”
Kami berdiri di tangga puskesmas. Lampu teras berkedip sekali. Si Jagur mengembik dari kandangnya.
Lalu aku tertawa. Basah, gemetar, tidak bisa ditahan. Aku memeluk termos ke dadaku begitu erat sampai stiker Coblos Aku, Mas! mungkin tercetak di sweter rajutku.
“Mas,” kataku di sela tawa. “Itu kalimat terpanjang yang pernah Mas omongin ke aku.”
“Iya.” Dia menunduk. “Saya latihan dari jam tujuh.”
Aku tertawa lebih keras. Dia hampir tersenyum. Hampir.
“Tiga puluh satu hari lagi, Mas,” kataku.
“Saya tahu,” katanya. “Sudah saya lingkari.”
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-67 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Status: menyimpan SEMUA resep palsu. Ditumpuk rapi, ujungnya sejajar. Formulir domisili di paling belakang. Tanggal pencoblosan dilingkari tebal berkali-kali.
Riwayat kampanye: stiker “Coblos Aku, Mas!” di termos tidak dicabut. Dibalas tulisan “Sah”. Pisang goreng muncul di piring kantor desa. Istirahat lima belas menit sesuai resep.
Pemeriksaan hari ini: pasien manggil aku pakai nama. Bukan Bu Dokter. Dua kali. Yang kedua karena aku minta. Kang Dadan jatuhin stapler.
Malamnya: pasien bilang “saya juga”. Dari mik yang berdenging. Latihan dari jam tujuh.
Diagnosis: perasaan berbalas, terapi ditunda karena alasan prosedural. Prognosis: sangat baik.
Catatan dokter: tiga puluh satu hari lagi. Aku punya tiga puluh satu malam termos, tiga puluh satu malam senter, dan satu orang yang nyebut namaku kayak lagi pegang barang pecah belah.
Teh Euis bilang aku udah menang. Aku belum mau bilang menang. Tapi aku udah beli kertas resep satu rim lagi.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas reading
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup