Chapter Seventeen
Ruang Genset
POV: Bagas
Mobil itu datang hari Jumat pukul sepuluh pagi. SUV putih bersih, pelat B, dengan stiker logo rumah sakit pendidikan di kaca belakang. Mobil pertama dalam sejarah Cibening yang berhasil melewati tanjakan Cikadu tanpa mogok.
Laki-laki yang turun dari mobil itu tinggi, berkulit terang, dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung rapi sampai siku, celana chino krem, dan sepatu kulit cokelat yang ujungnya mengilap. Rambutnya disisir ke samping dengan cara yang terlihat santai tapi jelas butuh waktu. Kacamata berbingkai tipis. Jam tangan yang terlihat mahal tanpa terlihat pamer.
Dia membuka pintu belakang, mengeluarkan dua kardus berisi alat ukur antropometri baru, dan menatap puskesmas dengan senyum ramah.
Lalu pintu puskesmas terbuka, dan Bu Dokter berdiri di ambang pintu.
“Kak Reza?”
“Nan!”
Dia berlari kecil menuruni tangga. Laki-laki itu meletakkan kardus dan merentangkan tangan. Mereka berpelukan. Singkat. Hangat. Seperti dua orang yang sudah lama saling kenal.
Aku berdiri di jendela kantor desa dengan gelas teh di tangan.
Teh itu sudah dingin sejak sepuluh menit lalu. Aku baru sadar sekarang.
Namanya dr. Reza Mahendra. Tiga puluh satu tahun. Residen tahun ketiga Spesialis Anak di rumah sakit pendidikan di Jakarta. Senior Bu Dokter di FK, dua angkatan di atasnya. Datang ke Cibening selama empat hari untuk program skrining stunting kabupaten, membawa alat ukur baru dan, kata Mang Odon yang entah bagaimana sudah tahu dalam satu jam, surat rekomendasi PPDS buat Bu Dokter.
“Info gratis, Mas,” kata Mang Odon di depan mejaku, dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Tidak puas. Tidak bersemangat. Hanya prihatin. “Yang ini saya nggak tega minta gorengan.”
Aku mengangguk. Mengetik DPT.
Mang Odon berdiri di sana sebentar lagi, lalu menepuk bahuku dua kali dan pergi.
dr. Reza ternyata orang yang sangat baik.
Itu yang membuatnya sulit.
Dia menyalamiku di balai desa Jumat siang, saat Pak Haji mengadakan penyambutan kecil. Genggamannya kuat dan hangat. Dia menatap mataku saat bicara. Dia memanggilku dengan sebutan Mas yang sopan dan bertanya tentang sistem sound di balai dengan rasa ingin tahu yang tulus.
“Nan cerita, Mas yang benerin genset puskesmas waktu ada pasien sesak,” katanya. “Tujuh menit. Itu luar biasa. Di IGD tempat saya, teknisi butuh setengah jam buat genset cadangan.”
“Itu cuma busi kotor, Dok.”
“Tetap luar biasa.” Dia tersenyum. Lalu menoleh ke Bu Dokter yang berdiri di sebelahnya. “Nan beruntung ada Mas di sini.”
Nan.
Selama delapan puluh lima hari, satu desa memanggilnya Bu Dokter. Dr. Kinan. Neng Dokter. Teh Dokter. Bidadari Puskesmas. Dua minggu terakhir, aku memanggilnya Kinan, dan itu terasa seperti kata yang terlalu besar untuk mulutku.
Dia memanggilnya Nan. Dengan mudah. Seperti orang yang sudah memanggilnya begitu selama bertahun-tahun.
Bu Dokter melirikku. Sesuatu di wajahnya ragu. Lalu dia tersenyum padaku, kecil, dan menyentuh tali stetoskop kulit di lehernya dengan ujung jari.
Aku mengangguk ke arah dr. Reza. “Sama-sama, Dok.”
Selama empat hari, mereka bekerja bersama.
Aku melihatnya dari jendela kantor desa, karena jendelaku menghadap puskesmas, dan karena aku tidak bisa berhenti melihat.
Jumat sore, mereka mengukur tinggi badan balita di posyandu Kampung Tengah. dr. Reza berlutut di depan anak-anak, membuat mereka tertawa dengan suara-suara binatang, mengukur dengan cepat dan tepat. Bu Dokter mencatat di sebelahnya. Sesekali mereka tertawa bersama tentang sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Sabtu pagi, mereka berjalan ke Kampung Atas bersama Teh Euis. dr. Reza memakai sepatu bot karet yang dibelinya di pasar kecamatan. Ukurannya pas.
Sabtu malam, aku mengantar termos biru seperti biasa. Bu Dokter membukakan pintu. Dari dalam ruang jaga terdengar suara dr. Reza menelepon.
“Kak Reza nginep di rumah Pak Haji,” kata Bu Dokter cepat, sebelum aku sempat bertanya. “Tadi cuma numpang Wi-Fi puskesmas buat laporan.”
“Aku tidak bertanya, Kinan.”
“Iya. Tapi muka Mas nanya.”
Aku menyerahkan termos. Dia mengambilnya. Jari kami bersentuhan. Dia tidak menarik tangannya.
“Mas,” katanya pelan. “Besok malam, Kak Reza mau ngajak makan malam semua tim puskesmas. Di warung Bi Onah. Mas ikut, ya?”
“Aku bukan tim puskesmas.”
“Mas tim aku.”
Aku tidak menjawab. Dari dalam ruang jaga, dr. Reza tertawa di telepon.
Minggu malam, makan malam di warung Bi Onah.
Meja kayu panjang. Nasi liwet, ayam goreng, sambal terasi, lalap, ikan mas goreng. dr. Reza di ujung meja, Bu Dokter di sebelahnya, Teh Euis, Rani, dan aku di seberang, karena Teh Euis menarikku duduk di sana sebelum aku sempat menolak.
dr. Reza bercerita tentang rumah sakit di Jakarta. Tentang kasus-kasus langka. Tentang profesor yang terkenal galak. Tentang konferensi di Singapura bulan lalu. Dia bercerita dengan lucu dan rendah hati. Teh Euis dan Rani tertawa. Bu Dokter tertawa.
Aku makan nasi liwet dengan sangat pelan.
Lalu dr. Reza menoleh ke Bu Dokter.
“Nan,” katanya, lebih serius. “Prof Hartono nanya kamu terus. Katanya, anak itu yang presentasi kasus Kawasaki waktu koas, kenapa ke desa?“ Dia tersenyum. “Aku bawain suratnya. Rekomendasi PPDS Anak. Gelombang depan. Prof Hartono sendiri yang tanda tangan.”
Meja menjadi sunyi.
Bu Dokter menatap piringnya. “Kak, kita bahas nanti aja.”
“Nan, ini kesempatan langka. Prof Hartono nggak pernah ngasih rekomendasi ke orang yang belum daftar.” dr. Reza menatapnya dengan sungguh-sungguh. Tidak memaksa. Hanya peduli. “Kamu salah satu yang terbaik di angkatan kamu. Sayang kalau terlalu lama di sini.”
Di sini.
Aku meletakkan sendok.
Dr. Reza menoleh padaku, seolah baru sadar aku ada di sana. “Mas Bagas pasti setuju, kan? Desa beruntung punya Nan setahun. Tapi Nan harus balik. Dia bisa nyelamatin lebih banyak anak di rumah sakit besar.”
Semua orang menatapku.
Teh Euis menatapku dengan mata yang mengatakan jangan. Rani menatapku dengan cilok setengah jalan ke mulut. Bu Dokter menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat pucat.
Aku menatap dr. Reza. Laki-laki baik dengan kemeja biru muda, sepatu kulit mengilap, surat rekomendasi dari profesor di Jakarta, dan masa depan yang cerah seperti lampu sorot.
Dan dia benar. Itu yang paling menyakitkan. Dia benar.
“Iya, Dok,” kataku. “Bu Dokter pantas di tempat yang lebih besar.”
Di seberang meja, Bu Dokter menatapku. Matanya membulat. Lalu, perlahan, sesuatu di wajahnya runtuh.
Aku berdiri. “Mohon maaf. Saya harus cek genset balai. Besok ada rapat panitia.”
Aku keluar dari warung Bi Onah sebelum ada yang sempat bicara.
Aku tidak ke balai.
Aku berjalan ke pos ronda, duduk di bangku kayu di bawah jadwal ronda tulisan tangan Bapak, dan menatap jalan desa yang gelap.
Bu Dokter pantas di tempat yang lebih besar.
Itu kalimatku sendiri. Aku sudah mengatakannya di bawah pohon jamblang. Bu Dokter pantas dapat yang lebih. Dan dia sudah membantahnya. Lebih menurut siapa, Mas?
Malam ini, aku melihat jawabannya duduk di ujung meja di warung Bi Onah, dengan kacamata berbingkai tipis dan surat dari Prof Hartono.
Dia pantas mendapat dr. Reza. Atau seseorang seperti dr. Reza. Seseorang yang memanggilnya Nan dengan mudah. Yang memakai sepatu bot karet dengan ukuran yang pas.
Bukan seseorang yang gajinya tidak sampai tiga juta dan tidak akan pernah meninggalkan Cibening.
Pukul sepuluh lewat lima belas, ponselku bergetar.
Rani Puskesmas: Kang
Rani Puskesmas: Genset ngadat
Rani Puskesmas: Kata Bu Dokter
Rani Puskesmas: Kang, kali ini kayaknya beneran, Bu Dokter mukanya kayak mau nangis
Ruang genset gelap. Bohlam kecil di dinding bata menyala. Genset berdengung normal.
Dia berdiri di tengah ruangan dengan sweter rajut krem dan mata merah. Tidak duduk di kotak perkakas. Tidak memegang termos. Hanya berdiri, tangan terkepal di sisi tubuh.
Aku menutup pintu seng di belakangku.
“Mas,” katanya. Suaranya pelan. Bergetar. “Kenapa Mas bilang gitu?”
“Karena dia benar, Kinan.”
“Dia nggak benar!” Suaranya naik sedikit, lalu turun lagi, pecah di tengah. “Kak Reza baik. Aku tahu dia baik. Dia senior aku, dia ngajarin aku jahit luka waktu koas. Tapi dia nggak tahu apa-apa tentang aku yang sekarang. Dia nggak tahu aku bikin nasi jadi arang. Dia nggak tahu aku takut ayam. Dia nggak tahu aku nyanyi Pupuh Kinanti nadanya fals.”
Aku diam.
“Dan Mas,” lanjutnya, air mata jatuh sekarang, “Mas duduk di seberang meja, makan nasi liwet pelan-pelan kayak orang lagi dihukum, terus bilang aku pantas di tempat yang lebih besar. Di depan dia. Di depan Teh Euis.”
“Kinan...”
“Mas cemburu?”
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik. Basah. Marah. Dan menunggu.
Aku tidak bisa berbohong. Seumur hidupku, aku tidak pernah bisa berbohong dengan wajah yang benar.
“Iya,” kataku.
Kata itu keluar seperti kabel yang akhirnya dicabut dari colokan yang salah.
“Aku cemburu,” kataku lagi, lebih pelan. “Aku nggak suka perasaan ini. Aku nggak pernah ngerasain ini sebelumnya. Aku lihat dia manggil kamu Nan, gampang banget, kayak udah ribuan kali. Aku lihat dia pakai sepatu bot yang ukurannya pas. Aku lihat dia bawa surat dari profesor di Jakarta.” Aku menatap tanganku sendiri. “Dan aku sadar, aku nggak punya apa pun yang bisa dibandingin sama itu.”
Dia tidak bergerak.
“Aku cuma punya termos,” kataku. “Sama senter.”
Hening di ruang genset. Hanya dengung mesin.
Lalu dia melangkah maju. Satu langkah. Dua. Sampai dia berdiri tepat di depanku, dekat sekali, cukup dekat sehingga aku bisa melihat air mata yang tertahan di bulu matanya.
“Mas,” bisiknya. “Termos itu punya almarhum Bapak Mas. Mas nggak pernah pinjemin ke siapa-siapa. Sampai aku.”
Aku menatapnya.
“Senter itu,” lanjutnya, “satu-satunya cara aku manggil orang di desa ini tanpa sinyal. Dan tiap kali aku manggil, Mas jawab. Tiap kali. Nggak pernah sekali pun nggak jawab.”
Tangannya terangkat. Menyentuh pipiku. Dingin di ujung jari, hangat di telapak.
“Kak Reza manggil aku Nan karena dia kenal aku dari dulu,” bisiknya. “Mas manggil aku Kinan kayak lagi megang barang pecah belah. Aku lebih suka yang kedua.”
Aku tidak bisa bicara.
Dia menunggu. Aku tahu dia menunggu. Selama ini, selalu dia yang memulai. Pipi di gudang sound. Ciuman di bianglala. Tangan di bawah taplak. Bahkan Kinan, aku mengucapkannya karena dia minta.
Aku selalu membalas. Tapi tidak pernah memulai.
Aku mengangkat tangan. Kali ini tidak ragu di udara. Jari-jariku menyentuh pipinya yang basah, lalu meluncur ke belakang telinganya, ke rambut yang lembut, ke tengkuknya yang hangat.
Dia membuka mata lebar. Terkejut.
Aku menariknya pelan ke arahku, dan menciumnya.
Bukan seperti di bianglala.
Di bianglala, dia yang mulai, ringan, dingin, rasa arum manis, dan aku hanya membalas.
Kali ini aku yang mulai. Pelan dulu, seperti mengetuk pintu. Lalu lebih dalam. Lebih lama. Lebih jujur dari semua kalimat yang pernah kuucapkan kepadanya.
Dia membeku sepersekian detik. Lalu tubuhnya melunak, seperti seseorang yang tiba-tiba sadar dia sudah lama berdiri di luar dalam hujan dan akhirnya diizinkan masuk. Tangannya naik, mencengkeram kerah jaketku, menarikku lebih dekat. Lalu menyelinap ke rambut di belakang kepalaku.
Dengung genset menjauh. Dinding bata menghilang. Yang tersisa hanya hangat, napas yang terputus-putus, dan detak jantung yang tidak tahu lagi milik siapa.
Dia mengeluarkan suara kecil di antara ciuman kami. Setengah isak, setengah nama. Mas. Dan itu membuatku menariknya lebih dekat lagi.
Kami berpisah hanya ketika paru-paru memaksa.
Dahinya menempel di dahiku. Napas kami sama-sama terengah. Matanya masih terpejam. Air mata di pipinya sudah berhenti.
“Mas,” bisiknya, gemetar.
“Iya.”
“Itu Mas yang mulai.”
“Iya.”
“Mas nggak pernah mulai.”
“Aku tahu.”
Dia membuka mata perlahan. Menatapku dari jarak sedekat napas. Lalu, pelan sekali, senyumnya muncul. Bukan senyum menggoda. Bukan lesung pipi yang nakal. Senyum yang tidak bisa dia kendalikan, yang tumpah begitu saja dari dalam.
“Kak Reza nggak bakal bisa ngelakuin itu,” bisiknya.
“Kamu nggak tahu.”
“Aku tahu.” Dia menjatuhkan dahinya ke bahuku dan memelukku. Erat. “Soalnya aku nggak bakal biarin.”
Aku memeluknya balik. Menempelkan pipiku di puncak kepalanya. Memejamkan mata.
Di ruang genset yang sempit, di belakang puskesmas, dengan genset yang berdengung sangat normal, aku merasa kalah dari dr. Reza dalam semua hal.
Kecuali satu.
Senin pagi, pukul tujuh, satu desa mendengar Kaur Umum mengetes mik pengeras suara balai.
“Tes. Tes. Tes. Tes. Tes.”
Lima kali.
Di depan puskesmas, dr. Reza sedang memasukkan kardus alat ukur ke SUV putihnya. Dia mendongak ke arah pengeras suara di atap balai, alisnya berkerut bingung. Lalu menoleh ke Bu Dokter, yang berdiri di tangga puskesmas dengan tali stetoskop kulit di leher dan wajah merah sampai ke telinga.
“Nan,” katanya. “Itu tes mik kenapa lima kali?”
“Mik-nya rusak, Kak,” kata Bu Dokter.
dr. Reza menatapnya lama. Lalu menatap jendela kantor desa, tempat aku berdiri dengan gelas teh yang masih hangat.
Dia tersenyum. Pelan. Sedikit sedih, mungkin. Lalu mengangkat tangan ke arahku, sopan, seperti salam perpisahan.
Aku mengangkat tangan balik.
Dia masuk ke mobil, dan pergi melewati tanjakan Cikadu tanpa mogok.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-88 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: cemburu. Akut. Pertama kali seumur hidup. Pasien bilang sendiri.
Pemicu: dr. Reza Mahendra, senior FK, residen anak, baik banget. Manggil aku “Nan”. Bawa surat rekomendasi PPDS dari Prof Hartono. Pakai sepatu bot ukuran pas.
Gejala: makan nasi liwet pelan-pelan kayak lagi dihukum. Bilang “Bu Dokter pantas di tempat yang lebih besar” di depan semua orang. Keluar ke pos ronda. Nggak ngecek genset balai, padahal bilang mau ngecek.
Tindakan darurat: genset ngadat. Ruang genset. Aku nangis, dia bilang cemburu, dia bilang cuma punya termos sama senter.
Lalu dia yang mulai.
Diagnosis: ciuman kedua. Dalam. Lama. Dia yang mulai. Tangannya nggak ragu di udara. Langsung ke tengkuk. Aku nggak tahu laki-laki yang ngomong “sesuai prosedur” bisa nyium kayak gitu. Lututku masih lemes.
Catatan dokter: pagi ini tes lima kali. Kak Reza nanya kenapa. Aku bilang mik-nya rusak. Kak Reza senyum, terus ngelambai ke jendela kantor desa. Dia tahu.
Suratnya Prof Hartono masih di laci meja jaga. Belum aku buka. Belum mau.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset reading
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup