Chapter Four
Pemilih Boleh Naksir Panitia?
POV: Bagas
Rapat pertama Panitia Pemilihan Kepala Desa Cibening dimulai pukul delapan malam di balai desa, dengan lima anggota, dua termos kopi, dan satu piring bala-bala yang habis sebelum agenda pertama dibacakan.
“Agenda pertama,” kataku, membuka map. “Jadwal tahapan. Pendaftaran calon minggu depan, penetapan daftar pemilih sementara dua minggu setelahnya, masa kampanye enam minggu, masa tenang tiga hari, pencoblosan...”
“Gas,” potong Teh Nining, bendahara panitia, guru SD yang terkenal galak dan tidak pernah tersenyum di foto. “Itu nanti aja. Yang penting dulu: kamu beneran dipanggil namanya sama Bu Dokter pakai mik?”
Kang Dadan, sekretaris panitia, yang sudah setengah tertidur di kursinya, tiba-tiba membuka mata lebar-lebar.
Ajengan Uci, sesepuh kampung yang menjadi anggota panitia karena tidak ada orang lain yang bisa menolak Pak Haji, mengangguk pelan sambil mengelus jenggot. “Saya juga mau tahu, Gas.”
Aku menatap map di tanganku. “Itu kecelakaan teknis, Teh.”
“Kecelakaan teknis kok kupingnya merah,” gumam Teh Nining.
“Agenda pertama,” ulangku. “Jadwal tahapan.”
Pendaftaran calon dibuka hari Senin. Seperti yang semua orang sudah tahu sejak tiga bulan lalu, hanya dua orang yang mendaftar.
Pak Haji Darsa datang dengan rombongan enam puluh orang berbaju koko putih, diiringi rebana dan Rizky yang membawa tongsis. Juragan Ujang datang lima belas menit kemudian dengan mobil bak terbuka, sound system dangdut yang jelas bukan milik Gelar Sound, dan Si Jagur yang sekarang memakai kaos kampanye ukuran XXL bertuliskan UJANG UNTUK CIBENING MAJU.
Aku menerima berkas mereka di meja panitia, memeriksa kelengkapannya satu per satu, dan menandatangani tanda terima. Tidak ada yang kuperlakukan berbeda. Tidak ada yang kusenyumi lebih lama.
“Kamu kaku banget, Gas,” bisik Kang Dadan.
“Saya netral, Kang.”
“Netral mah netral. Tapi kamu kayak kulkas.”
Masalahnya baru dimulai dua hari kemudian, ketika kedua tim sukses menyadari satu hal yang sama: suara terbanyak di Cibening adalah suara ibu-ibu. Dan ibu-ibu Cibening, sejak satu minggu terakhir, punya satu idola baru.
Rabu pagi, tim Pak Haji memasang spanduk di pagar puskesmas: Pengajian Akbar dan Penyuluhan Kesehatan Bersama Bu Dokter Kinanti — Didukung Oleh Keluarga Besar H. Darsa.
Rabu siang, tim Juragan Ujang membalas dengan mengecat ulang ambulans desa. Di pintu sampingnya, di samping logo puskesmas, sekarang ada wajah Juragan Ujang yang tersenyum dengan kacamata hitam, berdampingan dengan siluet perempuan berjas putih yang jelas dimaksudkan sebagai Bu Dokter.
Rabu sore, Mang Odon terlihat memakai kaos kampanye Pak Haji di dalam dan kaos kampanye Juragan Ujang di luar.
“Biar adil, Mas,” katanya padaku.
Rabu malam, aku menulis surat edaran.
SURAT EDARAN PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA CIBENING
Nomor: 01/Panitia-Pilkades/2026
Perihal: Netralitas Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Publik
Sehubungan dengan tahapan kampanye, panitia mengingatkan seluruh calon dan tim sukses bahwa tenaga kesehatan Puskesmas Cibening beserta fasilitasnya, termasuk ambulans desa, tidak boleh digunakan, ditampilkan, maupun dilibatkan dalam kegiatan kampanye dalam bentuk apa pun.
Spanduk dan atribut yang sudah terpasang mohon dilepas paling lambat 1x24 jam.
Pak Haji membacanya di mejanya Kamis pagi, menghela napas panjang, lalu menandatangani tanda terima.
“Kamu tega sama saya, Gas.”
“Ini aturan, Pak. Berlaku untuk dua calon.”
“Iya, iya.” Dia menatapku dengan mata sayu. “Rizky pasti ngambek.”
Juragan Ujang membacanya di atas mobil bak terbukanya, tertawa keras, lalu berkata, “Siap, Ketua! Ambulansnya kami cat ulang! Wajah saya aja, Bu Dokternya dihapus!”
“Wajah Bapak juga, Pak,” kataku.
“Wajah saya juga?”
“Ambulans desa fasilitas publik, Pak.”
Juragan Ujang berhenti tertawa.
Surat edaran ketiga, aku mengantarnya sendiri ke puskesmas.
Bu Dokter sedang di ruang obat, berdiri di depan lemari kaca dengan clipboard, menghitung stok. Hari itu dia memakai jas putih di atas blus biru muda, rambut dikuncir rendah dengan beberapa helai yang lolos di pelipis, dan kacamata baca berbingkai tipis yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dengan kacamata itu, dia terlihat seperti dokter di brosur rumah sakit swasta. Yang mahal.
“Mas Bagas.” Dia menurunkan clipboard, dan senyumnya muncul sebelum aku sempat bicara. “Ada apa? Mas sakit?”
“Tidak, Bu Dokter.”
“Sayang.”
“Saya mengantar surat edaran panitia.” Aku menyodorkan map. “Soal netralitas tenaga kesehatan.”
Dia mengambil map itu, membuka, dan membaca. Pelan. Bibirnya bergerak sedikit saat membaca, kebiasaan yang ternyata dia punya. Lalu dia mengangkat kepala.
“Jadi saya nggak boleh dipakai kampanye?”
“Tidak boleh, Bu Dokter. Spanduk Pak Haji akan dilepas sore ini. Gambar di ambulans juga akan dicat ulang.”
“Itu Mas yang nulis?”
“Iya, Bu Dokter.”
Dia menatap surat itu lagi. Lalu menatapku. Sudut bibirnya naik perlahan.
“Mas ngelindungin saya, ya?”
“Saya menegakkan aturan, Bu Dokter.”
“Hm.” Dia menutup map, menyelipkannya di bawah clipboard, lalu bersandar ke lemari obat dengan tangan bersilang. “Mas Bagas. Saya mau tanya, sebagai warga yang taat aturan.”
“Silakan, Bu Dokter.”
“Tenaga kesehatan nggak boleh ikut kampanye. Oke. Saya paham.” Dia memiringkan kepala. Kacamatanya sedikit melorot, dan dia tidak membetulkannya. “Kalau pemilih naksir panitia, boleh nggak? Ada di peraturan?”
Aku menatapnya.
Dia menatap balik. Serius. Sangat serius. Kecuali lesung pipinya, yang muncul sedikit dan mengkhianati semuanya.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena pertanyaan itu diajukan dengan nada formal. Mungkin karena seumur hidupku, setiap kali bingung, aku mencari jawabannya di dokumen.
Aku membuka tas selempang, mengeluarkan buklet fotokopi Peraturan Bupati tentang Tata Cara Pemilihan Kepala Desa yang selalu kubawa, dan mulai membalik halaman.
Bab satu. Ketentuan umum. Bab dua. Panitia pemilihan. Bab tiga. Hak pilih. Bab empat. Kampanye.
Di depanku, Bu Dokter menutup mulut dengan clipboard. Bahunya mulai bergetar.
Aku membaca daftar isi dua kali. Lalu menutup buklet itu.
“Tidak diatur, Bu Dokter,” kataku.
Dia menurunkan clipboard pelan-pelan. Matanya berbinar di balik kacamata.
“Berarti boleh,” katanya.
Aku tidak bisa menjawab. Aku bisa merasakan panas naik dari leher ke kuping, cepat dan tanpa ampun, seperti air mendidih di termos yang tutupnya terlalu rapat.
Dia tertawa. Pelan dulu, lalu lepas, membungkuk sedikit sambil memegang lemari obat.
“Mas buka Perbup,” katanya di sela tawa. “Mas beneran buka Perbup. Ya Allah.”
“Saya... perlu memastikan.”
“Iya, iya. Sesuai prosedur.” Dia menyeka sudut matanya dengan ujung jari, lalu menegakkan tubuh dan menatapku dengan senyum yang membuat ruang obat terasa terlalu sempit. “Makasih udah mastiin, Mas. Sekarang saya tenang.”
Aku memasukkan buklet itu kembali ke tas, terlalu cepat, sampai ujung kertasnya tertekuk.
“Saya permisi, Bu Dokter.”
“Eh, tunggu.” Dia mengulurkan tangan. “Agenda Mas jatuh.”
Aku menunduk. Agenda kulit cokelat itu memang terjatuh dari tas saat aku mengeluarkan buklet tadi. Dia memungutnya lebih dulu, menyerahkannya padaku dengan dua tangan, dan aku memasukkannya ke tas tanpa melihat.
Itu kesalahanku.
Di lorong puskesmas, Teh Euis bersandar di pintu ruang KIA dengan tangan bersilang, jelas sudah berdiri di sana sejak tadi.
“Kang Bagas,” katanya manis. “Perbup-nya bab berapa yang ngatur soal naksir?”
“Tidak diatur, Teh.”
“Oh.” Teh Euis tersenyum lebar. “Berarti boleh, nya?”
Aku berjalan keluar puskesmas lebih cepat dari yang seharusnya dilakukan seorang ketua panitia.
Sore itu, aku melepas spanduk Pak Haji dari pagar puskesmas bersama Kang Dadan. Rizky menonton dari seberang jalan dengan tangan bersilang dan wajah seperti anak kecil yang mainannya disita.
“Kang Bagas,” katanya saat aku menggulung spanduk. “Akang tahu nggak, Bu Dokter itu cocoknya sama siapa?”
Aku tidak menjawab.
“Sama yang selevel.” Rizky menyisir rambutnya dengan jari. “Lulusan kampus bagus. Punya usaha. Bisa ngajak ke Bandung tiap minggu. Bukan sama...” Dia melirik spanduk di tanganku, lalu kabel di bahuku. “Pokoknya bukan sama yang cuma bisa ngurus kabel.”
Kang Dadan berhenti menggulung.
Aku menyerahkan spanduk itu ke Rizky dengan dua tangan. “Spanduknya, Riz. Bisa dipakai lagi kalau sudah masuk masa kampanye. Di luar fasilitas publik.”
Rizky menerimanya dengan wajah bingung, seperti tidak tahu apakah dia baru saja dimarahi atau dibantu.
Di jalan pulang, Kang Dadan menepuk bahuku. “Kamu nggak marah, Gas?”
“Kenapa harus marah, Kang?”
“Dia bilang kamu cuma bisa ngurus kabel.”
“Saya memang cuma bisa ngurus kabel.”
Kang Dadan menatapku lama, lalu menghela napas. “Kamu tuh, Gas. Kalau jadi kulkas, kulkasnya yang suka ngasih es batu ke tetangga gratis.”
Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi aku mengangguk.
Pukul sembilan malam, aku mengantar termos biru. Dia sudah menunggu di jendela, seperti biasa, dengan sweter rajut krem dan rambut tergerai yang masih sedikit basah. Di bawah lampu teras, pipinya merah muda karena dingin.
Dia mengambil termos, tapi tidak langsung masuk.
“Tadi sore Rizky ngomong apa ke Mas?”
“Tidak ada apa-apa, Bu Dokter.”
“Aku lihat dari jendela ruang periksa, Mas. Mukanya sombong, tangannya nunjuk kabel di bahu Mas.” Dia memeluk termos itu. “Dia bilang Mas cuma bisa ngurus kabel, ya?”
Aku diam. Diamku menjawab.
Dia menatapku lama. Lalu berkata pelan, “Sabtu malam kemarin, ada anak empat tahun yang bisa napas lagi gara-gara orang yang cuma bisa ngurus kabel.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku hanya berdiri di sana, di tangga puskesmas, dengan tangan kosong yang tiba-tiba tidak tahu harus diletakkan di mana.
“Mas udah buka agenda?” tanyanya kemudian, suaranya berubah ringan lagi.
“Belum, Bu Dokter. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Dia tersenyum terlalu puas, lalu menutup pintu sebelum aku sempat bertanya lagi.
Aku baru membukanya pukul sepuluh, di meja kayu di kamar, saat mau mencatat jadwal rapat panitia minggu depan.
Di antara halaman jadwal tahapan dan daftar nomor telepon tim sukses, terselip selembar kertas kecil berkop Puskesmas Cibening. Kertas resep. Dengan tulisan tangan bulat yang miring sedikit ke kiri, berbeda sekali dengan tulisan dokter di kartu status yang biasanya tidak bisa dibaca siapa pun.
Pro: Tn. Bagas Pramudya, Kaur Umum
R/ Senyum, sekali sehari, pagi hari, sebelum mengetik DPT.
Dosis: minimal 3 detik.
Iter: seumur hidup.
— dr. Kinanti L.
Aku membaca resep itu sekali. Dua kali.
Lalu aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk lebih tegak di kursi kayu.
Aku membalik agenda ke halaman belakang. Formulir domisili ketiga, dengan tulisan biar bisa ngobrol sama Kaur Umum di kolom keperluan, masih terlipat dua di halaman belakang. Resep ini diselipkan di halaman yang berbeda. Tepat di halaman jadwal hari ini.
Dia tahu di mana aku menyimpan formulir itu. Dan dia memilih tidak menyentuhnya.
Dia hanya menambahkan satu lagi.
Aku menatap resep itu lama. Lalu, dengan hati-hati, seperti menyimpan sekring cadangan, aku melipatnya dua kali dan menyelipkannya di belakang formulir domisili.
Dua kertas. Satu halaman.
Di luar jendela kamar, jauh di kegelapan, lampu jaga puskesmas masih menyala.
Besok paginya, pukul tujuh empat puluh, aku menyalakan laptop kantor dan membuka file DPT.
Sebelum mulai mengetik, aku menatap layar sebentar. Lalu, tanpa ada yang melihat, aku mencoba tersenyum.
Satu. Dua. Tiga.
“Kang Bagas kenapa senyum-senyum ke laptop?” tanya Kang Dadan dari pintu.
“Tes resolusi, Kang.”
Di seberang jalan, di jendela ruang periksa, ada seseorang yang sedang menunduk sangat dalam ke clipboard-nya. Bahunya bergetar.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-11 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: ditanya boleh naksir panitia atau nggak, langsung buka Peraturan Bupati. Dibaca daftar isinya. Dua kali.
Diagnosis: kepatuhan prosedural tingkat lanjut. Tidak berbahaya. Lucu sekali.
Terapi: resep senyum, diselipkan di agenda kulit cokelat. Halaman jadwal hari ini. Formulir domisili yang ada tulisanku masih di halaman belakang. Aku nggak sentuh. Itu punya dia sekarang.
Catatan dokter: dia bikin surat edaran supaya aku nggak dipakai kampanye. Katanya “menegakkan aturan”. Dia nggak tahu, itu pertama kalinya ada laki-laki yang ngelindungin aku tanpa minta foto bareng.
Pagi ini dia senyum ke laptop tiga detik. Aku hitung dari jendela. Pas.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia? reading
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup