Chapter Twelve
Pohon Jamblang
POV: Bagas
Wabah berakhir sepuluh hari kemudian.
Kasus terakhir pulang dari ruang observasi hari Senin. Tidak ada yang meninggal. Dua anak yang dirujuk ke RSUD pulang dengan selamat hari Rabu. Dan Dinas Kesehatan Kabupaten mengirim surat resmi yang menyebut Puskesmas Cibening sebagai contoh penanganan KLB tingkat desa yang cepat dan terkoordinasi.
Bu Dokter membaca surat itu di meja jaga, lalu menyerahkannya ke Teh Euis tanpa berkata apa-apa, lalu tidur dua belas jam.
Cibening, tentu saja, tidak bisa berterima kasih dengan cara yang sederhana.
“Syukuran desa,” kata Pak Haji di rapat panitia hari Kamis. “Sabtu sore. Di balai. Buat Bu Dokter dan tim puskesmas.”
“Masa kampanye, Pak,” kataku.
“Ini bukan kampanye, Gas. Ini syukuran.”
“Kalau Bapak yang mengadakan, itu jadi kampanye, Pak.”
Pak Haji menatapku dengan wajah orang yang sudah terlalu tua untuk berdebat dengan aturan yang dibuat anak buahnya sendiri. “Terus siapa yang ngadain?”
“Desa, Pak. Atas nama pemerintah desa. Dua calon diundang sebagai warga. Duduk berdampingan. Tidak ada atribut. Tidak ada pidato politik.”
Sabtu sore, Pak Haji dan Juragan Ujang duduk berdampingan di kursi plastik barisan depan balai desa. Tanpa atribut. Tanpa pidato. Dengan wajah dua anak SD yang dipaksa duduk sebangku setelah berkelahi.
Masalah pertama muncul saat tumpeng datang. Ada dua. Tumpeng nasi kuning tujuh tingkat dari dapur keluarga Pak Haji, dan tumpeng nasi kuning delapan tingkat dari dapur Juragan Ujang.
“Tumpeng saya lebih tinggi,” bisik Juragan Ujang.
“Tumpeng saya lebih dulu sampai,” balas Pak Haji.
“Saya punya lauk rendang.”
“Saya punya lauk ayam bekakak.”
Ajengan Uci, yang memimpin doa, berdeham keras sekali.
Masalah kedua muncul ketika Juragan Ujang berdiri dan mengumumkan bahwa, sebagai bentuk terima kasih, dia akan menyembelih seekor domba untuk syukuran.
“Domba yang mana, Pak?” tanya Bu Dokter dari kursi kehormatan, suaranya tiba-tiba tegang.
“Si Jagur, Bu Dokter!”
Bu Dokter berdiri. Pelan. Dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya, bahkan saat menangani pasien sesak napas di tengah gelap.
“Pak Ujang,” katanya. “Si Jagur udah dua bulan tidur di samping puskesmas. Tiap pagi dia ngembik pas aku buka pintu. Tiap sore dia nunggu wortel dari Rani.” Dia menarik napas. “Kalau Bapak potong Si Jagur, aku pindah ke puskesmas kecamatan.”
Hening total di balai desa.
Juragan Ujang menatap Bu Dokter. Menatap Si Jagur, yang terikat di pagar balai dengan kaos kampanye yang sudah dilepas sesuai surat edaran, sekarang memakai kalung bunga dari anak-anak PAUD. Si Jagur mengembik.
“Si Jagur aman, Bu Dokter,” kata Juragan Ujang lemah. “Saya beli domba lain.”
Seluruh balai bertepuk tangan. Kang Asep membacakan pantun tentang domba yang selamat, dan untuk pertama kalinya, rimanya benar.
Pukul lima sore, setelah tumpeng habis dan anak-anak sudah berlarian membawa sisa kerupuk, Bu Dokter berjalan ke meja sound.
Hari itu dia memakai gamis sederhana warna hijau sage dan kerudung krem yang dililit longgar. Di bawah langit sore yang keemasan, dengan pipi yang sedikit lebih tirus setelah sepuluh hari wabah, dia terlihat lebih dewasa dari dua bulan lalu. Lebih tenang. Dan entah bagaimana, lebih cantik.
“Mas,” katanya. “Antar aku ke pohon jamblang. Mau telepon Papa.”
“Sekarang, Bu Dokter?”
“Sebentar lagi gelap. Pematangnya licin. Aku nggak berani sendiri.” Dia tersenyum tipis. “Sepatuku pernah dimakan sawah, inget?”
Aku ingat.
Pohon jamblang itu tumbuh di ujung pematang di belakang puskesmas, tua, besar, dengan akar yang menyembul dari tanah seperti jari-jari raksasa. Di bawahnya, satu-satunya tempat di Cibening yang sinyalnya cukup kuat untuk video call, rumput selalu ungu oleh buah jamblang yang jatuh.
Bu Dokter duduk di akar pohon. Aku berdiri tiga meter darinya, di pematang, menghadap sawah, memberi ruang.
Aku tidak bermaksud mendengar. Tapi sore itu sunyi, dan suaranya jelas.
“Iya, Pa. Udah selesai. Nggak ada yang meninggal.” Jeda. “Iya, Pa. Makasih.” Jeda lebih lama. “Pendaftaran PPDS buka bulan depan? Iya, aku tahu.” Jeda. “Pa, aku... aku mau ngobrol sama seseorang dulu. Nanti aku telepon lagi. Iya. Sayang Papa.”
Dia menutup telepon.
Lalu dia diam lama, menatap layar ponsel yang sudah gelap.
Lalu dia memanggilku.
“Mas.”
Aku berbalik.
“Sini,” katanya. “Duduk.”
Aku duduk di akar pohon jamblang, satu meter darinya. Matahari sudah tenggelam separuh di balik bukit, dan langit di atas sawah bertingkat berubah dari emas ke merah muda ke ungu. Burung kuntul terbang pulang dalam barisan miring. Di kejauhan, lampu-lampu rumah di Kampung Atas mulai menyala satu per satu.
Dia tidak langsung bicara. Dia memungut sebutir jamblang dari rumput, memutarnya di antara jari, lalu meletakkannya kembali.
“Mas,” katanya. “Aku dokter.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Dokter itu kerjanya bikin diagnosis. Kita lihat gejala, kita periksa, kita simpulin.” Dia menatap sawah. “Dua bulan ini aku periksa diriku sendiri. Gejalanya banyak. Deg-degan tiap jam sembilan malam. Nunggu di jendela lima menit sebelum waktunya. Ngitung berapa detik orang natap aku. Cemburu sama rantang. Bikin surat panggilan palsu buat periksa kesehatan panitia.”
Aku tidak bergerak.
“Aku udah bikin diagnosisnya, Mas.” Dia menoleh padaku. Matanya, di cahaya senja, berwarna seperti teh yang diseduh terlalu lama. Dalam dan cokelat dan sangat jujur. “Aku suka Mas.”
Burung kuntul terakhir lewat di atas kami.
Aku tidak bisa bicara.
Aku sudah tahu. Mungkin sejak lampu mik itu menyala hijau di upacara penyambutan. Mungkin sejak dia berjanji soal Lilis. Mungkin sejak dia memelukku dari belakang di ruang obat dan mengatakan dia cemburu pada rantang. Aku sudah tahu, seperti orang yang sudah tahu ada korsleting di kabel sebelum lampunya berkedip.
Tapi tahu dan mendengar adalah dua hal yang berbeda.
Dan di dalam kepalaku, di antara degup jantung yang terlalu keras, ada daftar. Daftar yang sudah kususun sejak malam pertama dia melambai dari jendela ruang jaga, dan kubaca ulang setiap malam setelahnya seperti membaca buku manual.
Aku ketua panitia Pilkades. Enam minggu lagi pencoblosan. Kalau ada yang tahu ketua panitia punya hubungan dengan dokter yang diperebutkan dua kubu, Pilkades bisa digugat. Pak Haji dan Juragan Ujang akan saling tuduh. Dan nama Bu Dokter akan jadi bahan gosip satu kecamatan.
Dia di sini satu tahun. Setelah itu PPDS. Spesialis. Jakarta. Papanya kardiolog di Menteng.
Aku Kaur Umum. Gajiku tidak sampai tiga juta. Rumahku rumah panggung kayu yang atapnya bocor kalau hujan. Mak gulanya dua ratus empat puluh. Lilis masih dua tahun lagi lulus SMA. Motorku tahun 2012.
Dan aku tidak akan pernah meninggalkan Cibening.
“Bu Dokter,” kataku. Suaraku terdengar asing, bahkan untuk diriku sendiri. “Saya tidak bisa.”
Dia tidak bergerak.
“Saya ketua panitia,” lanjutku. “Sesuai prosedur, panitia harus netral sampai pencoblosan. Kalau orang tahu, Pilkades bisa digugat. Dan nama Bu Dokter...” Aku berhenti. Menatap tanganku sendiri. “Nama Bu Dokter jadi gosip. Bu Dokter sudah bekerja keras. Bu Dokter tidak pantas jadi gosip.”
“Itu alasan pertama,” katanya pelan. “Yang kedua?”
Aku menelan ludah.
“Bu Dokter pantas dapat yang lebih.”
Hening.
Lalu dia tertawa. Pendek. Tidak senang.
“Lebih,” ulangnya. “Lebih menurut siapa, Mas?”
Aku tidak menjawab.
“Lebih kayak Rizky? Lulusan Unpad, mau buka coffee shop?” Dia memungut jamblang lagi, meremasnya sedikit sampai jarinya ungu. “Lebih kayak dokter-dokter di Jakarta yang ngajak aku dinner di Senopati terus ngomongin mobil mereka dua jam? Lebih kayak orang-orang yang lihat mukaku dulu, baru namaku?”
“Bu Dokter...”
“Mas tahu nggak, waktu aku ditembak Rizky di debat, kenapa aku nolak?” Dia menoleh padaku. Matanya basah sekarang. “Bukan karena Rizky jelek. Rizky baik, kok. Tapi waktu dia nembak, aku nggak lihat dia. Aku lihat Mas. Di sudut balai. Jari Mas di atas fader. Putih.”
Aku menatapnya.
“Terus Mas nyalain mik aku,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Supaya aku bisa jawab. Mas nggak tahu aku mau jawab apa. Mas bisa aja nggak nyalain. Biarin aku diem, biarin semua orang mikir aku setuju. Tapi Mas nyalain. Mas ngasih aku suara.” Dia menyeka matanya dengan punggung tangan. “Itu yang lebih, Mas. Bukan coffee shop. Bukan Senopati.”
Langit sudah ungu tua sekarang. Bintang pertama muncul di atas Kampung Atas.
Aku tidak bisa menatapnya. Aku menatap sawah yang mulai gelap.
Lama sekali kami diam.
Jangkrik mulai bersahutan. Kunang-kunang pertama muncul di atas pematang. Di kejauhan, adzan Maghrib terdengar dari masjid, dan suaranya, yang keluar dari pengeras suara yang kupasang sendiri tiga tahun lalu, memantul di lereng bukit.
Lalu dia berkata, sangat pelan, “Mas.”
“Iya, Bu Dokter.”
“Mas bilang nggak bisa. Mas bilang aku pantas yang lebih.” Dia menatapku dari samping. “Tapi Mas nggak bilang Mas nggak suka aku.”
Aku membeku.
“Dari tadi aku nungguin,” lanjutnya. “Kalau Mas bilang saya tidak punya perasaan apa-apa, Bu Dokter, aku bakal berhenti. Aku janji. Aku dokter, aku tahu kapan harus berhenti nanganin pasien yang nolak terapi.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Tapi Mas nggak bilang itu.”
Aku tidak bilang itu.
Aku tidak bisa bilang itu. Karena itu bohong. Dan seumur hidupku, aku tidak pernah bisa berbohong dengan wajah yang benar.
Kupingku terbakar dalam gelap. Aku tahu dia bisa melihatnya, bahkan di bawah cahaya bintang pertama.
Dia menatap kupingku. Lalu, perlahan, senyumnya muncul lagi. Kecil. Basah. Tapi muncul.
“Oke,” katanya.
Dia berdiri, menepuk-nepuk gamisnya dari rumput dan jamblang.
“Oke, Mas. Aku ngerti. Ketua panitia harus netral. Pilkades enam minggu lagi.” Dia menatapku dari atas, dengan bintang di belakang kepalanya. “Aku tunggu sampai pencoblosan.”
Aku mengangkat kepala.
“Tapi selama nunggu,” lanjutnya, dan lesung pipinya muncul pelan-pelan, seperti lampu yang dinyalakan dengan dimmer, “aku nggak janji berhenti godain.”
Kami berjalan pulang di pematang yang gelap. Aku di depan dengan senter. Dia di belakang.
Tidak ada yang bicara.
Tapi di tengah pematang, di bagian yang paling licin, aku merasakan jari-jarinya di ujung lengan kemejaku. Seperti di jalan ke Kampung Atas. Seperti di bawah rumpun bambu.
Aku tidak menoleh. Aku hanya berjalan lebih pelan.
Di halaman puskesmas, dia melepaskan ujung lenganku dan naik ke tangga. Tidak berbalik. Tidak berkata apa-apa.
Pintu menutup.
Pukul sembilan, aku mengantar termos biru.
Aku berdiri di depan pintu puskesmas lebih lama dari biasanya. Tidak tahu apakah pintu itu akan terbuka. Tidak tahu apakah aku seharusnya di sini.
Pintu terbuka.
Dia berdiri di sana dengan sweter rajut krem, rambut tergerai, mata yang masih sedikit sembab. Dan senyum.
“Satu menit lebih awal lagi,” katanya, mengambil termos. “Sesuai prosedur?”
“Sesuai prosedur, Bu Dokter.”
“Bagus.” Dia memeluk termos itu. “Enam minggu, Mas. Aku hitung.”
Pintu menutup.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, dari meja kantor desa, aku menatap jendela ruang jaga di seberang jalan.
Dua kedip.
Aku memegang senter di tanganku lama sekali. Lebih lama dari yang pernah kulakukan. Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh.
Lalu aku menyalakannya. Sekali.
Siap.
Lalu, karena tidak ada yang melihat, aku membuka agenda kulit cokelat ke halaman kalender, dan melingkari satu tanggal dengan pulpen. Enam minggu dari hari ini.
Hari pencoblosan.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-56 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: ditembak dokter di bawah pohon jamblang. Jawaban pasien: “Saya tidak bisa.” Alasan satu: ketua panitia harus netral. Alasan dua: aku pantas dapat yang lebih.
Pemeriksaan: pasien NGGAK bilang dia nggak suka aku. Aku tungguin. Lama. Dia nggak bilang. Kupingnya merah dalam gelap. Aku bisa lihat walaupun cuma ada cahaya bintang satu.
Diagnosis: penolakan dengan alasan prosedural. Bukan penolakan perasaan. Beda. Dokter tahu bedanya.
Terapi: menunggu. Enam minggu. Sambil godain. Dosis maksimal.
Catatan dokter: aku nangis dikit di bawah pohon jamblang. Jariku ungu kena buah jamblang. Rumputnya ungu. Langitnya ungu. Semuanya ungu dan aku ditolak dan anehnya aku nggak sedih.
Soalnya waktu pulang lewat pematang, aku pegang ujung lengan bajunya. Dan dia jalan lebih pelan lagi.
Senter malam ini, dia jawabnya lama banget. Tiga puluh detik. Aku sampai mikir dia nggak bakal jawab. Terus nyala. Sekali.
Siap, katanya.
Iya, Mas. Aku juga siap. Enam minggu.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang reading
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup