Chapter Eighteen
Segitiga di Lengan Kiri
POV: Dimas
Senin pagi, Diana kembali ke pantry pukul tujuh empat puluh dengan wajah yang masih sedikit pucat, hidung yang masih sedikit merah, dan senyum yang sudah sepenuhnya kembali.
Teh melati menunggunya di meja, di samping wadah kecil berisi irisan jahe dan madu, dengan sticky note: Minum dua kali sehari sampai suaramu nggak sengau lagi.
Diana tersenyum, mengambil keduanya, lalu berjalan melewatiku ke pintu. Saat melewatiku, dia menyentuh lengan kiriku sekilas. Tepat di lengan flanel biru tua yang kupakai pagi ini.
Flanel yang dikembalikan Rara Jumat malam.
Diana melirik lengan itu sebentar, lalu menatap wajahku, lalu tersenyum dengan cara yang membuatku merasa aku baru saja melewatkan sesuatu.
“Flanelnya pas, Mas,” katanya, dan pergi.
Rapat dewan liga hari Senin dimulai dengan kasus parsel buah.
“Bastian mengirim parsel ke apartemen Diana,” kata Kevin, membaca dari spreadsheet dengan nada jaksa penuntut. “Alamat didapat dari HR. Pertanyaan untuk dewan: apakah ini melanggar privasi?”
“Aku dapat alamatnya resmi,” protes Bastian. “Atas nama divisi marketing.”
“Tim marketing nggak tahu ada parsel,” kata Ucup.
Bastian diam.
Meja menoleh padaku. Wasit. Pemegang keputusan akhir untuk kasus yang dewan tidak bisa sepakati.
“Bukan diskualifikasi,” kataku akhirnya. “Tapi peringatan. Minus lima. Alamat pribadi tidak boleh dipakai lagi tanpa izin langsung dari Mbak Diana.”
Bastian menatapku lama. “Adil.”
“Satu lagi, Mas.”
“Apa?”
“Parselnya diterima Mbak Rara di lobi. Mbak Diana lagi tidur.”
Bastian mengangguk pelan. “Ya. Rara bilang begitu.” Dia memutar cangkir kopinya di meja. “Rara juga bilang dia udah dijenguk orang lain sebelumnya. Bawa bubur.”
Meja menjadi hening.
“Pria misterius,” bisik Kevin dengan mata berbinar.
“Siapa?” tanya Fajar.
“Rara nggak bilang.” Bastian menatap kopinya. “Tapi katanya buburnya enak. Bubur ayam yang kaldunya bening. Dari warung di dekat kantor.”
Aku meminum kopiku pelan.
Warung bubur langgananku memang terkenal dengan kaldunya yang bening.
Pukul dua belas, ruang server.
Clara sedang di kantor vendornya hari ini, jadi ruang server kembali menjadi milik dua orang. Diana duduk bersila di atas kardus dengan bantal kuning, laptop di pangkuan, mengerjakan persiapan audit internal yang tertunda karena dia sakit.
Aku duduk di sebelahnya, di kardus juga, makan nasi kotak dan sesekali melirik layarnya yang penuh angka.
Rambut Diana terus jatuh.
Dia tidak menggelungnya hari ini. Dia menggeraikannya karena katanya kepalanya masih sedikit pusing kalau rambutnya diikat ketat. Tapi rambut panjang itu terus meluncur dari bahu ke depan, menutupi pipi, jatuh ke atas keyboard.
Diana menyibakkannya ke belakang. Jatuh lagi. Dia mendengus, menjepitnya di antara bibir sambil mengetik. Sehelai tetap lolos dan menempel di layar laptop.
“Ihh,” gerutu Diana dengan rambut di mulutnya.
Aku meletakkan nasi kotak.
Tanpa berkata apa-apa, aku menggeser badan ke belakang Diana. Lalu aku mengangkat tangan, dan dengan ujung jari yang sangat hati-hati, mulai mengumpulkan rambutnya dari bahu kiri, bahu kanan, tengkuk.
Diana berhenti mengetik.
Aku tidak bicara. Aku menyisir rambut itu dengan jari-jariku, pelan, dari pelipis ke belakang. Rambutnya lembut dan berat, hitam berkilau di bawah lampu neon, sedikit kusut di bagian bawah karena sudah dua hari tidak benar-benar disisir. Wangi melati dan sedikit wangi minyak kayu putih.
Aku mengumpulkannya di satu tangan. Lalu, dengan tangan lainnya, aku melepas sesuatu dari pergelangan tangan kiriku.
Ikat rambut hitam. Polos. Elastis.
Diana melihatnya dari sudut mata. “Kamu bawa ikat rambut?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Aku melilitkan ikat rambut itu di sekitar rambutnya. Sekali. Dua kali. Gerakanku canggung, seperti orang yang baru belajar dari video tutorial semalam. Aku memang baru belajar dari video tutorial semalam.
“Sejak kamu gelung rambut pakai pulpen pas tutup buku,” kataku pelan. “Kelihatannya sakit.”
Lilitan ketiga. Selesai.
Kuncir kuda yang sedikit miring ke kiri. Tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar. Beberapa helai pendek tetap lolos di tengkuk. Tapi rambut itu tidak lagi jatuh ke keyboard.
Aku menarik tangan, lalu kembali ke tempat dudukku dan mengambil nasi kotak lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
Diana tidak bergerak.
Dia duduk diam di atas kardus, laptop di pangkuan, tangan di atas keyboard, tidak mengetik. Lalu, perlahan, dia mengangkat satu tangan dan menyentuh kuncir kudanya. Merabanya dari ikatan sampai ke ujung.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi aku melihat telinganya, yang sekarang terlihat karena rambutnya diikat, berubah merah dari ujung sampai ke cuping.
Itu pertama kalinya aku melihat telinga Diana memerah.
Rupanya kami sama.
Lima menit berlalu dalam diam. Diana kembali mengetik, tapi lebih lambat. Sesekali tangannya naik untuk menyentuh kuncir kudanya, lalu turun lagi.
“Mas,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.
“Iya.”
“Flanel yang kamu pakai. Yang Rara balikin.”
“Kenapa?”
“Lihat lengan kirinya.”
Aku menunduk ke lengan kiri flanelku. Flanel biru tua, kotak-kotak hitam. Sama seperti yang selalu kupakai. Aku membalik lengan itu, memeriksa bagian dalam, bagian luar, siku, ujung.
Bersih. Tidak ada noda.
Aku berhenti.
Tidak ada noda. Tidak ada bekas cokelat kecil berbentuk segitiga. Bekas setrikaan dari malam ketika Diana mengirim pesan pertama kali, yang nyimpen sticky note, dan aku lupa mengangkat setrikaan dari lengan kiri flanel karena terlalu sibuk menatap layar ponsel.
Bekas itu selalu ada di sana sejak malam itu. Aku selalu melihatnya setiap kali mengancingkan lengan.
Aku menatap kerah flanel. Labelnya masih kaku. Masih baru. Jahitannya rapi tanpa satu pun benang yang mencuat.
Ini bukan flanelku.
Aku menoleh ke Diana.
Diana menatap layar laptop dengan sangat serius. Sangat, sangat serius. Kuping merahnya mengkhianatinya.
“Diana.”
“Hm.”
“Ini flanel baru.”
“Mungkin.”
“Flanelku yang asli ada bekas setrikaan. Segitiga. Di lengan kiri.”
Diana menutup laptopnya pelan. Lalu menatap lututnya sendiri.
“Yang asli punyaku sekarang,” katanya kecil.
Aku menunggu.
“Yang kamu sampirin di bahuku malam tutup buku. Yang ada bekas segitiganya. Yang aku pakai buat tidur waktu demam.” Diana menarik lututnya ke dada. “Itu flanel yang kamu pakai waktu aku pertama kali naksir kamu. Waktu malam audit. Aku inget. Kamu pakai flanel biru tua itu, lengannya digulung, dan kamu benerin laptopku empat puluh lima menit tanpa ngomong apa-apa.”
Dia mengintipku dari atas lututnya.
“Aku nggak mau balikin yang itu. Jadi aku cari yang sama persis. Merek yang sama, warna yang sama, kotak-kotaknya sama. Aku ke tiga toko. Toko ketiga di Tanah Abang, aku harus nawar sama bapak-bapak yang nggak mau turun harga.”
“Kamu nawar?”
“Aku Finance Lead, Mas. Aku nggak pernah bayar harga pertama.” Diana menyembunyikan wajahnya di lutut lagi. “Dapat diskon dua puluh persen.”
Perempuan yang pergi ke tiga toko dan menawar di Tanah Abang supaya bisa menyimpan flanel lusuh dengan bekas setrikaan segitiga. Aku tidak tahu harus bilang apa.
Jadi aku mengulurkan tangan dan mengetuk lututnya. Dua kali.
Tok. Tok.
Diana mengangkat kepala sedikit, menatapku dari balik lutut. Matanya berkaca-kaca.
Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat, dia melepaskan lututnya, mencondongkan tubuh, dan...
Pintu ruang server terbuka.
Pak Joko berdiri di ambang pintu. Pel di tangan kanan. Ember di tangan kiri. Kunci ruang server tergantung di pinggangnya.
Diana membeku dengan tubuh condong ke arahku, wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Aku membeku dengan tangan masih di lututnya.
Pak Joko membeku dengan ember yang mulai miring.
Tidak ada yang bernapas.
Lalu, sangat lambat, Pak Joko meletakkan embernya di lantai dan menatap langit-langit.
“Saya,” katanya dengan suara yang sangat tenang, “tidak melihat apa-apa.”
Diana pelan-pelan menarik tubuhnya mundur. Aku pelan-pelan menarik tangan dari lututnya.
“Pak Joko,” kataku. “Ini...”
“Saya tahu, Mas.” Pak Joko akhirnya menurunkan pandangannya. Matanya bergerak dariku ke Diana, dari kuncir kuda miring ke flanel baru, dari bantal kuning ke dua nasi kotak di atas kardus. “Saya sudah tahu dari lama.”
Diana dan aku saling pandang.
“Dari lama?” tanya Diana.
“Mbak minta info jadwal kopi Mas. Mas minta info Mbak udah makan apa belum.” Pak Joko mengangkat bahu. “Saya OB, Mbak. Kami tahu semuanya. Kami cuma nggak bilang.”
Hening sesaat.
“Tapi,” lanjut Pak Joko, dan nadanya berubah menjadi nada pedagang di pasar, “kalau sudah lihat langsung, itu beda kelas, Mbak. Ini informasi tingkat nasional.”
“Berapa, Pak?” tanyaku dengan suara pasrah.
Pak Joko menimbang. “Sepuluh gorengan.”
Diana menegakkan punggung. Mata Finance Lead-nya menyala.
“Lima gorengan,” katanya.
“Mbak, ini rahasia besar...”
“Lima gorengan, plus martabak manis tiap Jumat selama sebulan.”
Pak Joko berkedip. “Martabak yang mana?”
“Yang di depan gang, cokelat keju kacang. Ukuran besar.”
Pak Joko memikirkannya selama lima detik penuh. Lalu mengulurkan tangan.
“Deal, Mbak.”
Diana menjabatnya seperti menandatangani kontrak vendor. Aku menatap transaksi itu dengan perasaan campur aduk antara malu, lega, dan kagum.
Pak Joko mengambil ember dan pelnya. Di pintu, dia berbalik.
“Satu lagi, Mbak, Mas.”
“Apa, Pak?”
“Undangan nikahnya nanti,” kata Pak Joko dengan wajah datar, “saya yang pertama dapat, ya.”
Pintu menutup.
Diana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku menatap pintu. Lalu, bersamaan, kami mulai tertawa, membungkuk di atas kardus, menutup mulut supaya tidak terdengar sampai ke lorong.
“Undangan nikah,” desis Diana di sela tawanya. “Undangan nikah, Mas!”
“Aku dengar.”
“Kita baru pacaran tiga minggu!”
“Aku tahu.”
Diana berhenti tertawa. Dia menatapku dari balik jari-jarinya.
“Kamu kok nggak protes?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengulurkan tangan, merapikan kuncir kudanya yang makin miring karena tertawa, dan menyelipkan helai rambut yang lolos ke belakang telinga yang masih merah.
Diana menatapku. Dan untuk kedua kalinya hari itu, tidak bisa berkata apa-apa.
Pukul enam sore, Sasha berdiri di samping mejaku dengan jaket di bahu.
“Lo masih utang seblak,” katanya.
Aku mengangkat kepala. Utang itu dari dua minggu lalu, saat Sasha mengambil alih tiket-tiketku di hari aku mengirim pesan login ke laptop Diana. Aku belum membayarnya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Warung seblak itu ada di gang belakang gedung. Meja plastik, kursi plastik, dan kuah merah yang menggelegak di panci besar. Sasha memesan level tiga. Aku memesan level satu.
Kami makan dalam diam selama beberapa menit. Aku sudah berkeringat di suapan kelima.
“Dim,” kata Sasha tiba-tiba, tanpa mengangkat kepala dari mangkuknya.
“Iya.”
“Gue suka lo.”
Sendok di tanganku berhenti di udara.
“Dari semester dua,” lanjut Sasha, masih menatap seblaknya. Suaranya datar, seperti melaporkan bug. “Dari lo bantu gue debug tugas akhir jam tiga pagi dan nggak minta apa-apa. Enam tahun.”
Aku meletakkan sendok.
“Mbak Sasha...”
“Jangan.” Sasha mengangkat tangan. “Gue nggak lagi nembak lo. Gue cuma ngomong biar nggak nyangkut di sini terus.” Dia menunjuk dadanya sendiri dengan sendok. “Gue udah tahu. Dari hoodie itu. Lubang solder di lengan kanan. Gue yang minjemin solder ke lo waktu itu, Dim.”
Aku tidak bisa bicara.
Sasha akhirnya mengangkat kepala, dan aku melihat matanya sedikit basah, tapi wajahnya tersenyum. “Lo nggak pernah merah kayak gitu enam tahun. Sama gue juga nggak.”
“Maaf, Mbak.”
“Kenapa minta maaf? Lo nggak salah.” Sasha menyendok seblaknya lagi. “Lo cuma jatuh cinta sama orang yang tepat. Gue cuma kebetulan bukan orangnya.”
Dia diam sebentar. “Dia baik, Dim. Gue awalnya mau benci dia. Tapi gue nggak bisa. Dia lihat lo kayak lo itu orang paling berharga di gedung itu. Dan lo emang iya.”
Aku menunduk ke mangkuk. Mataku terasa panas. Mungkin seblaknya. Level satu.
“Satu hal,” kata Sasha. “Jangan bikin dia nunggu. Lo itu kebiasaan nunggu. Nunggu waktu yang tepat, nunggu gaji naik, nunggu Nisa lulus. Jangan bikin dia nunggu kayak gue nunggu enam tahun.”
“...Iya, Mbak.”
“Janji?”
“Janji.”
Sasha tersenyum, lalu mengusap sudut matanya cepat-cepat dengan punggung tangan. “Pedes,” katanya. “Level tiga ternyata pedes.”
“Iya.”
“Lo kenapa matanya merah? Lo kan level satu.”
“Kepedesan.”
“Bohong.”
Kami berdua tertawa. Pelan, sedikit basah, di bawah lampu neon warung seblak yang berkedip.
“Btw,” kata Sasha setelah tawanya reda, nadanya sengaja dibuat santai. “Kevin minta gue QA spreadsheet investigasinya. Katanya formulanya ada yang error. Terus dia ngajak nonton Sabtu. Katanya buat ‘ucapan terima kasih atas jasa QA’.”
Aku menatapnya. “Mbak mau?”
Sasha mengaduk seblaknya. “Spreadsheet-nya beneran error. Lima belas formula. Orangnya ribet, tapi detail.” Dia mengangkat bahu. “Mungkin.”
Aku tersenyum.
“Jangan senyum,” kata Sasha.
“Saya nggak senyum.”
“Kuping lo nggak merah, tapi lo senyum. Itu lebih nyebelin.”
Malam itu, sesampainya di kos, aku mengirim pesan.
Dimas: Tadi aku makan seblak sama Mbak Sasha.
Dimas: Dia tahu soal kita. Dari lama.
Dimas: Dia bilang sesuatu. Nanti aku cerita langsung.
Diana: Dia baik-baik aja?
Dimas: Iya. Dia baik-baik aja. Dia bilang kamu baik.
Diana: ...
Diana: Bilang makasih dari aku.
Diana: Dan bilang aku bakal jagain kamu.
Diana: Pakai flanel yang ada segitiganya.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 9, Senin
- 1. Bastian — 68 poin
- 2. Kevin — 26 poin
- 3. Om Heru — 18 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: Bastian −5 (peringatan, alamat pribadi digunakan tanpa izin langsung). Petunjuk baru pria misterius: bubur ayam kaldu bening, warung dekat kantor. Kevin akan menyelidiki semua pelanggan warung bubur.
Catatan Kevin (tambahan): spreadsheet investigasi sedang di-QA oleh Mbak Sasha. Ditemukan 15 error formula. Sabtu ada pertemuan evaluasi di bioskop.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-95. Dia ikat rambutku. Pakai ikat rambut yang dia bawa di pergelangan tangan sejak tutup buku. Miring ke kiri. Aku nggak akan benerin. Aku foto dari belakang pakai kamera depan, terus aku kirim ke Rara, terus Rara balas “kalian berdua butuh bantuan profesional.”
Dia tahu soal flanel. Aku pikir dia bakal ketawa. Ternyata dia ngetuk lututku dua kali.
Pak Joko tahu. Lima gorengan dan martabak sebulan. Dia minta undangan nikah duluan. Dan pacarku nggak protes.
DIA NGGAK PROTES.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri reading
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi