← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Fifteen

Enam Belas Derajat

POV: Dimas

Rabu pagi, Bastian membuka set teh keramik itu.

Bukan di meja Diana. Di pantry. Pukul sepuluh, saat pantry ramai oleh orang-orang yang butuh kopi kedua. Dia datang dengan kotak kayu jati di tangan, meletakkannya di meja pantry, dan mulai menyeduh dengan gerakan yang terlatih: memanaskan teko dengan air panas dulu, membuangnya, menakar daun teh dengan sendok bambu kecil, menuang air yang sudah didiamkan sampai suhu yang pas.

“Delapan puluh derajat,” katanya pada staf marketing yang menonton dengan kagum. “Air mendidih bakal bikin pucuk melatinya gosong.”

Aku berdiri di pojok pantry, mengisi botol minum dari dispenser. Aku tidak bermaksud menonton. Botol minumku sudah penuh sejak tiga puluh detik lalu.

Bastian menuang teh ke empat cangkir mungil. Warnanya kuning pucat, hampir bening. Wanginya memenuhi pantry, lembut dan manis, jauh lebih halus daripada teh supermarket di lemari.

Lalu dia mengangkat satu cangkir, berjalan ke ruang kaca finance, dan mengetuk pintunya.

Dari pantry, aku melihat Diana mendongak dari laptop. Masih memakai hoodie abu-abu, hari kedua. Bastian menyodorkan cangkir mungil itu dengan senyum ramahnya.

Diana menerimanya. Menyesapnya. Mengangguk sopan. Mengatakan sesuatu yang membuat Bastian tertawa.

Lalu Bastian menunjuk hoodie itu, mengatakan sesuatu lagi, dan Diana tersenyum, menjawab dengan satu kalimat pendek.

Bastian berhenti tertawa.

Aku tidak tahu apa yang dikatakan Diana. Aku hanya tahu bahwa saat Bastian kembali ke pantry untuk mengambil cangkir-cangkir lainnya, senyumnya masih ada, tapi rahangnya tegang.

Dia membereskan set teh keramik itu dengan cepat, lebih cepat dari saat menyiapkannya, lalu berhenti di sampingku yang masih berdiri dengan botol minum yang sudah penuh.

“Dim.”

“Iya, Mas.”

“Lo pernah perhatiin nggak,” kata Bastian ringan, menatap ruang kaca finance, “orang kalau pakai baju orang lain, cara mereka megang ujung lengannya beda?”

Aku tidak menjawab.

“Diana dari tadi megangin ujung lengan kanan hoodie itu,” lanjut Bastian. “Kayak lagi megang sesuatu yang berharga.” Dia menoleh, menatapku tepat di mata. “Ada lubang kecil di situ. Gue lihat tadi.”

“Saya nggak tahu, Mas.”

“Gue juga nggak tahu.” Bastian mengangkat kotak kayu jatinya. “Belum.”

Dia berjalan keluar pantry.

Aku menatap botol minumku yang meluap, air menetes ke lantai, dan baru menyadari aku belum melepaskan tombol dispenser sejak tadi.


Siang itu, Bastian mengajak Diana makan siang dengan klien.

Aku mendengarnya dari Kevin, yang mendengarnya dari staf marketing, yang mendengarnya langsung dari Bastian di lift. Klien besar dari Surabaya. Restoran di lantai dua mal sebelah. Bastian butuh Finance Lead untuk menjelaskan skema pembayaran. Alasan yang sangat masuk akal. Alasan yang tidak bisa ditolak.

Pukul dua belas, aku melihat mereka berjalan ke lift bersama. Diana sudah melepas hoodie abu-abu itu dan memakai blazer krem. Bastian di sampingnya, membawakan map, berbicara dan tertawa.

Pukul dua belas lewat lima, aku duduk sendirian di ruang server, di atas kardus, dengan bantal kuning di sebelahku, menatap rak server nomor empat.

Aku tidak makan siang.

Aku tidak tahu kenapa aku di sana. Ruang server tidak membutuhkan apa-apa hari ini. Backup sudah selesai. Patch sudah terpasang. Tapi ini satu-satunya tempat di gedung ini di mana aku bisa duduk tanpa harus memasang wajah datar.

Pukul satu lewat dua puluh, ponselku bergetar. Sebuah tiket IT masuk.

Pelapor: Diana Prameswari. Keluhan: Laptop rusak. Lokasi: ruang server. Prioritas: tinggi sekali.

Aku menatap tiket itu. Lalu menatap pintu.

Pintu terbuka.


Diana masuk dan menutup pintu di belakangnya. Blazer krem. Map dari makan siang klien masih di tangan. Dia meletakkan map itu di lantai, menatapku yang duduk di kardus, lalu menghela napas panjang.

“Kamu nggak makan siang,” katanya.

“Nggak lapar.”

“Bohong. Kamu udah kayak gini sejak Senin.” Diana melepas sepatu hak rendahnya, lalu duduk di kardus, di sebelahku. Dekat. Bahunya menempel ke bahuku. “Mas. Ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Apa aja yang dari Senin kamu telan sendiri.”

Aku diam lama. Dengung server memenuhi ruangan. Exhaust fan tidak menyala, karena aku lupa menyalakannya, dan ruangan terasa lebih dingin dari biasanya. Enam belas derajat yang menusuk.

“Saya cemburu,” kataku akhirnya.

Kata itu keluar lebih mudah dari yang kukira. Seperti kabel yang akhirnya dicabut dari colokan yang salah.

“Saya nggak suka perasaan ini,” lanjutku pelan. “Saya nggak pernah ngerasain ini sebelumnya. Saya lihat Mas Bastian bawa kotak kayu jati, seduh teh pakai termometer, ngajak kamu makan siang sama klien dari Surabaya. Dan saya duduk di sini, di kardus, makan keripik singkong. Dan saya nggak punya hak buat ngerasa kayak gini.”

“Kenapa nggak punya hak?”

“Karena dia nggak salah apa-apa. Dia nggak tahu. Dan karena...” Aku menatap tanganku sendiri. “Karena saya nggak bisa ngasih yang dia kasih.”

Diana tidak menjawab langsung. Dia menatapku dari samping. Lalu, perlahan, dia bergeser. Bukan menjauh. Dia memutar tubuhnya, sampai dia duduk menghadapku sepenuhnya, lututnya di atas kardus, wajahnya sejajar dengan wajahku.

“Mas,” katanya. “Lihat aku.”

Aku melihatnya.

“Tadi pagi Bastian nanya hoodie ini punya siapa,” kata Diana. “Kamu tahu aku jawab apa?”

Aku menggeleng.

“Aku bilang, ‘Punya orang yang tahu teh harus diseduh tiga menit, bukan dua sampai tiga.’”

Aku berkedip.

“Teh mahalnya Bastian diseduh dua menit empat puluh detik,” lanjut Diana. “Kurang dua puluh detik. Rasanya enak. Halus. Wangi.” Dia tersenyum tipis. “Tapi kurang.”

“Kurang apa?”

“Kurang kamu.” Diana mengangkat tangannya, menyentuh pipiku dengan ujung jari. Dingin karena AC. “Set tehnya udah aku taruh di pantry tadi sebelum makan siang. Aku tempel label: Untuk semua. Silakan diseduh. Jangan lebih dari tiga menit. Biar semua orang bisa minum. Bukan cuma aku.”

Aku menatapnya. “Kamu... kasih ke pantry?”

“Bastian ngasih ke aku sebagai teman. Jadi aku bagi ke semua teman.” Diana mengangkat bahu. “Itu adil.”

“Dia bakal sakit hati.”

“Mungkin. Tapi aku lebih nggak mau kamu yang sakit hati.” Jari Diana bergerak dari pipi ke garis rahangku, pelan. “Dan soal makan siang tadi. Kliennya bapak-bapak umur enam puluh dari Surabaya yang ngomongin cucunya selama empat puluh menit. Bastian presentasi skema kredit. Aku ngitung bunga. Itu bukan kencan, Mas. Itu kerja lembur di jam makan siang.”

Aku tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di sudut bibirku.

“Nah,” bisik Diana. “Senyum.”

“Saya masih cemburu.”

“Boleh.” Diana mendekat. Dahinya menyentuh dahiku. “Cemburu itu boleh. Itu artinya kamu sayang aku. Asal jangan ditelan sendiri, terus makan keripik singkong sendirian di kardus.”

“Itu kardus kita.”

Diana tertawa pelan. Napasnya hangat di wajahku. “Iya. Kardus kita.”


Kami diam seperti itu. Dahi menempel. Mata setengah terpejam. Napas saling bercampur di udara yang dingin.

Aku bisa mencium wangi melati di rambut Diana. Bukan dari teh mahal. Dari sampo yang dia pakai setiap hari, yang wanginya sudah kuhafal sejak hari pertama di lift. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bulu matanya yang lentik bergetar, tahi lalat kecil di bawah mata kiri, bibir yang sedikit terbuka. Dia cantik dengan cara yang tidak adil untuk ruangan sedingin ini.

Diana menunggu. Aku tahu dia menunggu. Selama ini, selalu Diana yang memulai. Ciuman di rooftop, Diana. Cium pipi di lift, Diana. Pelukan di dapur villa, Diana. Back hug, Diana. Bahkan pelukan pertama setelah jadian, Diana yang melangkah lebih dulu.

Aku selalu membalas. Tapi tidak pernah memulai.

Aku mengangkat tangan. Kali ini tidak ragu di udara sepuluh detik. Jari-jariku menyentuh pipi Diana, lalu meluncur ke belakang telinganya, ke rambut yang lembut, ke tengkuknya yang hangat.

Diana membuka mata. Menatapku dengan sedikit terkejut.

Aku tidak bicara. Aku menariknya pelan ke arahku, dan menciumnya.


Ciuman pertama kami di rooftop dimulai dengan ragu dan berakhir dengan hujan.

Ciuman ini berbeda.

Ini dimulai pelan, seperti mengetuk pintu. Bibirku menyentuh bibir Diana, ringan, sekali. Diana mengeluarkan napas kecil yang terkejut.

Lalu aku menciumnya lagi. Lebih dalam. Lebih lama.

Diana membeku sepersekian detik. Lalu tubuhnya melunak, seperti es yang tiba-tiba ingat bahwa dirinya air. Tangannya naik, mencengkeram kerah flanelku, menarikku lebih dekat. Lututnya bergeser di atas kardus sampai tidak ada lagi jarak di antara kami.

Dunia mengecil.

Dengung server menjauh. Udara enam belas derajat menghilang. Yang tersisa hanya kehangatan, napas yang terputus-putus, dan detak jantung yang tidak tahu lagi milik siapa.

Ciuman itu semakin dalam. Lebih berani. Lebih jujur dari semua kalimat yang pernah kami ucapkan. Tanganku di tengkuk Diana, ibu jariku mengusap pelan kulit di bawah telinganya. Jari Diana meninggalkan kerah flanel dan menyelinap ke rambut di belakang kepalaku, menggenggamnya.

Ini bukan ciuman orang yang ragu. Ini ciuman orang yang sudah terlalu lama menahan diri, dan akhirnya berhenti menahan.

Diana mengeluarkan suara kecil di antara ciuman kami. Setengah desah, setengah nama. Mas. Dan itu membuatku menariknya lebih dekat lagi, seperti seluruh tubuhku baru saja memutuskan bahwa jarak adalah musuh.

Kami berpisah hanya saat paru-paru kami memaksa.


Dahi kembali menempel. Napas sama-sama terengah, mengepul tipis di udara dingin ruang server.

Diana membuka mata perlahan. Pipinya merah. Bibirnya merah. Matanya berkabut, seperti orang yang baru bangun dari mimpi yang terlalu bagus.

“Mas,” bisiknya. Suaranya gemetar.

“Iya.”

“Itu...” Dia menelan ludah. “Itu kamu yang mulai.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah mulai.”

“Aku tahu.”

Kata itu keluar sebelum otakku sempat memeriksanya. Diana membeku.

“Barusan,” bisiknya, “kamu bilang ‘aku’.”

“Saya.” Aku berdeham. “Maksud saya, saya tahu.”

“Ulang.”

“...Saya tahu.”

“Bukan yang itu. Yang tadi.”

Aku menatap matanya yang berkabut, yang menunggu seperti orang menunggu teh tiga menit. Kupingku terbakar.

“Aku tahu,” kataku pelan.

Diana menatapku. Lalu, perlahan, senyumnya mengembang. Bukan senyum Dewi Lantai 12. Bukan senyum menggoda yang biasa dia pakai. Senyum yang tidak bisa dia kendalikan, yang tumpah begitu saja dari dalam.

“Itu bukan ‘akan saya tindak lanjuti’,” bisiknya. “Itu ‘aku’.”

Aku menyentuhkan ibu jariku ke bibir bawah Diana. Pelan. Seperti memastikan itu nyata.

“Itu,” kataku, “sudah ditindaklanjuti.”

Diana menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menjatuhkan dahinya ke bahuku. Suara yang keluar dari balik telapak tangannya terdengar seperti jeritan yang ditahan sekuat tenaga.

Aku tertawa. Pelan, rendah, di puncak kepalanya.

“Jangan ketawa,” gumam Diana dari bahuku.

“Kamu yang jerit.”

“Aku nggak jerit. Itu napas panjang.”

“Napas panjang nggak bunyi ‘nggiiiih’.”

Diana mengangkat kepala, menatapku dengan wajah merah padam dan mata berkaca-kaca, lalu memukul dadaku pelan dengan kepalan tangan. Sekali. Dua kali.

Lalu memelukku. Erat. Sangat erat.

“Kamu curang,” bisiknya di leherku. “Kamu diem-diem bisa kayak gitu.”

“Saya juga baru tahu.”

“Lagi nanti, ya.”

“...Iya.”

“Bukan sekarang. Sekarang aku nggak bisa jalan.”

Aku memeluknya balik, menempelkan pipiku ke rambutnya, dan memejamkan mata. Di ruang server bersuhu enam belas derajat, untuk pertama kalinya, aku sama sekali tidak merasa kedinginan.


Pukul dua lewat sepuluh, Diana keluar dari ruang server lebih dulu, dengan blazer yang sudah dirapikan, rambut yang sudah digelung ulang, dan lipstik yang sudah dipakai ulang di depan kamera ponsel.

Aku menunggu dua menit, sesuai aturan backstreet. Saat aku membuka pintu, aku melihat Diana belum jauh. Langkahnya sedikit oleng. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat Sasha, yang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan laptop di tangan, berhenti dan menatapnya.

“Mbak Diana nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Mbak Sasha.” Diana tersenyum sopan. “Cuma... AC ruang server dingin banget.”

Sasha menatap Diana yang pipinya merah. Lalu menatap pintu ruang server. Lalu menatapku, yang baru keluar dari sana. Matanya berhenti di rambutku yang sedikit berantakan di belakang kepala, lalu di kerah flanelku yang kusut.

“Iya,” kata Sasha datar. “Kelihatan dinginnya.”


Pukul empat sore, email masuk ke seluruh tim IT dari kepala divisi.

Subjek: Proyek Migrasi Server — Konsultan Vendor

Mulai Senin depan, tim IT akan didampingi konsultan dari vendor untuk proyek migrasi server selama tiga minggu. Konsultan yang ditugaskan: Clara Wijaya. Mohon Dimas sebagai penanggung jawab ruang server memberikan dukungan penuh, termasuk akses dan pendampingan harian.

Terlampir CV singkat.

Aku membuka lampiran itu tanpa banyak berpikir. Foto profil profesional. Perempuan muda dengan rambut sebahu, senyum lebar, kacamata berbingkai tipis. Dua puluh lima tahun. Lulusan terbaik. Sertifikasi cloud tingkat lanjut.

Di bagian bawah CV, di kolom Minat, tertulis: Game indie, kopi tubruk, ngobrol sama orang yang lebih ngerti server daripada manusia.

Aku menutup lampiran itu.

Di meja sebelah, Sasha membaca email yang sama. Lalu dia menoleh ke ruang kaca finance, tempat Diana sedang tersenyum sendiri di depan layar, sesekali menyentuh bibirnya dengan ujung jari tanpa sadar.

Lalu dia menoleh padaku.

“Tiga minggu,” kata Sasha pelan. “Pendampingan harian. Di ruang server.”

“Itu kerjaan, Mbak.”

“Iya.” Sasha kembali ke layarnya. “Kerjaan.”


UPDATE KLASEMEN — Minggu 7, Rabu

  • 1. Bastian — 70 poin
  • 2. Kevin — 23 poin
  • 3. Om Heru — 15 poin
  • 4. Rendy — 9 poin
  • 5. Fajar — 2 poin
  • 6. Ucup — 0 poin

Catatan wasit: Bastian +3 (teh di ruang finance, diterima). Makan siang dengan klien: urusan kerja, tidak dihitung (keputusan dewan 4–1, Bastian keberatan).

Set teh keramik ditemukan di pantry dengan label “Untuk semua”. Dewan memutuskan ini bukan penolakan hadiah, melainkan “kebaikan hati Mbak Diana”. Tidak ada pengurangan poin.

Catatan wasit (pribadi): ruang server, 13.24. Saya yang mulai.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-83. Dia cemburu dan bilang terus terang. Lalu dia cium aku. DIA. Yang mulai. Pelan dulu, terus nggak pelan lagi. Aku nggak tahu cowok yang pakai flanel tiap Senin dan ngomong “akan saya tindak lanjuti” bisa nyium kayak gitu. Kakiku lemas. Aku keluar ruang server jalannya oleng dan Sasha lihat. Rara bilang mukaku kayak orang habis lari maraton. Aku bilang aku habis ditindaklanjuti. Rara lempar aku pakai pulpen.

Oh. Ada konsultan baru di tim IT mulai Senin. Perempuan. Pendampingan harian. Di ruang server. Ruang server KAMI.

Aku nggak cemburu.

Aku cuma mau tahu dia suka teh atau kopi.