← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Three

Wasit Ganteng: ?

POV: Diana

Aku tahu soal kata “wasit” sejak Jumat sore.

Aku sedang memfotokopi dokumen pajak di tempat fotokopi sebelah warung Mang Udin ketika suara Kevin, yang tidak pernah bisa berbisik, terdengar menembus dinding triplek.

Kita butuh wasit. Yang bukan ancaman.

Lalu suara yang lebih pelan, datar, dan sudah tiga bulan ini kuhafal di luar kepala.

Saya keberatan dengan diksi “bukan ancaman”.

Aku harus pura-pura batuk supaya abang fotokopi tidak melihatku tertawa.

Aku tidak tahu wasit untuk apa. Futsal, mungkin. Lomba catur. Turnamen game online yang sering dibicarakan anak-anak IT. Yang aku tahu hanya satu: mulai Jumat itu, Dimas Aditya punya julukan baru, dan aku berniat memakainya sebanyak mungkin.

Aku baru tahu wasit untuk apa pada Rabu pagi.


Pukul tujuh empat puluh, pantry lantai dua belas masih sepi. Aku suka datang lebih awal untuk menyeduh teh melati sebelum ruang kaca finance penuh dengan suara kalkulator dan keluhan soal reimbursement.

Saat menunggu air mendidih, mataku jatuh ke kalender meja bergambar Danau Toba yang bersandar di papan tulis piket. Posisinya miring. Aku tidak bisa melihat angka tidak seimbang di laporan keuangan. Aku juga tidak bisa melihat kalender miring.

Aku menggesernya.

Di baliknya ada tabel.

Ditulis dengan spidol hitam, rapi sekali, dengan huruf kapital yang ujungnya sedikit miring ke kanan. Aku mengenal tulisan itu. Tulisan itu ada di sticky note kuning yang sekarang menempel di balik casing ponselku.

LIGA DIANA — MUSIM 1

Di bawahnya, enam nama dan angka-angka. Om Heru 3. Bastian 3. Kevin 0. Ucup 0. Rendy 0. Fajar −5.

Aku membacanya sekali. Dua kali. Lalu aku membaca catatan kecil di bawah tabel, juga dengan tulisan yang sama.

Kopi di meja wasit tidak dihitung.

Air di dispenser mendidih. Aku tidak menyadarinya.

“Na?” Rara, sahabatku dari divisi legal, muncul di pintu pantry dengan mug bergambar kucing. “Kenapa berdiri kayak patung... ya ampun.”

Rara melihat papan itu. Rara membacanya. Wajahnya berubah dari ngantuk menjadi wajah seorang staf legal yang baru menemukan pelanggaran kode etik perusahaan pasal empat ayat dua.

“Ini harus dilaporin ke HR,” katanya. “Sekarang. Ini objektifikasi. Ini...”

“Ra.”

“Fajar minus lima? Kenapa dia minus...”

“Ra.”

Rara menoleh. Lalu berhenti bicara, karena aku sedang tertawa. Tanpa suara, membungkuk sedikit, satu tangan berpegangan pada meja pantry, bahuku terguncang.

“Na, kamu... kamu nggak marah?”

Aku menegakkan tubuh, menyeka ujung mata. “Mau marah gimana. Lihat, deh. Ada aturannya. Melanggar privasi Diana, diskualifikasi. Mereka bahkan sopan.”

“Mereka menjadikan kamu piala.”

“Iya.” Senyumku memudar sedikit, hanya sebentar. Sejak kuliah, aku sudah terlalu sering dijadikan piala. Oleh mantan yang memajang fotoku di semua akun media sosialnya tapi tidak pernah ingat aku alergi udang. Oleh laki-laki yang mengajakku makan malam hanya supaya bisa bercerita ke teman-temannya.

Tapi tulisan miring itu.

Kopi di meja wasit tidak dihitung.

“Wasitnya nggak ikut lomba,” kataku pelan.

“Hah?”

“Lihat. Ada enam nama. Wasitnya nggak masuk. Dia cuma nyatet.” Aku mengetuk papan dengan ujung jari, tepat di bawah catatan kecil itu. “Bahkan kopi yang aku kasih ke dia, dia coret sendiri.”

Rara mengikuti arah jariku, lalu menatapku. Lama.

“Na.”

“Hm?”

“Wasitnya si IT itu, kan? Yang kamu ceritain empat puluh dua hari berturut-turut?”

“Empat puluh tiga.”

“Kamu ngitung?”

“Aku ngitung banyak hal, Ra.”

Rara menghela napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang sudah tahu ke mana arah percakapan ini dan tidak bisa mencegahnya. “Terus mau kamu apain liga ini?”

Aku mengambil spidol hitam dari tempat spidol di samping papan. Membuka tutupnya. Lalu, di pojok kanan bawah papan, di bawah catatan wasit, aku menulis kecil-kecil dengan tulisan tanganku sendiri yang bulat:

Wasit ganteng: ?

Rara menutup mulutnya. “Diana Prameswari.”

“Aku mau ikut main, Ra.” Aku menutup spidol, mengembalikan kalender Danau Toba ke posisinya, kali ini lurus sempurna. “Tapi aku cuma ngejar satu orang.”

“Siapa?”

Aku mengambil teh melatiku yang sudah terlalu lama diseduh dan terlalu pahit, lalu tersenyum.

“Wasitnya.”


Dari ruang kaca finance, kalau kursiku digeser sedikit ke kiri, aku bisa melihat pintu pantry.

Aku tidak pernah menyadarinya selama tiga tahun. Pagi itu, aku menggeser kursiku sedikit ke kiri.

Pukul sepuluh, Dimas masuk ke pantry dengan spidol di tangan. Dia mengangkat kalender Danau Toba. Lalu dia membeku.

Bahkan dari jarak sejauh itu, aku bisa melihat spidolnya jatuh ke lantai.

Dia berjongkok memungutnya, berdiri, lalu menatap pojok papan itu lagi seperti orang yang memastikan dia tidak berhalusinasi. Lalu dia menyambar tisu dari kotak di meja pantry dan mulai menggosok papan dengan gerakan cepat dan panik, seperti sedang menghapus jejak kejahatan. Berhenti. Membasahi tisu di wastafel. Menggosok lagi.

Aku menunduk ke laporan pajak dan menggigit bibir supaya tidak tertawa di depan staf finance junior.

Lalu Pak Joko muncul di ambang pintu pantry dengan ember. Aku melihat Dimas bertanya sesuatu dengan wajah tegang. Aku melihat Pak Joko menatap langit-langit lama sekali. Lalu aku melihat Dimas mengeluarkan dompet.

Pukul sebelas, Pak Joko lewat di depan ruang kaca, dan aku memanggilnya dengan alasan tempat sampah penuh.

“Tadi Mas IT nanya apa, Pak?”

Pak Joko menatapku. Lalu menatap langit-langit lagi.

“Informasi tingkat tinggi itu, Mbak. Dua gorengan.”

Aku memberinya lima ribu.

“Mas Dimas nanya siapa yang nulis di papan,” kata Pak Joko, memasukkan uang ke saku. “Saya bilang saya ngepel lantai sebelas tadi pagi.”

“Bapak ngepel lantai sebelas?”

“Nggak, Mbak.” Pak Joko mengangkat embernya. “Saya di pantry. Saya lihat Mbak nulis. Tapi Mas Dimas bayarnya buat pertanyaan, bukan buat jawaban yang bener.”

Aku menatap punggung Pak Joko sampai dia hilang di tikungan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun bekerja di lantai ini, aku sadar siapa orang paling berbahaya di gedung ini.


Pukul sebelas lewat dua puluh, aku lewat di belakang meja IT untuk mengambil dokumen di printer bersama. Aku tidak berniat menguping. Aku hanya berjalan sangat, sangat pelan.

“Lo nuduh gue nulis ‘wasit ganteng’?” Suara Sasha, rekan Dimas, datar dan tidak percaya. “Dim. Gue kenal lo dari semester dua. Gue pernah lihat lo tidur di lab komputer pakai sarung. Gue nggak akan pernah nulis ‘ganteng’ di dekat nama lo.”

“Oke.”

Aku harus berhenti di depan printer dan pura-pura membaca dokumen terbalik selama sepuluh detik penuh.

Tidur di lab komputer pakai sarung.

Aku mencatat itu. Di kepala. Di bagian yang khusus untuk hal-hal tentang dia.


Pukul dua siang, aku berjalan ke meja IT dengan map biru di tangan dan wajah paling profesional yang bisa kupasang.

“Mas Dimas, printer di ruang finance error. Kertasnya nyangkut.”

Itu bukan bohong. Printer itu memang macet. Aku yang membuatnya macet, lima belas menit sebelumnya, dengan memasukkan satu lembar kertas terbalik setelah mencetak satu kalimat di tengahnya dengan huruf kecil.

“Baik, Mbak. Saya ke sana.”

Dia berdiri, mengambil obeng kecil dan senter dari laci. Kami berjalan bersisian menuju ruang kaca, dan di tengah lorong, saat tidak ada siapa pun dalam jarak dua meter, aku mencondongkan kepala sedikit ke arahnya.

“Tulisanmu rapi, ya, Mas,” bisikku. “Kayak di sticky note roti.”

Dia berhenti berjalan.

Aku tidak. Aku terus melangkah ke ruang finance, membuka pintu kaca, lalu menahannya dengan satu tangan sambil menoleh, menunggunya dengan wajah paling polos yang bisa kubuat.

“Printernya di sini, Mas.”

Dia berjongkok di depan printer, menyalakan senter, dan mulai menarik kertas yang tergulung di rol dengan sangat hati-hati. Aku berjongkok juga, di sampingnya, terlalu dekat, dengan alasan “mau belajar biar nggak ngerepotin kamu terus”.

Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium wanginya. Sabun cuci dan sedikit kopi. Dan aku bisa melihat kupingnya mulai berubah warna, dari biasa ke merah muda.

“Mbak,” katanya, tanpa mengalihkan mata dari printer. “Tadi pagi Mbak ke pantry?”

“Tiap pagi aku ke pantry, Mas. Bikin teh.”

“Mbak lihat papan tulisnya?”

“Papan tulis piket Pak Joko?” Aku memiringkan kepala. “Kenapa?”

Dia menarik kertas terakhir dari rol. Kertas itu robek di tengah, dan saat dia mengangkatnya ke cahaya, aku melihat wajahnya berubah perlahan saat membaca satu kalimat yang kucetak di sana.

Udah ketemu jawabannya, Mas?

Dia menatap kertas itu. Lalu menatapku.

Aku menopang dagu dengan kedua tangan dan berusaha keras untuk tidak tersenyum terlalu lebar.

“Printernya nggak rusak, kan, Mbak?”

“Rusak, kok.” Aku berdiri, merapikan rok. “Tadi aku masukin kertasnya kebalik.”

“Sengaja?”

“Mas Wasit.” Aku menunduk, menatapnya yang masih berjongkok di lantai dengan obeng dan senter. Rambutku jatuh sedikit ke depan bahu. “Kamu kan wasit. Masa nggak bisa bedain mana pelanggaran yang sengaja dan yang nggak?”

Dia tidak menjawab.

Kupingnya sekarang merah menyala. Merah sampai ke cuping. Dan aku tahu, dengan kepastian seorang Finance Lead yang sudah memeriksa ribuan neraca, bahwa itu adalah hal paling lucu yang pernah kulihat di gedung ini.

“Makasih, ya, Mas,” kataku, kembali ke suara profesional, cukup keras untuk didengar staf finance lain yang mulai kembali dari makan siang. “Printernya sudah lancar.”


Pukul tiga sore, aku sedang menelepon vendor ketika seseorang berdiri di depan pintu kaca ruang finance dengan gelas teh di tangan.

Dimas.

Dia berdiri di sana tanpa mengetuk, tanpa masuk, memegang gelas pantry dengan dua tangan, seperti orang yang baru sadar dia tidak punya alasan teknis untuk berada di sana.

Aku menutup telepon dan membuka pintu sebelum dia sempat kabur.

“Mas? Printernya rusak lagi?”

“Bukan.” Dia menyodorkan gelas itu. “Teh Mbak tadi pagi... kelamaan diseduh. Pahit. Ini... tiga menit.”

Aku menatap gelas itu. Kuning keemasan. Wangi melati yang lembut, bukan pekat seperti punyaku tadi pagi. Lalu aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Senin, aku tidak punya kalimat godaan yang siap.

“Kamu ngitung menitnya?” tanyaku pelan.

“Kerjaan saya kan... pakai timer, Mbak.”

Aku menerima gelas itu dengan dua tangan. Jariku menyentuh jarinya, dan kali ini aku tidak buru-buru menariknya. Satu detik. Dua detik.

“Makasih, Mas,” kataku, dan suaraku tidak semenggoda biasanya. Lebih kecil. “Ini... yang pertama kali ada orang bikinin aku teh di kantor.”

Dia mengangguk kaku, berbalik, dan berjalan pergi dengan kecepatan yang hampir bisa disebut lari.

Rara muncul di sampingku entah dari mana, menatap gelas teh di tanganku, lalu menatap wajahku.

“Na,” bisiknya. “Muka kamu.”

“Diem, Ra.”


Ada satu hal yang Dimas tidak tahu soal hari Rabu itu.

Aku memperhatikannya sejak jam sebelas. Dia bolak-balik ke pantry seperti satpam yang curiga ada maling, mengangkat kalender, menatap papan, menurunkan kalender, kembali ke meja. Empat kali. Dia tidak turun makan siang. Kotak bekal birunya, yang kemarin berisi telur gulung tujuh potong di kepalanya, tidak terlihat di mana pun.

Jadi saat dia berdiri di depan pintu kaca dengan teh tiga menit tadi, laci paling atas mejanya sudah berisi sesuatu.

Roti cokelat dan teh botol. Merek yang sama, rasa yang sama dengan malam audit. Aku bahkan memutar tutup botolnya supaya menghadap ke arah yang sama, karena aku ingat. Aku ingat semuanya dari malam itu.

Di atas roti, aku menempelkan sticky note. Bukan kuning. Merah muda, karena yang kuning terlalu suci untuk dipakai ulang.

Jangan lupa makan, Mas.

Dan di bawahnya, lebih kecil:

(Gantian.)

Pukul tiga lewat sepuluh, aku mengirim pesan.

Diana: Kamu belum makan siang, kan?

Dimas: Kok Mbak tahu?

Diana: Aku lihat kamu bolak-balik pantry kayak satpam. Cek laci meja kamu. Yang paling atas.

Dari balik dinding kaca, dengan kursi yang sudah digeser sedikit ke kiri, aku melihatnya membuka laci. Berhenti. Menatap isinya lama. Menutup laci. Lalu membukanya lagi, pelan, seperti takut isinya kabur.

Dia makan rotinya pelan-pelan. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuatku harus menunduk ke balik monitor.

Dia melepas sticky note merah muda itu dari plastik roti dengan sangat hati-hati, melipatnya jadi dua, lalu menyelipkannya di balik kartu identitas karyawan yang tergantung di lehernya.

Dimas: Terima kasih, Mbak. Rotinya enak.

Diana: Cuma enak?

Dimas: Enak sekali, Mbak.

Diana: Sticky note-nya jangan dibuang ya.

Dimas: Sudah saya simpan.

Diana: Di mana?

Tidak ada balasan. Dari kejauhan, aku melihatnya menatap layar ponsel, menyentuh kartu identitasnya sekali, lalu meletakkan ponsel telungkup di meja.

Dia tidak perlu menjawab. Aku sudah lihat.


Pukul empat lewat lima puluh, saat lantai dua belas mulai sepi, aku kembali ke pantry.

Kalender Danau Toba masih di tempatnya. Aku mengangkatnya. Tabel itu masih di sana. Dan di pojok kanan bawah, bayangan abu-abu tulisanku tadi pagi, pudar karena digosok tisu basah, tapi tidak sepenuhnya hilang.

Aku mengambil spidol lagi.

Wasit ganteng: masih dihitung.

Di sebelahnya, aku menggambar hati kecil. Lalu, karena tiba-tiba malu, aku mencoretnya satu garis. Lalu, karena tiba-tiba tidak mau malu, aku menggambarnya ulang di sebelahnya. Lebih besar.

Aku menutup papan itu dengan kalender, kembali ke ruang kaca, dan menggeser kursiku sedikit ke kiri.

Pukul lima lewat lima, dia masuk ke pantry. Mengangkat kalender. Dan berdiri di sana.

Aku menghitung. Satu menit. Dua menit. Tiga.

Dia tidak mengambil tisu. Dia tidak mengambil spidol.

Dia hanya berdiri lama sekali di pantry yang sepi itu, lalu menurunkan kalender dengan sangat hati-hati, seperti menutup sesuatu yang tidak ingin dia rusak.

Besok paginya, waktu aku mengintip papan itu sebelum menyeduh teh, tulisanku masih ada. Hatinya juga. Dua-duanya.

Dia tidak menghapusnya.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 1, Rabu

  • 1. Kevin — 5 poin
  • 2. Om Heru — 3 poin
  • 2. Bastian — 3 poin
  • 4. Ucup — 0 poin
  • 4. Rendy — 0 poin
  • 6. Fajar — −5 poin

Catatan wasit: Kevin +5 (disapa duluan di lift, keputusan dewan 4–2). Ada tulisan asing di papan. Sedang diselidiki.

Catatan wasit (ditulis lalu dicoret): Tulisan asing tidak dihapus karena


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-43. Ternyata aku hadiahnya. Aneh, aku nggak marah sama sekali. Mungkin karena yang nyatet poinnya dia, dan dia nggak masukin namanya sendiri. Oke, Mas Wasit. Kalau kamu nggak mau ikut lomba, biar aku yang datang ke pinggir lapangan.