← Bu Dokter Nyoblos Panitia

Chapter Twenty

Agenda Panitia

POV: Kinan

Surat itu datang Senin pagi, lewat email, dengan subjek yang ditulis dalam huruf kapital semua.

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS — ILMU KESEHATAN ANAK — GELOMBANG II

Aku membukanya di bawah pohon jamblang, karena hanya di sana sinyalnya cukup untuk mengunduh lampiran PDF.

Di kolom nama, namaku sendiri. Di kolom status, satu kata dalam huruf tebal: DITERIMA.

Aku tidak pernah mendaftar.

Lalu aku ingat. Surat rekomendasi Prof Hartono, yang dibawa Kak Reza dan masih tergeletak di laci meja jaga, belum kubuka. Di bagian bawah surat itu, kata Kak Reza waktu itu, ada formulir pendaftaran yang sudah diisi sebagian. Aku isiin data dasar kamu, Nan. Biar nggak ketinggalan gelombang. Kamu tinggal konfirmasi.

Rupanya Prof Hartono tidak menunggu konfirmasi.

Ponselku bergetar sebelum aku selesai membaca. Papa.

“Nak!” Suara Papa terdengar seperti orang yang baru memenangkan lotre. “Prof Hartono barusan telepon Papa! Kamu diterima! Gelombang dua! Mulai Juli tahun depan, pas pengabdian kamu selesai!”

“Iya, Pa,” kataku. “Aku baru baca.”

“Papa udah bilang ke Mama, Mama nangis. Papa udah bilang ke Tante Wien, Om Bambang.” Papa tertawa. “Kamu pulang Juni, ya? Kita siapin kos dekat rumah sakit. Atau kamu tinggal di rumah aja, biar Mama yang masakin.”

Aku menatap sawah di depanku. Masih basah setelah banjir dua hari lalu. Lumpur cokelat di pematang. Langit kelabu.

Di kejauhan, jendela kantor desa terbuka. Ada satu sosok di dalamnya, membungkuk di depan laptop.

“Pa,” kataku. “Aku telepon lagi nanti, ya.”

“Kenapa, Nak? Kamu nggak seneng?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya.


Satu puskesmas tahu dalam satu jam. Satu desa tahu dalam tiga.

Rani yang menyebarkannya. Bukan karena jahat. Karena dia bangga. Dia memeluk aku di ruang obat dan menangis sambil bilang Bu Dokter keren banget, spesialis anak, ya Allah. Lalu dia mengirim pesan ke grup PKK. Lalu grup PKK mengirimnya ke grup kampung. Lalu Mang Odon mengumumkannya di pangkalan ojek seperti pengumuman pernikahan.

Teh Euis tidak memelukku. Teh Euis hanya menatapku dari pintu ruang KIA dengan wajah yang bertanya lalu gimana?

Aku tidak tahu.

Siang itu, Lilis datang ke puskesmas setelah pulang sekolah. Tidak membawa resep. Tidak membawa pesan. Hanya berdiri di depan meja periksa dengan seragam SMA dan tas di punggung, matanya merah.

“Teh Dokter beneran mau pergi?” tanyanya.

“Belum tahu, Lis.”

“Aa udah tahu.” Lilis menggigit bibir. “Tadi Mang Odon bilang ke Aa di kantor desa. Aa cuma bilang alhamdulillah. Terus Aa ngetik lagi. Terus Kang Dadan bilang ke aku, Aa salah ketik nama warga Kampung Atas empat puluh kali.”

Aku diam.

“Teh,” kata Lilis, suaranya pecah. “Aa bego. Aku tahu Aa bego. Tapi jangan pergi gara-gara Aa bego.”

Dia berbalik dan lari keluar sebelum aku sempat menjawab.


Pukul dua, Mak datang.

Sendirian, dengan kebaya rumah dan kerudung yang dililit asal, menaiki tangga puskesmas pelan-pelan karena lututnya sakit. Di tangannya ada termos. Bukan termos biru. Termos hijau tua yang tutupnya sudah retak.

“Neng,” katanya, meletakkan termos itu di meja periksa. “Ieu jahe. Ti Mak.”

“Mak, aku...”

“Termos biru dibawa Bagas terus, Neng. Ka kantor, ka posko, ka kamar. Teu dileupaskeun.” Mak duduk di kursi pasien, menghela napas panjang. “Tadi peuting manéhna nangtung di hareupeun foto Bapakna. Tilu jam. Teu ngomong nanaon.”

Aku menatap termos hijau itu.

“Mak teu ngarti urusan dokter spesialis, Neng.” Mak menatapku dengan mata yang sudah keriput di sudutnya, tapi sangat jernih. “Mak ngan ngarti hiji hal. Bagas teh moal ménta Neng cicing. Moal. Sanajan haténa béak.”

Bagas nggak bakal minta Neng tinggal. Nggak akan. Walaupun hatinya habis.

Mak berdiri, menepuk punggung tanganku dua kali, lalu pergi.

Aku menuang jahe dari termos hijau ke tutupnya. Rasanya sama persis. Gula aren. Sereh.

Tapi bukan dia yang mengantar. Dan ternyata itu mengubah semuanya.

Pukul tiga sore, Teh Nining datang ke puskesmas membawa map koordinasi TPS. Sesuai keputusan BPD, semua komunikasi panitia dengan puskesmas sekarang harus lewat Teh Nining. Teh Nining tidak suka tugas ini. Wajahnya, yang biasanya galak, hari ini terlihat seperti guru yang terpaksa menghukum murid kesayangannya.

“Bu Dokter, ini jadwal petugas kesehatan TPS. Bu Dokter di TPS tiga, Kampung Atas, berangkat jam empat subuh.”

“Iya, Teh.”

Dia meletakkan map itu di meja. Lalu, setelah ragu sebentar, meletakkan satu benda lagi di sampingnya.

Agenda kulit cokelat.

Aku menatapnya.

“Ini ketinggalan di posko masjid waktu banjir,” kata Teh Nining pelan. “Kang Bagas nyari-nyari dari kemarin. Saya mau kasih ke dia, tapi...” Dia berhenti. “Saya nggak bisa ke kantor desa sekarang, ada rapat sekolah. Bu Dokter titip ke Rani, ya. Atau ke Lilis.”

Dia pergi.

Aku menatap agenda kulit cokelat di mejaku. Ujung-ujungnya sudah lecek. Kulitnya sedikit bergelombang karena basah terkena hujan banjir. Ada noda lumpur kering di sudutnya.

Aku tahu aku tidak boleh membukanya. Itu privasi. Itu bukan punyaku.

Aku membukanya.


Halaman pertama adalah jadwal tahapan Pilkades. Tulisan tangan rapi, miring ke kanan, dengan tanggal-tanggal yang dicoret satu per satu saat sudah lewat.

Halaman-halaman berikutnya adalah catatan rapat panitia, daftar TPS, nomor telepon tim sukses. Aku membaliknya cepat.

Lalu aku sampai di halaman kalender bulan ini.

Tanggal pencoblosan dilingkari tebal. Aku sudah pernah melihatnya. Tapi kali ini, di bawah lingkaran itu, ada tulisan kecil yang belum ada waktu itu.

Setelah ini: bilang ke dia. Pakai “aku”. Jangan latihan, nanti lupa semua.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu aku membalik ke halaman belakang.

Formulir domisili ketiga, terlipat dua. Lalu resep-resep. Semuanya. Aku menghitung. Dua puluh tujuh lembar. Ditumpuk rapi, ujungnya sejajar sempurna. Dan di belakang setiap resep, dengan pensil, ditulis tanggal dan jam aku memberikannya.

Resep senyum, 3 detik. Hari ke-11. Ditemukan 22.04.

Resep istirahat 15 menit. Hari ke-61. Dijalankan besok jam 15.05. Kang Dadan bingung.

Resep telur balado. Hari ke-40. Gosong. Habis.

R/ 4x. Diterima. Hari ke-83. Ditempel di jendela. Mang Odon foto. Aku minta fotonya ke Mang Odon. Bayar gorengan lima.

Di halaman paling belakang, setelah semua resep, ada satu halaman yang penuh dengan garis-garis kecil. Seperti hitungan napi di dinding penjara. Lima garis, dicoret satu. Lima garis, dicoret satu. Berbaris rapi, berhalaman-halaman.

Di atasnya, judul: Senter.

Dan di bawahnya, judul kedua: Termos.

Dia menghitung. Setiap kedipan senter yang kujawab. Setiap termos yang dia antar. Dari hari kedua sampai hari kesembilan puluh.

Aku menutup mulut dengan tangan.


Lalu aku menemukan halaman itu.

Halaman yang tidak sejajar dengan yang lain. Halaman yang tulisannya tidak serapi biasa. Ditulis dengan pulpen yang tekanannya terlalu keras, sampai kertasnya sedikit robek di beberapa huruf. Tanggalnya Minggu malam. Malam makan malam dengan Kak Reza di warung Bi Onah.

Dia pantas dapat yang lebih. Aku tahu itu dari awal. Sekarang aku lihat orangnya.

dr. Reza baik. Dia bisa bawa dia ke tempat besar. Aku cuma bisa bawa termos.

Di bawahnya, satu baris yang dicoret dengan garis tebal, tapi masih bisa dibaca:

PT Sinar Elektronika Bandung — Kepala QC — ditolak 2024. Kalau ditawarin lagi?

Lalu di bawahnya lagi, tulisan yang lebih baru. Tanggalnya Kamis malam. Malam setelah rapat BPD. Malam setelah dia berdiri di depan dua ratus orang dan bilang aku sama seperti warga lain.

Antrean puskesmas turun jadi 12. Ibu Kampung Bawah batal imunisasi. Pak Haji bilang Dinkes bisa evaluasi penugasannya.

Gara-gara aku.

Kalau aku diam, gosipnya berhenti. Kalau aku jauh, dia aman.

Dan di paling bawah, satu kalimat. Tanggalnya hari ini. Pagi ini. Setelah Mang Odon mengumumkan beritaku di pangkalan ojek.

Dia diterima. Jangan jadi alasan dia tinggal.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Rani mengetuk pintu dua kali, menanyakan pasien. Aku bilang tunggu. Teh Euis mengetuk sekali. Aku tidak menjawab. Matahari bergeser dari jendela ruang periksa ke dinding, ke lantai, lalu hilang.

Aku menangis tanpa suara. Air mataku jatuh ke halaman agenda dan aku harus menahannya dengan tisu supaya tulisan tangannya tidak luntur.

Dia tahu. Dia tahu segalanya. Dia menghitung setiap senter dan setiap termos. Dia menyimpan setiap resep dan mencatat jam berapa dia menemukannya. Dia menulis pakai “aku”, jangan latihan, nanti lupa semua.

Dan dia sudah memutuskan untuk melepaskan aku.

Tanpa bertanya.

Seperti dia memutuskan pulang dari Bekasi dan tidak pernah bilang kangen pabrik. Seperti dia menolak Bandung dan tidak pernah bilang ke Mak. Seperti dia berdiri di depan BPD dan menanggung semuanya sendirian.

Mak bilang dia tidak pernah minta apa-apa ke siapa pun.

Dia juga tidak pernah bertanya apa yang orang lain mau.

Dia memutuskan, sendirian, apa yang terbaik untuk semua orang. Lalu menanggungnya sendirian. Dan menyebutnya menjaga.

Aku menyeka mata dengan punggung tangan. Menatap kalimat terakhir itu sekali lagi.

Dia diterima. Jangan jadi alasan dia tinggal.

Lalu aku mengambil pulpen dari saku jas putihku.

Pulpen biasa. Tinta biru. Yang biasa kupakai untuk menulis resep palsu.

Dan di bawah kalimat itu, dengan tulisan bulatku yang miring sedikit ke kiri, dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar, aku menulis:

Pasien menolak dirujuk.

Keputusan terapi diambil bersama dokter. Bukan sendirian.

— dr. K.


Aku menutup agenda itu. Menyeka noda air mata di sampulnya. Menyerahkannya ke Rani.

“Ran, tolong kasih ke Kang Bagas. Bilang dari Teh Nining. Ketinggalan di posko.”

Rani menatap mataku yang merah. Menatap agenda di tanganku. Lalu mengangguk pelan, tanpa bertanya.

Aku berdiri di jendela ruang periksa dan melihat Rani menyeberang jalan. Melihat dia masuk ke kantor desa. Melihat dia menyerahkan agenda itu ke meja paling dekat jendela.

Laki-laki itu menerima agendanya. Membuka halaman depan. Mengecek jadwal tahapan. Mengangguk ke Rani.

Lalu dia membalik ke belakang.

Dia berhenti.

Aku melihat bahunya membeku. Melihat tangannya yang memegang agenda tidak bergerak. Melihat dia menunduk ke halaman itu lama sekali, sangat lama, sampai Kang Dadan menoleh dan bertanya sesuatu dan dia tidak menjawab.

Lalu dia mengangkat kepala. Menoleh ke jendela.

Ke arahku.

Kami saling menatap melintasi jalan desa yang masih basah.

Aku tidak berpaling.

Dia juga tidak.


Malam itu, pukul sembilan, aku berdiri di jendela ruang jaga.

Aku tidak punya senter. Senterku jatuh ke Sungai Cikadu.

Tapi aku punya ponsel dengan senter di belakangnya. Aku menyalakannya. Mengarahkannya ke jendela kantor desa yang lampunya masih menyala.

Klik-klik.

Dua kali.

Aku menunggu.

Lima detik. Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh.

Satu menit.

Lalu, dari jendela kantor desa, ada cahaya. Kecil, putih, ragu-ragu.

Sekali.

Siap.

Tapi dia tidak menyeberang jalan malam itu. Dan aku tidak tahu, siap untuk apa.


Rekam Medis Pribadi dr. Kinan

Hari ke-95 di Cibening.

Hasil: diterima PPDS Ilmu Kesehatan Anak, Gelombang II. Mulai Juli tahun depan, pas pengabdianku selesai. Aku nggak pernah daftar. Papa nangis senang. Mama nangis senang. Lilis nangis nggak senang.

Pasien: Bagas Pramudya. Agenda kulit cokelatnya aku baca. Semuanya. Aku tahu itu salah.

Isinya: dua puluh tujuh resep, tiap belakangnya ada tanggal dan jam. Formulir domisili. Hitungan senter dan termos dari hari kedua. “Setelah ini: bilang ke dia. Pakai aku. Jangan latihan, nanti lupa semua.”

Dan: “Dia diterima. Jangan jadi alasan dia tinggal.”

Diagnosis: pasien mengambil keputusan terapi sendirian. Untuk pasien lain. Tanpa informed consent. Ini malpraktik.

Tindakan: aku tulis di agendanya. “Pasien menolak dirujuk. Keputusan terapi diambil bersama dokter. Bukan sendirian.”

Catatan dokter: senter aku hilang di sungai. Malam ini aku pakai senter HP. Dia jawab. Satu menit kemudian. Sekali.

Tapi dia nggak dateng.

Mas, kamu siap untuk apa?