← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Seventeen

Level Nol

POV: Dimas

Jumat pagi, tidak ada Diana di pantry pukul tujuh empat puluh.

Aku menunggu sampai tujuh lima puluh. Lalu delapan. Teh melati di gelas pantry mulai dingin. Aku berdiri mengelap meja yang sudah bersih untuk keempat kalinya.

Pukul delapan lewat lima, ponselku bergetar.

Diana: Mas

Diana: Aku nggak masuk hari ini

Diana: Demam. 38,9.

Diana: Kayaknya gara-gara kemarin pulang kehujanan nunggu ojol 40 menit

Diana: Maaf tehnya mubazir

Aku menatap angka tiga puluh delapan koma sembilan.

Dimas: Udah minum obat?

Diana: Udah. Paracetamol.

Dimas: Udah makan?

Diana: Belum. Nggak ada makanan. Males pesen. Lidahku pahit semua.

Dimas: Harus makan sebelum obat.

Diana: Iya, Pak Dokter

Diana: Sabtu besok seblaknya ditunda ya :(

Diana: Padahal aku udah nyiapin baju

Diana: Baju kencan pertamaku sekarang jadi baju tidur demam

Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu aku meminum teh melati yang sudah dingin itu sampai habis, karena membuangnya terasa seperti membuang sesuatu yang lebih dari sekadar teh.


Sepanjang hari Jumat, aku bekerja seperti robot.

Aku menyelesaikan tiga tiket dalam satu jam. Aku membantu Clara memetakan ulang alamat IP rak lima dan enam tanpa satu pun kesalahan. Aku makan siang di meja, cepat, tanpa ke ruang server, karena ruang server tanpa Diana terasa terlalu dingin dan terlalu sepi.

Setiap jam, aku mengirim pesan.

Dimas: Jam 10. Panasnya berapa?

Diana: 38,7

Dimas: Jam 12. Udah makan?

Diana: Roti tawar dua lembar. Nggak ada rasanya.

Dimas: Jam 2. Panasnya?

Diana: 39,1 :(

Diana: Kepalaku kayak dipalu

Dimas: Kompres. Pakai handuk basah di dahi.

Diana: Handuknya di kamar mandi. Jauh. 3 meter.

Diana: Aku nggak sanggup jalan 3 meter, Mas

Pukul empat, aku mengirim pesan ke kontak yang belum pernah kuhubungi.

Dimas: Mbak Rara, maaf ganggu. Ini Dimas, IT.

Rara: Aku tahu siapa kamu.

Rara: Semua orang di lantai 12 tahu siapa kamu, kecuali enam cowok di grup itu.

Dimas: Mbak Diana sakit. Mbak Rara mau jenguk?

Rara: Aku di Bogor sampai jam 9 malam. Acara keluarga.

Rara: Kenapa? Kamu mau ke sana?

Dimas: Saya nggak tahu alamatnya.

Dimas: Dan saya nggak mau ke sana kalau dia nggak nyaman.

Tiga titik muncul dan hilang beberapa kali.

Rara: Tunggu.

Sepuluh menit kemudian:

Rara: Aku udah nanya dia. Dia bilang, dan aku kutip langsung: “IYA. SURUH DIA KE SINI. SEKARANG. BAWAIN BUBUR.”

Rara: Alamatnya aku kirim. Apartemen di Tebet. Lantai 7. Unit 712.

Rara: Jangan macam-macam. Aku sampai jam 9.

Dimas: Baik, Mbak. Terima kasih.

Rara: Dan Dimas.

Rara: Dia nggak pernah minta orang datang kalau lagi sakit. Nggak pernah. Bahkan ke aku.

Rara: Jadi ya. Bawain bubur yang enak.


Pukul enam sore, aku berdiri di depan pintu unit 712 dengan dua kantong plastik di tangan.

Kantong pertama: bubur ayam tanpa sambal dari warung langgananku di dekat kantor, yang buburnya halus dan kaldunya bening. Dua botol minuman elektrolit. Satu kantong jeruk. Satu bungkus plester penurun demam untuk dahi.

Kantong kedua: termos kecil berisi wedang jahe. Resep ibuku. Aku pulang ke kos dulu untuk membuatnya, lalu kembali naik motor ke Tebet, dan hujan turun di tengah jalan, dan busi motorku mati di lampu merah Pancoran, dan aku mendorong motor itu dua ratus meter ke bengkel terdekat.

Aku menekan bel.

Pintu terbuka perlahan. Diana berdiri di ambang pintu dengan selimut tebal membungkus seluruh tubuhnya dari bahu sampai kaki, seperti kepompong. Rambutnya acak-acakan. Hidungnya merah. Matanya berair karena demam. Di dahinya, menempel plester penurun demam yang sudah tidak dingin lagi, miring ke kiri.

Bahkan begitu, tanpa riasan, dengan pipi pucat dan bibir kering, dia tetap perempuan paling cantik yang pernah membukakan pintu untukku.

Dia menatapku. Lalu menatap kantong plastik. Lalu menatapku lagi, terutama celana jinsku yang basah sampai lutut.

“Kamu kehujanan,” katanya. Suaranya serak dan sengau.

“Sedikit.”

“Motornya mogok?”

“...Sedikit.”

Diana menatapku selama tiga detik. Lalu matanya berkaca-kaca, dan bibirnya mulai bergetar, dan sebelum aku bisa bertanya, dia sudah melangkah maju dan menempelkan dahinya yang panas ke dadaku, masih terbungkus selimut.

“Kamu dateng,” gumamnya di dadaku.

“Kamu yang suruh.”

“Aku nggak nyangka kamu beneran dateng.”

Aku meletakkan kedua kantong di lantai, lalu memeluk kepompong selimut itu dengan hati-hati. Badannya panas, bahkan menembus selimut tebal.

“Masuk,” kataku pelan. “Kamu harus tidur.”


Apartemen Diana kecil dan rapi. Satu ruangan dengan dapur mini di sudut, sofa bed abu-abu yang sudah dibuka menjadi kasur, rak buku penuh buku akuntansi dan novel, dan jendela yang menghadap lampu-lampu Jakarta Selatan.

Aku mendudukkan Diana di sofa bed, menyelimutinya ulang, lalu berbalik ke dapur mini untuk mengambil mangkuk.

Lalu aku berhenti.

Di pintu kulkas kecil berwarna putih, tertempel rapi dalam dua baris, ada sticky note-sticky note kuning.

Jangan lupa makan, Mbak. Yang pertama. Dari malam audit. Sudutnya sudah lusuh. Ternyata tidak semuanya di balik casing ponsel. Atau mungkin dia memindahkannya.

Telurnya enak, Mbak. Gosongnya juga.

Login.

Sticky note kecil berisi tulisanku yang bahkan tidak kuingat pernah kutulis: Printer sudah normal. Kertasnya jangan dibalik lagi.

Delapan sticky note. Semuanya tulisan tanganku. Ditempel lurus seperti tabel laporan keuangan.

“Jangan dilihat,” kata Diana dari sofa bed, suaranya teredam selimut. “Itu pribadi.”

Aku menatap kulkas itu lama.

“Kamu simpan semua,” kataku pelan.

“Aku bilang jangan dilihat.”

“Yang printer juga?”

Diana menarik selimut sampai menutupi kepalanya. “Itu tulisan tanganmu yang paling rapi. Aku suka.”

Aku menatap delapan kertas kuning yang kutulis tanpa berpikir panjang, disimpan oleh seseorang yang berpikir sangat panjang.

Lalu aku membuka kulkas. Kosong, kecuali dua botol air mineral, satu kotak susu yang sudah kedaluwarsa, dan satu jeruk yang mengerut.

“Kamu nggak punya makanan,” kataku.

“Aku kan bilang.”


Aku menghangatkan bubur, menuangnya ke mangkuk, lalu duduk di tepi sofa bed.

Diana mengintip dari balik selimut. “Itu ada sambalnya?”

“Nggak. Level nol.”

“Level nol bukan bubur. Itu lem.”

“Kamu lagi sakit.”

Diana cemberut, lalu duduk perlahan, bersandar ke bantal. Selimutnya merosot dari bahu. Kukira dia memakai kaus yang terlalu besar. Lalu aku melihat lebih jelas.

Itu bukan kaus. Itu flanel biru tua kotak-kotak. Flanelku. Yang kusampirkan di bahunya di ruang server tiga minggu lalu. Dipakai sebagai baju tidur, kancingnya terpasang sampai atas, lengannya digulung tiga kali.

Diana mengikuti arah pandanganku, lalu buru-buru menarik selimut lagi.

“Jangan dilihat juga,” gumamnya.

“Itu flanelku.”

“Udah dicuci! Berkali-kali! Ini cuma... nyaman.”

Aku tidak bisa menahan senyum. Aku mengambil sendok, menyendok bubur, meniupnya dua kali, lalu mengangkatnya ke depan mulut Diana.

“Aaa,” kataku. Datar. Persis seperti cara Diana menyuapiku martabak di ruang server.

Diana menatap sendok itu. Lalu menatapku. Lalu, perlahan, wajahnya yang sudah merah karena demam menjadi lebih merah lagi.

“Kamu niru aku,” bisiknya.

“Aaa.”

Diana membuka mulut. Aku menyuapinya.

“Hambar,” kata Diana sambil mengunyah.

“Iya.”

“Lagi.”

Aku menyuapinya lagi. Dan lagi. Diana makan setengah mangkuk, lebih banyak dari yang kukira, dengan mata setengah terpejam dan sesekali bergumam “hambar” di antara suapan, tapi terus membuka mulut setiap kali sendok datang.

“Mas,” katanya setelah suapan kesepuluh.

“Iya.”

“Kamu tiupnya dua kali tiap suapan.”

“Biar nggak panas.”

“Aku hitung.” Diana tersenyum lemah. “Konsisten. Kayak teh tiga menit.”


Setelah bubur, obat. Setelah obat, plester penurun demam yang baru, yang kutempelkan di dahinya dengan hati-hati, merapikan poninya ke samping supaya tidak tertempel. Setelah plester, wedang jahe dari termos, diminum pelan-pelan dari tutup termos karena Diana menolak pakai gelas. “Biar kayak di villa,” katanya.

Pukul delapan, hujan di luar jendela makin deras.

Diana berbaring miring di sofa bed, kepompong selimut lagi, menatapku yang mencuci mangkuk di wastafel mini dengan satu tangan dan mengetik pesan ke Nisa dengan tangan lainnya.

“Mas,” panggilnya. Suaranya kecil.

“Iya.”

“Kepalaku sakit.”

Aku meletakkan mangkuk, mengeringkan tangan, dan duduk kembali di tepi kasur. Aku meletakkan punggung tanganku di pipinya. Masih panas. Tapi tidak sepanas tadi.

“Obatnya sebentar lagi kerja,” kataku.

“Aku nggak bisa tidur kalau kepalaku kayak gini.”

“Mau dipijat?”

Diana menggeleng pelan. Lalu matanya menatapku dari balik selimut, berair dan sedikit malu.

“Peluk,” bisiknya.

Aku diam.

“Peluk sampai aku tidur,” lanjut Diana, lebih pelan lagi. “Sebentar aja. Aku janji langsung tidur. Aku cuma...” Suaranya pecah sedikit. “Aku kalau sakit selalu sendirian. Dari kuliah. Nggak pernah ada yang meluk.”

Aku menatapnya. Dewi Lantai 12, Finance Lead, perempuan yang menolak dua belas ajakan makan malam dalam setahun, terbaring dengan hidung merah dan plester demam miring di dahi, memakai flanel orang lain sebagai baju tidur, meminta dipeluk dengan suara anak kecil.

Aku bersandar ke sandaran sofa bed, di atas selimut, dengan punggung tegak dan kaki masih menapak lantai. Lalu aku membuka lengan.

Diana bergeser, perlahan, masih terbungkus kepompong selimut, sampai kepalanya bersandar di dadaku. Aku melingkarkan lengan di sekeliling bahunya, di atas selimut, dan menariknya sedikit lebih dekat.

Diana mendesah panjang. Seperti orang yang akhirnya melepaskan beban berat setelah berjalan jauh.

“Detak jantungmu,” gumamnya.

“Kenapa?”

“Kencang lagi.”

“Kamu panas. Aku kepanasan.”

“Bohong.” Diana tersenyum di dadaku, matanya sudah terpejam. “Kamu selalu bohong soal detak jantung.”

Aku tidak menjawab. Aku mengusap rambutnya pelan, dari puncak kepala sampai ke bahu, berulang-ulang, seperti ibuku dulu mengusap rambutku waktu aku demam.

“Mas,” bisik Diana, makin pelan.

“Iya.”

“Nyanyi.”

“Aku nggak bisa nyanyi.”

“Gumam aja.”

Aku berpikir sebentar. Lalu aku bergumam. Lagu yang dulu dinyanyikan ibuku. Bukan lagu terkenal. Lagu daerah, pelan, dengan nada yang naik turun seperti ombak kecil. Aku tidak ingat semua liriknya. Hanya nadanya.

Diana tidak berkata apa-apa lagi. Napasnya melambat. Melambat. Tangannya, yang mencengkeram ujung flanel di dadanya sendiri, perlahan melonggar.

Dalam lima menit, dia tertidur.

Aku tetap bergumam sampai lagu itu selesai. Lalu aku tetap duduk diam, memeluk kepompong selimut yang panas, mendengarkan hujan dan napasnya yang teratur.

Aku tidak bergerak. Seperti di ruang server, malam tutup buku. Aku sudah ahli dalam hal ini.

Sebelum mataku ikut terpejam, aku meraih sticky note dan pulpen dari meja kecil di samping kasur dengan tangan kiri, menulis tanpa melepas pelukan, dan menempelkannya di termos.


Aku terbangun karena sentuhan ujung jari di bahu.

Pukul sembilan lewat sepuluh. Rara berdiri di samping sofa bed dengan payung basah dan kantong oleh-oleh dari Bogor. Aku tidak mendengar pintu dibuka. Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana.

Di dadaku, Diana masih meringkuk dalam selimut, tidur nyenyak, satu tangannya keluar dari selimut dan menggenggam kerah kausku.

Rara memegang sticky note kuning yang tadi kutempel di termos. Dia membacanya sekali lagi dengan suara sangat pelan, seperti membaca surat orang lain:

“Obat berikutnya jam 12 malam. Bubur sisanya di kulkas. Jangan lupa makan. Kalau panasnya naik lagi, telepon aku. Jam berapa pun. — D.“

Lalu dia menempelkannya kembali, rapi, dan mengangkat ponselnya sedikit.

“Udah aku foto,” bisiknya. “Kalian berdua. Tanpa flash.”

“Mbak Rara, ini...”

“Sst.” Rara menunjuk Diana yang masih tidur. “Nggak aku kirim ke siapa-siapa. Aku simpan di folder Bukti untuk Pernikahan Nanti.” Dia mengangguk ke arah tangan Diana. “Pelan-pelan lepasnya.”

Butuh dua menit penuh untuk melepaskan jari-jari Diana dari kerah kausku tanpa membangunkannya. Diana bergumam protes dalam tidur. Aku membeku. Diana tenang lagi. Akhirnya aku berhasil berdiri, merapikan selimutnya, menempelkan punggung tanganku di dahinya sekali lagi.

Sudah tidak terlalu panas.

Di pintu, sebelum aku pergi, Rara menyerahkan sesuatu. Flanel biru tua, terlipat rapi, dimasukkan ke kantong kertas.

“Dia minta aku balikin ini ke kamu kalau kamu datang,” kata Rara pelan. “Katanya udah kelamaan dipinjam.”

Aku menatap kantong kertas itu. Lalu menatap Diana di sofa bed, yang masih memakai flanel yang lain, yang tadi kulihat di balik selimut.

“Tapi dia lagi pakai...”

“Jangan nanya ke aku.” Rara mengangkat tangan. “Aku cuma kurir. Tanya sendiri nanti.”

Aku pulang naik motor yang businya baru diganti, menembus sisa hujan, dengan kantong kertas berisi flanel di dalam jaket supaya tidak basah.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 8, Jumat

  • 1. Bastian — 73 poin
  • 2. Kevin — 26 poin
  • 3. Om Heru — 18 poin
  • 4. Rendy — 9 poin
  • 5. Fajar — 2 poin
  • 6. Ucup — 0 poin

Catatan wasit: Mbak Diana sakit. Tidak ada pertandingan hari ini. Bastian mengirim parsel buah ke apartemen Mbak Diana (alamat didapat dari HR). Dewan memutuskan: melanggar privasi? Diperdebatkan. Ditunda sampai Senin.

Catatan wasit (pribadi): parselnya diterima Mbak Rara di lobi jam 9.15. Bubur saya sampai duluan.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-92. Demam 39,1. Kepalaku dipalu. Dan dia datang. Kehujanan, motornya mogok di Pancoran, didorong dua ratus meter, terus dateng bawa bubur level nol dan jahe resep ibunya. Dia lihat semua sticky note di kulkasku. Dia lihat aku pakai flanelnya buat tidur. Dia nyuapin aku sambil bilang “aaa” dengan muka datar, persis kayak aku dulu. Dia niupin buburnya dua kali tiap suapan. Aku hitung. Terus aku minta dipeluk, dan dia peluk, dan dia gumamin lagu yang aku nggak tahu judulnya tapi rasanya kayak rumah.

Aku sakit dan aku nggak sendirian. Itu pertama kali.

Aku suruh Rara balikin flanelnya. Flanel yang itu. Bukan yang aku pakai. Dia belum tahu bedanya. Belum.