Chapter Five
Senter Dua Kali
POV: Bagas
Jadwal ronda Kampung Tengah sudah ditempel di pos ronda sejak zaman Bapak masih hidup. Kertasnya sudah menguning, dilaminasi plastik bening yang sekarang berembun di dalam. Malam Kamis, urutan pertama: nama Bapak. Di bawahnya, Odon dan Asep.
Empat tahun lalu, aku menempelkan secarik lakban kertas di atas nama Bapak dan menulis namaku sendiri di sana. Lakbannya sudah mengelupas di satu sudut. Aku tidak pernah menggantinya.
Pukul sembilan, aku mengantar termos biru ke puskesmas. Pukul sembilan lewat sepuluh, aku sudah duduk di pos ronda, sarung terlipat di bahu, senter di pangkuan, menatap jalan desa yang gelap dan sepi.
Kang Asep datang pukul sembilan lewat lima belas dengan jaket tebal, kopiah, dan buku kecil berisi pantun.
Mang Odon datang pukul sembilan lewat tiga puluh dengan kantong kresek berisi gorengan, rokok kretek yang tidak pernah dia nyalakan karena katanya sudah berhenti, dan info.
“Mas Bagas. Malam ini Bu Dokter sendirian di puskesmas. Teh Euis pulang ke Garut, anaknya sakit. Rani libur.”
“Terus kenapa, Mang?”
“Nggak kenapa-kenapa.” Mang Odon duduk, mengunyah bakwan. “Cuma info. Gratis.”
Kang Asep langsung menegakkan punggung. “Kalau gitu, kita ronda di depan puskesmas aja, Kang! Demi keamanan Bu Dokter!”
“Pos ronda kita di sini, Kang Asep.”
“Tapi demi keamanan...”
“Puskesmas sudah masuk jalur patroli, Kang. Jam sebelas dan jam dua.”
Kang Asep menatapku dengan wajah orang yang baru saja ditolak cintanya oleh jadwal piket.
Pukul sebelas kurang sepuluh, aku melihat cahaya kecil bergerak di ujung jalan.
Senter. Bergoyang naik turun, seperti dibawa orang yang berjalan sambil sedikit melompat. Semakin dekat, aku bisa melihat siluet seseorang dengan jaket tebal, syal melilit leher sampai dagu, dan sesuatu yang biru di tangan kiri.
Termos.
Kang Asep berdiri begitu cepat sampai kopiahnya jatuh.
“Selamat malam, Bapak-bapak ronda,” kata Bu Dokter, berhenti di depan pos. Pipinya merah karena dingin, ujung hidungnya juga, dan napasnya mengepul di bawah sinar senter. Rambutnya digerai, sedikit kusut di bagian bawah oleh syal. Dalam jaket yang jelas terlalu tipis untuk udara Cibening jam sebelas malam, dia terlihat seperti orang Jakarta yang salah mengira dinginnya Puncak.
Dan entah bagaimana, tetap terlihat seperti orang yang seharusnya ada di sampul majalah.
“Bu Dokter!” Kang Asep membetulkan kopiahnya. “Ada apa malam-malam? Ada yang bisa saya bantu? Saya siap mengantar Bu Dokter ke mana pun! Ka mana nya ka mana...“
“Nggak ada apa-apa, Kang. Saya cuma mau balikin termos.” Bu Dokter mengangkat termos biru. “Sama bawa gorengan. Buat ronda.”
Dia menyodorkan kantong kertas cokelat berisi pisang goreng yang masih hangat. Mang Odon menerimanya dengan gerakan seperti menerima piala.
“Bu Dokter beli di mana jam segini?”
“Bi Onah. Belum tutup. Katanya buat Kang Bagas mah selalu ada.”
Mang Odon menoleh padaku dengan alis terangkat. Aku pura-pura memeriksa baterai senter.
Lalu, dengan kecepatan yang menunjukkan pengalaman bertahun-tahun, Mang Odon berdiri, merangkul bahu Kang Asep, dan berkata dengan suara yang terlalu keras, “Kang Asep, hayu urang patroli sekarang. Jalur Kampung Atas. Biar aman.”
“Tapi jadwal patroli jam sebelas...”
“Ini jam sebelas kurang sepuluh. Kita berangkat lebih awal. Proaktif.” Mang Odon menarik Kang Asep pergi, sambil mengambil setengah pisang goreng dari kantong. “Mas Bagas jaga pos. Bu Dokter temani. Biar Mas Bagas nggak kesepian.”
“Mang...”
Mereka sudah menghilang ke kegelapan. Hanya suara Kang Asep yang terdengar menjauh, protes setengah hati, lalu pantun yang tidak selesai.
Bu Dokter menatap ke arah mereka pergi. Lalu menatapku. Lalu tersenyum.
“Mang Odon baik, ya,” katanya.
“Mang Odon menyebalkan, Bu Dokter.”
“Itu juga.” Dia naik ke pos ronda, duduk di ujung bangku kayu, meletakkan termos di antara kami. “Boleh duduk sini, kan? Pos ronda fasilitas publik. Saya warga.”
“Boleh, Bu Dokter.”
Lima menit pertama, kami tidak bicara.
Jangkrik bersahutan di sawah. Kunang-kunang, yang di Cibening masih ada meskipun semakin sedikit, berkedip-kedip di atas pematang. Langit bersih tanpa awan, dan bintang-bintang terlihat jelas sekali, tumpah-ruah seperti gula di atas kain hitam.
Bu Dokter mendongak.
“Ya Allah,” bisiknya. “Di Jakarta aku nggak pernah lihat bintang sebanyak ini.”
“Polusi cahaya, Bu Dokter.”
“Iya, iya, Mas IT.” Dia tertawa kecil, lalu merapatkan jaketnya. Bahunya gemetar.
Aku melihat jari-jarinya yang memutih di ujung, memegang kerah jaket. Aku melihat syalnya yang terlalu tipis. Aku melihat napasnya yang mengepul lebih tebal setiap detik.
Tanganku bergerak sebelum kepalaku sempat memberi izin.
Aku membuka lipatan sarung dari bahuku, mengibaskannya sekali, dan menyampirkannya ke punggung Bu Dokter. Sarung kotak-kotak hijau tua, lusuh, dengan bekas jahitan Mak di ujungnya.
Lalu aku sadar apa yang baru saja kulakukan, dan membeku.
Bu Dokter juga membeku.
Dia menatap sarung di bahunya. Lalu menatapku. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik.
“Mas sendiri gimana? Dingin.”
“Saya biasa, Bu Dokter.”
“Bohong. Tangan Mas merah.” Dia memegang ujung sarung, membukanya lebar, lalu bergeser mendekat di bangku kayu sampai bahunya hampir menyentuh bahuku. “Sarungnya lebar, Mas. Muat dua.”
“Bu Dokter, itu...”
“Sesuai prosedur?” Dia mengangkat alis. “Ada di Perbup?”
Aku tidak menjawab.
Dia menyampirkan separuh sarung itu ke bahuku. Kain itu jatuh di punggung kami berdua, hangat dari tubuhnya. Bahu kami tidak benar-benar bersentuhan. Hanya kain sarung yang menghubungkan, dan jarak yang tidak lebih dari selebar telapak tangan.
Aku menatap jalan desa yang gelap dengan sangat serius.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium wangi rambutnya. Bukan parfum. Sampo bayi, yang mungkin dia beli di warung Bi Onah karena satu-satunya merek yang dijual di sana.
“Mas,” bisiknya, tanpa menoleh.
“Iya, Bu Dokter.”
“Sarungnya wangi kamper.”
“Mohon maaf, Bu Dokter. Mak selalu menyimpan sarung pakai kapur barus.”
“Bukan protes.” Dia menarik ujung sarung itu lebih rapat ke dagunya, dan aku melihat sudut bibirnya naik di balik kain kotak-kotak hijau. “Aku suka. Wanginya kayak rumah orang.”
“Mas,” katanya setelah beberapa saat. “Jadwal ronda di dinding itu. Kenapa kertasnya beda sendiri? Yang lain diprint, itu ditulis tangan.”
Aku menatap kertas kuning yang dilaminasi itu.
“Itu tulisan Bapak saya, Bu Dokter.”
Dia diam.
“Bapak dulu koordinator ronda Kampung Tengah. Dua puluh tahun.” Aku tidak tahu kenapa aku bercerita. Mungkin karena malam terlalu sunyi. Mungkin karena sarung di bahu kami terlalu hangat. “Empat tahun lalu, Bapak lagi pasang sound di nikahan anak Pak RW. Jam sepuluh malam, waktu MC lagi bacain doa, Bapak duduk di belakang mixer, terus... nggak bangun lagi.”
“Stroke?” tanyanya pelan.
“Kata dokter di RSUD, iya. Waktu dibawa ke sana sudah terlambat. Lewat Cikadu, satu jam setengah.”
Aku mendengar napasnya tertahan sedikit.
“Saya waktu itu kerja di pabrik elektronik di Bekasi. Bagian quality control. Saya pulang hari itu juga, naik bus malam.” Aku menatap kunang-kunang di atas pematang. “Saya kira pulang seminggu. Ternyata Mak gulanya tinggi, dan Lilis masih SMP. Jadi saya nggak balik lagi ke Bekasi.”
“Mas nyesel?”
Aku memikirkannya. Lama.
“Tidak, Bu Dokter,” kataku akhirnya. “Kadang saya kangen pabrik. Kangen ngukur hambatan resistor sampai dua angka di belakang koma. Tapi saya nggak nyesel.”
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi aku merasakan sesuatu di sisi tubuhku. Bahunya, yang tadi berjarak selebar telapak tangan, sekarang menempel pelan ke bahuku. Hanya menempel. Tidak bersandar.
Aku tidak bergerak.
“Papa aku kardiolog,” katanya pelan, menatap bintang. “Spesialis jantung. Dari kecil aku udah tahu aku harus jadi dokter. Harus ranking satu. Harus FK. Harus PPDS. Harus spesialis. Dan semua orang selalu bilang, untung cantik, jadi gampang.” Dia tertawa kecil, tidak terlalu senang. “Seolah aku lulus karena muka.”
Aku menoleh.
Di cahaya senter yang tergeletak di bangku, wajahnya terlihat lebih muda dari dua puluh tujuh. Bulu matanya panjang, menahan bayangan di pipi. Bibirnya sedikit pucat karena dingin.
“Bu Dokter menghidupkan napas anak empat tahun dengan senter HP dan suara ‘tiup lilin’,” kataku. “Itu bukan karena muka.”
Dia menoleh padaku. Matanya membulat sedikit, berkilau oleh cahaya senter.
Kami saling menatap.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Empat.
Lima.
Aku berpaling lebih dulu, ke arah jalan desa, dengan kuping yang terasa seperti baru dicelupkan ke air mendidih.
Di sebelahku, dia tertawa pelan. “Lima detik, Mas.”
“Apa, Bu Dokter?”
“Mas biasanya cuma kuat natap aku tiga detik. Aku hitung. Tadi lima.” Dia merapatkan sarung di bahunya, dan bahunya menempel sedikit lebih erat. “Rekor.”
Pukul sebelas lewat tiga puluh, suara Kang Asep terdengar lagi dari kejauhan, masih membacakan pantun yang belum selesai.
Bu Dokter melepaskan sarung dari bahunya, melipatnya dengan rapi, lalu menyerahkannya padaku. Lalu dia mengambil termos biru dan senter kecilnya, dan berdiri.
“Mas,” katanya. “Aku punya ide.”
“Ide apa, Bu Dokter?”
“Puskesmas sama balai desa kan hadap-hadapan. Jendela ruang jaga aku pas lurus sama jendela meja Mas.” Dia mengangkat senter kecilnya, menyalakannya, mematikannya, menyalakannya lagi. “Kalau aku butuh sesuatu, aku kedipin senter dua kali dari jendela. Kayak gini.”
Klik-klik. Klik-klik.
“Butuh apa, Bu Dokter?”
“Apa aja. Genset mati. Domba lepas. Ayam Bi Onah masuk.” Dia tersenyum. “Atau termos.”
“Bu Dokter bisa telepon.”
“Sinyal di puskesmas jelek, Mas. Harus ke pohon jamblang.” Dia mengedipkan senter dua kali lagi, tepat ke arahku. Cahaya kecil itu menyilaukan mata sebentar. “Senter nggak butuh sinyal.”
Aku menatapnya. Logika itu, seperti semua logikanya, tidak bisa dibantah.
“Terus Mas jawab pakai senter juga. Sekali. Artinya siap.” Dia memiringkan kepala. “Gimana?”
Aku mengambil senter dari bangku. Menyalakannya. Mengarahkannya ke tanah di depan kakinya, bukan ke wajahnya.
Klik. Sekali.
Dia tertawa. Lalu berjalan pergi ke arah puskesmas dengan langkah yang sedikit melompat, senter kecilnya bergoyang naik turun.
Lima puluh meter kemudian, dia berbalik, dan mengedipkan senternya dua kali.
Aku menjawab sekali.
Mang Odon kembali ke pos pukul sebelas lewat empat puluh, menyeret Kang Asep yang kelelahan.
“Gimana, Mas?”
“Gimana apa, Mang?”
“Patroli kami lancar. Aman terkendali.” Mang Odon duduk, mengambil pisang goreng terakhir, lalu menatap sarung yang terlipat rapi di pangkuanku. “Itu sarung kok dilipat? Biasanya Mas pakai di bahu sampai subuh.”
Aku tidak menjawab.
Mang Odon mengunyah dengan wajah puas. Lalu, sebelum menyalakan rokok kretek yang tidak akan dia nyalakan, dia berbisik, “Info buat Mas. Gratis lagi. Tadi pas patroli, kami lewat belakang puskesmas. Bu Dokter lagi berdiri di jendela ruang jaga. Megangin senter. Senyum-senyum sendiri.”
Pukul dua dini hari, saat patroli kedua, aku lewat di depan puskesmas.
Lampu ruang jaga masih menyala. Dari jalan, aku bisa melihatnya tertidur di meja jaga, kepala di atas lengan, buku tebal terbuka di bawah pipinya. Senter kecil itu tergeletak di samping tangannya.
Aku tidak mengetuk. Aku tidak masuk.
Aku hanya berdiri di jalan selama satu menit, memastikan pintu puskesmas terkunci dan genset di belakang berdengung normal. Lalu aku mengarahkan senterku ke tanah, di bawah jendela itu, dan menyalakannya sekali.
Klik.
Dia tidak melihatnya. Tidak apa-apa.
Siap, Bu Dokter.
Rekam Medis Pribadi dr. Kinan
Hari ke-13 di Cibening.
Pasien: Bagas Pramudya. Keluhan: kedinginan di pos ronda, tapi sarungnya malah dikasih ke aku. Tanpa mikir. Refleks. Habis itu dia sendiri yang kaget.
Riwayat: bapaknya meninggal empat tahun lalu di belakang mixer. Dia pulang dari Bekasi naik bus malam dan nggak pernah balik. Jadwal ronda di pos itu tulisan tangan bapaknya. Dia nggak pernah ganti.
Diagnosis: kontak mata lima detik. Rekor baru. Kemarin masih tiga.
Terapi: senter dua kali dari jendela ruang jaga = aku butuh kamu. Dia jawab sekali = siap. Nggak butuh sinyal.
Catatan dokter: dia bilang aku menghidupkan napas anak itu bukan karena muka. Dua puluh tujuh tahun, baru dia yang bilang gitu. Aku hampir nangis di pos ronda. Untung gelap.
Aku sengaja nempelin bahu. Dia nggak geser. Itu juga aku hitung.
- 1 Mik yang Berdenging
- 2 Termos Biru
- 3 Antrean Pasien Paling Sehat
- 4 Pemilih Boleh Naksir Panitia?
- 5 Senter Dua Kali reading
- 6 Posyandu
- 7 Lumpur di Pematang
- 8 Debat Kandidat
- 9 Mak Icah
- 10 Rantang Neng Wulan
- 11 Demam Berdarah
- 12 Pohon Jamblang
- 13 Coblos Aku, Mas
- 14 Ulang Tahun Bu Dokter
- 15 Bianglala Macet
- 16 Tes, Tes, Tes
- 17 Ruang Genset
- 18 Video Dede
- 19 Banjir Kampung Atas
- 20 Agenda Panitia
- 21 Demi Masa Depanmu
- 22 Hari Pencoblosan
- 23 Restu Pak Kardiolog
- 24 Malam Perpisahan
- 25 Dua Jam ke Bandung
- 26 Sesuai Prosedur, Seumur Hidup