Chapter Twenty Six
Sesuai Prosedur, Seumur Hidup
POV: Bagas
Empat tahun kemudian.
“Tes. Tes. Tes.”
Suaraku keluar dari dua speaker besar di kiri-kanan panggung balai desa, memantul ke dinding kantor kecamatan di seberang sawah, lalu kembali dengan sedikit gema. Pukul tujuh pagi. Kabut masih menempel di ujung pohon pinus.
Mixer di depanku sudah baru. Yang lama pensiun dengan hormat di dinding gudang sound, di samping foto Bapak. Tapi stikernya kupindahkan: GELAR SOUND — Cibening & Sekitarnya.
“Kang Sekdes!” Dede berlari dari ujung lapangan dengan tongsis yang sekarang lebih panjang, mikrofon kecil di kerah, dan kaus bertuliskan Dede Vlog Cibening — 100K Subscribers. “Kang, saya live dari sini, ya! Penonton udah dua ribu!”
“Jangan berdiri di depan speaker, De.”
“Siap, Kang!”
Dede berdiri tepat di depan speaker kiri.
Aku menghela napas dan menurunkan gain channel satu sebelum apa pun terjadi.
Empat tahun bukan waktu yang lama. Tapi cukup untuk banyak hal.
RSUD Kecamatan Sukaraja dibuka dua bulan lalu, sepuluh menit dari Cibening. Pak Kades Ujang memperjuangkannya ke kabupaten selama tiga tahun.
Lilis lulus Diploma Keperawatan dan sekarang bekerja di Puskesmas Cibening. Rani pindah ke RSUD Kecamatan. Teh Euis masih di puskesmas, masih memarahi semua orang.
Mak masih membuat wedang jahe setiap sore. Gulanya stabil di angka seratus empat puluh, karena Lilis mengingatkan obatnya setiap pagi dengan alarm ponsel yang bunyinya Pupuh Kinanti.
Kang Asep dan Neng Wulan menikah dua tahun lalu. Mereka punya anak laki-laki bernama Pantun. Sungguhan. Ajengan Uci sempat menolak, lalu menyerah.
Si Jagur sudah tua, giginya tinggal sedikit, dan masih tidur di kandang berlampu kelap-kelip di samping puskesmas. Rani masih mengirim wortel dari RSUD setiap Jumat lewat Lilis.
Aku lulus S1 Teknik Elektro delapan bulan lalu. Di wisuda, seseorang yang datang dengan jas residen langsung dari jaga malam menangis paling keras, sampai Bu Hasnah harus memberinya tisu.
Sekarang aku Sekretaris Desa Cibening. Kades Ujang yang menunjuk. Biar ada yang ngitungin semuanya, katanya.
Dan hari ini, Senin pagi, satu desa berkumpul di lapangan depan balai.
Untuk menyambut dokter spesialis anak pertama di RSUD Kecamatan Sukaraja.
Dia datang tidak dengan mobil puskesmas yang mogok di tanjakan.
Dia datang dengan motor bebek tahun 2012, di jok belakang, dengan aku di depan, karena aku menjemputnya dari terminal kabupaten pukul lima pagi. Dan untuk pertama kalinya, lengannya melingkar di pinggangku sepanjang jalan, tanpa alasan lampu merah, tanpa alasan biar nggak jatuh.
Di pinggir lapangan, dia turun dari motor. Merapikan kerudung krem dan blazer putihnya. Menatap lapangan yang penuh.
Dan di barisan depan, dua belas remaja SMP yang dulu anak SD, yang sudah berbaris dengan seragam OSIS terbaik mereka.
“Mas,” bisiknya. “Mereka mau nyanyiin itu lagi?”
“Iya.”
“Kamu yang latih lagi?”
“Seminggu. Di belakang sekolah.” Aku menurunkan standar motor. “Suara mereka sudah pecah. Nadanya fals semua sekarang.”
Dia tertawa. Lesung pipi kirinya muncul.
Empat tahun di Bandung membuat wajahnya lebih tirus, matanya lebih tajam, dan caranya berdiri lebih tegak. Di lehernya, tergantung stetoskop dengan tali kulit cokelat muda yang warnanya sudah hampir hitam, dengan retakan yang kujahit ulang tiga kali. Ukiran dr. Kinan masih terbaca, samar.
Dia tetap terlihat seperti seseorang yang keluar dari sampul majalah. Tapi sekarang, majalah itu adalah majalah yang kutahu isinya.
Upacara penyambutan dimulai tepat waktu. Lalu Pak Kades mempersilakan dokter baru itu naik ke panggung.
Dia naik dengan langkah ringan, menerima mik dari Pak Kades dengan dua tangan, dan tersenyum ke arah lapangan.
“Assalamualaikum, Bapak, Ibu, warga Cibening,” katanya. Suaranya jernih. “Mungkin masih ada yang ingat saya. Lima tahun lalu saya pernah di sini satu tahun. Nama saya Kinanti Larasati. Sekarang dokter spesialis anak. Panggil aja...”
NGIIIIIIIIIIIIING.
Dengingan tajam merobek udara pagi. Anak-anak SD menutup telinga. Si Jagur, di kandangnya, mengembik lemah.
Aku sudah berdiri. Aku tidak perlu melihat. Dede, dengan tongsis yang lebih panjang dan live streaming untuk dua ribu penonton, berdiri tepat di depan speaker kiri.
Aku menurunkan gain, mengambil mik cadangan, berjalan ke panggung. Dalam perjalanan, menyentuh bahu Dede.
“Mundur tiga langkah.”
Dede mundur sepuluh langkah, sampai ke pohon jamblang.
Aku naik ke panggung. Menyodorkan mik cadangan.
“Mohon maaf, Bu Dokter,” kataku. “Pakai yang ini.”
Dia menerimanya. Menatapku. Dan aku melihat sesuatu yang nakal muncul di sudut bibirnya.
Dia menekan tombol di samping mik itu. Aku melihat lampu kecilnya berubah hijau.
Dia sengaja.
“Mas yang benerin suara saya,” katanya ke mik, suaranya keluar jernih sekali dari dua speaker, menggema ke dinding kantor kecamatan, sampai ke sawah, sampai ke lereng bukit, “namanya siapa?”
Seluruh lapangan diam.
Lalu, dari barisan ibu-ibu PKK, satu orang mulai tertawa. Lalu dua. Lalu seluruh lapangan, tiga ratus orang yang lima tahun lalu ada di sini, yang ingat, tertawa bersamaan. Ceu Imas menutup mulut dengan kerudung. Teh Euis memukul bahu Lilis. Mang Odon jatuh dari motornya.
Aku berdiri di tengah panggung. Lima tahun lalu, aku membeku.
Hari ini, aku mencondongkan tubuh ke mik di tangannya.
“Bagas, Bu Dokter,” kataku. Ke mik. Sengaja. “Sesuai prosedur, mik memang harus dites dulu. Yang tidak saya tes, HP Dede. Lagi.”
“CIEEEEEEEEEEE.”
Tiga ratus orang. Dua speaker. Dua ribu penonton live streaming.
Dia tertawa sampai harus memegang lenganku.
Malam itu, pukul sembilan kurang lima, aku berdiri di jendela kantor desa.
Sekdes punya ruangan sendiri. Tapi malam ini, aku duduk di meja lama Kaur Umum, karena dari jendela ini aku bisa melihat jendela ruang jaga puskesmas.
Lampunya menyala.
Dia di sana. Aku tahu. Lilis yang memberi tahu: Teh Dokter minta kunci ruang jaga, Aa. Katanya mau lihat-lihat. Nostalgia.
Di mejaku, ada termos biru.
Termos tua bertutup putih milik Bapak. Yang pernah ditinggal di anak tangga, ditinggal di bangku, dicuci, dikembalikan, diisi lagi. Stiker Coblos Aku, Mas! sudah pudar sekali, hampir putih, tapi masih menempel. Tulisan Sah di bawahnya sudah kutimpa ulang dengan spidol empat kali.
Di dalamnya, wedang jahe dari Mak. Gula aren. Sereh.
Dan di dalam tutupnya, ditempel dengan selotip bening di bagian yang tidak terkena jahe, ada sesuatu yang lain.
Aku mengambil senter dari laci.
Senter lama, yang baterainya sudah kuganti tiga puluh dua kali.
Aku mengarahkannya ke jendela ruang jaga.
Klik-klik.
Dua kali.
Dia sudah duduk di bangku panjang saat aku menyeberang jalan.
Bangku yang sama. Lampu teras yang sama, yang masih berkedip karena aku sengaja tidak menggantinya.
Dia memakai sweter rajut krem. Bukan yang dulu, yang dulu sudah berlubang di siku. Tapi warnanya sama. Rambutnya tergerai. Tali stetoskop di lehernya.
“Mas yang manggil,” katanya, saat aku sampai di depan bangku. “Itu yang keberapa?”
“Keempat,” kataku. “Ulang tahun kamu. Bangku waktu itu. Pencoblosan, dari gudang, itu kamu, bukan aku. Jadi ini keempat.”
“Kamu hitung.”
“Aku hitung semuanya.”
Dia tersenyum. Aku duduk di sampingnya. Bahu menempel. Seperti di pos ronda. Seperti di bianglala. Seperti di teras kos Bu Hasnah, dua ratus delapan belas Sabtu.
Aku menyodorkan termos biru.
Dia mengambilnya dengan dua tangan. Menatap stiker yang hampir putih. Mengusap tulisan Sah dengan ibu jari.
“Masih ada,” bisiknya.
“Aku tebelin empat kali.”
Dia membuka tutup termos.
Lalu berhenti.
Di dalam tutup termos putih itu, ditempel dengan selotip bening, ada sebuah cincin.
Cincin perak sederhana, dengan satu batu kecil berwarna bening di tengahnya. Tidak besar. Tidak mencolok. Kubeli di Bandung, dengan tabungan dua tahun dari servis elektronik.
Dan di bawah cincin itu, terlipat empat, selembar kertas resep. Kertas resep Puskesmas Cibening, yang kuminta diam-diam dari Lilis.
Dia tidak bergerak.
Tangannya, yang memegang tutup termos, mulai gemetar. Uap jahe naik dari termos yang terbuka di pangkuannya.
Pelan, sangat pelan, dia mengambil kertas resep itu dan membukanya.
Tulisan tanganku. Miring ke kanan.
Pro: dr. Kinanti Larasati, Sp.A
R/ Menikah. Dengan Sekdes Cibening.
Dosis: satu kali.
Aturan pakai: setiap hari.
Iter: seumur hidup.
— B.
Dia menatap kertas itu.
Lalu menatapku.
Air mata sudah jatuh di pipinya. Satu. Dua. Dia tidak menyekanya.
Aku tidak menyiapkan kalimat. Aku sudah belajar, lima tahun lalu, bahwa setiap kalimat yang kusiapkan untuknya akan hilang begitu aku menatap matanya. Jadi aku hanya mengatakan yang ada.
“Lima tahun lalu,” kataku, “di bangku ini, aku bilang aku nggak bisa. Aku bilang kamu pantas dapat yang lebih.”
Dia mengangguk pelan. Air matanya jatuh lagi.
“Aku masih nggak tahu apa aku lebih,” lanjutku. “Aku masih Sekdes desa. Motorku masih 2012. Rumahku masih rumah panggung yang atapnya baru diganti tahun lalu.”
“Aku nggak pernah minta lebih,” bisiknya.
“Aku tahu. Kamu udah bilang. Di bangku ini juga.” Aku menarik napas. “Jadi aku nggak nanya apa aku pantas. Aku nanya yang kamu ajarin. Keputusan bersama.”
Aku mengambil cincin itu dari tutup termos. Melepasnya dari selotip dengan hati-hati. Lalu turun dari bangku dan berlutut di lantai teras puskesmas, di depannya, seperti malam pencoblosan.
“Kinan,” kataku.
Dia menutup mulut dengan tangan.
“Sesuai prosedur,” kataku, dan suaraku pecah di tengah, karena tentu saja pecah, “aku minta izin seumur hidup.”
Hening di teras puskesmas.
Lampu teras berkedip sekali. Si Jagur mengembik lemah dari kandangnya. Jangkrik bersahutan di sawah. Dan di kejauhan, dari arah balai desa, aku mendengar sesuatu yang mencurigakan, seperti suara banyak orang yang menahan napas di balik dinding.
Dia menurunkan tangannya dari mulut. Menarik napas yang gemetar.
Lalu dia mengambil kertas resep dari pangkuannya, membaliknya, mengambil pulpen dari saku sweternya, pulpen biasa, tinta biru, yang selalu dibawanya, dan menulis sesuatu di belakang resep itu.
Dia menyerahkannya padaku.
Tulisan bulat. Miring sedikit ke kiri. Tinta biru. Dengan huruf yang sedikit acak karena tangannya gemetar.
Resep diterima.
Persetujuan pasien: ADA.
Persetujuan dokter: ADA.
Keputusan bersama. Bukan sendirian.
— K.
Aku membaca tulisan itu. Lalu menatapnya.
“Pakein, Mas,” bisiknya, mengulurkan tangan kirinya. “Sebelum Mang Odon keluar dari balik dinding balai.”
Aku memasangkan cincin itu dengan jari yang tidak stabil. Butuh dua kali percobaan. Tangan kami berdua sama-sama gemetar. Cincin itu pas. Tentu saja pas. Aku mengukurnya diam-diam enam bulan lalu dengan benang wol, saat dia tertidur di bahuku di teras kos Bu Hasnah, dan Bu Hasnah yang memegangi senternya.
Dia menatap cincin di jarinya. Lalu menatapku.
Lalu dia merosot dari bangku dan memelukku di lantai teras, begitu keras sampai termos biru di bangku bergoyang tapi tidak tumpah.
“Seumur hidup,” isaknya di leherku. “Iter seumur hidup.”
“Iya.”
“Kalau takut, takutnya bareng.”
“Iya.”
“Jangan sendirian lagi.”
“Nggak akan.”
Aku menarik diri sedikit. Menatap wajahnya di bawah lampu teras yang berkedip. Mata merah. Hidung merah. Cincin di jari yang memegang kerah jaketku. Lesung pipi yang muncul di sela tangis.
Lalu aku menciumnya. Pelan. Lama. Tanpa ragu di udara. Tanpa sesuai prosedur.
Dari balik dinding balai desa, tiga puluh orang yang ternyata sudah bersembunyi di sana sejak pukul delapan keluar bersamaan dan bersorak. Teh Euis. Lilis. Mak, dengan kebaya Lebaran. Pak Kades Ujang. Pak Haji. Kang Asep, Neng Wulan, dan bayi Pantun.
Dan Mang Odon, di paling depan, dengan kelambu di helm, berteriak sekeras-kerasnya:
“UNDANGANNYA SAYA YANG NYEBARIN! GRATIS! SEUMUR HIDUP! SESUAI PERJANJIAN!”
Kami menikah tiga bulan kemudian, di balai desa Cibening.
Sound system dari Gelar Sound. Mik dites tiga kali. Ijab kabul dibacakan dengan suara yang, kata Mak, persis seperti suara Bapak di hari pernikahannya. Kinan memakai kebaya putih dari Mak dan Bu Ratih, dijahit berdua selama dua bulan lewat video call. Di dadanya, pin stetoskop merah muda dari Mang Ojo.
Dr. Haryo duduk di barisan depan dengan stetoskop di leher. Tali kulitnya cokelat tua, berukir dr. Haryo dengan ujung solder, tanpa gelar spesialis karena kepanjangan. Dia menangis selama ijab kabul dan berkata pada siapa pun yang bertanya bahwa itu karena alergi debu.
Dua belas remaja SMP menyanyikan Pupuh Kinanti dengan suara yang sudah pecah. Kinan bernyanyi bersama mereka, lebih fals dari siapa pun.
Aku tidak mengoreksinya.
Foto prewedding kami diambil Dede di bawah pohon jamblang, saat matahari terbenam, dengan rumput ungu dan sawah keemasan. Kali ini sengaja. Kali ini, kami yang di tengah layar.
Judul videonya, tentu saja, BU DOKTER AKHIRNYA NYOBLOS PANITIA (Bukan Clickbait).
Pukul tujuh pagi, keesokan harinya, aku berdiri di depan mik pengeras suara balai desa untuk pengumuman rutin.
Aku menyalakan amplifier. Mendekatkan mulut ke mik.
Di seberang jalan, di jendela ruang jaga puskesmas yang sekarang menjadi ruang Lilis, tidak ada siapa-siapa.
Karena orang yang dulu selalu berdiri di jendela itu sekarang berdiri di sampingku, di ruang pengeras suara yang sempit, dengan cincin di jari dan tali stetoskop kulit di leher, memegangi lenganku, menunggu.
“Tes,” kataku.
Dia tersenyum.
“Tes.”
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Tes.”
Satu desa mendengarnya.
Dan untuk pertama kalinya, satu desa mengerti.
Agenda Kulit Cokelat — Halaman Terakhir
Senin. Balai desa, 07.00.
Tes: 3 kali.
Termos: 1.847 kali sejak malam genset. Masih dihitung.
Senter: 1.203 kali dijawab. Belum pernah tidak dijawab.
Resep: dari dia 341 lembar. Dari aku 2.
Iter: seumur hidup.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan — Halaman Terakhir
Hari ke-1 di Cibening, lagi. Atau hari ke-1.826. Tergantung dihitung dari mana.
Pasien: Bagas Pramudya, S.T., Sekdes Cibening. Suami.
Riwayat: mik berdenging. Termos biru. Senter dua kali. Sepatu dimakan sawah. Nasi arang. Rantang. Bahu tiga jam sepuluh menit. Pohon jamblang. Bianglala. Tes, tes, tes. Ruang genset. Video Dede. Sungai Cikadu. Agenda kulit cokelat. Bangku panjang. Genset balai. Tangga teras. Panggung. Seratus dua kilometer. Dua ratus delapan belas Sabtu.
Diagnosis akhir: aku dateng ke desa ini buat nyembuhin orang. Ketemu satu-satunya laki-laki yang nggak pernah antre, nggak pernah sakit, nggak pernah minta apa-apa.
Terus aku bikin dia perlu.
Terapi: seumur hidup. Keputusan bersama.
Catatan dokter: tadi pagi dia tes mik tiga kali. Aku berdiri di sampingnya. Satu desa denger.
Dan kali ini, satu desa ngerti.
— TAMAT —
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup reading