← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Eight

Debat Kandidat

POV: Kinan

“Bu Dokter jadi panelis, ya.”

Aku menatap surat undangan di tanganku. Kop surat Panitia Pemilihan Kepala Desa Cibening. Tanda tangan di bawahnya rapi, sedikit miring ke kanan, dan aku sudah hafal bentuk huruf B-nya yang tegak seperti tiang antena.

“Mas,” kataku. “Bukannya tenaga kesehatan nggak boleh dilibatkan di kampanye? Mas sendiri yang bikin surat edarannya.”

Dia berdiri di depan meja periksaku dengan map di dada, kemeja krem kantor desa, kacamata baca terselip di saku. Pagi itu dia baru potong rambut. Pinggirnya dicukur terlalu pendek, jelas oleh tukang cukur di pasar kecamatan yang terkenal karena gunting yang lebih bersemangat dari tangannya.

Aku memutuskan potongan rambut itu lucu. Aku juga memutuskan tidak akan bilang.

“Debat kandidat bukan kampanye, Bu Dokter,” katanya. “Itu tahapan resmi panitia. Panelisnya netral. Ada Ajengan Uci untuk keagamaan, Pak Camat untuk pemerintahan, Teh Nining untuk pendidikan. Dan untuk kesehatan...” Dia berhenti sebentar. “Tidak ada orang lain di Cibening yang lebih paham kesehatan, Bu Dokter.”

“Mas yang milih aku?”

“Panitia yang memilih, Bu Dokter.”

“Panitianya lima orang. Ketuanya Mas.”

Dia diam. Kupingnya mulai merah. Lalu dia meletakkan map di meja dan berkata dengan nada paling resmi yang bisa dia kumpulkan, “Debatnya Sabtu malam, pukul tujuh, di balai desa. Pertanyaan panelis dikumpulkan paling lambat Kamis. Terima kasih, Bu Dokter.”

Lalu dia berbalik dan pergi sebelum aku sempat tertawa.

Teh Euis, yang sedang menyusun obat di lemari, menoleh padaku dengan alis naik dua senti.

“Bu Dokter,” katanya. “Di desa ini, kalau laki-laki pilih perempuan buat duduk di panggung, itu artinya lebih dari panelis.”

“Teh, dia cuma ngikutin aturan.”

“Iya, iya.” Teh Euis tersenyum lebar. “Aturan siapa?”


Sabtu malam, balai desa penuh sampai ke jalan.

Kursi plastik dua ratus buah habis sebelum pukul enam. Yang tidak kebagian kursi berdiri di belakang, di samping, di jendela, di atas motor yang diparkir di halaman. Anak-anak naik ke pohon jamblang. Bi Onah membuka lapak gorengan di pinggir lapangan dan habis dalam satu jam.

Pendukung Pak Haji duduk di sisi kiri dengan baju koko putih dan rebana. Pendukung Juragan Ujang duduk di sisi kanan dengan kaos kuning dan, entah kenapa, terompet tahun baru. Si Jagur diikat di pagar balai dengan kaos kampanye baru, kali ini ukuran XXXL.

Aku duduk di meja panelis di sisi panggung, di antara Ajengan Uci dan Teh Nining. Aku memakai kebaya brokat biru muda yang dipinjamkan Teh Euis, dengan kain batik dan kerudung putih yang dililit sederhana. Teh Euis bilang ini standar acara resmi desa. Rani bilang ini standar kondangan. Aku tidak berani bilang ke mereka bahwa aku memakainya karena tahu siapa yang duduk di belakang meja sound di sudut balai.

Saat aku naik ke meja panelis tadi, ada desahan panjang dari dua ratus orang yang membuatku ingin bersembunyi di bawah meja.

Dan saat aku melirik ke meja sound, dia sedang memasang headphone di satu telinga. Dia mengangkat kepala. Menatapku. Satu detik. Dua detik.

Lalu dia menjatuhkan kabel XLR yang sedang dipegangnya.

Aku menunduk ke kertas pertanyaanku dan menahan senyum sekuat tenaga.


Debat dimulai pukul tujuh lewat lima belas. Kacau pada pukul tujuh lewat dua puluh.

Pertanyaan pertama dari Pak Camat tentang pembangunan jalan Cikadu. Pak Haji menjawab dengan tenang dan panjang, mengutip anggaran tiga tahun terakhir. Juragan Ujang menjawab dengan “Pokoknya kalau saya jadi kades, jalan Cikadu diaspal! Mulus kayak pipi Bu Dokter!”

Sisi kanan meniup terompet. Sisi kiri memukul rebana. Aku menatap meja panelis dan mencatat sesuatu yang tidak ada artinya.

Pertanyaan kedua dari Ajengan Uci tentang pengelolaan masjid. Pertanyaan ketiga dari Teh Nining tentang honor guru PAUD. Setiap jawaban disambut terompet atau rebana, semakin keras, semakin lama. Pada pertanyaan keempat, sisi kanan mulai memutar dangdut dari speaker portabel milik mereka sendiri. Sisi kiri membalas dengan shalawat dari pengeras suara masjid yang entah siapa yang menyalakannya.

Pada pertanyaan kelima, dua pendukung dari sisi berbeda mulai berdiri dan saling tunjuk.

Pak Camat mengetuk meja dengan palu. Tidak ada yang mendengar. Ajengan Uci mengangkat tangan. Tidak ada yang melihat. Teh Nining berdiri dan berteriak “TERTIB!”, dan suaranya tenggelam di antara dangdut dan shalawat.

Aku menoleh ke meja sound.

Dia tidak berdiri. Dia tidak berteriak. Dia tidak terlihat panik sama sekali. Dia hanya duduk di sana, headphone di satu telinga, menatap mixer di depannya dengan tenang, seperti orang yang sedang membaca buku di perpustakaan.

Lalu tangannya bergerak.

Dia menurunkan semua fader di mixer, satu per satu, dengan ujung jari. Tidak tiba-tiba. Pelan, bersamaan, seperti orang yang menurunkan selimut.

Dangdut dari speaker portabel masih bunyi. Shalawat dari masjid masih bunyi. Tapi dua speaker besar Gelar Sound, yang sejak tadi memperkuat semuanya, terompet, rebana, teriakan, menjadi hening.

Dan di dalam hening itu, dia menyalakan satu mik. Mik di meja panitia. Mik yang hanya bisa dipakai olehnya.

“Tes,” katanya pelan. Suaranya rendah, datar, dan sangat jelas. “Tes. Tes.”

Seluruh balai menoleh ke sudut.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu,” lanjutnya, dengan nada yang persis sama seperti saat dia membacakan daftar pemilih. “Sesuai tata tertib debat nomor tujuh, atribut suara dari luar panitia tidak diperkenankan. Mohon speaker portabel di sisi kanan dimatikan. Mohon pengeras suara masjid dikembalikan ke fungsi ibadah. Terima kasih.”

Hening.

Lalu, perlahan, seseorang di sisi kanan mematikan dangdut. Seseorang berlari ke masjid. Shalawat berhenti.

Dua pendukung yang tadi saling tunjuk duduk kembali, setengah malu.

Dia menurunkan mik panitia. Menaikkan fader mik kandidat. Lalu menoleh ke arah Pak Camat dan mengangguk sedikit, seperti menyerahkan kembali panggung.

Pak Camat, yang sudah tiga puluh tahun menjadi pegawai pemerintah, menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. Lalu berdeham, mengetuk palu sekali, dan berkata, “Baik. Pertanyaan kelima, silakan diulang.”

Aku tidak mendengar pertanyaan kelima.

Aku sedang menatap meja sound. Menatap laki-laki dengan potongan rambut yang terlalu pendek di pinggir, yang baru saja menenangkan dua ratus orang dengan menurunkan fader dan berkata tes, tes, tes. Yang tidak berteriak. Yang tidak berdiri. Yang tidak perlu dilihat siapa pun untuk menyelamatkan semuanya.

Dan aku merasakannya.

Bukan deg-degan. Itu sudah ada sejak hari pertama. Bukan kagum. Itu sudah ada sejak genset menyala.

Ini sesuatu yang lebih tenang. Lebih pelan. Seperti air yang meresap ke tanah setelah hujan, tidak terlihat, tapi tiba-tiba semuanya basah.

Oh, pikirku. Aku jatuh cinta sama dia.

Di meja panelis, Teh Nining menyenggol lenganku. “Bu Dokter. Pertanyaan Bu Dokter. Giliran.”

Aku menatap kertasku. Pertanyaan tentang stunting. Aku membacanya dengan suara yang, untungnya, masih terdengar seperti dokter.


Debat selesai pukul sembilan lewat sepuluh. Lalu terjadi sesuatu yang tidak ada di susunan acara.

Rizky naik ke panggung.

Dia tidak minta izin. Dia hanya mengambil mik kandidat dari meja Pak Haji, ayahnya, yang menatapnya dengan wajah panik, dan berdiri di tengah panggung dengan kemeja putih yang, untungnya, bersih dari ompol.

“Bapak, Ibu, warga Cibening,” katanya. Suaranya bergetar sedikit, tapi dia memaksakan senyum. “Mohon maaf mengganggu. Saya cuma mau menyampaikan satu hal. Sebagai pemuda Cibening.”

Dua ratus orang diam. Aku punya firasat buruk.

“Sejak Bu Dokter datang ke Cibening, saya sudah tahu.” Rizky menoleh ke meja panelis. Ke arahku. “Bu Dokter, saya Rizky Darsa, lulusan Bisnis Unpad, calon pengusaha coffee shop pertama di Cibening. Saya mau melamar...”

Dua ratus orang menahan napas.

“...jadi orang yang menemani Bu Dokter selama di Cibening. Dan setelahnya.”

Sisi kiri balai bersorak. Sisi kanan meniup terompet. Ceu Imas, di barisan depan, menutup mulut dengan kerudung dan matanya berkaca-kaca. Pak Haji memejamkan mata seperti orang yang sedang berdoa supaya bumi menelannya.

Semua kepala menoleh ke meja panelis.

Aku duduk di sana dengan kebaya biru muda pinjaman, kertas pertanyaan stunting di tangan, dan dua ratus pasang mata yang menunggu jawaban.

Aku sudah sering ditembak. Di koridor kampus. Di parkiran rumah sakit. Lewat DM. Lewat bunga yang dikirim ke ruang jaga IGD. Tapi tidak pernah di depan dua ratus orang, dua kandidat kepala desa, satu domba berkaos kampanye, dan satu laki-laki di sudut balai yang sedang menatap mixer.

Aku melirik ke sudut itu.

Dia tidak menatapku. Dia menatap mixer. Tangannya diam di atas fader mik kandidat, tidak bergerak. Wajahnya datar seperti biasa. Tapi rahangnya kaku, dan jarinya yang ada di atas fader sedikit memutih di ujung.

Aku berdiri.

Aku tidak minta mik. Tapi saat aku berdiri, aku melihat lampu kecil di mik panelis di depanku menyala hijau sendiri. Aku menoleh ke sudut balai. Dia masih menatap mixer. Tapi tangannya baru saja menaikkan satu fader.

Dia memberiku suara.

“Mas Rizky,” kataku. Suaraku keluar jernih dari dua speaker. “Makasih banyak. Itu berani sekali, dan aku menghargai itu. Beneran.”

Rizky tersenyum penuh harap.

“Tapi aku di Cibening buat kerja,” lanjutku, selembut yang aku bisa. “Dan aku belum bisa nerima lamaran itu. Bukan karena Mas Rizky kurang apa-apa. Tapi karena...” Aku berhenti. Menatap sudut balai. Lalu kembali menatap Rizky. “Karena hatiku udah ada yang ngisi antreannya duluan.”

Hening.

Lalu dari barisan ibu-ibu, panjang dan bersamaan, seperti sudah dilatih:

“OOOOOHHHHH.”

Rizky berdiri di tengah panggung, wajah merah, tangan menggenggam mik. Lalu, dengan sisa martabat yang dia punya, dia mengangguk, berkata “Makasih, Bu Dokter,” dan turun dari panggung.

Aku duduk kembali. Lampu mik di depanku padam. Merah.

Di sudut balai, dia sudah menurunkan fader itu lagi.


Setelah balai mulai kosong, aku melihat sesuatu dari jendela kecil di dekat meja panelis.

Rizky duduk sendirian di tangga belakang balai, membungkuk dengan siku di lutut, kepala menunduk. Kemejanya kusut. Teman-temannya sudah pulang. Ceu Imas sedang dihibur ibu-ibu PKK di dalam.

Lalu seseorang duduk di sebelahnya.

Kemeja krem. Potongan rambut terlalu pendek di pinggir. Dua botol air mineral di tangan.

Dia menyodorkan satu botol ke Rizky tanpa berkata apa-apa. Rizky menatap botol itu, lalu menatapnya, lalu mengambilnya. Mereka duduk di sana dalam diam selama beberapa menit. Lalu dia menepuk bahu Rizky dua kali, pelan, berdiri, dan kembali ke dalam untuk menggulung kabel.

Dia tidak tahu aku melihatnya.

Aku berdiri di jendela itu dengan kebaya pinjaman dan tangan di dada, dan untuk kedua kalinya malam itu, aku merasakan air yang meresap ke tanah.


“Mau info, Bu Dokter?”

Aku hampir menjerit. Mang Odon berdiri di sampingku, entah sejak kapan, memegang bungkus gorengan terakhir dari lapak Bi Onah.

“Mang, jangan ngagetin.”

“Maaf, Bu Dokter. Ini info penting. Agak mahal.” Mang Odon mengunyah bakwan. “Pulsa sepuluh ribu.”

Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim pulsa sepuluh ribu ke nomor Mang Odon tanpa menawar.

Mang Odon menatap layar ponselnya, puas, lalu berbisik.

“Dua tahun lalu, ada perusahaan elektronik di Bandung yang nawarin Kang Bagas kerja. Jadi kepala quality control. Gajinya empat kali gaji kantor desa. Ada mess. Ada BPJS.”

Aku menoleh. “Terus?”

“Ditolak.” Mang Odon menatap ke arah sudut balai, tempat laki-laki itu sedang menggulung kabel. Over-under. Over-under. “Katanya Mak-nya nggak bisa ditinggal. Adiknya masih sekolah. Dia bilang ke saya, ‘Mang, kalau saya ke Bandung, siapa yang pasang sound di nikahan orang Cibening?’”

Aku tidak bisa bicara.

“Info ini nggak ada yang tahu, Bu Dokter. Bahkan Mak Icah nggak tahu dia pernah ditawarin.” Mang Odon meremas bungkus gorengan yang sudah kosong. “Jangan bilang dari saya.”

Dia pergi.

Aku berdiri di jendela itu lama. Menatap laki-laki yang menolak empat kali lipat gaji demi memasang sound di nikahan orang lain. Yang memberiku suara saat aku harus menolak seseorang. Yang duduk di samping orang yang kalah dan memberinya air tanpa berkata apa-apa.

Lalu dia mengangkat kepala dari gulungan kabel. Menoleh ke jendela.

Menatapku.

Tiga detik. Empat. Lima.

Enam.

Dia tidak berpaling lebih dulu. Untuk pertama kalinya.

Aku yang berpaling. Karena kalau tidak, aku akan menangis di jendela balai desa, memakai kebaya pinjaman, di depan Si Jagur.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-30 di Cibening.

Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: tidak ada. Pasien menenangkan dua ratus orang dengan cara nurunin fader pelan-pelan dan bilang “tes, tes, tes”. Tidak berdiri. Tidak teriak. Tidak minta dilihat.

Pemeriksaan tambahan: waktu Rizky nembak aku di panggung, jari pasien di atas fader memutih. Waktu aku berdiri, mik di depanku nyala sendiri. Pasien yang nyalain. Waktu aku selesai ngomong, pasien matiin lagi.

Riwayat yang baru diketahui: dua tahun lalu pasien nolak kerja di Bandung dengan gaji empat kali lipat. Alasannya: siapa yang pasang sound di nikahan orang Cibening.

Diagnosis: aku jatuh cinta. Bukan pasiennya yang sakit. Dokternya.

Terapi: belum ditemukan. Mungkin nggak perlu diobati.

Catatan dokter: aku bilang di depan dua ratus orang, hatiku udah ada yang ngisi antreannya duluan. Dia pasti tahu siapa. Dia malah duduk di tangga belakang, ngasih Rizky air minum, tepuk bahunya dua kali.

Terus dia natap aku enam detik. Dia nggak berpaling duluan.

Aku yang kalah.