Chapter Twenty Two
Hari Pencoblosan
POV: Bagas
Pukul tiga lewat empat puluh subuh, aku berdiri di depan puskesmas dengan motor bebek, dua kotak suara kosong yang diikat di jok belakang, dan senter di tangan.
Petugas kesehatan untuk TPS tiga di Kampung Atas harus berangkat sebelum subuh, karena jalan setapak kebun teh masih rusak setelah banjir dan motor hanya bisa sampai setengah jalan. Teh Nining yang menjadwalkannya. Sesuai keputusan BPD, aku tidak boleh berinteraksi pribadi dengan Bu Dokter.
Tapi aku ketua panitia. Dan mengantar logistik ke TPS tiga adalah tugas ketua panitia.
Pintu puskesmas terbuka pukul tiga lewat empat puluh lima.
Dia keluar dengan jaket tebal, kerudung krem, tas medis di bahu, dan senter baru di tangan. Senter kecil berwarna merah, yang jelas dibeli di warung Bi Onah karena satu-satunya merek yang dijual di sana. Tali stetoskop kulit cokelat muda melingkar di lehernya, di atas jaket.
Dia berhenti di tangga saat melihatku.
Kami saling menatap di bawah lampu teras.
“TPS tiga,” kataku. “Aku antar sampai setengah jalan. Logistik.”
Aku.
Dia mendengarnya. Aku melihat matanya bergerak sedikit. Tapi wajahnya tidak berubah.
“Oke,” katanya pelan. “Logistik.”
Dia naik ke jok belakang, di antara aku dan kotak suara. Tidak memegang pinggangku. Tidak memegang ujung jaketku. Tangannya berpegangan pada besi di belakang jok.
Kami berangkat dalam gelap, tanpa bicara.
Di ujung jalan yang bisa dilalui motor, di depan rumah ayam jago, aku berhenti dan menurunkan kotak suara. Dua pemuda karang taruna sudah menunggu dengan senter untuk membawanya ke atas.
Dia turun dari motor. Membetulkan tas medis. Menyalakan senter merahnya.
Lalu, sebelum berjalan, dia berkata tanpa menoleh, “Mas. Sesuai prosedur, aku nunggu sampai Mas bukan panitia lagi.”
“Aku tahu.”
“Jam berapa?”
Aku menatap punggungnya. “Setelah berita acara penghitungan ditandatangani. Mungkin jam sebelas malam. Mungkin lebih.”
Dia mengangguk sekali. Lalu berjalan menanjak ke kebun teh, cahaya senter merahnya bergoyang naik turun di antara pohon-pohon, makin kecil, makin jauh.
Aku berdiri di samping motor sampai cahaya itu menghilang di balik bukit.
Hari pencoblosan berjalan sempurna.
Itu bukan kesombongan. Itu laporan.
Tujuh TPS dibuka tepat pukul tujuh. Tidak ada kotak suara yang terlambat. Tidak ada daftar pemilih yang salah, karena empat puluh nama yang salah eja saat aku mengetik dengan pikiran kacau sudah dibetulkan Kang Dadan diam-diam semalam. Tidak ada keributan.
Ajengan Uci mencoblos pertama di TPS satu, lalu menepuk bahuku dan berkata, “Alhamdulillah, Gas. Rapi.”
Abah Uha mencoblos di TPS tiga dengan digendong cucunya. Lewat telepon Teh Nining, yang berjaga di sana sebagai saksi panitia, aku tahu Bu Dokter mengukur tensinya sebelum dan sesudah mencoblos, dan Abah Uha bilang ieu mah pangalusna pilkades nu kungsi aya.
Mang Odon mencoblos dengan kelambu di helm, katanya demi keamanan. Juragan Ujang datang dengan kacamata hitam dan berjalan kaki, tanpa mobil bak terbuka, tanpa Si Jagur. Pak Haji datang dengan Ceu Imas dan Rizky, berbaju koko putih, menyalami semua petugas satu per satu.
Rizky menyalamiku paling lama.
“Kang,” katanya pelan. “Hari ini terakhir Akang jadi panitia, kan?”
“Iya, Riz.”
Rizky menatapku. Lalu tersenyum kecil, sedikit pahit, tapi tulus. “Bagus. Berarti mulai besok Akang nggak punya alasan lagi.”
Dia pergi sebelum aku bisa menjawab.
TPS ditutup pukul satu siang. Kotak-kotak suara dibawa ke balai desa untuk penghitungan terbuka. Pukul dua, balai sudah penuh lagi. Dua ratus orang duduk di kursi plastik, berdiri di pinggir, mengintip dari jendela. Saksi kedua calon duduk di meja depan dengan formulir dan pulpen.
Pukul tiga, penghitungan dimulai.
Satu per satu, surat suara dibuka di depan semua orang. Dibentangkan. Diangkat tinggi. Dibacakan.
“Nomor satu. Sah.”
“Nomor dua. Sah.”
“Nomor dua. Sah.”
Teh Nining mencatat di papan tulis besar dengan garis-garis lima yang dicoret satu. Seperti hitungan senter di halaman belakang agendaku.
Pukul tujuh malam, dengan dua ratus tiga belas surat suara tersisa dari TPS tiga dan empat, listrik padam.
Seluruh Cibening. Pohon tumbang lagi di jalur kabel Cikadu.
Balai desa gelap total. Dua ratus orang menahan napas. Lalu suara mulai muncul dari kegelapan, pelan, lalu cepat.
“Hati-hati kotak suaranya!”
“Ada yang mau curang!”
“Nyalakan senter! Nyalakan senter!”
Puluhan senter ponsel menyala, menyorot ke segala arah. Kang Darma dari tim Juragan Ujang berdiri di meja saksi, memeluk kotak suara TPS empat. Rizky dari tim Pak Haji memeluk kotak suara TPS tiga. Mereka saling sorot dengan senter, seperti dua orang yang saling tuduh di film detektif.
“Genset!” teriak seseorang. “Kang Bagas, genset!”
Aku sudah berlari ke gudang belakang balai.
Genset balai, genset tua yang dulu dibeli Bapak dan yang setiap minggu kurawat, kubersihkan businya, kuganti olinya, kucek saringan solarnya.
Setiap minggu. Kecuali dua minggu terakhir.
Dua minggu terakhir, sejak dr. Reza datang, sejak video Dede, sejak banjir, sejak bangku panjang, aku tidak membuka penutup genset ini sekali pun.
Aku menarik tali starternya.
Batuk. Mati.
Menarik lagi.
Batuk. Mati.
Aku mencabut busi dengan tangan gemetar, dalam cahaya senter ponsel yang kupegang dengan mulut. Hitam pekat. Saringan solarnya, saat kubuka, penuh endapan cokelat. Air banjir. Masuk dari celah tutup tangki saat gudang ini kebanjiran setinggi betis Sabtu malam lalu.
Aku tidak mengeceknya. Aku tidak mengecek apa pun.
Di balai, suara-suara makin keras. Seseorang berteriak tentang pemilu ulang. Seseorang lain berteriak tentang kecurangan panitia. Kang Darma menyebut namaku.
Aku berlutut di lantai gudang, mengikis busi dengan ujung obeng karena amplasku tertinggal di jok motor di depan puskesmas, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, tanganku tidak bisa berhenti gemetar cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
Lalu ada cahaya.
Bukan dari senter ponsel. Dari jendela kecil gudang yang menghadap ke jalan desa. Dari seberang jalan.
Dari jendela ruang jaga puskesmas.
Klik-klik.
Dua kali.
Merah. Senter kecil dari warung Bi Onah.
Aku menatap cahaya itu. Lalu cahaya itu padam. Dan dua menit kemudian, pintu gudang terbuka.
Dia berdiri di sana dengan jaket tebal yang masih berlumpur dari jalan Kampung Atas, kerudung yang sudah miring, wajah lelah dari subuh, dan dua benda di tangan.
Di tangan kanan, lampu darurat LED dari ruang tindakan puskesmas. Yang dipakai saat genset puskesmas mati dan dia butuh cahaya untuk menjahit luka.
Di tangan kiri, selembar amplas.
“Amplasnya ketinggalan di jok motor,” katanya. “Di depan puskesmas. Aku lihat dari jendela.”
Aku tidak bisa bicara.
Dia menyalakan lampu darurat dan menggantungnya di paku di dinding gudang. Cahaya putih terang memenuhi ruangan kecil itu. Lalu dia berlutut di sampingku, di lantai berdebu, dan menyodorkan amplas.
“Busi, kan?” tanyanya. “Kayak di bianglala.”
“Saringan solar juga,” kataku. Suaraku serak. “Kena air banjir. Aku nggak ngecek. Dua minggu.”
Dia menatapku. Lalu menatap tanganku yang gemetar.
Lalu dia meletakkan tangannya di atas tanganku. Hangat. Tidak gemetar.
“Mas,” katanya pelan. “Pegang businya. Aku yang pegang lampu. Kita kerjain bareng.”
Bareng.
Aku menatap tangannya di atas tanganku. Menatap tali stetoskop kulit di lehernya, dengan namanya yang dibakar ujung solder. Menatap wajahnya di bawah lampu darurat, lelah dan berlumpur dan sangat, sangat dekat.
Tanganku berhenti gemetar.
Tujuh menit.
Aku mengamplas busi. Dia memegang lampu dan senter sekaligus. Aku membuka saringan solar dan membuang endapannya. Dia membacakan instruksi yang tertempel di dinding gudang, tulisan tangan Bapak dari tahun 2009, karena aku tidak bisa membaca dan bekerja sekaligus dalam gelap. Aku memasang semuanya kembali. Dia memegang tutup tangki.
Aku menarik tali starter.
Batuk. Batuk.
Genset itu meraung hidup.
Lampu-lampu di balai menyala satu per satu. Dari dalam, aku mendengar dua ratus orang mengeluarkan suara bersamaan. Lega. Lalu tepuk tangan. Lalu suara Ajengan Uci yang menenangkan, dan suara Teh Nining yang berteriak penghitungan dilanjutkan!
Aku duduk di lantai gudang, bersandar ke dinding, napas terengah.
Dia duduk di sampingku. Bahu kami menempel.
“Tujuh menit, Mas,” katanya. “Sama kayak malam pertama.”
“Waktu itu sendirian.”
“Sekarang nggak.” Dia menoleh padaku. “Enak, kan, nggak sendirian?”
Aku menatapnya.
Aku tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Jadi aku mengangguk.
Dia tersenyum. Kecil. Lelah. Lalu dia berdiri, mengambil lampu darurat dari paku, dan berjalan ke pintu.
“Penghitungannya dilanjut, Ketua Panitia,” katanya dari ambang pintu. “Aku tunggu di bangku. Setelah berita acara.”
Pukul sebelas lewat dua puluh, berita acara penghitungan suara ditandatangani.
Juragan Ujang menang dengan selisih tujuh belas suara.
Balai desa meledak. Pendukung Juragan Ujang meniup terompet. Pendukung Pak Haji terdiam. Kang Darma menangis di meja saksi. Si Jagur, yang entah siapa membawanya ke halaman balai, mengembik keras.
Lalu Pak Haji berdiri dari kursinya. Berjalan pelan ke depan. Menghampiri Juragan Ujang.
Dan memeluknya.
“Selamat, Jang,” kata Pak Haji, suaranya terdengar sampai ke belakang karena mik di meja saksi masih menyala. “Jalan Cikadu teh. Jangan lupa. Mulus kayak pipi Bu Dokter.”
Juragan Ujang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, menangis tanpa kacamata hitam.
Aku menandatangani berita acara di bagian Ketua Panitia. Menyerahkannya ke Ajengan Uci. Ajengan Uci menyimpannya di map, menutupnya, lalu menepuk bahuku dua kali.
“Tos, Gas,” katanya. “Beres. Maneh lain panitia deui.”
Aku melepas rompi panitia. Melipatnya dua kali. Meletakkannya di meja.
Lalu aku berjalan keluar balai.
Dia duduk di bangku panjang depan puskesmas, di bawah lampu teras yang berkedip sekali.
Termos biru di pangkuannya.
Termos yang dia tinggalkan di bangku itu Selasa malam. Yang kubawa pulang, kucuci, dan kuisi lagi setiap hari tanpa tahu untuk apa. Yang tadi pagi kuletakkan di anak tangga puskesmas sebelum subuh, sebelum berangkat ke TPS tiga, tanpa berkata apa-apa.
Stiker Coblos Aku, Mas! masih menempel. Tulisan Sah di bawahnya.
Aku berdiri di depannya.
Aku sudah menulis di agenda: jangan latihan, nanti lupa semua. Jadi aku tidak latihan. Dan sekarang, berdiri di depan bangku panjang, aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Jadi aku mulai dari yang paling jujur.
“Aku takut,” kataku.
Bukan saya. Aku sengaja. Saya untuk BPD, untuk berita acara, untuk ketua panitia. Kalimat ini bukan milik ketua panitia.
Dia mengangkat kepala.
“Aku takut kamu keseret gosip. Takut antrean puskesmas kosong karena aku. Takut Dinkes evaluasi penugasan kamu. Takut kamu ngubur masa depan di desa ini karena aku.” Suaraku mengecil. “Dari kecil aku biasa nanggung sendiri. Bapak meninggal, aku nanggung sendiri. Mak sakit, aku nanggung sendiri. Lilis sekolah, aku nanggung sendiri. Aku nggak tahu cara lain.”
Dia tidak bergerak.
“Tapi Abah Uha bilang itu bukan menjaga. Itu melepaskan. Mak bilang kamu bukan Mak, kamu nggak bakal nunggu tiga tahun. Lilis bilang aku bukan ngelindungin. Aku takut.” Aku menarik napas. “Dan Mang Odon bilang dia nggak jual info ke orang bodoh.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
“Mereka semua benar,” kataku. “Kamu juga benar. Kamu bilang itu bukan salah diagnosis. Itu data.”
“Iya,” bisiknya.
“Aku yang salah. Aku mutusin sendirian apa yang kamu mau. Aku nggak pernah nanya.” Aku berlutut di depan bangku panjang, supaya mataku sejajar dengan matanya. “Jadi aku nanya sekarang. Kinan. Kamu mau apa?”
Lama sekali dia diam.
Lampu teras berkedip. Dari balai, suara terompet pendukung Juragan Ujang masih terdengar samar. Si Jagur mengembik.
Lalu dia membuka termos biru di pangkuannya. Menuang jahe ke tutupnya. Uapnya naik di antara kami, hangat dan pedas.
Dia menyodorkan tutup termos itu padaku. Bukan untuk diminumnya. Untukku.
“Kemarin malam,” katanya pelan, “aku telepon Prof Hartono. Aku tanya, bisa nggak PPDS-nya pindah ke Bandung. Rumah sakit pendidikan di sana juga punya program spesialis anak. Jaringan yang sama. Prof Hartono kenal kepala departemennya.”
Aku menatapnya.
“Bandung dua jam dari Cibening, Mas,” lanjutnya. “Naik bus. Atau motor 2012 yang busi-nya bisa Mas benerin sendiri.”
“Kamu...”
“Aku nggak milih desa atau kamu,” katanya. Matanya basah sekarang, tapi suaranya stabil. “Aku nggak milih PPDS atau kamu. Aku milih dua-duanya. Dan aku mutusin itu sendiri, tapi aku nunggu kamu buat bilang setuju.”
Aku tidak bisa bicara.
“Itu namanya keputusan terapi bersama, Mas.” Lesung pipinya muncul pelan, seperti lampu yang dinyalakan dengan dimmer. “Dokter ngasih pilihan. Pasien setuju. Bukan dokter mutusin sendirian. Bukan pasien mutusin sendirian.”
Aku menatap tutup termos di tanganku. Jahe yang mengepul.
Lalu aku meminumnya. Satu tegukan. Hangat sampai ke dada.
“Setuju,” kataku.
Dia tertawa. Basah. Gemetar. Lalu dia meletakkan termos di bangku, merosot dari bangku ke lantai teras, dan memelukku.
Erat. Kedua lengan di leherku. Wajah di bahuku. Seperti di pematang. Seperti di ruang obat. Seperti di gudang sound.
Kali ini aku memeluk balik dengan kedua tangan.
“Resep dokter,” bisiknya di bahuku. “Jangan sendirian lagi. Seumur hidup.”
“Iya.”
“Kalau takut, takutnya bareng.”
“Iya.”
“Janji?”
Aku menarik diri sedikit. Menatap wajahnya di bawah lampu teras. Mata merah. Hidung merah. Kerudung miring. Lumpur Kampung Atas masih di ujung jaketnya. Dan dia, dengan semua itu, adalah hal paling indah yang pernah duduk di bangku panjang puskesmas ini.
Aku menunduk dan mencium keningnya. Pelan. Lama.
“Janji,” kataku di keningnya.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-98 di Cibening. Hari pencoblosan.
TPS 3: tensi Abah Uha sebelum nyoblos 150/90, sesudah 140/85. Abah bilang ini pilkades terbaik sepanjang sejarah.
Pasien: Bagas Pramudya. Pukul 03.45, nganter aku ke TPS 3. Bilang “aku”. Bukan “saya”. Aku denger. Aku pura-pura nggak denger.
Pukul 19.00: listrik padam. Genset balai mati. Pasien nggak ngecek genset dua minggu karena lagi kacau. Tangannya gemetar. Pertama kali aku lihat tangannya gemetar pas benerin mesin.
Tindakan: senter merah dua kali. Lampu darurat. Amplas dari jok motornya. Kita kerjain bareng. Tujuh menit.
Pukul 23.20: Juragan Ujang menang 17 suara. Pak Haji meluk dia. Pasien lepas rompi panitia, lipat dua kali.
Pukul 23.35: pasien berlutut di depan bangku panjang. Bilang “aku takut”. Sengaja pakai “aku”. Terus nanya aku mau apa.
Pertama kali dia nanya.
Aku jawab. Bandung. Dua-duanya. Dia minum jahe dari tutup termos, terus bilang setuju.
Diagnosis: keputusan terapi bersama. Informed consent. Lengkap.
Dia cium keningku. Pelan. Lama.
Besok pagi aku mau dengar berapa kali dia tes mik.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan reading
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup