Chapter Sixteen
Tes, Tes, Tes
POV: Bagas
Aturan backstreet disusun Kamis malam, di bangku panjang depan puskesmas, pukul sembilan lewat sepuluh, dengan termos biru di antara kami dan kertas resep di pangkuannya.
Dia yang menulis. Aku yang mengoreksi ejaan.
ATURAN RAHASIA KITA
(berlaku sampai pencoblosan, 17 hari lagi)
1. Di depan orang: aku Bu Dokter, Mas Kaur Umum. Pakai “saya”. Formal. Kayak dulu.
2. Kalau berdua: aku Kinan. Mas boleh pakai “aku”. (Harus. Resep dokter.)
3. Kode.
Dia berhenti menulis di nomor tiga, mengetuk-ngetuk pulpen ke dagu.
“Kode apa ya, Mas?”
“Senter sudah ada, Kinan.”
“Senter itu kode lama. Artinya aku butuh kamu. Kalau artinya diganti, nanti bingung.” Dia menatap ke seberang jalan, ke jendela kantor desa. “Kita butuh kode baru. Buat yang lain.”
“Yang lain apa?”
Dia menoleh padaku. Pipinya merah di bawah lampu teras. “Buat kangen, misalnya.”
Aku menatap termos.
“Senter dua kali,” kataku pelan, “bisa juga artinya kangen.”
Dia diam. Lalu tersenyum, dan menulis di kertas resep:
a. Senter dua kali = aku butuh kamu ATAU aku kangen kamu. (Sama aja.) Ketemu di bangku ini.
“Terus kalau mau ketemu yang... nggak di bangku?” tanyanya. “Yang nggak kelihatan dari jalan?”
Aku berpikir. Hanya ada satu tempat di puskesmas yang tidak kelihatan dari jalan, dari balai, dari warung Bi Onah, dan dari jangkauan mata Mang Odon.
“Ruang genset,” kataku.
Dia mengangkat alis. “Alasannya?”
“Kalau kamu bilang ke Rani gensetnya ngadat, Rani pasti telepon aku. Dan tidak ada yang curiga, karena genset puskesmas memang sering ngadat.”
Dia menatapku dengan mata membulat. Lalu tertawa. “Mas licik.”
“Aku praktis.”
“Itu sama aja.”
b. Genset ngadat = ketemu di ruang genset.
Dia menulis, lalu berhenti lagi. Mengetuk pulpen.
“Satu lagi,” katanya. “Buat yang paling penting.”
“Apa?”
Dia tidak menjawab. Dia menatapku lama, menggigit bibir bawah, lalu menunduk ke kertas dan menulis sesuatu dengan cepat, menutupinya dengan tangan.
Lalu dia melipat kertas itu dua kali dan menyelipkannya ke saku jaketku.
“Baca nanti di rumah,” katanya, dan berdiri. “Jangan di sini.”
Aku membacanya pukul sepuluh, di meja kayu di kamar.
c. Tiap pagi Mas pengumuman di pengeras suara balai, kan? Yang “tes, tes, tes” itu.
Mulai besok, kalau Mas bilang “tes” tiga kali, artinya aku sayang kamu.
Satu desa bakal denger. Tapi cuma aku yang ngerti.
— K.
Aku membaca kertas itu tiga kali.
Lalu aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk sangat tegak.
Selama empat tahun, setiap pagi pukul tujuh, sebelum membacakan pengumuman desa lewat pengeras suara balai, aku selalu mengetes mik dengan cara yang sama. Tes, tes, tes. Tiga kali. Kebiasaan dari Bapak.
Dia tahu itu.
Dia baru saja mengubah kebiasaan empat tahun menjadi pengakuan yang akan kuucapkan setiap pagi, di depan seluruh Cibening.
Jumat pagi, pukul tujuh, aku berdiri di depan mik pengeras suara di ruang kecil di samping balai desa.
Pengumuman hari itu sederhana. Jadwal posyandu Kampung Bawah dipindah. Kerja bakti bersih selokan hari Minggu. Pengingat bahwa pendaftaran saksi TPS ditutup Senin.
Aku menyalakan amplifier. Mendekatkan mulut ke mik.
Lalu berhenti.
Empat tahun. Setiap pagi. Aku tidak pernah memikirkan kata-kata itu. Itu hanya bunyi, seperti suara klik saklar atau dengung genset.
Pagi ini, tanganku berkeringat.
“Tes,” kataku.
Suaraku keluar dari corong pengeras suara di atap balai, memantul ke sawah, ke kebun teh, ke lereng bukit.
“Tes.”
Di seberang jalan, jendela ruang periksa puskesmas sudah terbuka.
“Tes.”
Aku tidak melihat ke sana. Aku tidak berani. Aku membacakan pengumuman posyandu dengan suara yang sedikit terlalu cepat, dan kerja bakti dengan suara yang sedikit terlalu pelan, dan pendaftaran saksi dengan suara yang hampir normal.
Saat aku mematikan amplifier, ponselku bergetar.
Kinan: Kedengeran.
Kinan: Sampai ke ruang periksa.
Kinan: Teh Euis nanya kenapa aku senyum-senyum ke tensimeter.
Aku menatap pesan itu sampai Kang Dadan masuk dan bertanya kenapa aku berdiri di ruang pengeras suara dengan wajah merah.
Sabtu pagi: tes, tes, tes.
Minggu pagi: tes, tes, tes.
Minggu siang, saat makan, Mak menatapku lama dari seberang meja.
“Gas,” katanya. “Tadi pagi tes mik-nya beda.”
“Beda gimana, Mak?”
“Pelan. Kayak Bapak.” Mak menyendok sayur asem, tersenyum ke piringnya. “Bapak dulu juga gitu. Tiap pagi tes mik di balai tiga kali, pelan-pelan, terus pulang sarapan sambil senyum. Mak baru tahu artinya setelah nikah.”
Aku berhenti mengunyah.
Lilis menatapku. Menatap Mak. Lalu menutup mulutnya dengan dua tangan dan menjerit tanpa suara.
Senin pagi, aku sedikit memperlambat yang ketiga. Tes... tes... tes.
Senin siang, Ceu Imas datang ke kantor desa dengan kerudung ungu dan wajah sedikit kesal.
“Kang Bagas,” katanya. “Itu tes mik-nya kenapa makin lama? Tadi pagi kayak orang ngelamun.”
“Mohon maaf, Ceu. Mik-nya sedikit bermasalah.”
“Mik bermasalah kok sambil senyum.” Ceu Imas menatapku dengan mata menyipit, lalu pergi.
Kang Dadan, di meja sebelah, berbisik, “Gas. Mik balai teh udah kamu tes dari jam enam. Aku lihat. Kenapa jam tujuh dites lagi?”
“Sesuai prosedur, Kang.”
“Prosedur siapa?”
Aku tidak menjawab.
Di seberang jalan, di jendela ruang periksa, seseorang memakai tali stetoskop kulit cokelat muda di leher, dan sedang menatap tensimeter dengan senyum yang terlalu lebar untuk pemeriksaan tekanan darah.
Senin sore, pukul tiga, ada rapat koordinasi panitia Pilkades dengan Puskesmas Cibening.
Agendanya resmi: penempatan petugas kesehatan di setiap TPS saat pencoblosan, untuk berjaga kalau ada pemilih lansia yang pingsan atau tekanan darahnya naik. Ini prosedur kabupaten. Ini tercantum di juknis.
Rapat diadakan di ruang rapat kecil kantor desa, dengan meja panjang ditutup taplak plastik bermotif bunga yang menjuntai sampai lantai.
Panitia duduk di satu sisi: aku, Teh Nining, Kang Dadan, Ajengan Uci. Tim puskesmas di sisi lain: Bu Dokter, Teh Euis, Rani.
Kebetulan, karena kursi di ujung sudah diduduki Ajengan Uci yang tidak bisa duduk di tengah karena lututnya sakit, Bu Dokter duduk di ujung meja sisi puskesmas. Dan aku di ujung meja sisi panitia.
Tepat berhadapan. Sudut meja. Lutut kami hampir bersentuhan di bawah taplak.
Teh Nining membacakan daftar TPS dan jumlah pemilih per TPS dengan suara datar dan sangat panjang.
“TPS satu, Kampung Tengah, empat ratus dua belas pemilih, lansia di atas tujuh puluh tahun empat puluh tiga orang. TPS dua, Kampung Bawah...”
Bu Dokter mencatat di buku dengan serius. Wajahnya profesional. Punggungnya tegak. Rambutnya dikuncir rendah, jas putih di atas blus hijau muda.
Aku mencatat di agenda dengan serius.
Lalu, di bawah meja, di balik taplak plastik bermotif bunga, sesuatu menyentuh punggung tanganku yang tergeletak di lutut.
Ujung jarinya.
Hanya menyentuh. Lalu menjauh.
Aku tidak bergerak. Aku terus mencatat. TPS dua, Kampung Bawah, tiga ratus delapan puluh, lansia tiga puluh sembilan.
Ujung jari itu kembali. Menyentuh lagi. Ragu. Lalu menjauh lagi.
Dia tidak menatapku. Dia menatap Teh Nining dengan wajah yang sangat, sangat tertarik pada jumlah lansia di Kampung Atas.
Aku tahu apa yang dia lakukan. Dia menunggu. Seperti di pohon jamblang. Seperti di puncak bianglala. Dia selalu yang memulai, lalu menunggu apakah aku menjawab.
Kali ini, aku tidak menunggu dia memulai lagi.
Di bawah taplak plastik, aku memutar tangan, mencari tangannya di lututnya sendiri, dan menggenggamnya.
Pulpen di tangan kanannya berhenti bergerak.
Dia tidak menoleh. Wajahnya tetap profesional. Tapi aku melihat kupingnya, yang terlihat karena rambutnya dikuncir, berubah merah dari ujung sampai cuping, dalam waktu satu kalimat Teh Nining.
“...TPS tiga, Kampung Atas, dua ratus sembilan puluh satu pemilih...”
Jari-jarinya menekuk. Menggenggam balik. Erat.
“...akses jalan sulit, petugas kesehatan harus berangkat sebelum subuh. Bu Dokter, bisa?”
“Bisa,” kata Bu Dokter. Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. “Bisa, Teh. Sangat bisa.”
Teh Euis, di sebelahnya, menoleh. Menatap wajah Bu Dokter. Menatap kupingnya. Lalu, perlahan, menatap taplak meja, ke arah tangan kanan Bu Dokter yang tidak terlihat di atas meja.
Teh Euis tersenyum, sangat lebar, dan tidak berkata apa-apa.
Rapat berlangsung lima puluh dua menit. Kami tidak melepaskan tangan selama empat puluh di antaranya.
Kang Dadan bertanya kenapa catatanku di agenda hanya berisi angka TPS satu dan dua, padahal ada tujuh TPS.
Selasa malam, pukul sembilan lewat dua puluh, ponselku bergetar.
Rani Puskesmas: Kang Bagas, genset ngadat katanya
Rani Puskesmas: Kata Bu Dokter
Rani Puskesmas: Aneh sih, aku nggak denger apa-apa, lampu juga nyala
Rani Puskesmas: Tapi Bu Dokter bilang ngadat, ya udah
Ruang genset di belakang puskesmas gelap, kecuali satu bohlam kecil yang menyala di dinding bata, dan dengung genset yang bekerja dengan sangat normal.
Dia sudah di sana. Duduk di atas kotak perkakas besi, dengan sweter rajut krem, rambut tergerai, dan tutup termos di tangan yang sudah terisi jahe.
“Gensetnya kenapa, Kinan?” tanyaku.
“Ngadat,” jawabnya serius.
Aku menatap genset yang berdengung stabil.
“Dari tadi,” lanjutnya, “ngadat di hati aku.”
Aku tidak bisa menahan tawa. Pelan, rendah, di ruang genset yang sempit. Dia menatapku dengan wajah puas, seperti orang yang baru saja memenangkan debat.
“Mas ketawa,” katanya. “Itu yang ketiga minggu ini. Aku hitung.”
“Kamu hitung semuanya.”
“Aku dokter. Aku pencatat tanda vital.” Dia menyodorkan tutup termos. “Duduk, Mas.”
Aku duduk di lantai beton di samping kotak perkakas, bersandar ke dinding bata yang masih hangat dari genset. Dia turun dari kotak perkakas dan duduk di sampingku. Bahu menempel. Seperti di pos ronda. Seperti di bianglala.
Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Kali ini tidak karena tertidur.
“Mas,” bisiknya. “Tadi pagi tes-nya pelan banget.”
“Ceu Imas protes.”
“Aku tahu. Rani laporan.” Dia tertawa kecil di bahuku. “Ceu Imas bilang Kang Bagas kayak orang ngelamun.”
“Aku memang ngelamun.”
“Ngelamunin apa?”
Aku menatap bohlam kecil di dinding. Menatap dengung genset yang stabil. Menatap tangannya, yang tergeletak di pangkuannya, dengan tali stetoskop kulit cokelat muda melingkar di pergelangan tangan seperti gelang.
“Ngelamunin,” kataku pelan, “kenapa tiga kali kurang.”
Dia mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku.
“Besok,” katanya, suaranya sedikit bergetar, “coba empat kali.”
“Nanti Ceu Imas marah.”
“Biarin.”
Rabu pagi, pukul tujuh, satu desa mendengar Kaur Umum mengetes mik pengeras suara balai.
“Tes. Tes. Tes. Tes.”
Empat kali.
Ceu Imas datang ke kantor desa pukul tujuh lewat sepuluh dengan wajah merah.
Di seberang jalan, di jendela ruang periksa, ada seseorang yang tidak lagi berpura-pura menatap tensimeter.
Dia menatap jendela kantor desa. Tersenyum. Lalu menempelkan selembar kertas resep di kaca jendela ruang periksa, menghadap keluar, dengan tulisan besar yang bisa dibaca dari meja Kaur Umum:
R/ 4x. Diterima.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-83 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Status: pacar rahasia. Lima belas hari lagi jadi pacar nggak rahasia.
Aturan kita: (1) di depan orang formal, (2) berdua pakai “aku”, (3a) senter dua kali = butuh atau kangen, sama aja, (3b) genset ngadat = ruang genset, (3c) tes tiga kali = aku sayang kamu.
Pemeriksaan: hari pertama tes-nya cepet banget kayak takut ketahuan. Hari keempat pelan banget sampai Ceu Imas protes. Hari keenam: empat kali. EMPAT.
Temuan khusus: rapat koordinasi TPS, di bawah taplak meja bunga-bunga, dia yang genggam duluan. Pertama kali dia yang mulai. Empat puluh menit. Catatannya cuma TPS satu sama dua.
Diagnosis: pasien mulai inisiatif. Prognosis: bahaya untuk jantung dokternya.
Catatan dokter: di ruang genset dia bilang lagi ngelamunin kenapa tiga kali kurang. Terus aku nyuruh coba empat. Terus dia beneran empat. Di depan satu desa.
Aku tempel resep di kaca jendela. “4x. Diterima.” Mang Odon lewat dan foto. Aku nggak peduli.
Oke, aku sedikit peduli. Tapi cuma sedikit.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes reading
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup