Chapter Twenty Five
Panggung Keberanian
POV: Dimas
Minggu pagi di Lembang, kabut belum sepenuhnya naik saat Bu Ratna meniup peluit di depan panggung.
“LOMBA PENENTUAN!” serunya. “PANGGUNG KEBERANIAN! Lima puluh poin! Silakan yang mau naik!”
Seratus dua puluh karyawan duduk di kursi lipat di halaman villa, memegang gelas kopi dan teh panas, saling menyikut. Tidak ada yang langsung berdiri.
Di tenda juri, Diana duduk dengan papan klip di pangkuan, jaket krem, syal rajut, dan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. Dia tidak menatap ke tengah lapangan. Aku tahu dia sengaja tidak menatap ke sini.
Aku berdiri di tengah lapangan dengan rompi oranye bertuliskan WASIT, peluit di leher, papan tulis klasemen di sampingku. Finance 85. Marketing 82. IT 80.
Peserta pertama adalah Fajar.
Dia naik ke panggung dengan buku catatan bersampul kulit, berdiri di depan mikrofon, gemetar. Lalu dia menutup bukunya.
“Saya nggak akan baca puisi,” katanya.
Seluruh villa terkesiap.
“Keberanian saya adalah ini.” Fajar menelan ludah. “Saya sebenarnya nggak suka nulis puisi. Saya nulis puisi karena saya pikir perempuan suka puisi. Yang sebenarnya saya suka itu...” Dia menarik napas. “Masak. Saya mau buka warung soto. Saya udah nabung tiga tahun.”
Hening. Lalu Om Heru berdiri dan bertepuk tangan paling keras. Seluruh villa ikut. Fajar turun dari panggung dengan wajah merah dan mata basah.
Peserta kedua adalah Ucup, yang mengaku di depan seratus dua puluh orang bahwa dia sebenarnya membenci yoga. Seluruh villa tertawa. Lalu dia bilang dia akan terus ikut yoga karena pinggangnya sekarang tidak sakit lagi, dan seluruh villa tertawa lebih keras.
Peserta ketiga adalah Om Heru, yang menelepon ibunya di Padang lewat pengeras suara dan berkata Amak, Heru sayang Amak, untuk pertama kalinya dalam empat puluh satu tahun. Ibunya menjawab dalam bahasa Minang dengan suara bergetar, dan meskipun separuh villa tidak mengerti artinya, separuh villa itu ikut menangis.
Peserta keempat adalah Kevin.
Dia naik ke panggung dengan laptop.
Tentu saja dia membawa laptop.
Dia menyambungkan laptopnya ke proyektor di samping panggung, yang kunyalakan dengan cekatan, lalu menampilkan satu spreadsheet di layar besar. Judulnya: Analisis Kelayakan Hubungan: Kevin dan Sasha.
Di barisan tengah, Sasha menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Variabel pertama,” kata Kevin, suaranya bergetar, menunjuk layar. “Frekuensi makan siang bareng: dua kali seminggu, enam minggu berturut-turut. Variabel kedua: jumlah error formula yang Sasha temukan di spreadsheet saya: lima belas. Jumlah error yang saya buat dengan sengaja supaya Sasha ngecek lagi: tujuh.”
Sasha mengangkat kepala dari tangannya. “Sengaja?“
“Kesimpulan.” Kevin menekan tombol. Slide berganti. Hanya satu baris, huruf besar, berwarna hijau.
SASHA, MAU JADI PACARKU? (Y/N)
Seluruh villa menoleh ke Sasha.
Sasha berdiri pelan. Menatap layar. Menatap Kevin yang gemetar di panggung dengan laptop di tangan. Lalu dia berjalan ke depan, naik ke panggung, mengambil laptop dari tangan Kevin, dan mengetik sesuatu.
Layar berganti. Di samping pertanyaan itu, di sel sebelahnya, muncul satu huruf.
Y.
Lalu, di bawahnya, Sasha mengetik lagi.
Tapi QA dulu tiga bulan.
Villa meledak dengan sorakan. Kevin menangis. Sasha memukul bahunya pelan, lalu memeluknya.
Dari tengah lapangan, aku meniup peluit dengan sangat pelan. Bukan untuk menghentikan apa-apa. Hanya karena aku tidak tahu cara lain untuk bertepuk tangan dengan peluit di mulut.
Peserta kelima adalah Bastian.
Dia naik ke panggung tanpa membawa apa-apa. Kemeja tanpa jas. Lengan digulung. Wajah tenang.
“Keberanian saya sederhana,” katanya ke mikrofon. “Saya mau minta maaf.”
Dia menoleh ke tenda juri.
“Diana,” katanya. “Saya yang mengusulkan liga itu. Saya yang menjadikan kamu hadiah. Saya bawa bento dan set teh dan parsel buah, dan saya pikir itu cara menghargai kamu. Ternyata itu cara memenangkan kamu. Dua hal yang beda.” Dia tersenyum. “Maaf.”
Diana menatapnya dari tenda juri. Lalu mengangguk pelan. Senyumnya tulus.
“Dan satu lagi.” Bastian menoleh ke tengah lapangan. Padaku, yang berdiri di samping papan klasemen dengan rompi oranye dan peluit di leher.
“Dim,” kata Bastian ke mikrofon. Suaranya terdengar di seluruh villa. “Gue udah turun ke lapangan. Giliran lo.”
Lalu dia turun dari panggung dan berjalan kembali ke kursinya, di sebelah Clara, yang menyodorkan gelas kopi dan menepuk bahunya.
Seratus dua puluh kepala menoleh ke tengah lapangan.
Aku berdiri diam.
Aku bisa merasakan semua mata itu. Staf finance yang pernah melihatku menyuapi ayam geprek. Staf marketing yang tidak tahu siapa aku. Direktur utama yang pernah menertawakan slide yang melompat. Bu Ratna dengan peluitnya. Pak Joko dan tim OB yang duduk di barisan paling belakang, memegang gorengan.
Dan di tenda juri, Diana. Yang tidak menatapku. Yang menunduk ke papan klipnya, jari-jarinya memutih di pinggir kertas.
Aku memikirkan rooftop. Kenapa kamu nggak ikut liga?
Aku memikirkan basement. Gue nggak kalah dari orang yang nggak berani main.
Aku memikirkan api unggun semalam. Besok jangan cuma jadi wasit.
Aku memikirkan tiga tahun berdiri di pinggir lapangan. Mengelap meja yang sudah bersih. Membetulkan laptop tanpa minta apa-apa. Membeli roti dan teh botol jam sebelas malam, lalu pergi.
Aku mengangkat tangan dan melepas peluit dari leher.
Lalu aku melepas rompi oranye bertuliskan WASIT. Melipatnya dua kali. Berjalan ke Bu Ratna di samping panggung, dan menyerahkan rompi dan peluit itu dengan dua tangan.
“Bu,” kataku. “Saya mundur sebagai wasit.”
Bu Ratna menerima rompi itu. Matanya berbinar.
“Dan saya mau daftar,” lanjutku, “sebagai peserta.”
Panggung itu hanya setinggi lutut. Tapi saat aku menaikinya, rasanya seperti naik ke rooftop gedung dua belas lantai.
Aku berdiri di depan mikrofon. Seratus dua puluh wajah menatapku. Kabut Lembang bergerak pelan di belakang mereka.
Aku membuka mulut.
“Baik,” kataku. “Akan saya...”
Seluruh villa tertawa. Bukan tawa mengejek. Tawa hangat. Karena setelah enam minggu gosip dan satu tangkapan layar yang tersebar ke seratus dua puluh tiga ponsel, semua orang di Arunika Digital tahu kalimat itu.
Aku berhenti. Kupingku merah. Lalu, untuk pertama kalinya di depan banyak orang, aku tersenyum. Malu, tapi tersenyum.
“Maaf,” kataku. “Kebiasaan.”
Tawa reda.
“Nama saya Dimas Aditya. IT Support Lead, lantai dua belas. Sebagian dari kalian mungkin tahu saya dari papan klasemen yang bocor ke grup All Staff.” Aku menarik napas. “Saya wasitnya. Saya dipilih jadi wasit karena saya bukan ancaman. Kata mereka begitu.”
Beberapa orang tertawa pelan. Kevin menunduk malu.
“Mereka benar,” lanjutku. “Saya memang bukan ancaman. Saya tukang IT yang pakai flanel tiap Senin. Gaji saya habis buat kuliah adik. Motor saya tahun 2015, businya mati kalau hujan. Saya nggak bisa ngajak orang makan di Senopati.”
Aku berhenti. Menatap ke tenda juri.
Diana sudah tidak menunduk lagi. Dia menatapku. Papan klip di pangkuannya bergetar.
“Tapi ada satu hal yang mereka nggak tahu waktu milih saya jadi wasit,” kataku, suaraku lebih pelan sekarang, tapi mikrofon membawanya sampai ke barisan paling belakang. “Saya udah suka sama hadiahnya. Dari sebelum liga. Dari malam audit tahunan, waktu dia nangis di depan file rekonsiliasi, dan saya nggak tahu harus ngapain selain beli roti cokelat dan teh botol.”
Hening total di halaman villa.
“Teh melati di pantry tiap pagi jam tujuh empat puluh,” lanjutku. “Diseduh tiga menit. Itu dari saya. Ayam geprek level tiga waktu sistem vendor error. Itu dari saya. Hoodie abu-abu yang ada lubang solder di lengan kanan.” Beberapa orang di barisan finance terkesiap. “Itu punya saya.”
Rara, di barisan Legal, sudah menangis.
“Saya nggak naik ke sini buat menang,” kataku. “Liganya udah bubar. Pialanya logam. Saya cuma mau berhenti berdiri di pinggir lapangan.” Aku menatap Diana langsung. “Saya mau semua orang tahu. Bukan diam-diam. Bukan pakai kode. Bukan di ruang server.”
Aku menarik napas terakhir.
“Diana Prameswari,” kataku. “Saya bukan wasit lagi.”
Diana berdiri dari kursi juri.
Papan klipnya jatuh ke rumput. Dia tidak memungutnya.
Dia berjalan dari tenda juri ke panggung. Pelan dulu. Lalu lebih cepat. Lalu dia setengah berlari, melewati barisan kursi lipat, melewati Bu Ratna yang memeluk rompi oranye, melewati Bastian yang tersenyum, melewati Sasha dan Kevin yang bergandengan tangan.
Dia naik ke panggung. Berdiri di depanku. Wajahnya basah. Maskaranya luntur di kedua sisi. Hidungnya merah. Dan dia, dengan semua itu, adalah hal paling indah yang pernah kulihat di atas panggung mana pun.
Aku tidak tahu apakah dia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis hari ini. Kalau pernah, dia berbohong.
“Kamu,” katanya, suaranya pecah, cukup keras untuk ditangkap mikrofon, “kamu bilang ‘akan saya’ di depan seratus dua puluh orang.”
“Saya panik.”
“Aku tahu.” Diana tertawa sambil menangis. Lalu dia berbalik ke penonton, menyeka matanya dengan punggung tangan, dan mengangkat dagu. Dewi Lantai 12 dalam mode terakhirnya. Juri.
“Sebagai juri,” katanya ke mikrofon, “saya mau mengumumkan sesuatu.”
Seluruh villa menunggu.
“Selama dua bulan liga itu berjalan, saya juga bikin klasemen. Klasemen tandingan. Menilai semua peserta.” Dia menoleh ke barisan tempat Fajar, Ucup, Rendy, Om Heru, Kevin, dan Bastian duduk. Mereka semua menunduk malu. “Semua dapat nilai. Fajar, rima dua. Om Heru, aku mau dia jadi pamanku.”
Om Heru menutup wajah dengan saputangan.
“Dan ada satu nama di baris terakhir,” lanjut Diana, “yang dari awal nggak bisa saya nilai. Karena dia bukan peserta.”
Dia menoleh padaku.
“Tapi juaranya,” katanya, suaranya bergetar lagi, “sudah saya tentukan sejak malam audit. Jam sebelas malam. Roti cokelat. Teh botol. Sticky note kuning.”
Lalu dia melangkah maju, menangkup wajahku dengan kedua tangan, dan menciumku.
Di atas panggung setinggi lutut. Di depan seratus dua puluh karyawan. Di bawah kabut Lembang.
Sorakan yang meledak di halaman villa itu terdengar sampai ke kebun teh di lereng bukit.
Kevin berdiri di kursi dan berteriak AKU TAHU! AKU TAHU DARI HOODIE-NYA!, padahal dia sama sekali tidak tahu. Fajar menangis di bahu Ucup. Rendy menggambar momen itu di tisu dengan kecepatan luar biasa. Rara memotret dengan ponsel sambil menangis, dan aku tahu persis ke folder mana foto itu akan masuk. Bu Ratna meniup peluit berkali-kali tanpa alasan.
Dan dari barisan paling belakang, Pak Joko berdiri di atas kursi plastik dengan gorengan di tangan dan berteriak sekeras-kerasnya:
“UNDANGAN NIKAHNYA SAYA DULUAN, YA!”
Aku menarik diri dari ciuman itu, menatap Diana dari jarak sedekat napas. Diana tertawa. Menangis. Tertawa lagi.
Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan. Di depan seratus dua puluh orang, aku memeluknya. Erat. Kedua lengan melingkar penuh. Mengangkatnya sedikit dari lantai panggung sampai ujung sepatu ketsnya tidak menyentuh papan.
Diana menjerit kecil, lalu tertawa di leherku, memeluk balik dengan kedua lengan di leherku.
“Kamu angkat aku,” bisiknya.
“Iya.”
“Di depan semua orang.”
“Iya.”
“Kamu nggak malu?”
Aku menurunkannya pelan. Menatapnya. Kupingku merah menyala. Seluruh wajahku pasti merah, bahkan leherku.
“Malu banget,” kataku jujur.
Diana tertawa sampai harus memegang lenganku supaya tidak jatuh.
Bu Ratna naik ke panggung lima menit kemudian, setelah sorakan mereda, dengan rompi oranye wasit masih di pelukannya.
“Baik,” katanya ke mikrofon, berusaha terdengar resmi meski matanya merah. “Penilaian Panggung Keberanian.”
Diana mengangkat tangan. “Bu, juri mengundurkan diri dari penilaian. Konflik kepentingan.”
“Diterima,” kata Bu Ratna. “Saya yang menilai.”
Dia menatap klasemen di papan tulis. Finance 85. Marketing 82. IT 80.
“Keberanian Mas Fajar, Mas Ucup, Om Heru, Mas Kevin, Mas Bastian semuanya luar biasa,” katanya. “Tapi lima puluh poin keberanian tahun ini...” Dia menoleh padaku. “Diberikan kepada orang yang tiga tahun berdiri di pinggir lapangan, dan hari ini akhirnya turun.”
IT: 130.
Divisi IT bersorak. Sasha melompat. Kevin memeluk laptopnya. Pak Joko melempar gorengan ke udara.
Bu Ratna mengambil piala perak dari meja di samping panggung. Juara Umum Gathering Arunika — Piala Bukan Manusia. Dia menyerahkannya padaku.
Aku memegang piala logam setinggi setengah meter itu dengan kedua tangan, kaku, tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
Diana, di sampingku, mengetuk piala itu dua kali dengan ujung jari. Tok, tok.
“Pialanya logam,” bisiknya. “Dingin.”
“Iya.”
“Aku manusia.”
“Aku tahu.”
Diana tersenyum, lalu menyelipkan tangannya ke tanganku yang bebas, dan menautkan jari-jari kami. Di atas panggung. Di depan semua orang.
“Yang ini,” katanya, “hangat.”
KLASEMEN AKHIR GATHERING — RESMI
- 1. IT — 130 poin
- 2. Finance — 85 poin
- 3. Marketing — 82 poin
- 4. Legal — 71 poin
- 5. Procurement — 64 poin
- 6. HR — 50 poin
Juara Umum: Divisi IT. Piala Bukan Manusia diterima oleh Dimas Aditya, mantan wasit.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-128. Dia lepas rompinya. Dia kasih peluitnya ke Bu Ratna. Dia naik panggung dan bilang “akan saya” di depan seratus dua puluh orang, terus semua orang ketawa, terus dia senyum. Dia cerita soal roti cokelat. Teh tiga menit. Hoodie berlubang. Di depan semua orang.
“Saya bukan wasit lagi.”
Aku janji nggak nangis. Aku bohong. Aku nangis sampai maskaraku luntur dua-duanya. Terus aku cium dia di panggung. Terus dia angkat aku. Di depan direktur utama.
Pak Joko berdiri di kursi teriak minta undangan.
Sekarang semua orang tahu. Dan rasanya bukan kayak dipamerin. Rasanya kayak pulang.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian reading
- 26 Juara Abadi