Chapter Twenty Four
Malam Perpisahan
POV: Kinan
Delapan bulan kemudian.
Jalan Cikadu sudah diaspal.
Bukan mulus seperti pipi Bu Dokter, kata Pak Haji waktu peresmiannya bulan lalu, tapi cukup mulus untuk dilewati ambulans tanpa guncangan, dan cukup mulus untuk membuat perjalanan ke RSUD dari satu setengah jam menjadi empat puluh lima menit.
Kades Ujang, yang sekarang memakai peci hitam dan kemeja batik setiap hari dan sudah tidak memakai kacamata hitam sejak pelantikan, memotong pita peresmian dengan tangan gemetar. Lalu dia memberikan pidato tiga menit yang kebanyakan berisi ucapan terima kasih kepada Pak Haji, yang sekarang duduk di barisan depan dengan baju koko dan cucu di pangkuan, tersenyum lebih lebar dari yang pernah kulihat selama dia masih jadi kepala desa.
Itu sebulan lalu.
Malam ini, jalan yang sama dipenuhi motor, mobil bak terbuka, dan warga yang berjalan kaki dari empat kampung, menuju balai desa yang lampunya menyala terang di bawah langit Juli.
Malam perpisahanku.
Aku berdiri di depan cermin kecil di ruang jaga puskesmas, untuk terakhir kalinya.
Kebaya brokat biru muda. Bukan pinjaman Teh Euis kali ini. Dibelikan Mak di pasar kecamatan, dengan uang yang aku tahu dia kumpulkan dari menjual jeruk selama tiga bulan, dan yang tidak boleh kuganti. Ieu kado ti Mak, Neng. Ulah dibayar. Kain batik mega mendung. Kerudung putih yang dililit sederhana. Dan di leher, di atas kebaya, tali stetoskop kulit cokelat muda yang sudah lebih gelap warnanya setelah sembilan bulan dipakai setiap hari.
Teh Euis berdiri di belakangku, merapikan kerudungku untuk keempat kalinya.
“Bu Dokter,” katanya. Suaranya sudah serak sejak sore. “Jangan nangis dulu. Nanti maskaranya luntur.”
“Teteh yang nangis dari tadi.”
“Teteh mah boleh. Teteh ditinggal.” Teh Euis menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Bu Dokter yang ninggalin, nggak boleh nangis.”
Rani berdiri di ambang pintu dengan hidung merah dan sekantong cilok yang tidak dimakannya. Dia sudah menangis sejak siang. Katanya karena pedas. Ciloknya tidak pedas.
Aku menatap bayanganku di cermin. Perempuan berusia dua puluh delapan tahun, dengan pipi yang sedikit lebih bulat dari sembilan bulan lalu karena terlalu banyak surabi kinca, kulit yang sedikit lebih gelap karena terlalu sering berjalan ke Kampung Atas, dan mata yang tidak lagi terlihat seperti mata orang yang menunggu dinilai.
Mama bilang aku lebih cantik sekarang. Papa tidak bilang apa-apa, tapi waktu terakhir berkunjung, dia memotretku tiga kali saat aku sedang menimbang balita di posyandu.
“Udah, Teh,” kataku, menyentuh tangan Teh Euis di bahuku. “Udah rapi.”
“Belum.” Teh Euis mengambil sesuatu dari saku. Pin kecil berbentuk stetoskop, warna merah muda. Pin yang selalu kupakai di jas putih, yang hilang waktu banjir dan kukira tenggelam di Sungai Cikadu. “Ditemuin Mang Ojo di halaman rumahnya, dua bulan setelah banjir. Teteh simpen. Buat hari ini.”
Aku tidak bisa menahan air mataku lagi.
Balai desa penuh. Lebih penuh dari malam debat. Lebih penuh dari malam penghitungan suara.
Kursi plastik dua ratus buah sudah ditambah seratus dari masjid. Masih kurang. Orang berdiri di sepanjang dinding, di jendela, di halaman. Anak-anak naik ke pohon jamblang lagi. Bi Onah membuka tiga lapak gorengan sekaligus.
Saat aku masuk, satu balai berdiri.
Aku tidak siap. Tidak ada yang bisa membuatku siap untuk tiga ratus orang yang berdiri dan bertepuk tangan saat aku berjalan di lorong di antara kursi plastik, dengan kebaya dari Mak dan pin stetoskop dari Mang Ojo.
Ibu-ibu PKK menangis. Ceu Imas memelukku di tengah lorong. Abah Uha, di kursi roda yang didorong cucunya, menggenggam tanganku dan berkata sesuatu dalam bahasa Sunda yang tidak terlalu kumengerti, tapi cucunya menerjemahkan dengan nada sangat membantu, seperti biasa: Neng Dokter, Abah masih hidup gara-gara Neng.
Teh Ria dari Kampung Atas berdiri dengan Dafa di gendongan. Dafa sudah satu setengah tahun sekarang, sudah bisa jalan, sudah bisa bilang Bu Do.
Juragan, maksudku Pak Kades Ujang, berdiri di depan panggung dengan Si Jagur, yang sekarang memakai kalung bunga melati dan sudah gemuk sekali karena Rani memberinya wortel dua kali sehari selama sembilan bulan.
Dan di sudut balai, di belakang meja sound, ada seseorang yang tidak berdiri.
Dia duduk di sana dengan headphone di satu telinga, kemeja batik cokelat yang jelas baru dibeli, rambut yang dipotong rapi oleh tukang cukur yang lebih baik dari yang di pasar kecamatan. Tangannya di atas fader. Matanya di mixer.
Lalu dia mengangkat kepala.
Kami saling menatap melintasi tiga ratus orang.
Tiga detik. Empat. Lima. Enam. Tujuh.
Dia tidak berpaling.
Acara dimulai dengan sambutan Pak Kades Ujang, yang menangis di kalimat kedua dan harus dilanjutkan oleh Pak Haji. Lalu Ajengan Uci memimpin doa. Lalu anak-anak SD menyanyikan Pupuh Kinanti lagi, dua belas anak yang sama, sekarang kelas lima dan enam, suaranya sedikit lebih rendah, tapi masih bernyanyi dengan tempo yang terlalu cepat karena tidak sabar ingin makan surabi.
Lalu Kang Asep naik ke panggung dengan secarik kertas.
Satu balai menahan napas.
“Ka mana nya ka mana,“ katanya dengan suara bergetar. “Ka Bandung meuli payung. Bu Dokter rék indit ka kota, Cibening moal hilap ka anjeun salamina.“
Hening.
Lalu Teh Nining, dari barisan depan, berteriak, “RIMANYA BENER!”
Satu balai bersorak. Kang Asep menangis bahagia. Dan Neng Wulan, guru PAUD yang duduk di barisan ketiga, tersenyum dan bertepuk tangan paling keras, dengan pipi yang merah. Mang Odon sudah menjual info padaku dua minggu lalu: Kang Asep dan Neng Wulan sudah dua kali makan siang bersama di warung Bi Onah. Gratis untukku, katanya. Bonus perpisahan.
Rizky naik ke panggung setelahnya, dengan kemeja slim fit putih yang ternyata masih dia simpan, dan menyerahkan voucher seumur hidup untuk kedai kopi yang akhirnya dia buka di samping balai desa tiga bulan lalu. Namanya Kopi Fader.
“Biar Kang Bagas nggak bisa protes namanya,” katanya ke mik, dan satu balai tertawa.
Mang Odon naik dengan kelambu di helm, demi tradisi, dan memberikan pidato terpendek dalam sejarah Cibening.
“Bu Dokter,” katanya. “Info terakhir. Gratis.” Dia menoleh ke meja sound. “Dia udah siap.”
Lalu dia turun.
Aku tidak mengerti. Satu balai juga tidak mengerti. Tapi semua orang menoleh ke sudut balai.
Dia berdiri dari belakang meja sound.
Dia melepas headphone, meletakkannya di atas mixer. Mengambil satu mik dari meja. Mik nirkabel. Dia menekan tombol di sampingnya, dan aku tahu, bahkan dari tengah lorong, bahwa lampu kecilnya sekarang hijau.
Dia berjalan ke panggung.
Pelan. Dengan kemeja batik cokelat yang baru dan sepatu kulit yang jelas pinjaman, karena terlalu besar dan berbunyi klak di setiap langkah.
Dia naik ke panggung. Berdiri di tengah. Seratus wajah, dua ratus wajah, tiga ratus wajah menatapnya.
Lalu dia mendekatkan mik ke mulut.
“Tes,” katanya.
Satu balai tertawa.
“Tes.”
Tawa itu mereda. Orang-orang mulai mengerti.
“Tes.”
Aku berhenti bernapas.
Dia menurunkan mik sedikit. Menatap ke tengah lorong. Ke arahku.
“Sembilan bulan lalu,” katanya, “di panggung ini, ada mik yang berdenging. Saya yang betulkan. Lalu dokter baru dari Jakarta bertanya nama saya, lewat mik yang dia kira sudah mati.”
Satu balai tertawa pelan. Ceu Imas menyeka mata.
“Selama sembilan bulan, saya mengantar termos setiap jam sembilan malam. Saya menjawab senter dari jendela. Saya membetulkan genset, mengangkat sepatu dari sawah, makan nasi gosong.” Dia berhenti. Kupingnya merah. Bahkan dari tengah lorong, aku bisa melihatnya. “Saya ketua panitia Pilkades. Saya harus netral. Dan di balai ini, di depan Bapak Ibu sekalian, saya pernah bilang Bu Dokter hanya warga yang saya layani. Sama seperti warga lain.”
Balai sunyi.
“Itu bohong terbesar yang pernah saya ucapkan,” katanya.
Aku menutup mulut dengan dua tangan.
Lalu dia menatapku. Langsung. Dari panggung. Tidak berpaling.
Dan sesuatu di suaranya berubah.
“Kinan,” katanya. “Aku...”
Dia berhenti. Menelan ludah. Seluruh balai menahan napas bersamanya.
Aku.
Di depan tiga ratus orang. Di depan Pak Kades dan mantan Pak Kades. Di depan Mak dan Lilis dan Teh Euis dan Mang Odon dan Si Jagur. Bukan saya.
“Kamu bilang tes tiga kali artinya sesuatu,” lanjutnya, suaranya bergetar sekarang, tapi dia tidak berhenti. “Selama delapan bulan, aku bilang itu ke satu desa tiap pagi, dan cuma kamu yang ngerti. Ceu Imas protes. Kang Dadan bingung. Mang Odon jual infonya ke semua orang.” Dia menarik napas. “Malam ini aku nggak mau pakai kode lagi.”
Dia menurunkan mik. Lalu mengangkatnya lagi.
“Aku sayang kamu.”
Aku tidak ingat berjalan.
Aku ingat suara tiga ratus orang yang bersorak, begitu keras sampai lampu balai bergetar. Aku ingat Lilis yang berdiri di kursi dan menjerit. Aku ingat Mak yang menutup wajah dengan kerudung. Aku ingat Si Jagur yang mengembik panjang.
Aku ingat tangga panggung yang setinggi lutut, yang terasa seperti tangga ke puncak bianglala.
Dan aku ingat dia. Berdiri di tengah panggung dengan mik di tangan dan kemeja batik baru dan sepatu pinjaman yang kebesaran, kupingnya merah, lehernya merah, seluruh wajahnya merah, tapi matanya tidak berpaling sedetik pun.
Aku berdiri di depannya.
Wajahku basah. Maskaraku pasti luntur. Teh Euis pasti akan memarahiku.
“Kamu,” kataku, suaraku pecah, cukup keras untuk ditangkap mik di tangannya, “kamu bilang aku sayang kamu di depan satu desa.”
“Iya.”
“Pakai mik.”
“Iya.”
“Lampunya hijau.”
“Aku sengaja.”
Aku tertawa sambil menangis. Lalu aku mengambil mik dari tangannya. Menekan tombol di sampingnya. Lampunya berubah merah.
“Yang ini,” bisikku, “nggak usah kedengaran.”
Lalu aku berjinjit, menangkup wajahnya dengan dua tangan, dan menciumnya.
Di atas panggung setinggi lutut. Di depan tiga ratus warga Cibening. Di bawah lampu balai desa yang bergetar oleh sorakan.
Sorakan itu, kata Mang Odon kemudian, terdengar sampai ke Kampung Atas. Abah Uha, di kursi rodanya, tertawa sampai cucunya harus memegangi bahunya.
Dari barisan depan, Pak Kades Ujang berdiri dan berteriak ke arah panggung, “HARI INI SAYA TETAPKAN HARI BESAR DESA!”
“Nggak bisa, Pak!” teriak Teh Nining. “Harus ada Perdes!”
“SAYA BIKIN PERDES-NYA BESOK!”
Pak Haji tertawa sampai cucunya jatuh dari pangkuan.
Dan dari barisan paling belakang, Mang Odon naik ke atas kursi plastik dengan kelambu di helm dan berteriak sekeras-kerasnya:
“UNDANGANNYA SAYA YANG NYEBARIN! GRATIS! SEUMUR HIDUP!”
Di atas panggung, dia menarik diri dari ciuman itu, pelan, dan menatapku dari jarak satu napas. Aku tertawa. Menangis. Tertawa lagi.
Lalu dia memelukku. Kedua lengan melingkar penuh. Di depan semua orang.
“Kinan,” bisiknya di rambutku.
“Hm.”
“Besok kamu ke Bandung.”
“Iya.”
“Aku antar. Pakai motor.”
“Motornya 2012.”
“Aku udah ganti businya kemarin.”
Aku tertawa di bahunya. “Sesuai prosedur?”
“Sesuai resep,” katanya.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari terakhir di Cibening. Hari ke-365.
Pasien yang paling kuingat di minggu pertama: Rizky, keluhan sakit hati, padahal dada kiri. Pasien terakhir: Dafa, 18 bulan, imunisasi lanjutan. Bisa bilang “Bu Do”.
Malam ini: malam perpisahan. Kebaya dari Mak. Pin stetoskop dari Mang Ojo, ketemu di halamannya dua bulan setelah banjir. Pupuh Kinanti dari anak-anak yang sama. Pantun Kang Asep rimanya bener. Neng Wulan tepuk tangan paling keras.
Pasien: Bagas Pramudya. Naik ke panggung. Bilang “tes” tiga kali pakai mik. Terus bilang “saya” ke tiga ratus orang. Terus nengok ke aku dan ganti jadi “aku”.
“Aku sayang kamu.”
Pakai mik. Lampunya hijau. Sengaja.
Tindakan: aku matiin mik-nya. Lampunya merah. Terus aku cium dia. Yang itu nggak usah kedengaran.
Satu desa tetep lihat. Nggak apa-apa.
Diagnosis akhir pengabdian: aku dateng ke Cibening buat nyembuhin orang. Ternyata yang sembuh aku.
Besok ke Bandung. Diantar pakai motor 2012. Businya baru diganti.
Seratus kilometer. Dua jam.
Dekat.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan reading
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup