Chapter Twenty Three
Restu Pak Kardiolog
POV: Bagas
Jumat pagi, pukul tujuh, satu desa mendengar Kaur Umum mengetes mik pengeras suara balai.
“Tes. Tes. Tes. Tes. Tes. Tes. Tes.”
Tujuh kali.
Ceu Imas tidak datang ke kantor desa untuk protes. Dia berdiri di depan rumahnya dengan sapu lidi, menatap corong pengeras suara di atap balai, lalu tertawa sampai harus bersandar ke pagar.
Bi Onah menjatuhkan sendok penggorengan.
Mang Odon, di pangkalan ojek, berdiri dan bertepuk tangan sendirian.
Dan di seberang jalan, tirai jendela ruang periksa puskesmas, yang tertutup sejak Jumat lalu, terbuka. Lebar. Dan di kaca jendelanya, menghadap keluar, tertempel selembar kertas resep dengan tulisan besar:
R/ 7x. Overdosis. Tidak apa-apa. Lanjutkan.
Kang Dadan, di meja sebelah, menatap kertas itu. Lalu menatapku.
“Gas,” katanya. “Kamu sekarang udah nggak panitia, ya?”
“Udah nggak, Kang.”
“Alhamdulillah.” Kang Dadan menghela napas panjang. “Saya capek pura-pura nggak lihat.”
Sabtu siang, pukul satu, Mang Odon menelepon dengan suara panik.
“Mas Bagas! Ada mobil mogok di tanjakan Cikadu! Sedan item, pelat B! Asepnya keluar dari depan! Yang punya bapak-bapak pakai kacamata, galak!”
“Mang, saya bukan bengkel.”
“Mas, bapak-bapaknya nanya jalan ke puskesmas Cibening.” Mang Odon berhenti sebentar. “Terus ibu-ibu di sebelahnya bilang aduh Pa, Kinan bilang jalannya rusak.”
Aku sudah memakai jaket sebelum Mang Odon selesai bicara.
Sedan hitam itu berhenti di bahu jalan tanjakan Cikadu, di bawah pohon mahoni, dengan kap mesin terbuka dan uap putih mengepul dari radiator.
Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun. Tinggi, berkemeja batik lengan panjang yang rapi, celana bahan gelap, sepatu kulit yang sekarang berdebu. Rambut putih disisir ke belakang. Kacamata berbingkai emas. Wajah yang terbiasa membaca hasil EKG dan memberi kabar buruk dengan tenang.
Di sampingnya, seorang perempuan berkerudung biru muda, lebih muda beberapa tahun, dengan wajah yang langsung kukenali.
Mata bulat. Lesung pipi kiri, yang muncul setengah saat dia tersenyum gugup ke arahku.
Kinan mewarisi wajah ibunya.
“Selamat siang, Pak, Bu,” kataku, memarkir motor. “Saya Bagas. Dari Cibening. Mang Odon bilang mobil Bapak mogok.”
Laki-laki itu menatapku. Dari ujung kepala sampai sepatu bot karet hijau. Lalu kembali ke wajah. Lama.
“Bagas,” ulangnya pelan. “Yang di video.”
Bukan pertanyaan.
“Iya, Pak,” kataku.
Dia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menatapku dengan mata yang tidak bisa kubaca, lalu menunjuk ke kap mesin dengan dagu.
“Radiator,” katanya. “Kayaknya bocor.”
Aku memeriksanya. Selang radiator bawah sobek sepanjang tiga senti, mungkin tergores batu di tanjakan yang rusak setelah banjir. Air radiator sudah habis. Mesin terlalu panas.
“Selangnya sobek, Pak,” kataku. “Tidak bisa diganti di sini. Bengkel terdekat di kota kecamatan.”
“Jadi kami harus nunggu derek?”
“Tidak, Pak.” Aku membuka tas selempang. Lakban hitam. Kawat tembaga. Tang. Selalu kubawa. “Saya tambal sementara. Isi air dari sungai. Cukup sampai Cibening. Besok saya antar ke bengkel.”
Laki-laki itu menatap lakban di tanganku dengan ekspresi seorang kardiolog yang baru saja melihat seseorang mau menjahit jantung pakai benang jahit.
“Pa,” kata ibu Kinan pelan, menyentuh lengan suaminya. “Biarin aja.”
Dua puluh menit kemudian, selang radiator itu terbungkus lakban hitam lima lapis, diikat kawat tembaga di dua ujung, dan radiator terisi air Sungai Cikadu yang kubawa dengan jeriken pinjaman dari warung di bawah tanjakan.
Mesin menyala. Tidak ada asap.
Laki-laki itu menatap mesinnya. Lalu menatap tanganku, yang hitam oleh oli dan lumpur sampai pergelangan.
“Kamu belajar ini di mana?” tanyanya.
“Bapak saya, Pak. Dan D3 Teknik Elektro.”
“Bapakmu montir?”
“Tukang sound, Pak. Gelar Sound.” Aku mengelap tangan di celana. “Sudah meninggal empat tahun lalu.”
Dia diam. Lalu mengangguk pelan, sekali.
“Saya Haryo,” katanya, mengulurkan tangan. “Papanya Kinan.”
Aku menatap tangannya. Bersih. Kuku terpotong rapi. Tangan yang sudah memegang ribuan jantung.
Aku menatap tanganku sendiri. Hitam oli.
“Tangan saya kotor, Pak.”
“Saya kardiolog,” kata dr. Haryo datar. “Saya sudah pegang yang lebih kotor.”
Aku menjabat tangannya. Genggamannya kuat. Dan tidak dilepaskan lebih cepat dari genggamanku.
Kinan menunggu di tangga puskesmas.
Saat sedan hitam itu berhenti di depan pagar, dengan aku di belakangnya mengendarai motor, dia berlari menuruni tangga. Memeluk mamanya. Memeluk papanya.
Lalu melihat tanganku yang hitam, dan selang radiator berlakban yang masih terlihat dari bawah kap mesin.
“Mas,” katanya, matanya membulat. “Papa mogok?”
“Selang radiator,” kataku. “Sudah ditambal.”
“Pakai lakban,” tambah dr. Haryo dengan nada yang sama sekali tidak bisa dibaca.
Kinan menatap papanya. Menatapku. Lalu menutup mulut dengan tangan, dan bahunya mulai bergetar.
“Jangan ketawa, Nak,” kata dr. Haryo.
“Aku nggak ketawa, Pa.”
“Bahumu ketawa.”
Di ruang periksa puskesmas, dr. Haryo melakukan sesuatu yang membuat Teh Euis, Rani, dan Kinan menatapnya dengan mulut terbuka.
Dia mengambil tensimeter dari meja, menatapku, dan berkata, “Duduk.”
“Pa!” seru Kinan.
“Papa periksa semua orang yang ketemu Papa hari ini. Biar adil.” Dr. Haryo memasang manset di lenganku dengan gerakan yang sangat profesional. “Mamamu tadi pagi juga Papa periksa.”
“Itu Mama!”
“Ini calon...” Dr. Haryo berhenti. Memompa tensimeter. Tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ruang periksa sunyi. Teh Euis menahan napas. Rani menjatuhkan cilok.
Dr. Haryo menatap jarum tensimeter.
“Seratus empat puluh per sembilan puluh,” katanya. “Tinggi.”
“Biasanya seratus dua puluh, Pak,” kataku pelan.
“Biasanya kamu nggak ketemu papa pacarmu.” Dia melepas manset. Lalu, untuk pertama kalinya sejak di tanjakan Cikadu, sudut bibirnya bergerak sedikit. “Itu bukan karena sambal.”
Kinan menutup wajahnya dengan dua tangan. Teh Euis tertawa terbahak-bahak sampai harus keluar ruangan. Dan mama Kinan, Bu Ratih, berdiri di ambang pintu dengan tangan di dada, tersenyum dengan lesung pipi yang sama persis dengan anaknya.
Malam itu, Mak memasak.
Mak mengundang keluarga Kinan ke rumah panggung kami dengan undangan yang disampaikan Lilis lewat Kinan, lewat Teh Euis, lewat Rani, sehingga saat sampai ke dr. Haryo, undangannya sudah berubah menjadi makan malam keluarga besar. Mak memasak dari pukul tiga sore. Nasi liwet, kali ini tidak gosong. Ayam goreng. Sayur asem. Sambal terasi. Ikan mas pepes. Dan satu piring telur balado yang bagian bawahnya sedikit hitam.
“Itu aku yang masak,” kata Kinan, wajah merah. “Mak ngajarin. Masih gosong dikit.”
Dr. Haryo menatap telur balado itu. Lalu menatapku.
Aku mengambil dua butir. Bagian yang paling hitam.
Dr. Haryo menatapku mengunyah. Lama.
Bu Ratih dan Mak duduk bersebelahan di tikar. Ternyata ibu Bu Ratih juga orang Sunda, dari Sumedang, dan dalam sepuluh menit mereka sudah berbicara dalam bahasa Sunda halus yang membuat Lilis menatap mereka dengan takjub. Bu Ratih minum wedang jahe dari termos biru, memejamkan mata, dan berkata ya Allah, ini mah kayak bikinan Ema dulu.
Mak tersenyum. Lalu memberinya resep, ditulis Lilis di kertas tulis bergaris.
Lilis duduk di samping Kinan dan, dalam setengah jam, menceritakan semua aibku kepada dr. Haryo dengan detail yang mengerikan. Bahwa aku pernah tidur di belakang speaker hajatan sampai subuh. Bahwa aku menangis waktu nonton film tentang anjing yang menunggu tuannya di stasiun. Bahwa aku makan nasi gosong buatan Kinan satu piring penuh dan bilang saya suka kerak.
“Lis,” kataku.
“Diem, Aa. Aku lagi presentasi.”
Dr. Haryo mendengarkan semuanya tanpa ekspresi. Tapi saat Lilis menceritakan soal nasi gosong, aku melihat dia melirik ke Kinan. Dan Kinan, yang wajahnya merah sampai ke telinga, tidak bisa berhenti tersenyum.
Pukul sembilan, dr. Haryo keluar ke teras rumah panggung. Sendirian. Duduk di tangga kayu, menatap kegelapan Kampung Bawah dan lampu-lampu kecil di lereng bukit.
Mak menyenggol lenganku. Kinan menatapku dari dalam dengan mata yang mengatakan pergi.
Aku keluar dan duduk di tangga di sampingnya, satu anak tangga di bawah.
Lama sekali tidak ada yang bicara. Jangkrik bersahutan. Kunang-kunang berkedip di atas sawah.
“Kinan anak saya satu-satunya,” kata dr. Haryo akhirnya.
“Saya tahu, Pak.”
“Saya kerja tiga puluh tahun supaya dia dapat yang terbaik. Sekolah terbaik. Kampus terbaik. Profesor terbaik.” Dia menatap sawah. “Dia telepon saya kemarin. Bilang mau pindah PPDS ke Bandung. Supaya dekat sini.” Dia berhenti. “Dekat kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Saya marah,” lanjutnya. “Saya bilang, Nak, kamu mau ngubur karier demi tukang sound di desa?“
Aku menatap tanganku.
“Dan dia bilang,” suara dr. Haryo merendah, “Pa, aku nggak ngubur apa-apa. Aku nanem.“
Aku mengangkat kepala.
Dr. Haryo menatapku. Di bawah lampu teras yang kuning, wajahnya terlihat lebih tua. Lebih lelah. Dan, entah bagaimana, lebih lembut.
“Kamu tahu kenapa saya kasih nama dia Kinanti?” tanyanya.
“Dari pupuh Sunda, Pak. Nenek Kinan orang Sumedang.”
Dr. Haryo terdiam. Lalu tertawa kecil, tidak terlalu senang, tidak terlalu sedih. “Dia cerita ke kamu.”
“Saya yang ngajarin dia pupuhnya, Pak. Nadanya fals.”
Dia menatapku lama. Lalu menghela napas panjang.
“Ibu saya dulu nyanyiin Pupuh Kinanti tiap malam,” katanya pelan. “Di rumah panggung di Sumedang. Kayak rumah ini. Bapak saya petani. Saya kuliah kedokteran pakai beasiswa. Dan waktu saya mau nikah sama Ratih, ayahnya, pengusaha di Jakarta, bilang saya cuma anak petani yang nggak bakal bisa ngasih apa-apa ke anaknya.”
Aku diam.
“Tiga tahun saya nunggu restu,” kata dr. Haryo. “Tiga tahun.”
Kunang-kunang terbang di depan tangga. Satu. Dua.
“Saya nggak mau jadi ayahnya Ratih, Bagas,” katanya. “Tapi saya juga nggak mau anak saya salah pilih. Jadi saya mau dengar dari kamu langsung. Apa yang bisa kamu janjikan?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Aku memikirkan daftar. Gaji tiga juta. Rumah panggung. Motor 2012. Cibening seumur hidup.
Aku memikirkan bangku panjang. Kamu mau apa?
“Saya tidak bisa janji yang terbaik, Pak,” kataku. “Saya tidak punya rumah sakit. Saya tidak punya profesor. Saya tidak bisa ngajak Kinan ke Singapura.”
Dr. Haryo menunggu.
“Saya cuma bisa janji yang setiap hari,” lanjutku pelan. “Jahe jam sembilan malam. Genset yang selalu hidup. Senter yang selalu dijawab. Kalau Kinan di Bandung, saya ke Bandung tiap Sabtu. Motor saya 2012, tapi saya bisa benerin sendiri kalau mogok.” Aku menelan ludah. “Dan saya tidak akan menyuruh Kinan memilih. Saya tidak akan memutuskan apa pun untuk dia sendirian lagi. Saya sudah pernah. Itu salah.”
Dr. Haryo tidak bergerak.
“Dia bilang ke saya di bangku panjang puskesmas,” kataku, “keputusan terapi diambil bersama. Bukan sendirian. Saya mau begitu, Pak. Seumur hidup.”
Lama sekali dr. Haryo diam.
Lalu dia berdiri. Menepuk celana bahannya. Menatap ke dalam rumah, tempat Kinan duduk di tikar di samping Mak dan Bu Ratih, tertawa pada sesuatu yang dikatakan Lilis, dengan tali stetoskop kulit cokelat muda di lehernya.
“Tali stetoskop itu,” katanya. “Kamu yang bikin?”
“Iya, Pak.”
“Pakai apa ukirannya?”
“Ujung solder, Pak. Tiga malam.”
Dr. Haryo menatap tali itu lama dari ambang pintu. Lalu menoleh padaku.
“Stetoskop saya umurnya dua puluh tahun,” katanya. “Talinya udah retak.” Dia berhenti. “Bikinkan satu buat saya.”
Aku menatapnya.
“Tulis dr. Haryo,” lanjutnya, sudah melangkah masuk ke rumah. “Jangan pakai gelar spesialis. Kepanjangan.”
Di ambang pintu, dia berhenti sekali lagi, tanpa menoleh.
“Dan jaga tensimu, Bagas. Seratus empat puluh itu terlalu tinggi buat umur dua puluh sembilan.”
“Iya, Pak.”
“Itu bukan cuma karena sambal.”
Dia masuk ke dalam.
Aku duduk di tangga kayu rumah panggung yang dibangun Bapak, di bawah lampu teras kuning, dengan kunang-kunang yang berkedip di atas sawah, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku menangis tanpa suara.
Dari dalam rumah, tidak lama kemudian, seseorang keluar dan duduk di sampingku. Kepalanya bersandar di bahuku. Tangannya menemukan tanganku.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Dia hanya bergumam, pelan, fals, nada yang naik turun seperti air di pancuran bambu.
Pupuh Kinanti.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-100 di Cibening.
Pagi kemarin: tes mik tujuh kali. Aku tempel resep “7x. Overdosis. Lanjutkan.” Ceu Imas ketawa sampai nyender ke pagar.
Pasien: Bagas Pramudya. Hari ini nambal selang radiator mobil Papa pakai lakban lima lapis dan kawat tembaga di tanjakan Cikadu. Papa kardiolog. Papa nggak pernah percaya lakban.
Pemeriksaan oleh dr. Haryo, Sp.JP: tensi pasien 140/90. “Itu bukan karena sambal.”
Makan malam di rumah Mak. Pasien makan telur balado gosong buatanku, bagian yang paling hitam, di depan Papa. Papa ngeliatin.
Papa sama pasien ngobrol di tangga teras. Aku nggak tahu isinya. Tapi waktu Papa masuk, Papa bilang ke Mama, “Dia bikin tali stetoskop pakai solder. Aku minta satu.”
Mama nangis. Aku nangis. Mak nangis. Lilis bilang “kenapa semua orang nangis, kan nggak ada yang meninggal”.
Terus aku keluar. Dia lagi duduk di tangga. Nangis tanpa suara. Pertama kali aku lihat dia nangis.
Aku nggak nanya. Aku nyanyiin Pupuh Kinanti. Fals. Dia nggak ngoreksi.
Seratus hari. Diagnosis akhir: aku mau di sini. Bareng dia. Seumur hidup.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog reading
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup