← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Fourteen

Ulang Tahun Bu Dokter

POV: Bagas

Aku tahu tanggal ulang tahunnya dari formulir domisili ketiga.

Formulir yang terlipat dua di halaman paling belakang agenda kulit cokelatku. Yang kolom keperluannya berbunyi biar bisa ngobrol sama Kaur Umum. Yang kolom tempat tanggal lahirnya, pada percobaan pertama, sengaja dia isi di kolom alamat.

Jakarta, 14 Oktober.

Empat belas Oktober jatuh hari Sabtu. Sembilan hari lagi.

Aku menatap tanggal itu lama di meja kantor desa, lalu menutup agenda, lalu membukanya lagi, lalu menyadari bahwa aku tidak pernah merayakan ulang tahun siapa pun selain Lilis, dan itu pun hanya dengan martabak manis dari pasar kecamatan.

Aku tidak tahu caranya.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan kalau tidak tahu caranya. Aku membuat daftar.


RENCANA SABTU 14/10

1. Lokasi: balai desa. Pukul 21.00. (Setelah jam termos.)

2. Musik: Gelar Sound. Speaker kecil saja. Jangan sampai kedengaran ke puskesmas sebelum waktunya.

3. Penyanyi: anak SD kelas 4–5. Minta tolong Teh Nining.

4. Lagu: Selamat Ulang Tahun. Dan satu lagi.

5. Kue: dia tidak suka kue tart (dia bilang di pos ronda, krimnya bikin eneg). Dia suka yang manis tradisional. Surabi kinca. Minta tolong Bi Onah.

6. Hadiah: ???

7. Rahasia: jangan sampai Mang Odon tahu.


Mang Odon tahu dalam dua hari.

“Mas Bagas,” katanya, berhenti di depan mejaku dengan senyum yang membuatku ingin menutup jendela. “Saya dengar Bi Onah pesan tepung beras lima kilo. Terus Teh Nining nyuruh anak-anak kelas lima latihan nyanyi di belakang sekolah. Terus Lilis beli balon dua bungkus di pasar.”

“Itu tidak ada hubungannya dengan saya, Mang.”

“Lagunya Selamat Ulang Tahun, Mas.”

Aku diam.

“Dan satu lagi. Lagu Sunda. Yang kemarin Mas nyanyiin di posyandu.” Mang Odon tersenyum lebar. “Saya nggak bakal bilang ke Bu Dokter, Mas. Tenang. Tapi saya mau tahu satu hal.”

“Apa, Mang?”

“Saya boleh dateng?”

Aku menatapnya. Mang Odon, dengan kelambu yang masih dia simpan di jok motor sejak wabah, dengan rokok kretek yang tidak pernah dinyalakan, yang menjual info soal Bu Dokter kepada siapa saja yang mau membayar gorengan, tapi tidak pernah sekali pun menjual info yang membuatnya malu.

“Boleh, Mang,” kataku. “Bawa gorengan.”


Masalahnya, Mang Odon bukan satu-satunya yang tahu.

Hari Rabu, Rizky datang ke kantor desa dengan wajah serius. “Kang Bagas. Saya dengar ada acara ulang tahun Bu Dokter Sabtu malam. Saya mau nyumbang. Kue tart tiga tingkat dari Bandung.”

Hari Kamis, Juragan Ujang datang dengan mobil bak terbuka. “Ketua! Saya mau nyumbang balon huruf! Yang gede! Tulisannya HAPPY BIRTHDAY BU DOKTER, DARI UJANG!”

Aku menatap mereka berdua bergantian, lalu membuka buklet Perbup, lalu menutupnya lagi karena tidak ada pasal yang mengatur ulang tahun dokter puskesmas.

“Acaranya acara warga,” kataku akhirnya. “Bukan acara panitia. Bukan acara calon. Siapa pun boleh datang. Tapi tanpa atribut. Tanpa nama. Tanpa kue tart, karena dia tidak suka krim.”

Rizky menatapku. “Kang Bagas tahu Bu Dokter nggak suka krim?”

Aku tidak menjawab.

Rizky menatapku lebih lama. Lalu, perlahan, wajahnya berubah. Bukan marah. Lebih seperti orang yang baru saja membaca jawaban soal ujian dan menyadari dia sudah salah dari nomor satu.

“Oh,” katanya pelan.

Dia tidak menyumbang kue tart. Hari Jumat, dia datang lagi dengan dua karung tepung beras untuk Bi Onah, tanpa nama.

Juragan Ujang tetap membawa balon huruf. Tapi tulisannya sekarang hanya HAPPY BIRTHDAY. Huruf U-J-A-N-G-nya, katanya, sudah dia simpan untuk kampanye.


Sabtu pagi, empat belas Oktober, aku bersikap seolah tidak ada apa-apa.

Itu hal tersulit yang pernah kulakukan, lebih sulit dari menghidupkan genset dalam gelap, lebih sulit dari menenangkan dua ratus orang di debat kandidat.

Pukul tujuh empat puluh, dia duduk di bangku panjang depan puskesmas dengan gelas kopi seperti biasa. Dia melambai seperti biasa. Aku melambai balik seperti biasa.

Tapi dia memakai blus putih yang belum pernah kulihat, dengan bordir bunga kecil di kerah. Rambutnya digerai dan sedikit bergelombang di ujung, seperti baru dicatok. Bibirnya berwarna merah muda yang lebih terang dari biasanya. Dan dia duduk di bangku itu lebih lama dari biasanya, menatap ponselnya, menatap jalan desa, menatap jendela kantor desa.

Menunggu.

Aku menatap layar laptop dan mengetik DPT Kampung Atas. Salah eja tiga kali dalam satu baris.

Pukul sepuluh, aku melihatnya berdiri di bawah pohon jamblang dengan ponsel di telinga. Teleponnya pendek. Saat dia kembali ke puskesmas, dia berjalan pelan, menunduk, menendang kerikil kecil di pematang.

Pukul dua belas, tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya di puskesmas. Itu bagian dari rencana. Teh Euis dan Rani sudah berjanji. Dari jendela, aku melihat Teh Euis menggigit bibir sambil menulis di buku KIA, seperti orang yang sedang menahan bersin selama tiga jam.

Pukul tiga sore, ponselku bergetar.

Kinan: Mas

Kinan: Mas tahu nggak hari ini hari apa?

Aku menatap kolom balasan yang kosong.

Aku tidak bisa berbohong. Tapi aku juga tidak bisa jujur. Jadi aku mengetik hal yang, secara teknis, benar.

Bagas: Hari Sabtu, Kinan.

Kinan: Oh.

Kinan: Iya. Sabtu.

Tidak ada balasan lagi.

Aku menatap layar ponsel sampai meredup, dan merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman di perut, seperti genset yang dipaksa hidup dengan bensin campur air.

Enam jam lagi, kataku pada diri sendiri. Enam jam.


Pukul sembilan malam, aku tidak mengantar termos biru.

Untuk pertama kalinya sejak malam genset itu.

Aku berdiri di balik pintu balai desa yang gelap, dengan termos biru di tangan, Lilis di sampingku memegang korek api, Teh Nining di belakang mengatur dua belas anak SD yang sudah berbaris dengan baju koko dan kerudung terbaik mereka, dan Bi Onah memegang nampan berisi surabi kinca yang ditumpuk menjadi menara setinggi tiga puluh senti.

Mak duduk di kursi plastik di sudut, memakai kebaya Lebarannya. Kang Dadan, Teh Euis, Rani, Mang Odon, Kang Asep, Ajengan Uci. Juragan Ujang dengan balon huruf yang sudah dikempiskan sebagian supaya muat di pintu. Rizky, berdiri di paling belakang, tanpa kemeja slim fit, hanya kaus polos.

Dan Si Jagur, diikat di tiang balai, dengan pita merah muda di leher.

Pukul sembilan lewat tiga, Teh Euis berbisik, “Kang, dia di jendela. Dia nunggu.”

Pukul sembilan lewat lima, Teh Euis berbisik lagi, lebih pelan, “Kang. Dia udah duduk. Mukanya sedih.”

Aku mengambil senter dari saku jaket.

Selama ini, dia yang selalu mengedipkan senter. Dua kali. Aku butuh kamu. Dan aku yang selalu menjawab. Sekali. Siap.

Malam ini aku melangkah ke jendela balai desa, menghadap jendela ruang jaga di seberang jalan, dan mengarahkan senter lurus ke sana.

Klik-klik.

Dua kali.

Di seberang jalan, siluet di jendela ruang jaga berdiri dengan sangat cepat.


Dia menyeberang jalan dengan sweter rajut krem di atas blus putih bordir, rambut bergelombang, sandal jepit puskesmas karena tidak sempat memakai sepatu.

Dia membuka pintu balai desa. Gelap.

“Mas?” panggilnya. “Mas, kenapa senter dua kali? Ada apa? Mas sakit?”

Lilis menyalakan korek api.

Lalu Teh Nining menurunkan tangannya, dan dua belas anak SD mulai bernyanyi.

Bukan Selamat Ulang Tahun. Belum.

Nada itu pelan, naik turun, seperti air di pancuran bambu. Nada yang dulu dinyanyikan Mak setiap malam untuk Lilis. Nada yang keluar dari mulutku di posyandu tanpa izin. Nada yang dia nyanyikan dengan meleset jauh di bangku panjang puskesmas, dari lirik yang kutulis di kertas resep.

Pupuh Kinanti.

Dua belas suara kecil, yang kulatih sendiri di belakang SD setiap sore selama seminggu terakhir, dengan Teh Nining yang menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa yang bisa dihafal anak kelas empat.

Aku menyalakan lampu balai. Satu per satu. Pelan.

Dan aku melihat wajahnya.

Dia berdiri di ambang pintu, satu tangan masih memegang gagang pintu, satu tangan di depan mulut. Matanya membulat. Di bawah lampu balai yang kuning, matanya berkilau dengan cara yang bukan karena lampu.

Pupuh itu selesai. Anak-anak, tanpa jeda, langsung menyanyikan Selamat Ulang Tahun dengan suara keras dan tempo yang terlalu cepat, karena mereka sudah tidak sabar ingin makan surabi.

Seluruh balai ikut bernyanyi. Mak. Teh Euis. Mang Odon. Juragan Ujang dengan suara bariton yang terlalu keras. Rizky, pelan, di belakang.

Dia tidak bernyanyi. Dia tidak bisa. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan di mulut, dan air mata mengalir di pipinya tanpa suara.

Bi Onah maju dengan menara surabi kinca. Di puncaknya, Lilis menancapkan satu lilin kecil.

“Tiup, Bu Dokter!” seru anak-anak.

Dia melangkah maju. Menatap lilin itu. Lalu menatapku, yang berdiri di samping meja sound dengan termos biru di tangan.

Dia tidak meniup lilin. Dia berkata, dengan suara yang pecah di tengah, “Mas tahu dari mana?”

“Formulir domisili,” kataku. “Yang ketiga.”

Dia menatapku lama. Lalu tertawa sambil menangis. Lalu menunduk dan meniup lilin.

Seluruh balai bersorak. Si Jagur mengembik. Juragan Ujang meletuskan satu balon huruf secara tidak sengaja, dan huruf Y-nya terbang ke langit-langit.


Surabi kinca habis dalam dua puluh menit. Anak-anak berebut, ibu-ibu membungkus untuk dibawa pulang. Mak memeluk Bu Dokter lama sekali dan membisikkan sesuatu dalam bahasa Sunda yang membuatnya menangis lagi. Teh Euis memotret dari setiap sudut.

Pukul sepuluh lewat sepuluh, aku membawa sisa kabel ke gudang sound di belakang balai.

Gudang itu kecil, pengap, penuh speaker tua, mixer cadangan, dan gulungan kabel yang ditata di rak kayu yang dibuat Bapak. Lampunya satu, bohlam kuning yang tergantung dari langit-langit.

Aku sedang menggantung gulungan kabel terakhir saat pintu gudang terbuka di belakangku.

“Mas.”

Aku berbalik.

Dia berdiri di ambang pintu dengan mata merah, hidung merah, dan sisa gula aren dari surabi di sudut bibirnya. Rambutnya yang tadi bergelombang sekarang sedikit berantakan karena dipeluk Mak, Lilis, dan semua ibu-ibu Cibening.

Dia menutup pintu di belakangnya.

“Tadi siang aku kira Mas lupa,” katanya. “Aku nanya hari ini hari apa, Mas jawab Sabtu.”

“Hari ini memang Sabtu.”

“Aku nangis di ruang obat, Mas. Teh Euis pura-pura nggak lihat.”

“Mohon maaf, Kinan.”

“Jangan minta maaf.” Dia melangkah mendekat. “Kenapa senter dua kali?”

Aku menatapnya. “Karena malam ini, saya yang butuh kamu.”

Dia berhenti.

Aku merogoh saku jaket dan mengeluarkan sesuatu. Kotak kardus kecil, dibungkus kertas cokelat, diikat tali rami. Bungkusnya tidak rapi. Aku membungkusnya empat kali sebelum menyerah.

Dia membukanya dengan jari gemetar.

Di dalamnya, tali stetoskop dari kulit sapi cokelat muda, dijahit tangan, dengan pengait kecil di kedua ujung. Dan di sepanjang kulitnya, terukir huruf-huruf kecil yang dibakar dengan ujung solder, satu per satu, selama tiga malam:

dr. Kinan — Puskesmas Cibening

Di bawah tali itu, terlipat, selembar kertas resep. Kertas resep Puskesmas Cibening, yang kuminta diam-diam dari Rani. Dengan tulisan tanganku sendiri, yang miring ke kanan.

Pro: dr. Kinanti Larasati

R/ Bahagia. Sebanyak-banyaknya.

Aturan pakai: setiap hari. Tidak perlu diantar. Sudah ada di sini.

— Kaur Umum

Dia menatap kertas itu. Lama.

Lalu dia menatapku.

Lalu, sebelum aku sempat mengerti apa yang terjadi, dia melangkah maju, berjinjit, dan mencium pipiku.

Cepat. Hangat. Sedikit lengket karena gula aren.

Gulungan kabel di tanganku jatuh ke lantai.

Dia mundur selangkah. Wajahnya merah sampai ke telinga. Tangannya memeluk kotak kecil itu ke dadanya.

“Itu bukan kampanye,” bisiknya. “Itu ucapan terima kasih.”

Aku tidak bisa bicara. Aku berdiri di gudang sound Bapak, di bawah bohlam kuning, dengan gulungan kabel di kaki dan pipi kiri yang terasa terbakar.

“Dua puluh tiga hari lagi, Mas,” katanya.

Lalu dia membuka pintu gudang dan berlari keluar, ke balai, ke cahaya, ke suara Lilis yang memanggilnya untuk berfoto dengan Si Jagur.

Aku memungut gulungan kabel itu.

Over-under. Over-under.

Tanganku tidak berhenti gemetar.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-75 di Cibening. Hari ulang tahunku yang ke-28.

Pasien: Bagas Pramudya. Pukul 15.00, ditanya hari ini hari apa, jawab “Hari Sabtu”. Aku nangis di ruang obat. Pasien ternyata lagi nyimpen tanggal lahirku dari formulir domisili. Yang ketiga. Yang aku tulis di kolom alamat waktu pura-pura salah.

Pukul 21.05: pasien ngedipin senter dua kali. Pertama kalinya dia yang manggil aku.

Temuan: dua belas anak SD nyanyi Pupuh Kinanti. Dia yang ngelatih. Seminggu. Di belakang sekolah. Surabi kinca ditumpuk jadi menara. Mak pakai kebaya Lebaran. Si Jagur pakai pita.

Hadiah: tali stetoskop kulit, nama aku dibakar pakai ujung solder. Tiga malam. Sama resep. Tulisan tangannya. “R/ Bahagia. Sebanyak-banyaknya.”

Tindakan: aku cium pipinya di gudang sound. Kabelnya jatuh.

Catatan dokter: dulu aku kira ulang tahun terbaik aku itu umur 17, dirayain di hotel di Jakarta. Ternyata bukan. Ternyata yang terbaik itu di balai desa, dengan surabi, domba, dan laki-laki yang bilang “malam ini saya yang butuh kamu”.

Dua puluh tiga hari lagi. Aku nggak mau nunggu. Tapi aku mau nunggu dia.