Chapter Twenty Three
Laporan Audit Liga
POV: Dimas
Jumat pagi, pukul sembilan lewat lima puluh, Diana Prameswari berjalan ke ruang rapat HR lantai lima dengan blazer abu-abu, rambut digelung rapi, dan sebuah map biru tebal di dada.
Aku berjalan di sampingnya. Bukan di belakang. Di samping.
Dia terlihat seperti hari pertama aku melihatnya di lift, tiga tahun lalu. Leher jenjang, anting mutiara kecil, langkah yang membuat lorong kantor seperti karpet merah. Bedanya, sekarang aku tahu dia begadang semalaman, dan ada bekas lingkaran gelap tipis di bawah matanya yang tertutup bedak dengan sangat rapi.
Di depan pintu ruang rapat, Diana berhenti. Dia menarik napas dalam. Jari-jarinya memutih di pinggir map.
“Kamu gugup,” kataku pelan.
“Aku nggak gugup. Aku Finance Lead. Aku presentasi di depan direksi tiap kuartal.”
“Tanganmu gemetar.”
“Itu AC.”
Aku tidak membantah. Aku hanya mengulurkan tangan dan merapikan sehelai rambut yang lepas dari gelungannya, menyelipkannya ke belakang telinga.
Diana menatapku. Napasnya melambat sedikit.
“Ingat,” bisiknya. “Kamu duduk. Jangan berdiri.”
“Iya.”
“Kalau ditanya, jawab jujur.”
“Iya.”
“Kalau aku ngomong sesuatu yang bikin kamu kaget...” Diana tersenyum kecil. “Jangan keselek angin.”
Dia membuka pintu.
Ruang rapat itu sama seperti hari Senin. Dingin, terlalu terang, meja panjang. Bu Ratna di ujung meja. Rara di sebelahnya, dengan laptop terbuka untuk notulen.
Tapi ada satu perbedaan.
Di sisi meja yang lain, sudah duduk Bastian Wiryawan. Kemeja licin. Wajah tenang. Dia mengangguk sekali saat kami masuk.
“Mas Bastian minta ikut klarifikasi,” kata Bu Ratna. “Katanya ada informasi tambahan yang perlu saya dengar. Silakan duduk.”
Diana duduk. Aku duduk di sebelahnya. Bastian di seberang kami.
“Mbak Diana,” kata Bu Ratna, suaranya lebih lembut dari hari Senin. “Pertama-tama, saya minta maaf atas nama perusahaan. Kamu tidak seharusnya mengalami ini. Pertemuan hari ini untuk mendengar perspektifmu sebelum keputusan final soal sanksi Mas Dimas. Kamu boleh bicara apa saja. Semuanya rahasia.”
“Terima kasih, Bu.” Diana membuka map birunya. “Boleh saya presentasi?”
Bu Ratna berkedip. “Presentasi?”
“Saya Finance Lead, Bu.” Diana mengeluarkan beberapa lembar kertas yang dijepit rapi dan meletakkannya di depan Bu Ratna. “Saya lebih nyaman ngomong pakai data.”
Bu Ratna menatap halaman pertama. Judulnya dicetak tebal.
LAPORAN AUDIT INTERNAL: LIGA DIANA, MUSIM 1
Disusun oleh: Diana Prameswari (Pihak yang Dijadikan Hadiah)
Rara, di sebelah Bu Ratna, menutup mulutnya dengan tangan dan pura-pura batuk.
“Halaman dua, Bu,” kata Diana tenang. “Temuan pertama.”
Bu Ratna membalik halaman.
“Saya mengetahui keberadaan liga ini sejak hari ketiga,” kata Diana. “Rabu pagi, minggu pertama. Saya menemukan papan klasemen di pantry, di balik kalender Danau Toba.”
Bu Ratna mengangkat kepala. “Kamu tahu sejak awal?”
“Sejak awal, Bu. Dan saya tidak melaporkannya.” Diana membalik ke halaman tiga. “Karena di bawah tabel klasemen, ada aturan tertulis. Saya kutip: Melanggar privasi Diana, diskualifikasi. Liga itu bodoh, Bu. Sangat bodoh. Tapi mereka punya batas. Dan batas itu dijaga.”
“Dijaga oleh siapa?”
“Oleh wasitnya.” Diana menunjuk satu baris di halaman tiga. “Minggu kesembilan. Salah satu peserta mengirim parsel ke alamat apartemen saya, yang didapat dari HR. Wasit memberikan penalti dan peringatan. Alamat pribadi tidak boleh dipakai lagi tanpa izin langsung dari saya.”
Di seberang meja, Bastian mengangguk pelan. “Itu saya, Bu. Parselnya.”
Bu Ratna mencatat sesuatu.
“Temuan kedua,” lanjut Diana. “Halaman empat.”
Halaman empat berisi tabel. Judulnya: KLASEMEN TANDINGAN — PENILAIAN PESERTA OLEH PIALA.
Rara terbatuk lagi, lebih keras.
“Saya membuat klasemen sendiri, Bu,” kata Diana. “Menilai mereka balik. Fajar mendapat skor rima dua. Ucup saya kasih catatan soal jadwal yoga. Rendy, poster ikan duyungnya menakutkan tapi berbakat.” Dia tersenyum tipis. “Saya bukan korban yang diam di pojok. Saya ikut bermain. Dengan aturan saya sendiri.”
Bu Ratna menatap tabel itu lama. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Seperti menahan sesuatu.
“Dan saya juga,” lanjut Diana, lebih pelan, “menulis di papan klasemen itu. Pojok kanan bawah. Wasit ganteng: tanda tanya. Hari ketiga.”
Aku tidak bergerak. Kupingku mulai panas.
“Temuan ketiga,” kata Diana. “Halaman lima. Ini yang paling penting.”
Halaman lima hanya berisi satu kalimat. Dicetak di tengah, huruf besar. Dari kursiku, aku tidak bisa membacanya.
Bu Ratna membacanya. Lalu membacanya lagi. Lalu menurunkan kertas itu perlahan dan menatap Diana.
Diana menatapnya balik dengan tenang. Lalu dia mengucapkan kalimat itu dengan suara yang jelas, supaya Rara bisa mencatatnya dengan benar di notulen resmi.
“Saya pacaran dengan wasitnya, Bu.”
Hening di ruang rapat.
AC berdengung. Rara berhenti mengetik, lalu buru-buru mengetik lagi dengan kecepatan dua kali lipat. Bastian menatap meja dengan senyum kecil yang aneh, setengah pahit setengah lega.
Aku tidak keselek angin. Tapi hampir. Aku menahan napas begitu lama sampai dadaku terasa sakit.
Di bawah meja, tangan Diana bergerak. Menemukan tanganku di atas lutut. Menggenggamnya. Erat.
“Sejak minggu keenam, Bu,” lanjut Diana, suaranya tetap stabil meski jarinya gemetar di tanganku. “Saya yang mengejar dia. Dari sebelum liga. Dari malam audit tahunan, waktu dia memperbaiki laptop saya jam sebelas malam tanpa minta apa-apa.”
Bu Ratna meletakkan kertas itu di meja. “Mas Dimas.”
“Iya, Bu.”
“Senin kemarin, kamu bilang Mbak Diana tidak terlibat. Kamu bilang beliau korban.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa?”
Aku merasakan genggaman Diana di bawah meja. Jujur. Itu janjiku.
“Karena saya takut, Bu,” kataku. “Saya takut reputasi Mbak Diana rusak kalau orang tahu dia pacaran sama wasit liga yang menjadikannya hadiah. Saya pikir lebih baik saya yang tanggung semua.”
“Dan sekarang?”
Aku menatap Diana sebentar. Diana menatapku balik, matanya basah tapi tersenyum.
“Sekarang saya tahu itu bukan melindungi, Bu,” kataku. “Itu meninggalkan dia sendirian dengan alasan yang terdengar bagus.”
Bastian, di seberang meja, menunduk dan tersenyum ke arah meja.
“Saya juga perlu bicara, Bu,” kata Bastian, menegakkan punggung.
Bu Ratna mengangguk.
“Liga itu ide saya.” Bastian menatap Bu Ratna lurus. “Saya yang mengusulkannya di warung Mang Udin. Kevin yang bikin sistem poinnya di spreadsheet. Kami berenam yang menunjuk Dimas jadi wasit, karena kami anggap dia ‘bukan ancaman’. Kami bayar dia pakai kopi gratis sebulan.” Dia menghela napas. “Dimas nggak pernah ngusulin apa-apa. Dia cuma orang yang paling jujur di meja itu. Dan Senin kemarin dia berdiri buat nanggung kesalahan kami.”
“Kenapa kamu tidak bilang Senin kemarin?”
“Karena saya pengecut, Bu.” Bastian tersenyum miring. “Hari Senin, ternyata saya juga pengecut.”
Sebelum Bu Ratna bisa menjawab, pintu ruang rapat diketuk.
Lalu terbuka tanpa menunggu jawaban.
Kevin masuk. Di belakangnya Fajar, Ucup, Rendy, dan Om Heru, berdesakan di ambang pintu seperti barisan murid yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.
“Maaf, Bu,” kata Kevin, napasnya terengah. “Kami tahu ini bukan undangan kami. Tapi kami mau bilang sesuatu.”
“Kami semua salah, Bu,” kata Fajar, maju selangkah. Dia memegang selembar kertas folio. “Dimas nggak ngusulin liga. Kami yang maksa. Saya bahkan nulis puisi permintaan maaf buat Ibu juga.”
“Kamu tidak perlu...”
“Wahai Bu Ratna yang bijaksana,“ Fajar mulai membaca dengan suara bergetar, “Ampunilah kami yang tak berguna...“
“Mas Fajar,” kata Bu Ratna. “Cukup.”
Fajar berhenti. Om Heru melangkah maju dan meletakkan rantang rendang di ujung meja.
“Ini bukan sogokan, Bu,” katanya cepat. “Ibu saya bilang minta maaf harus pakai makanan.”
Bu Ratna menatap rantang itu. Lalu menatap enam laki-laki yang berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh penyesalan. Lalu menatap Bastian, yang tersenyum malu. Lalu menatap kami, yang tangannya masih saling menggenggam di bawah meja. Kecuali sekarang tidak lagi di bawah meja, karena Diana sudah mengangkat genggaman itu dan meletakkannya di atas laporan audit.
Bu Ratna melepas kacamatanya. Memijat pangkal hidungnya.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak hari Senin, dia tertawa.
“Kalian ini,” katanya, menggeleng-geleng, masih tertawa, “kelakuannya kayak anak SMA.”
Tidak ada yang membantah.
Bu Ratna memakai kacamatanya lagi dan menegakkan punggung. Tawanya hilang, diganti nada resmi seorang HR Manager.
“Keputusan final,” katanya. Rara bersiap mengetik.
“Satu. Surat Peringatan Pertama untuk Mas Dimas dibatalkan.”
Diana mengeluarkan napas yang dia tahan entah sejak kapan. Genggamannya di tanganku mengencang.
“Dua. Ketujuh laki-laki dalam liga ini, termasuk wasit, mendapat teguran tertulis kolektif. Tidak masuk berkas evaluasi kontrak. Tapi wajib ikut pelatihan etika kerja dan kesetaraan gender selama dua hari, bulan depan.”
Ucup mengangkat tangan. “Bu, pelatihannya ada yoga?”
“Tidak ada yoga, Mas Ucup.”
“Oh.”
“Tiga.” Bu Ratna menatap kami semua. “Liga Diana tetap dibubarkan. Tidak ada lagi sistem poin tentang rekan kerja. Tidak ada lagi klasemen tentang manusia. Mengerti?”
“Mengerti, Bu,” jawab kami serentak.
“Empat.” Bu Ratna mengetuk meja dengan ujung pulpen, dan sesuatu di matanya berubah. Seperti mantan atlet lari tingkat provinsi yang baru saja melihat lintasan. “Gathering akhir tahun di Lembang tiga minggu lagi. Kami butuh acara. Dan kelihatannya, divisi-divisi di perusahaan ini punya terlalu banyak energi kompetitif yang tidak tersalurkan dengan sehat.”
Kevin menelan ludah.
“Jadi tahun ini, gathering akan punya kompetisi resmi. Lomba antar divisi. Sistem poin. Klasemen.” Bu Ratna tersenyum. Senyum orang HR yang menakutkan. “Hadiahnya piala. Piala sungguhan. Dari logam. Bukan manusia.”
“Dan jurinya,” lanjut Bu Ratna, menoleh ke Diana, “Mbak Diana, kalau bersedia.”
Diana menatap Bu Ratna. Lalu tersenyum. Senyum yang bukan senyum sopan Dewi Lantai 12.
“Bersedia, Bu.”
“Wasitnya?” tanya Kevin pelan.
Bu Ratna menoleh padaku. “Mas Dimas sudah berpengalaman, kan?”
Seluruh ruangan menoleh padaku.
Aku membuka mulut. Diana meremas tanganku di atas meja.
“Baik, Bu,” kataku. “Akan saya tindak lanjuti.”
Rara tidak bisa menahan diri lagi. Dia tertawa sampai harus menutup laptopnya.
Di lift turun ke lantai dua belas, hanya ada kami berdua.
Lantai lima. Enam. Tujuh.
Diana bersandar ke dinding lift, menatap angka lantai di atas pintu. Lalu dia tertawa pelan, sendirian, tanpa alasan yang jelas.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku bilang ke HR aku pacarmu.” Diana menoleh, matanya berbinar. “Dan Rara nyatet. Di notulen resmi. Ada tanda tangan Bu Ratna.”
“Iya.”
“Itu dokumen legal, Mas.”
“Iya.”
“Nggak bisa ditarik.”
Aku menatapnya. Lalu, pelan-pelan, aku tersenyum. Senyum yang sampai ke mata.
“Aku nggak mau narik,” kataku.
Lantai sembilan. Sepuluh.
Diana melangkah dari dinding lift. Berdiri di depanku. Mengangkat tangan dan merapikan kerah flanelku, flanel baru yang dia beli di Tanah Abang dengan diskon dua puluh persen.
“Tiga minggu lagi gathering,” katanya. “Kamu jadi wasit lagi.”
“Iya.”
“Mas.” Jarinya berhenti di kerahku. Matanya menatap lurus. “Jangan cuma jadi wasit selamanya, ya.”
Lantai sebelas.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menunduk dan mengecup keningnya. Cepat. Hangat.
Lantai dua belas. Denting. Pintu terbuka.
Diana melangkah keluar dengan wajah Dewi Lantai 12 yang sempurna. Tegak. Anggun. Profesional.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak kelewatan lantai. Aku melangkah keluar tepat di belakangnya. Bukan. Di sebelahnya.
UPDATE
Keputusan HR, Jumat minggu ke-10: SP1 dibatalkan. Teguran kolektif tujuh orang. Pelatihan etika kerja, bulan depan, dua hari, tanpa yoga.
Kompetisi resmi gathering akhir tahun, Lembang: lomba antar divisi. Hadiah: piala logam. Juri: Diana Prameswari (Finance). Wasit: Dimas Aditya (IT).
Notulen rapat klarifikasi, halaman 3, baris 14 (dicatat oleh Rara, Legal): “Saya pacaran dengan wasitnya, Bu.” Status dokumen: rahasia. Status hubungan: resmi.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-106. Aku bikin laporan audit tujuh halaman semalam suntuk. Ada tabel, ada lampiran, ada temuan pertama sampai ketiga. Halaman lima isinya cuma satu kalimat. Rara bilang itu laporan audit paling romantis dalam sejarah perusahaan.
SP1-nya dibatalkan. Bastian maju. Enam cowok itu nyerbu masuk ruang HR, Fajar baca puisi buat Bu Ratna, Om Heru bawa rendang. Bu Ratna ketawa.
Dan aku pegang tangan pacarku di atas meja rapat HR. Di depan semua orang. Di atas laporan audit.
Tiga minggu lagi Lembang. Dia jadi wasit lagi. Aku jadi juri. Aku udah punya rencana.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga reading
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi