Chapter Six
Posyandu
POV: Bagas
Posyandu Melati Kampung Tengah biasanya diadakan di teras rumah Bu RW, dengan satu timbangan gantung, satu meja lipat, dan sekitar dua puluh balita yang menangis bergantian seperti paduan suara tanpa dirigen.
Bulan ini, posyandu dipindahkan ke balai desa.
Alasannya, kata Ceu Imas, ketua PKK sekaligus istri Pak Haji, karena kader-kader butuh tempat yang lebih luas untuk penyuluhan gizi bersama Bu Dokter. Alasan sebenarnya, kata Mang Odon, karena teras Bu RW tidak muat menampung ibu-ibu dari empat kampung yang semuanya mendadak ingin menimbang anaknya bulan ini, termasuk ibu-ibu yang anaknya sudah SD.
Balita yang terdaftar: dua puluh tiga.
Ibu-ibu yang datang: tujuh puluh satu.
Aku memasang dua speaker kecil di sudut balai, satu mik nirkabel untuk Bu Dokter, dan satu mik kabel untuk Ceu Imas yang tidak pernah mau melepaskan mik begitu sudah memegangnya.
“Tes, tes, tes.”
Di barisan depan, tiga ibu muda berbisik sambil melirik ke arahku, lalu tertawa.
“Itu Kang Bagas yang dipanggil Bu Dokter pakai mik, kan?”
“Iya, yang di video Dede.”
“Ih, ternyata aslinya ganteng, nya. Kirain cuma tukang sound.”
Aku memeriksa baterai mik nirkabel untuk ketiga kalinya.
Bu Dokter datang pukul delapan, bersama Teh Euis dan dua kardus berisi kotak susu dan biskuit PMT.
Hari itu dia tidak memakai jas putih. Dia memakai blus batik biru tua dengan motif mega mendung, rok panjang krem, dan kerudung pashmina abu-abu muda yang dililit longgar, yang kata Teh Euis sengaja dipakai supaya ibu-ibu merasa dekat. Rambutnya tertutup sebagian, beberapa helai hitam terlihat di pelipis.
Dengan kerudung itu, wajahnya terlihat lebih bulat, lebih lembut, dan lesung pipi kirinya lebih jelas setiap kali dia tersenyum pada ibu-ibu yang menyalaminya satu per satu.
Tujuh puluh satu ibu-ibu menahan napas bersama.
Lalu Bu Atikah dari Kampung Bawah berkata, cukup keras untuk didengar seluruh balai, “Ya Allah, Bu Dokter, geulis pisan. Kalau aku masih gadis, aku juga mau jadi Bu Dokter.”
“Kalau Teteh masih gadis, Teteh mau ngejar Kang Bagas!” sahut seseorang dari belakang.
Seluruh balai tertawa. Aku pura-pura tidak mendengar, mencabut kabel mik dan memasangnya kembali di colokan yang sama.
Bu Dokter melirikku dari depan balai. Tertawa kecil. Lalu menerima mik nirkabel dari tanganku.
“Mik ini aman, Mas?” bisiknya. “Nggak bakal nyala tiba-tiba?”
“Tombolnya di samping, Bu Dokter. Kalau lampunya hijau, artinya nyala.”
“Oke.” Dia memiringkan mik, memeriksa tombol. “Kalau aku mau ngomong rahasia, aku pastiin lampunya merah dulu.”
“Bu Dokter mau ngomong rahasia ke siapa?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, menekan tombol sampai lampunya hijau, dan berbalik ke arah tujuh puluh satu ibu-ibu.
“Assalamualaikum, Ibu-ibu.”
Penyuluhan gizi berjalan lancar selama dua puluh menit. Bu Dokter menjelaskan tentang isi piringku, tentang pentingnya protein hewani, tentang telur yang lebih murah dari camilan berbungkus plastik. Dia menjelaskan dengan cara yang membuat ibu-ibu tertawa, bertanya, dan mengangguk-angguk.
Lalu penimbangan dimulai, dan kekacauan dimulai bersamanya.
Balita pertama menangis saat digantung di timbangan. Balita kedua menangis karena balita pertama menangis. Balita ketiga menangis tanpa alasan yang jelas. Dalam lima menit, balai desa berubah menjadi konser tangisan stereo.
Dan di tengah semua itu, ada satu tangisan yang paling keras.
Dafa, delapan bulan, anak Teh Ria dari Kampung Atas. Pipinya bulat merah, rambutnya tegak seperti sikat, dan paru-parunya jelas sangat sehat. Dia menangis begitu keras sampai urat di dahinya terlihat, dan Teh Ria, yang juga sedang menggendong kakak Dafa yang tiga tahun, terlihat hampir menangis juga.
“Aduh, Dafa, cicing atuh, Kasep...”
Bu Dokter mencoba mengambil Dafa. Dafa menangis lebih keras. Teh Euis mencoba. Dafa menendang. Ceu Imas mencoba sambil memegang mik, dan tangisan Dafa keluar dari speaker dengan volume penuh.
Aku menurunkan volume speaker. Lalu, karena posisiku paling dekat dengan Teh Ria, dan karena Teh Ria menatapku dengan mata orang yang tenggelam, aku mengulurkan tangan.
“Boleh saya coba, Teh?”
Teh Ria menyerahkan Dafa tanpa berpikir.
Dafa berat. Lebih berat dari Lilis waktu bayi, dulu, ketika Mak sakit tipes dan aku yang menggendongnya setiap malam selama dua minggu. Aku masih tiga belas tahun waktu itu. Bapak sedang menyewakan sound ke hajatan di kecamatan lain.
Tubuhku ingat caranya. Satu tangan di bawah pantat, satu tangan menopang punggung, kepala bayi bersandar di bahu kiri, dekat dengan detak jantung. Sedikit diayun, bukan digoyang. Langkah kecil ke kanan, ke kiri.
Dan bergumam.
Aku tidak sadar aku bergumam sampai suara itu keluar. Nada yang dulu dinyanyikan Mak setiap malam untuk Lilis. Pelan, naik turun, seperti air di pancuran bambu. Pupuh Sunda yang sudah sangat tua, yang liriknya aku sendiri tidak terlalu hafal.
Dafa berhenti menangis.
Bukan perlahan. Tiba-tiba. Seperti radio yang dimatikan. Dia mengangkat kepala dari bahuku, menatapku dengan mata basah yang bulat dan bingung, lalu menyandarkan pipinya kembali ke bahuku, dan memasukkan jempol ke mulutnya.
Aku terus bergumam. Terus melangkah kecil, kanan, kiri.
Lalu aku sadar balai desa sudah sunyi.
Bukan hanya Dafa yang berhenti menangis. Tujuh puluh satu ibu-ibu juga berhenti bicara. Mereka semua menatap ke arahku. Beberapa dengan mulut terbuka. Ceu Imas memegang mik, lampunya masih hijau, tapi tidak berkata apa-apa.
Dan di samping timbangan, Bu Dokter berdiri dengan kedua tangan di depan dada, seperti sedang memegang sesuatu yang tidak kelihatan. Matanya menatapku. Bukan tiga detik. Bukan lima detik.
Dia tidak berpaling.
Aku berpaling lebih dulu, menatap Dafa yang sekarang setengah tertidur di bahuku, dengan kuping yang terasa terbakar.
“Ya Allah,” bisik Bu Atikah keras sekali. “Kang Bagas cocok jadi bapak.”
“Bu Dokter cocok jadi ibunya!” seru seseorang dari belakang.
“CIEEEEEEE.”
Kali ini, satu balai desa. Tujuh puluh satu ibu-ibu. Dan dari speaker, karena Ceu Imas masih memegang mik yang menyala, suara “cieee” itu menggema dua kali lebih keras.
Dafa terbangun dan menangis lagi.
Ceu Imas, yang selama dua puluh tahun menjadi istri kepala desa dan tahu kapan sebuah momen harus direbut, langsung bergerak.
“Rizky!” serunya ke mik. “Rizky, ka dieu! Bantu Bu Dokter gendong balita!”
Rizky, yang sejak tadi berdiri di pintu balai dengan kemeja putih dan kamera ponsel, berjalan maju dengan wajah tidak yakin. Ceu Imas mengambil balita terdekat, kebetulan kakak Dafa yang tiga tahun dan sedang memegang biskuit, dan menyerahkannya ke Rizky.
Rizky menggendong anak itu dengan dua tangan lurus ke depan, seperti memegang kardus yang isinya mungkin bom.
Anak itu menatap Rizky. Rizky menatap anak itu.
Lalu anak itu menangis. Lalu menendang. Lalu, dengan ketepatan yang luar biasa untuk anak tiga tahun, mengompol tepat di bagian depan kemeja putih Rizky.
Balai desa meledak dalam tawa.
Ceu Imas menutup wajah dengan kerudung. Mang Odon, yang entah bagaimana sudah ada di dalam balai, tertawa sampai harus berpegangan pada tiang. Rizky berdiri membeku dengan noda basah di dada dan wajah seperti orang yang baru saja ditolak lewat mik.
Aku menyerahkan Dafa kembali ke Teh Ria, yang sudah tenang lagi, lalu mengambil kakak Dafa dari tangan Rizky dan menyerahkannya juga ke Teh Ria. Lalu aku melepas jaketku dan menyodorkannya ke Rizky.
“Pakai ini dulu, Riz. Biar kemejanya nggak kelihatan.”
Rizky menatap jaketku. Menatapku. Lalu, setelah tiga detik yang panjang, menerimanya dengan gumaman yang mungkin “makasih”, mungkin juga bukan.
Pukul sebelas, posyandu selesai. Ibu-ibu pulang satu per satu, masih tertawa, masih berbisik. Aku menggulung kabel di sudut balai. Teh Euis dan Rani membereskan timbangan.
Bu Dokter duduk di kursi plastik di sampingku, membuka kerudungnya sedikit karena gerah, dan mengipasi lehernya dengan buku KMS.
Lalu dia berhenti mengipas, menatap bahu kiriku, dan tertawa kecil.
“Mas. Itu ada tanda tangan Dafa.”
Aku menoleh. Ada noda basah di bahu kemejaku. Iler.
Sebelum aku sempat bergerak, dia sudah mengambil tisu dari tas, berdiri, dan mengusap bahuku dengan hati-hati. Pelan. Dua kali. Jarinya menyentuh kerah kemejaku sebentar, lalu ditarik kembali.
“Udah,” katanya, duduk lagi. “Bersih. Tapi Mas harus tahu, itu bayi pertama di Cibening yang berhasil nempel di bahu Mas. Aku cemburu sedikit.”
“Mas,” lanjutnya, sebelum aku sempat mencerna kalimat itu.
“Iya, Bu Dokter.”
“Tadi Mas nyanyi apa?”
Aku berhenti menggulung. “Bukan nyanyi, Bu Dokter. Bergumam.”
“Iya, bergumam. Lagu apa?”
“Pupuh. Lagu Sunda lama. Dulu Mak nyanyiin buat Lilis waktu bayi.”
“Pupuh apa namanya?”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Karena aku baru sadar.
Pupuh Sunda punya tujuh belas jenis. Asmarandana, Dangdanggula, Sinom, Pangkur, Durma, Mijil. Masing-masing punya nada dan suasananya sendiri. Dan pupuh yang dinyanyikan Mak untuk Lilis setiap malam, pupuh yang tadi keluar dari mulutku tanpa izin di depan tujuh puluh satu ibu-ibu, adalah pupuh yang biasa dinyanyikan untuk menidurkan anak, pupuh yang nadanya sabar dan penuh kasih.
Namanya Pupuh Kinanti.
Aku menatap kabel di tanganku.
“Mas?” Dia mencondongkan tubuh, mengintip wajahku. “Kok diem?”
“Kinanti,” kataku pelan. “Namanya Pupuh Kinanti, Bu Dokter.”
Dia tidak bergerak.
Lalu, sangat pelan, matanya membulat. Bibirnya terbuka sedikit. Buku KMS di tangannya berhenti mengipas.
“Itu nama aku,” bisiknya.
“Iya, Bu Dokter.”
“Mas tadi nyanyiin nama aku di depan satu balai.”
“Itu... nama lagunya, Bu Dokter. Bukan nama Bu Dokter.”
“Sama aja, Mas.”
“Tidak sama.”
“Sama.” Dia tersenyum. Lalu senyum itu melebar, dan melebar lagi, sampai lesung pipinya dalam sekali dan matanya menyipit. Pipinya merah. Tidak karena gerah. “Papa yang kasih nama. Katanya dari pupuh Sunda, soalnya nenek aku orang Sumedang. Aku nggak pernah denger lagunya. Nggak ada yang pernah nyanyiin buat aku.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku menggulung kabel. Over-under. Over-under.
Dia menatap tanganku. Lalu menatap wajahku.
“Mas,” katanya. “Nanti malam ajarin aku.”
“Ajarin apa, Bu Dokter?”
“Pupuh Kinanti.” Dia berdiri, merapikan kerudungnya, memeluk buku KMS ke dada. “Biar aku bisa nyanyiin buat pasien anak. Buat Dafa kalau nangis lagi.”
Itu alasan yang masuk akal. Sangat masuk akal.
Tapi dia mengatakannya sambil menatapku dengan cara yang membuat alasan itu terdengar seperti bungkus, dan isinya sesuatu yang lain.
Pukul sembilan malam, aku mengantar termos biru seperti biasa.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, saat aku sudah kembali ke meja kantor desa untuk memasukkan data DPT Kampung Atas, ada cahaya dari seberang jalan.
Dua kedip. Dari jendela ruang jaga.
Klik-klik.
Aku menatapnya. Lalu meraih senter di laci meja, menyalakannya, mengarahkannya ke lantai di bawah jendela.
Klik. Sekali.
Lima menit kemudian, aku duduk di bangku panjang di depan puskesmas, dengan Bu Dokter di sebelahku memegang tutup termos berisi jahe hangat, dan secarik kertas resep di pangkuannya, tempat dia menulis lirik pupuh yang kuajarkan, baris demi baris, dengan ejaan yang salah semua.
Dia menyanyikannya dengan nada yang meleset jauh sekali.
Aku tidak mengoreksinya.
Aku hanya mendengarkan.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-19 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: nggak ada. Pasien malah jadi terapis. Bayi delapan bulan yang nangisnya ngalahin sirine ambulans langsung diam waktu digendong dia. Langsung. Dalam empat detik. Aku hitung.
Diagnosis: pasien pernah gendong adiknya tiap malam waktu umur tiga belas. Tubuhnya masih ingat. Hatinya juga.
Terapi: Pupuh Kinanti. Pupuh buat nidurin anak. Nama aku.
Catatan dokter: tujuh puluh satu ibu-ibu bilang dia cocok jadi bapak. Aku nggak bilang apa-apa. Aku cuma berdiri di samping timbangan sambil megangin dada, soalnya ada yang copot di dalam, dan aku dokter tapi aku nggak tahu itu organ apa.
Malam ini dia ngajarin aku pupuhnya. Nadaku jelek banget. Dia nggak ngoreksi sekali pun. Dia cuma dengerin. Dengerinnya kayak aku nyanyi bagus.
Rizky diompolin. Aku nggak boleh ketawa. Aku ketawa.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu reading
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup