Chapter Nine
Ngecas
POV: Dimas
Pengumuman outing kantor datang lewat email Bu Ratna, HR Manager, pada hari Rabu.
Outing Tahunan PT Arunika Digital. Sabtu–Minggu. Villa di Puncak. Kehadiran sangat diharapkan. Bawa jaket. Jangan bawa urusan kantor.
Grup liga menanggapinya dengan kalimat yang sama dalam waktu tiga detik.
Kevin: PERTANDINGAN TANDANG
Bastian: Dua hari satu malam. Ini kesempatan.
Ucup: Ada kelas yoga pagi nggak ya di sana
Fajar: Aku akan menulis puisi tentang kabut
Om Heru: Saya bawa rendang tiga rantang
Rendy: wasit ikut kan? biar bisa hitung poin real time
Dimas: Saya ikut. Saya bawa proyektor dan sound system. Itu tugas IT.
Bastian: Bagus. Wasit harus selalu dekat lapangan.
Aku tidak membalas lagi. Aku tidak bilang bahwa malam itu Diana mengirim pesan pribadi dengan isi yang jauh lebih pendek.
Diana: Bawa jaket yang tebel ya, Mas.
Diana: Flanel kamu masih di aku soalnya.
Villa itu berada di lereng bukit, dikelilingi kebun teh dan kabut yang turun setiap sore pukul empat. Udaranya delapan belas derajat di siang hari dan turun sampai sebelas derajat di malam hari, yang membuat semua karyawan dari Jakarta berjalan sambil memeluk diri sendiri seperti penguin.
Acara pertama setelah makan siang adalah permainan tim. Bu Ratna mengumumkannya lewat pengeras suara dengan semangat yang hanya dimiliki orang HR.
“Lomba kaki tiga! Pasangan ditentukan undian!”
Aku sedang menyambungkan kabel sound system di belakang panggung kecil saat namaku dipanggil.
“Pasangan nomor tujuh! Dimas dari IT... dan Diana dari Finance!”
Kabel di tanganku jatuh.
Di barisan peserta, enam laki-laki menoleh serentak ke arahku. Kevin membuka ponsel. Fajar menutup mulut. Bastian, yang baru saja dipasangkan dengan Bu Ratna sendiri, tersenyum dengan rahang yang sedikit terlalu kaku.
Diana berjalan ke garis start dengan langkah anggun, senyum sopan, dan jaket putih tebal. Pipinya merah muda karena udara dingin, dan rambutnya dikuncir tinggi, berayun setiap kali dia melangkah. Di antara seratus karyawan yang memeluk diri sendiri seperti penguin, dia terlihat seperti iklan pariwisata Puncak.
Dia menungguku datang, lalu mengulurkan tali rafia merah.
“Kaki kanan atau kiri, Mas?”
“Terserah Mbak.”
“Kiri kamu, kanan aku.” Diana berjongkok, mengikat pergelangan kaki kami dengan cekatan. Simpul mati. Kencang. “Udah.”
Lalu dia berdiri dan, tanpa bertanya, melingkarkan lengan kanannya ke pinggangku.
Aku berdiri tegak seperti tiang listrik.
“Mas,” bisik Diana, masih tersenyum sopan ke arah penonton, “tanganmu juga. Ke pinggangku. Biar seimbang.”
“Mbak...”
“Ini lomba resmi HR. Bukan pelanggaran.”
Aku mengangkat lengan kiri, ragu di udara, lalu meletakkannya di pinggang Diana. Sangat ringan. Seperti menyentuh rak server yang baru dipasang.
“Kencengin. Nanti jatuh.”
Aku mengencangkan peganganku. Jaket Diana tebal, tapi aku tetap bisa merasakan bentuk pinggangnya di baliknya. Kecil. Hangat.
Ponsel di sakuku bergetar empat kali berturut-turut. Aku tidak perlu membukanya untuk tahu isinya.
Peluit berbunyi.
Pasangan nomor tiga langsung jatuh di langkah pertama. Pasangan nomor lima, Kevin dan staf marketing, berjalan dengan presisi tapi sangat lambat karena Kevin menghitung sudut langkah. Bastian dan Bu Ratna melesat di depan, karena Bu Ratna ternyata mantan atlet lari tingkat provinsi.
Kami tersandung di langkah kedua.
“Mas! Kaki kiri dulu!”
“Itu kaki kiri, Mbak!”
“Kaki kirimu itu kaki kananku!”
Kami nyaris jatuh. Diana mencengkeram jaketku. Aku menahan berat kami berdua dengan satu kaki. Kami berdiri lagi, terengah, tertawa, dan penonton bersorak.
“Oke,” kata Diana, menarik napas. “Ganti strategi. Ikutin hitunganku.”
“Hitungan apa?”
“Hitungan tutup buku.” Diana mengencangkan pelukan di pinggangku. “Debit, kredit. Debit, kredit. Debit itu kaki yang diikat.”
Aku tidak tahu kenapa itu masuk akal. Tapi itu masuk akal.
“Debit,” kata Diana. Kami melangkah. “Kredit.” Melangkah. “Debit. Kredit. Debit, kredit, debit, kredit...”
Kami mulai berlari.
Kabut tipis berembus di sekitar kami. Rumput basah di bawah kaki. Penonton berteriak. Kami menyalip Kevin. Menyalip pasangan dari legal. Dan di sepuluh meter terakhir, saat Bu Ratna melambat karena lututnya protes, kami menyalip Bastian.
Kami melewati garis finis dengan Diana masih berteriak “debit, kredit!” dan tertawa terlalu keras untuk ukuran Dewi Lantai 12.
Lalu kami jatuh. Bersama. Ke rumput.
Aku di bawah, Diana di atasku, kaki masih terikat, napas sama-sama terengah. Wajah Diana tepat di atas wajahku. Rambutnya jatuh ke pipiku. Matanya berbinar, pipinya merah karena dingin dan lari dan tawa.
“Kita menang,” bisik Diana.
“...Iya, Mbak.”
“Kamu nggak mau bangun?”
“Mbak di atas saya.”
Diana melihat posisi kami. Lalu, alih-alih bangun, dia tersenyum pelan-pelan.
“Oh, iya.”
Dia tidak bergerak selama dua detik penuh. Dua detik yang terasa seperti dua menit.
Lalu Bu Ratna meniup peluit di dekat kami, keras sekali, dan Diana bangkit dengan wajah Dewi Lantai 12 yang sempurna, membuka simpul di kaki kami, dan berjalan ke podium kemenangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku tetap terbaring di rumput beberapa detik lebih lama, menatap langit Puncak yang kelabu.
Ponselku bergetar lagi. Aku akhirnya membukanya.
Kevin: KONTAK FISIK. PELUKAN PINGGANG. JATUH BERDUA.
Fajar: Itu poin berapa??
Ucup: Wasit nggak bisa dapet poin kan??
Bastian: Dim.
Dimas: Permainan resmi HR. Pasangan berdasarkan undian. Tidak dihitung.
Bastian: Oke. Undian.
Bastian: Kebetulan banget ya.
Malam turun dengan dingin yang menggigit. Pukul sepuluh, suhu sebelas derajat. Api unggun di halaman villa sudah mengecil menjadi bara. Fajar sudah membacakan puisi tentang kabut, yang ternyata tidak terlalu buruk. Om Heru sudah tidur dengan rantang rendang di sampingnya. Sebagian besar karyawan sudah masuk ke kamar masing-masing.
Pukul sebelas, aku berdiri sendirian di dapur villa, merebus jahe.
Aku membawanya dari rumah. Tiga ruas jahe merah, gula aren, dan serai, dibungkus kantong plastik di dasar tas. Itu kebiasaan dari almarhumah ibuku: kalau pergi ke tempat dingin, bawa jahe. Aku tidak tahu untuk siapa aku merebusnya malam ini. Mungkin untuk siapa saja yang masih bangun.
Panci kecil mulai mendidih. Wangi jahe dan serai memenuhi dapur yang remang, hanya diterangi satu lampu kuning di atas kompor.
Langkah kaki pelan terdengar di belakangku. Aku tidak menoleh. Aku sedang mengaduk gula aren supaya larut.
“Mas Dimas.”
Suara Diana. Pelan, serak, sedikit gemetar.
“Mbak belum tidur?”
“Dingin. Nggak bisa tidur.” Langkahnya mendekat. “Kamarku sama Rara, dan Rara tidur pakai dua selimut. Dua-duanya punyaku.”
Aku tersenyum ke arah panci. “Ini jahe, Mbak. Sebentar lagi...”
Aku tidak menyelesaikan kalimatku.
Karena dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang. Pelan. Ragu sepersekian detik. Lalu mengencang.
Dan sesuatu yang hangat menempel di punggungku. Pipi. Pipi Diana, di antara tulang belikatku, menempel di kaus abu-abu yang kupakai.
Sendok di tanganku berhenti bergerak.
“Jangan gerak,” bisik Diana.
Aku tidak bergerak. Aku bahkan tidak yakin aku masih bernapas.
“Aku lagi ngecas,” lanjut Diana, suaranya teredam di punggungku.
“...Ngecas apa, Mbak?”
“Baterai.” Pelukannya mengencang sedikit. “Seharian jadi Dewi Lantai 12 di depan seratus orang. Senyum terus. Sopan terus. Ketawa pelan terus. Baterainya habis, Mas. Tinggal satu persen.”
Aku menatap panci. Air jahe mendidih pelan. Gelembung-gelembung kecil naik ke permukaan.
“Tadi siang Mbak ketawa kenceng,” kataku pelan. “Waktu lomba.”
“Itu karena sama kamu.” Diana menghela napas panjang ke punggungku. Hangat menembus kaus. “Sama kamu nggak ngabisin baterai. Malah ngisi.”
Aku memejamkan mata.
Aku bisa merasakan detak jantung Diana di punggungku. Cepat. Atau mungkin itu detak jantungku sendiri, memantul dari dalam. Aku tidak bisa membedakannya lagi.
“Mbak pakai flanel saya,” kataku. Aku bisa merasakan teksturnya di pinggangku, di lengan yang memelukku.
“Iya. Aku bawa.” Diana tertawa kecil, napasnya menggelitik punggungku. “Jaket putihku nggak sehangat ini.”
“Itu flanel tipis, Mbak.”
“Bukan flanelnya yang hangat.”
Air jahe mendidih lebih keras. Busa naik ke tepi panci. Aku tahu aku harus mematikan kompor sebelum tumpah. Aku tahu itu secara logis, secara teknis, secara prosedural.
Dengan tangan kanan, tanpa melepaskan diri dari pelukan, aku memutar kenop kompor. Api padam.
Lalu, dengan tangan kiri, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.
Aku meletakkan tanganku di atas tangan Diana. Di perutku sendiri, di tempat jari-jarinya saling mengait. Telapak tanganku menutupi punggung tangannya yang dingin.
Dan aku menggenggamnya.
Diana tersentak kecil di punggungku. Pelukannya membeku. Lalu, perlahan, jari-jarinya bergerak, membalik, dan menyelinap di antara jari-jariku. Mengait. Erat.
Kami berdiri seperti itu di dapur villa yang remang. Wangi jahe dan serai. Uap tipis dari panci. Sunyi, kecuali suara jangkrik di luar dan napas kami berdua.
“Baterainya udah berapa persen?” tanyaku, sangat pelan.
Diana diam lama. Lalu menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Seratus dua puluh.”
“Itu nggak mungkin, Mbak.”
“Mungkin.” Diana menggosokkan pipinya sedikit ke punggungku, seperti kucing. “Kamu nggak tahu cara kerja baterai perempuan.”
Langkah kaki berat terdengar dari lorong.
Diana melepaskan pelukannya secepat kilat. Dalam satu detik, dia sudah berdiri satu meter dariku, bersandar di kulkas, memeluk dirinya sendiri dalam flanel kebesaran, dengan wajah polos orang yang hanya kebetulan lewat dapur.
Om Heru masuk, rambut acak-acakan, mata setengah terpejam, membawa rantang kosong.
“Wah,” katanya, mengendus udara. “Wedang jahe?”
“Iya, Om,” kataku. Suaraku terdengar normal. Aku tidak tahu bagaimana. “Mau?”
“Mau, mau. Dingin sekali. Lutut saya ngilu.” Om Heru meletakkan rantang, lalu menyipitkan mata ke arah Diana. “Lho, Mbak Diana. Belum tidur?”
“Belum, Om. Kedinginan.”
“Minum jahe juga. Biar hangat.” Om Heru menerima cangkir dariku, menyesapnya, lalu mengangguk puas. “Enak, Dim. Kayak buatan ibu saya.” Dia berbalik ke lorong, berhenti, lalu menoleh. “Mbak Diana, itu flanelnya kebesaran. Punya siapa?”
Diana tersenyum sopan. “Punya adik saya, Om.”
“Oh.” Om Heru mengangguk dan berjalan kembali ke kamarnya. “Adiknya tinggi, ya.”
Langkahnya menjauh. Pintu kamar tertutup.
Diana dan aku saling menatap di dapur yang remang. Lalu, bersamaan, kami tertawa. Tanpa suara, membungkuk, menutup mulut dengan tangan, bahu terguncang.
“Adik,” bisikku.
“Adikku tinggi,” bisik Diana balik, matanya berair karena menahan tawa. “Tinggi dan pakai flanel tiap Senin.”
Aku menuang wedang jahe ke cangkir kedua dan menyodorkannya. Diana menerimanya dengan dua tangan, meniupnya, lalu menyesapnya.
“Enak,” katanya pelan. “Kayak buatan ibu.”
“Ini resep ibu saya, Mbak.”
Diana menatap cangkir itu. Lalu menatapku. Lama. Dengan mata yang tidak lagi menggoda, hanya hangat.
“Makasih udah bawa jahe, Mas,” katanya. “Dan makasih udah nggak gerak.”
Pagi harinya, saat sarapan, ponselku bergetar.
Bastian: Semalam aku lihat lampu dapur nyala sampai jam 12.
Bastian: Wangi jahe sampai ke balkon.
Bastian: Bagus. Wasit yang perhatian sama peserta yang kedinginan.
Bastian: Btw, aku mau umumin sesuatu ke grup.
Satu menit kemudian, di grup liga:
Bastian: Minggu depan aku ajak Diana makan malam. Berdua. Restoran di Senopati.
Bastian: Ini langkah final. Wasit, siapkan pulpen.
Aku menatap pesan itu lama, dengan cangkir kopi yang mendingin di tangan.
Di seberang meja sarapan, Diana sedang mengoles roti dengan selai stroberi, tersenyum sopan ke staf finance di sebelahnya. Lalu, tanpa menoleh, di bawah meja, ujung sepatunya menyentuh ujung sepatuku.
Satu kali. Pelan.
Seperti mengetuk tutup kotak bekal.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 4, Minggu (Edisi Tandang)
- 1. Bastian — 51 poin
- 2. Kevin — 17 poin
- 3. Om Heru — 12 poin
- 4. Rendy — 6 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian +7 (Mbak Diana tertawa di api unggun). Kevin +3, Om Heru +3 (rendang). Fajar +7 (Mbak Diana tertawa setelah puisi kabut; dewan memperdebatkan apakah tertawanya karena lucu atau kasihan, diputuskan 3–3, wasit memberi suara penentu: dihitung).
Lomba kaki tiga: permainan resmi HR, pasangan berdasarkan undian. Tidak dihitung.
Dapur villa pukul 23.00: tidak ada catatan.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-66. Aku peluk dia dari belakang. Aku yang mulai. Dan dia megang tanganku. Dia yang mulai. Jari kami ngait. Aku hampir nangis di punggungnya, tapi aku tahan, karena nanti kausnya basah dan dia bakal mikir aku ngiler lagi. Om Heru hampir mergokin. Aku bilang flanelnya punya adikku. Adikku tingginya 180 dan wanginya kayak jahe. Bastian mau ngajak aku makan malam minggu depan. Aku belum tahu jawab apa. Aku cuma tahu satu hal: baterainya masih seratus dua puluh persen.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas reading
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi