Chapter Twelve
Tiket Nomor Satu
POV: Diana
Selasa pagi, pukul tujuh lima puluh delapan, aku menyalakan laptop.
Ruang kaca finance mulai ramai. Staf junior menaruh tas. Seseorang menyalakan dispenser. Di luar dinding kaca, lantai dua belas bergerak dengan ritme pagi yang biasa.
Aku menekan tombol power, menyesap teh melati dari gelas yang kutemukan di pantry lima menit lalu. Diseduh tiga menit, seperti biasa. Kali ini dia tidak ada di pantry. Hanya gelas itu, di meja, dengan sticky note kuning bertuliskan satu kata: Login.
Aku tidak mengerti maksudnya. Sampai layar laptopku menyala.
Biasanya, sebelum layar login muncul, ada kotak putih membosankan bertuliskan Peringatan Keamanan Sistem dengan paragraf panjang tentang larangan menyalahgunakan perangkat kantor. Aku sudah melihatnya ratusan kali. Aku selalu menekan OK tanpa membaca.
Pagi ini, kotak putih itu berbeda.
Judulnya tetap Peringatan Keamanan Sistem. Tapi isinya bukan paragraf hukum.
TIKET #001 — PRIORITAS TINGGI
Pelapor: Diana Prameswari, Finance
Keluhan: “Jadi kita gimana?”
Status: Dalam penanganan.
Catatan teknisi:
Saya keberatan dengan diksi “bukan ancaman.”
Saya mau ikut lomba. Tapi bukan lombanya mereka. Lomba yang pesertanya cuma saya, dan hadiahnya bukan piala.
Kalau Mbak bersedia menerima penanganan lanjutan, ruang server, jam 12. Bawa bantal kuning.
— Teknisi penanggung jawab (yang kemarin bilang “akan saya tindak lanjuti”)
Aku membaca pesan itu sekali.
Aku membacanya dua kali.
Pada kali ketiga, gelas teh di tanganku mulai miring, dan sedikit teh menetes ke meja, dan aku tidak menyadarinya sampai Rara, yang kebetulan masuk untuk mengantar draf kontrak, berseru pelan.
“Na! Tehmu!”
Aku tersentak, meletakkan gelas, menyambar tisu. Lalu aku sadar layarku masih menampilkan tiket itu, dan Rara berdiri tepat di belakangku.
Aku menutup laptop dengan kecepatan yang belum pernah dilihat siapa pun di ruang finance.
“Na,” kata Rara pelan. “Itu apa?”
“Peringatan keamanan.”
“Peringatan keamanan nggak bikin muka orang merah kayak gitu.”
Aku menatap laptop yang tertutup. Lalu menatap Rara. Lalu menutup wajah dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti ketel air yang hampir mendidih.
Pagi itu, Finance Lead PT Arunika Digital tidak berfungsi dengan baik.
Aku salah memasukkan angka di jurnal pembayaran dua kali. Aku memanggil staf junior dengan nama staf senior. Aku membaca email dari direktur keuangan empat kali tanpa bisa menjawab satu kalimat pun, karena setiap kali membaca kata penanganan, aku teringat kotak putih itu.
Pukul sembilan, aku membuka laptop lagi, menekan OK di kotak tiket itu untuk bisa masuk ke sistem, lalu menghabiskan dua menit penuh menatap kotak yang sudah hilang dari layar.
Pukul sepuluh, aku mengirim pesan.
Diana: Tiketnya udah aku baca.
Dimas: Baik.
Diana: Kamu ubah pesan login laptopku??
Dimas: Hanya untuk perangkat Mbak. Sudah saya kembalikan ke pesan standar setelah Mbak login.
Diana: Itu penyalahgunaan akses admin, Mas.
Dimas: Iya, Mbak.
Dimas: Saya siap menerima sanksi.
Diana: Sanksinya nanti jam 12.
Dari balik dinding kaca, aku melihatnya di pojok IT. Dia meletakkan ponsel, lalu menatap layar komputernya tanpa bergerak, seperti orang yang lupa cara membaca. Sasha, di meja sebelah, mengatakan sesuatu tanpa menoleh. Dia menjawab. Sasha menghela napas panjang, sangat panjang, lalu menarik sesuatu di layarnya sendiri dan mulai mengetik dengan keras.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi aku melihat dia menoleh ke Sasha, dan mulutnya membentuk makasih, Mbak. Dan Sasha, yang tidak pernah kulihat tersenyum di kantor, mengetik lebih keras lagi.
Aku menyimpan pemandangan itu di kepala. Di bagian yang belum tahu harus kuberi nama apa.
Pukul dua belas kurang dua, aku berdiri di depan pintu ruang server dengan bantal kuning di pelukan.
Aku Finance Lead. Aku sudah presentasi di depan direksi, auditor, dan vendor yang berteriak. Tanganku tidak pernah gemetar.
Tanganku gemetar.
Pukul dua belas tepat, aku membuka pintu.
Ruang server terasa lebih dingin dari biasanya. Exhaust fan sudah menyala. Kardus lama yang penyok sudah diganti dua lembar kardus baru, dibentangkan rapi di pojok. Di atasnya, dua kotak ayam geprek dan dua gelas teh melati, uapnya masih naik.
Dan dia berdiri di samping rak server nomor empat, dengan flanel biru tua, dengan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana. Tangan kanannya terus menyentuh saku dada flanel, seperti memastikan sesuatu di sana tidak kabur.
Aku menutup pintu di belakangku dan bersandar ke pintu itu.
Tidak ada yang bicara.
Dengung server. Exhaust fan. Dua napas yang terlalu cepat.
“Kamu bawa ayam geprek,” kataku akhirnya.
“Iya.”
“Level tiga.”
“Mbak lagi capek. Pagi ini Mbak salah input jurnal dua kali.”
Aku menatapnya. “Kamu lihat dari pojok IT?”
“Saya lihat Mbak menghapus satu baris tiga kali.”
Aku menggigit bibir. Lalu aku melangkah maju, meletakkan bantal kuning di atas kardus, dan berdiri satu langkah di depannya.
“Oke,” kataku. “Penanganan lanjutan. Silakan, Pak Teknisi.”
Dia mengangguk. Dia merogoh saku dada, mengeluarkan kertas yang dilipat empat, membukanya, dan menatap tulisan tangannya sendiri yang rapi dan miring ke kanan.
Lalu dia melipatnya lagi dan memasukkannya kembali ke saku.
“Nggak jadi dibaca?” tanyaku.
“Saya lupa semuanya,” katanya jujur. “Kalimat pertamanya aja saya lupa.”
Aku tertawa kecil. “Terus?”
Dia menarik napas panjang. Dia menatapku. Lama. Seperti sedang membaca sesuatu di wajahku yang lebih penting daripada kertas di sakunya.
Lalu dia bicara.
“Saya bukan orang kaya, Mbak,” katanya. “Gaji saya habis buat kuliah Nisa sampai dua tahun lagi. Saya nggak bisa ngajak Mbak makan di Senopati. Saya nggak punya mobil. Motor saya tahun 2015 dan kalau hujan businya suka mati.”
Aku tidak memotongnya.
“Saya nggak pintar ngomong. Kalau panik saya bilang ‘akan saya tindak lanjuti.’ Saya pakai flanel tiap Senin, dan Selasa, dan kadang sampai Jumat.” Dia menelan ludah. “Dan saya wasit di liga yang dibikin buat merebut Mbak. Itu... bukan awal yang bagus.”
“Terus yang bisa kamu janjikan apa?” tanyaku pelan.
Dia memikirkannya. Lama.
“Teh,” katanya. “Tiga menit. Tiap pagi. Selama Mbak mau.”
Aku menatapnya.
“Ayam geprek level tiga kalau Mbak capek. Seblak level lima kalau Mbak senang, walaupun saya cuma bisa makan level satu. Jahe kalau Mbak kedinginan. Bahu kalau Mbak ngantuk.” Suaranya makin pelan. “Dan saya nggak akan pernah nyuruh Mbak jadi Dewi Lantai 12 di depan saya. Mbak boleh ingusan. Boleh ngiler. Boleh ketawa jelek. Boleh nyanyi dangdut di kamar mandi.”
“Kamu inget soal dangdut?”
“Saya inget semuanya, Mbak.”
Aku tidak bisa menjawab. Mataku panas.
Dia menegakkan bahu. Aku melihat jakunnya bergerak saat dia menelan ludah sekali lagi.
“Diana Prameswari,” katanya. Tanpa Mbak. Untuk pertama kalinya. “Mau jadi pacar saya?”
Hening.
Server berdengung. Exhaust fan berputar.
Aku menutup mulut dengan punggung tangan. Mataku basah. Bahuku bergetar, tapi kali ini bukan karena tawa.
Lalu aku menurunkan tangan, menarik napas yang gemetar, dan menjawab dengan suara paling formal yang bisa kubuat:
“Tiket diterima.”
Dia berkedip.
“Status,” lanjutku, suaraku pecah di tengah, “selesai.”
Dan sebelum dia sempat memproses, aku sudah melangkah ke depan dan memeluknya.
Bukan pelukan dari belakang seperti di dapur villa. Bukan pelukan lengan seperti di lift. Pelukan penuh, dari depan, kedua lenganku melingkar di lehernya, wajahku terbenam di bahunya, tubuhku menempel erat seperti takut kalau dilepas sedikit saja, semuanya akan menguap bersama uap teh melati.
Dia berdiri kaku selama dua detik.
Lalu dia memeluk balik.
Kedua lengannya melingkar di punggungku, menarikku lebih dekat. Satu tangan di belakang kepalaku, di rambut. Dia menunduk, menempelkan pipinya di puncak kepalaku. Aku bisa merasakan napasnya di rambutku. Pelan. Gemetar. Lega.
Kami berdiri seperti itu lama. Sangat lama. Teh melati mendingin di atas kardus. Ayam geprek kehilangan kerenyahannya. Exhaust fan terus berputar.
Tidak ada yang peduli.
“Mas,” bisikku di bahunya.
“Iya.”
“Satu syarat.”
“Apa?”
“Kalau berdua, jangan panggil aku Mbak lagi.”
Dia diam. Lalu, sangat pelan, di puncak kepalaku:
“Diana.”
Aku mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti setengah isak setengah tawa, dan pelukanku mengencang.
“Lagi,” bisikku.
“Diana.”
“Lagi.”
“Diana.” Aku bisa merasakan dia tersenyum di rambutku. “Ayam gepreknya dingin.”
“Biarin.”
Kami akhirnya makan ayam geprek yang sudah dingin, duduk berdampingan di atas kardus baru dengan bantal kuning di belakang punggungku. Bahu menempel. Lutut menempel. Aku menyuapinya satu suapan, lalu dia, dengan wajah datar dan kuping merah, menyuapiku balik.
Itu pertama kalinya dia yang menyuapi. Aku hampir tersedak karena kaget.
“Mas,” kataku setelah makan, sambil menyandarkan kepala ke bahunya. “Liganya gimana?”
Dia sudah memikirkannya. Aku tahu dari cara dia menjawab terlalu cepat. “Saya bisa mundur jadi wasit. Bilang ke mereka.”
“Jangan.”
Dia menoleh.
“Kalau kamu bilang sekarang, Bastian bakal...” Aku mencari kata. “Bastian itu baik. Tapi dia baru ditolak tiga hari lalu. Kalau dia tahu orangnya kamu, wasitnya sendiri, dia bakal ngerasa dikhianati. Dan kantor ini kecil, Mas. Kamu yang bakal susah.”
“Terus?”
“Backstreet dulu.” Aku tersenyum, dan aku bisa merasakan senyum itu perlahan berubah dari lembut menjadi nakal. “Sampai liganya selesai dengan sendirinya. Lagian...”
“Lagian apa?”
“Aku penasaran lihat kamu mimpin investigasi pria misterius.” Aku tidak bisa menahan senyum. “Sambil pacaran sama hadiahnya.”
Dia memejamkan mata. “Itu kejam, Diana.”
“Itu hiburan.” Aku tertawa, lalu duduk tegak, mengangkat jari seperti sedang presentasi anggaran. “Oke. Aturan backstreet. Satu: kalau ada orang, aku tetap Mbak, kamu tetap Mas. Dua: kode.”
“Kode?”
“Teh di pantry artinya aku kangen. Laptop rusak artinya ketemu di ruang server. Dan...” Aku mengambil tutup kotak ayam geprek, mengetuknya dua kali dengan ujung jari. Tok, tok. “Ini artinya aku sayang kamu.”
Dia menatap tutup kotak itu. Lalu menatapku.
Dia mengulurkan tangan dan mengetuk punggung tanganku. Dua kali. Pelan.
Tok. Tok.
Aku menatap tanganku sendiri. Lalu menatapnya. Aku bisa merasakan wajahku memerah dari leher sampai dahi dalam satu detik, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku kehabisan kata-kata.
Dia tersenyum. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak ada di kertasnya, tidak ada di aturanku, dan sama sekali tidak prosedural.
Dia mencondongkan tubuh dan mencium keningku.
Pelan. Lama. Hangat.
Saat dia menarik diri, aku masih memejamkan mata.
“Itu,” bisikku tanpa membuka mata, “nggak ada di aturan.”
“Akan saya tindak lanjuti,” bisiknya balik.
Dan kali ini, aku tertawa sambil menariknya ke pelukan lagi.
Pukul satu kurang lima, aku keluar dari ruang server lebih dulu. Wajah Dewi Lantai 12. Langkah anggun. Rambut dirapikan.
Tiga langkah dari pintu, aku sadar bantal kuningku tertinggal.
Aku kembali. Membuka pintu.
Dia masih di sana, duduk di kardus, menatap ponselnya dan mengetik sesuatu. Wajahnya, yang tidak tahu sedang dilihat, tersenyum. Senyum kecil, sendirian, seperti orang yang baru saja menemukan file yang hilang bertahun-tahun.
Dia mengangkat kepala, kaget, dan buru-buru mengunci layar.
Aku tidak bertanya. Aku hanya mengambil bantal kuning, mengecup pipinya sekilas, lalu keluar lagi.
Aku tidak tahu apa yang dia ketik siang itu. Aku baru tahu berminggu-minggu kemudian, di sebuah kamar kos kecil di Kebon Jeruk, dari layar ponsel yang lupa dikunci.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 6, Selasa
- 1. Bastian — 59 poin
- 2. Kevin — 20 poin
- 3. Om Heru — 12 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian +3 (chat). Kevin +3 (teh melati; Mbak Diana membalas “Makasih, Mas Kevin, tapi aku udah minum teh tadi pagi”). Investigasi pria misterius: belum ada kemajuan yang bisa dilaporkan.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-75. Hari pertama. Dia nggak baca kertasnya karena lupa semua. Dia malah ngomong pakai hatinya. Dia panggil aku Diana. Cuma Diana. Aku minta dia ulang empat kali dan dia ulang empat kali. Dia cium keningku dan bilang “akan saya tindak lanjuti.” Aku punya pacar. Pacarku tukang IT yang pakai flanel, motornya mogok kalau hujan, dan janjiin aku teh tiga menit seumur hidup. Aku nggak pernah dapat janji sebagus itu dari siapa pun.
Tok, tok.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu reading
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi