Chapter Fourteen
Hoodie Abu-abu
POV: Dimas
Senin pagi, pukul delapan lewat sepuluh, aku sedang berjongkok di bawah meja printer ruang kaca finance, memasang ulang kabel jaringan yang dicabut petugas kebersihan, saat sebuah kotak kayu tiba di meja Diana.
Kotak itu dibawa Bastian sendiri, dengan kedua tangan, seperti membawa sesuatu yang berharga. Ukurannya sebesar kotak sepatu, terbuat dari kayu jati muda dengan ukiran halus di tutupnya, diikat pita satin warna krem.
Seluruh ruang kaca finance berhenti bekerja. Aku juga. Kabel jaringan masih di tanganku.
“Pagi, Diana,” kata Bastian, meletakkan kotak itu di meja dengan hati-hati. “Ini buat kamu. Sebagai teman.”
Diana menatap kotak itu. “Mas Bastian, ini apa?”
“Buka aja.”
Diana melepas pita satin. Membuka tutup kayu. Di dalamnya, tertata di atas kain beludru hijau tua, ada satu set peralatan teh dari keramik putih tipis. Teko kecil berleher ramping. Empat cangkir mungil tanpa pegangan. Saringan perak. Dan tiga kaleng kecil berlabel tulisan tangan dalam aksara Mandarin dan Inggris: Jasmine Silver Needle. First Flush. Fujian.
Staf finance junior mengeluarkan suara kecil seperti orang melihat kucing lucu di internet.
“Teh melati terbaik dari Fujian,” kata Bastian. “Dipetik musim semi, cuma pucuknya. Aku pesan langsung dari importir. Katanya diseduh suhu delapan puluh derajat, dua sampai tiga menit.”
Dia tersenyum.
“Aku dengar kamu suka teh melati.”
Di kotak itu ada kartu kecil berwarna krem. Diana membukanya. Dari bawah meja printer, aku bisa membaca tulisannya yang rapi, tinta biru tua.
Teh terbaik untuk perempuan terbaik. — B.
Seluruh ruang finance menahan napas. Bahkan printer di atas kepalaku seperti berhenti berdengung.
Diana menutup kartu itu perlahan. Lalu tersenyum. Senyum sopan. Senyum Dewi Lantai 12 yang sempurna, yang sudah dia latih selama bertahun-tahun untuk momen-momen seperti ini. Di bawah lampu pagi, dengan rambut tergerai dan blus putih, dia terlihat seperti perempuan yang memang pantas menerima kotak kayu jati.
“Makasih banyak, Mas Bastian. Ini cantik banget.”
“Sama-sama.” Bastian mengangguk, lalu, dengan gerakan yang natural, menambahkan, “Kalau kamu mau, kapan-kapan aku seduhin. Aku sempat belajar caranya dari importirnya.”
“Nanti ya, Mas,” kata Diana ringan. “Hari ini aku lagi banyak kerjaan.”
Bastian tidak memaksa. Itu yang membuatnya berbahaya. Dia hanya tersenyum, mengetuk ujung meja Diana dengan jari, lalu pergi dengan langkah orang yang tahu bahwa dia baru saja mencetak gol.
Aku menyelesaikan kabel jaringan itu dalam tiga puluh detik dan keluar dari ruang kaca tanpa menoleh.
Dari pojok IT, aku masih bisa melihat kotak kayu jati itu. Pita satin. Keramik putih yang berkilau di bawah lampu. Wajah staf finance yang terkagum-kagum.
Lalu aku melihat Kevin, yang lewat ruang finance sambil membawa map, berhenti sebentar, mengintip, lalu berjalan cepat ke pantry sambil mengetik di ponsel.
Tiga detik kemudian:
Kevin: BASTIAN KASIH SET TEH KERAMIK
Kevin: DI KOTAK KAYU JATI
Kevin: TEH MELATI DARI CHINA. AKU GOOGLE. SATU KALENGNYA 800 RIBU
Kevin: ADA TIGA KALENG
Fajar: Dua juta empat ratus ribu untuk teh??
Ucup: Itu gaji saya sebulan dipotong cicilan motor
Om Heru: Rendang saya modalnya 150 ribu
Bastian: Wasit. Hadiah diterima. Ada poinnya?
Kevin: Belum ada aturan soal hadiah. Dewan harus voting.
Rendy: voting: hadiah diterima +5. setuju?
Kevin: Setuju
Fajar: Setuju dengan berat hati
Om Heru: Setuju
Ucup: Setuju
Bastian: Setuju
Kevin: 5 lawan 0. Wasit?
Aku menatap layar ponsel.
Delapan ratus ribu satu kaleng. Tiga kaleng.
Aku teringat teh melati di lemari pantry. Kotak kertas dengan stiker tulisan tangan Diana — jangan diambil, plis. Merek supermarket. Dua puluh lima kantong, harganya dua puluh satu ribu.
Aku teringat timer tiga menit di ponselku. Gelas pantry yang tutupnya sudah retak sedikit di pinggir.
Aku teringat janjiku sendiri, di ruang server, enam hari lalu, dengan suara yang bergetar. Teh. Tiga menit. Tiap pagi. Selama Mbak mau.
Teh dua puluh satu ribu.
Dimas: Disetujui. Hadiah diterima: +5.
Aku meletakkan ponsel telungkup di meja, lalu membuka tiket keluhan berikutnya dan mulai mengetik.
Mengetik dengan keras.
“Dim.”
Aku tidak menoleh.
“Dim,” ulang Sasha. “Keyboard lo bisa patah.”
“Keyboard-nya tahan banting.”
“Iya, tapi lo udah ngetik ‘printer lantai sembilan error’ empat kali di tiket yang sama.” Sasha memutar kursinya, menatapku. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Sasha menatap layarku. Lalu menatap ruang kaca finance, tempat kotak kayu jati itu masih terbuka di meja Diana, keramik putihnya berkilau. Lalu menatapku lagi.
Dia tidak bertanya. Dia hanya mengulurkan tangan, mengambil kantong keripik singkong dari laciku, membukanya, dan meletakkannya di depan keyboard.
“Makan,” katanya. “Lo kalau cemburu ngetiknya kayak orang mau mukul nyamuk.”
“Saya nggak cemburu.”
“Iya, iya.” Sasha kembali ke layarnya. “Dan gue nggak tahu siapa yang lo cemburuin.”
Aku menatap keripik singkong itu lama. Lalu mengambil satu. Mengunyahnya pelan.
Aku memang tidak cemburu. Itu bukan kata yang tepat. Aku tidak marah pada Bastian. Bastian tidak tahu. Bastian hanya melakukan apa yang dia bisa, dengan cara yang dia bisa.
Yang kurasakan bukan cemburu. Yang kurasakan adalah ukuran. Ukuran diriku sendiri, tiba-tiba terlihat sangat jelas di samping kotak kayu jati dan keramik putih dan tiga kaleng delapan ratus ribu.
Teh dua puluh satu ribu. Motor 2015 yang businya mati kalau hujan. Flanel tiap Senin.
Teh terbaik untuk perempuan terbaik.
Aku makan keripik singkong itu sampai habis, tanpa merasakan rasanya.
Siang itu, tidak ada tiket laptop rusak.
Sore itu, tidak ada teh di mejaku.
Pukul enam, aku pulang tepat waktu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu. Aku tidak lewat ruang kaca finance. Aku tidak menoleh.
Pukul sembilan malam, ponselku bergetar.
Diana: Mas
Diana: Kamu pulang cepet
Dimas: Iya. Capek.
Diana: Kamu nggak mampir ke ruang kaca
Dimas: Mbak lagi banyak kerjaan.
Diana: Diana.
Dimas: ...Kamu lagi banyak kerjaan.
Diana: Mas. Ini soal teh dari Bastian ya?
Dimas: Nggak.
Diana: Kamu bilang nggak kayak lapor server down. Lagi. Ketiga kalinya.
Aku menatap pesan itu. Aku mengetik Saya nggak apa-apa, lalu menghapusnya. Aku mengetik Teh dia lebih bagus, lalu menghapusnya juga, karena kalimat itu terdengar terlalu menyedihkan bahkan untuk diriku sendiri.
Akhirnya aku mengetik:
Dimas: Teh saya dua puluh satu ribu.
Lama tidak ada balasan. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
Lalu:
Diana: Aku tahu. Aku yang beli kotaknya.
Diana: Teh mahal itu enak, Mas. Aku nggak bohong.
Diana: Tapi teh itu nggak diseduh sama kamu.
Diana: Nggak pakai timer HP kamu yang bunyinya kayak bebek.
Diana: Nggak ditaruh di gelas pantry yang tutupnya retak.
Diana: Dan nggak ada orang yang berdiri di pantry jam tujuh tiga puluh lima nungguin aku datang sambil pura-pura sibuk ngelap meja.
Diana: Itu yang aku suka. Bukan tehnya.
Aku membaca pesan-pesan itu. Sekali. Dua kali.
Dadaku terasa aneh. Sesak, tapi hangat. Seperti seseorang baru saja menyampirkan selimut di atasku dan memelukku sekaligus.
Dimas: Kamu lihat saya ngelap meja?
Diana: Tiap pagi. Dari pintu. Sebelum masuk. Aku berdiri sepuluh detik dulu buat lihat kamu ngelap meja yang udah bersih.
Diana: Itu bagian favoritku.
Diana: Besok jangan lupa. Aku punya rencana.
Dimas: Rencana apa?
Diana: Lihat aja.
Diana: Selamat malam, ikanku.
Selasa pagi, pukul tujuh tiga puluh lima, aku berdiri di pantry, mengelap meja yang sudah bersih.
Teh melati di gelas pantry. Timer di ponsel. Tiga menit. Bunyi alarmnya memang seperti bebek. Aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya.
Pukul tujuh empat puluh, langkah kaki di pintu. Aku tidak menoleh. Aku menghitung sampai sepuluh di dalam kepala.
Lalu aku menoleh.
Diana berdiri di ambang pintu pantry. Rok pensil hitam. Sepatu hak rendah. Rambut digerai, jatuh lembut di bahu.
Dan di atas blus putihnya, kebesaran dua nomor, lengannya digulung tiga kali, ritsleting dibuka setengah: hoodie abu-abu.
Hoodie abu-abu yang sudah pudar warnanya di bagian siku. Dengan logo kecil fakultas teknik sebuah universitas negeri di dada kiri. Dan di ujung lengan kanan, ada lubang kecil bekas solder, yang kudapat waktu praktikum elektronika semester empat.
Hoodie yang seharusnya tergantung di sandaran kursi lipat di ruang server. Tempat aku meninggalkannya minggu lalu karena AC terlalu dingin.
Di tubuh Diana, hoodie usang itu tidak terlihat usang lagi. Dia terlihat kecil di dalamnya, hangat, dan begitu cantik sampai pantry terasa terlalu terang.
“Pagi, Mas,” kata Diana.
Aku tidak bisa bicara.
Diana melangkah masuk, mengambil gelas teh dari tanganku, menyesapnya, lalu tersenyum di balik gelas.
“Tiga menit,” katanya. “Pas.”
“Itu...” Aku menunjuk hoodie itu dengan jari yang tidak terlalu stabil. “Itu...”
“AC ruang finance dingin banget hari ini.” Diana menarik tudung hoodie itu sedikit, menghirup kainnya dengan cara yang sama sekali tidak halus. “Untung aku nemu ini. Di ruang server. Nggak ada namanya, jadi aku pinjam.”
“Mbak... kamu mau pakai itu seharian? Di kantor?”
“Seharian.” Diana mengangguk serius. “Di depan semua orang. Termasuk di depan kotak kayu jati.”
Dia berbalik ke pintu. Di ambang pintu, dia menoleh, dan matanya berbinar dengan cara yang membuatku lupa bahwa kemarin aku makan sekantong keripik singkong tanpa merasakan rasanya.
“Itu jawabanku buat Bastian,” katanya pelan. “Dan buat kamu.”
Lantai dua belas menghabiskan hari Selasa dengan satu topik gosip.
Mbak Diana pakai hoodie.
Dewi Lantai 12, yang selama tiga tahun selalu memakai blazer dan blus rapi tanpa satu pun kerutan, duduk di ruang kaca finance memakai hoodie abu-abu pudar yang kebesaran, lengannya digulung, tudungnya kadang ditarik ke kepala saat dia sedang berpikir keras.
Dan dia terlihat lebih bahagia dari biasanya.
“Punya siapa itu?” bisik staf junior ke staf senior di depan printer, tidak sadar aku sedang mengganti toner di sebelah mereka.
“Nggak tahu. Kayak hoodie cowok.”
“Logonya fakultas teknik.”
“Teknik apa?”
“Nggak kelihatan dari sini.”
Di grup liga, Kevin mengirim foto buram dari kejauhan.
Kevin: DIANA PAKAI HOODIE COWOK
Kevin: LOGO FAKULTAS TEKNIK
Kevin: Ini petunjuk pria misterius!!!
Ucup: Anak teknik?? Bastian kan lulusan bisnis
Fajar: Aku lulusan sastra
Om Heru: Saya lulusan akuntansi
Rendy: gue desain
Kevin: Gue teknik tapi bukan hoodie gue!!!
Bastian: Dim. Lo lulusan mana?
Aku menatap pesan terakhir itu.
Di ruang kaca finance, Diana sedang menelepon klien. Hoodie abu-abu. Tudung setengah terpasang. Satu tangan menekan kalkulator. Kotak kayu jati di sudut mejanya sudah tertutup, rapi, belum dibuka lagi sejak kemarin.
Dan di samping keyboard-nya, gelas pantry dengan tutup retak. Teh melati dua puluh satu ribu.
Dimas: Saya lulusan teknik informatika. Hoodie fakultas saya warnanya biru dongker.
Itu tidak bohong. Hoodie fakultas resmiku memang biru dongker. Yang abu-abu itu hoodie himpunan mahasiswa, yang kubeli sendiri di semester dua.
Bastian: Oke.
Kevin: Jadi bukan wasit. Coret.
Kevin: Teknik apa ya... sipil? Mesin? Elektro?
Aku meletakkan ponsel.
Sasha, di meja sebelah, sedang menatap foto buram yang dikirim Kevin ke grup lain yang entah bagaimana sampai juga ke ponselnya. Dia memperbesar gambar itu. Memperbesar lagi. Sampai ke ujung lengan kanan hoodie itu.
Lubang kecil bekas solder.
Sasha menatap gambar itu lama. Lalu mematikan layar ponselnya, meletakkannya di meja dengan sangat pelan, dan kembali mengetik.
Dia tidak bilang apa-apa. Tapi ketikannya, sepanjang sisa hari itu, sangat pelan dan sangat sunyi.
Pukul lima sore, saat lantai dua belas mulai kosong, Diana lewat di depan meja IT dengan tas di bahu, hoodie abu-abu masih membungkus tubuhnya.
Dia tidak berhenti. Tidak menoleh. Hanya, saat melewati mejaku, ujung jarinya mengetuk sudut meja itu. Dua kali.
Tok. Tok.
Lalu dia berjalan ke lift dengan langkah anggun Dewi Lantai 12. Dalam hoodie himpunan mahasiswa teknik informatika, dengan lubang solder di lengan kanan.
Aku menatap punggungnya sampai pintu lift menutup.
UPDATE KLASEMEN — Minggu 7, Selasa
- 1. Bastian — 67 poin
- 2. Kevin — 23 poin
- 3. Om Heru — 15 poin
- 4. Rendy — 9 poin
- 5. Fajar — 2 poin
- 6. Ucup — 0 poin
Catatan wasit: aturan baru disahkan dewan (5–0), hadiah diterima +5. Bastian +5 (set teh keramik). Petunjuk pria misterius: hoodie abu-abu, logo fakultas teknik. Investigasi berlanjut.
Catatan wasit (pribadi): set teh keramik belum dibuka lagi sejak Senin. Gelas pantry tutup retak: dipakai dua kali hari ini.
Catatan Rahasia Diana
Hari ke-82. Kemarin aku nerima hadiah dua juta empat ratus ribu dan pacarku pulang cepat tanpa pamit. Dia kirim pesan “teh saya dua puluh satu ribu” dan aku hampir nangis di kasur. Bodoh. Dia nggak tahu aku berdiri sepuluh detik tiap pagi di pintu pantry cuma buat lihat dia ngelap meja yang udah bersih. Hari ini aku pakai hoodie-nya seharian. Wanginya kayak dia. Ada lubang kecil di lengannya. Aku nggak mau balikin. Mungkin nggak akan pernah.
- 1 Wasit yang Bukan Ancaman
- 2 Utang Jam Sebelas Malam
- 3 Wasit Ganteng: ?
- 4 Seblak di Ruang Server
- 5 Tips dari Wasit
- 6 Lift Macet
- 7 Tutup Buku
- 8 Klasemen Tandingan
- 9 Ngecas
- 10 Hujan di Rooftop
- 11 Akan Saya Tindak Lanjuti
- 12 Tiket Nomor Satu
- 13 Aku Punya Kamu
- 14 Hoodie Abu-abu reading
- 15 Enam Belas Derajat
- 16 Punyaku
- 17 Level Nol
- 18 Segitiga di Lengan Kiri
- 19 Biar Nggak Jatuh
- 20 Empat Belas Kali
- 21 Papan yang Dihapus
- 22 Laptop Rusak Tiap Jam
- 23 Laporan Audit Liga
- 24 Api Unggun di Lembang
- 25 Panggung Keberanian
- 26 Juara Abadi