← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Thirteen

Aku Punya Kamu

POV: Dimas

Hari pertama pacaran rahasia dimulai dengan rapat bulanan seluruh karyawan.

Rabu pagi, pukul sembilan, ruang serbaguna lantai tiga penuh. Seratus dua puluh kursi lipat berjejer menghadap layar besar. Direktur utama berdiri di podium membahas target kuartal empat dengan grafik yang naik turun seperti detak jantung.

Aku duduk di barisan paling belakang, di samping meja teknis, mengawasi proyektor dan mikrofon. Itu tempatku setiap rapat bulanan. Tidak ada yang memperhatikan orang IT di barisan belakang.

Diana duduk di barisan ketiga dari depan, bersama para kepala divisi. Blazer abu-abu. Rambut digelung rapi, memperlihatkan leher jenjang dan anting mutiara kecil. Punggung tegak. Dewi Lantai 12 dalam mode resmi, cantik dengan cara yang membuat dua kepala divisi di sebelahnya duduk lebih tegak dari biasanya.

Pukul sembilan lewat dua belas, ponselku bergetar.

Diana: Kamu di belakang ya

Diana: Aku bisa ngerasain

Aku menatap punggung Diana di barisan ketiga. Punggung itu tidak bergerak sedikit pun. Kepalanya menghadap podium dengan penuh perhatian. Tangannya di pangkuan, memegang pulpen dan buku catatan.

Lalu aku melihat buku catatan itu sedikit miring, dan di baliknya, ponsel.

Dimas: Mbak harusnya dengerin direktur.

Diana: Aku dengerin. Target Q4 naik 18%. Margin dijaga di 22%. Biaya operasional harus turun.

Diana: Aku bisa dengerin sambil kangen kamu. Aku perempuan, Mas. Kami multitasking.

Dimas: Kita ketemu tadi pagi di pantry.

Diana: Itu udah satu jam empat belas menit yang lalu.

Aku menunduk, menyembunyikan wajah di balik laptop teknis. Di sebelahku, Sasha melirik.

“Proyektornya aman?” bisik Sasha.

“Aman.”

“Terus kenapa muka lo kayak lagi nonton video kucing?”

Aku tidak menjawab. Ponselku bergetar lagi.

Diana: Mas

Diana: Aku boleh noleh nggak?

Dimas: Jangan.

Diana: Sekali aja

Dimas: Mbak duduk di barisan direksi. Kalau Mbak noleh ke belakang, seratus orang ikut noleh.

Diana: Hmm. Logis.

Diana: Oke aku nggak noleh.

Tiga menit berlalu. Direktur utama pindah ke slide tentang ekspansi pasar. Aku mulai bernapas lega.

Lalu Diana mengangkat tangan kirinya, perlahan, seolah sedang merapikan gelungan rambut. Jarinya menyentuh jepit di belakang kepalanya.

Jepit bintang.

Dan tepat di bawah jepit itu, di balik telinga kirinya, dengan jari telunjuk, dia mengetuk. Dua kali.

Tok. Tok.

Lalu tangannya turun lagi ke pangkuan. Punggungnya tetap tegak. Kepalanya tetap menghadap podium.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menyadarinya.

Kecuali satu orang di barisan paling belakang, yang tiba-tiba lupa cara mengoperasikan proyektor, sehingga slide direktur utama melompat dari halaman sembilan ke halaman dua puluh tiga.

“DIM,” desis Sasha.

“Maaf. Maaf.” Aku menekan tombol kembali dengan tangan gemetar.

Di podium, direktur utama berhenti, menatap layar, lalu tertawa. “Wah, IT kita sudah tidak sabar mau lihat proyeksi tahun depan, ya!”

Seluruh ruangan tertawa. Seratus dua puluh kepala menoleh ke barisan belakang.

Termasuk satu kepala di barisan ketiga. Satu-satunya yang tidak tertawa sopan. Yang tertawa sampai harus menutup mulut dengan buku catatan, matanya menyipit jadi dua bulan sabit, pipinya merah muda di bawah lampu ruang serbaguna.

Dia akhirnya menoleh juga. Dengan alasan yang sah.


Sisa hari Rabu berjalan dengan bahasa yang hanya dipahami dua orang.

Pukul sebelas, laptop Diana “rusak”. Tiket masuk ke sistem: Laptop tidak bisa membuka file Excel besar. Mohon dicek di ruang server, perlu akses jaringan khusus. Sasha membaca tiket itu, menatapku, lalu menatap langit-langit seperti orang yang sedang berdoa memohon kesabaran.

Di ruang server, laptop itu tidak rusak. Diana hanya duduk di kardus dengan bantal kuning dan menunggu aku duduk di sebelahnya.

“Lima menit,” kataku. “Saya beneran ada kerjaan.”

“Lima menit,” Diana setuju, lalu menyandarkan kepala ke bahuku. “Aku cuma mau ngecas.”

Lima menit menjadi sebelas menit.

Saat aku akhirnya berdiri, Diana menarik ujung flanelku, menahannya satu detik lagi, lalu melepaskannya sambil tersenyum seperti anak kecil yang baru saja diizinkan menambah es krim.

Pukul dua, ada gelas teh melati di mejaku. Bukan buatanku. Ada sticky note kuning di sampingnya: Gantian. Tiga menit. Aku pakai timer. Tehnya pahit, karena Diana ternyata menghitung tiga menit setelah mengangkat kantong, bukan sebelum. Aku meminumnya sampai habis, lalu melipat sticky note itu dan memasukkannya ke saku flanel, bersama sticky note lain yang sudah lebih dulu tinggal di sana.

Pukul empat, di pantry, kami berpapasan dengan Kevin. Diana tersenyum sopan. “Sore, Mas Kevin.” Aku mengangguk. “Sore, Mas.” Lalu saat Kevin berbalik ke dispenser, Diana mengetuk punggung tanganku dua kali dengan ujung jari, sangat cepat, dan keluar dari pantry tanpa menoleh.

Kevin berbalik. “Dim, lo kenapa? Kok merah?”

“Dispensernya panas.”

“Ini dispenser air dingin.”


Malam itu, Diana menelepon pukul sepuluh. Bukan pesan. Telepon.

Aku mengangkatnya di kamar kos, duduk di lantai bersandar ke kasur.

“Halo.”

“Halo.” Suara Diana pelan, sedikit serak, seperti orang yang sudah berbaring. “Kamu udah mau tidur?”

“Belum.”

“Aku juga belum.” Jeda. “Aku cuma mau dengar suaramu. Seharian kita ngomong pakai kode. Aku kangen dengar kamu ngomong kalimat lengkap.”

Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku bilang yang jujur.

“Hari ini saya salah klik proyektor gara-gara Mbak.”

“Diana.”

“...Gara-gara kamu.”

“Nah.” Bunyi bantal digeser. “Terus ‘saya’-nya kapan diganti? Kita pacaran loh, Mas. Bukan rapat vendor.”

“Saya... belum bisa.”

“Kenapa?”

“Lidah saya belum di-update.”

Diana tertawa pelan di telepon. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang memeluk bantal. “Aku lihat. Slide dua puluh tiga. Direktur sampai ketawa.”

“Itu nggak lucu.”

“Lucu banget, Mas.” Jeda lagi. Lebih lama. “Mas.”

“Iya.”

“Kita beneran pacaran, ya?”

Aku menatap langit-langit kamar. Ada noda air berbentuk pulau di sudutnya, yang sudah kutatap ribuan kali selama tiga tahun.

“Iya,” kataku. “Beneran.”

“Oke.” Suara Diana mengecil, hangat. “Aku cuma mau mastiin. Soalnya hari ini rasanya kayak mimpi, terus aku takut besok bangun dan kamu masih manggil aku Mbak.”

“Saya tetap panggil Mbak di kantor.”

“Itu beda. Itu akting.” Diana menguap. “Kalau berdua, kamu panggil aku apa?”

“Diana.”

“Hm.” Bunyi seprai bergeser. “Lagi.”

“Diana.”

“Selamat malam, Mas Wasit.”

“Selamat malam, Diana.”

Aku tidak langsung menutup telepon. Diana juga tidak. Kami mendengarkan napas satu sama lain selama hampir satu menit, sampai Diana berbisik, “Kamu tutup duluan.”

“Kamu.”

“Kamu.”

Ini konyol, pikirku. Ini sangat konyol. Aku dua puluh delapan tahun.

Aku tidak menutup telepon. Akhirnya Diana tertidur di ujung sana, dan aku mendengarkan napasnya yang teratur selama lima menit lagi sebelum menekan tombol merah dengan sangat pelan.


Jumat sore, rapat evaluasi liga di warung Mang Udin.

Agenda pertama: laporan investigasi pria misterius.

“Wasit,” kata Bastian, menyilangkan tangan. “Laporan.”

Aku meletakkan cangkir kopi tubruk. Aku sudah menyiapkan kalimat ini sejak pagi. “Investigasi sedang berjalan. Belum ada temuan yang bisa dikonfirmasi.”

“Belum ada sama sekali?” tanya Ucup.

“Belum.”

Kevin mengangkat tangan. “Aku punya data.” Dia memutar laptopnya. Di layar ada daftar berjudul Tersangka Pria Misterius — Analisis Probabilitas.

1. Om Heru (rendang, kedekatan emosional) — 8%

2. Direktur Keuangan (atasan langsung, sering rapat berdua) — 12%

3. Mas-mas ojol langganan (sering antar Diana pagi) — 15%

4. Pak Joko (akses ke semua ruangan, info tingkat tinggi) — 3%

5. Orang luar kantor — 62%

“Pak Joko?” Fajar menatap layar dengan ngeri.

“Dia punya akses dan informasi,” kata Kevin serius. “Secara teori, dia kandidat kuat.”

Om Heru menepuk dada. “Saya delapan persen? Itu cukup tinggi untuk usia saya.”

Aku menatap daftar itu. Namaku tidak ada di sana. Tentu saja tidak. Aku wasit. Aku bukan ancaman.

Untuk pertama kalinya, frasa itu tidak terasa menyakitkan. Terasa seperti tempat persembunyian terbaik di dunia.

“Kesimpulan sementara,” kata Kevin, “kemungkinan besar orang luar kantor. Pacar dari kampus, mungkin. Atau mantan.”

Bastian mengetuk meja dengan jari. “Atau seseorang yang selalu ada di dekat dia, tapi nggak pernah kita curigai.”

Meja menjadi hening.

Bastian tidak menatapku. Dia menatap kopi di cangkirnya. Tapi kalimat itu menggantung di udara seperti asap.

“Oke.” Bastian menegakkan punggung. “Agenda kedua. Klasemen. Dim, bacain.”

Aku membuka ponsel, membuka catatan klasemen minggu ini, dan mulai membaca. “Posisi satu, Bastian, enam puluh dua poin. Posisi dua, Kevin...”

Ponselku bergetar di tengah kalimat.

Notifikasi muncul di bagian atas layar, tepat di atas angka klasemen yang sedang kubaca. Pesan dari kontak yang kusimpan dengan nama Finance (Laporan).

Isinya hanya satu stiker.

Stiker kucing putih memeluk ikan besar, dengan tulisan melengkung di atasnya:

AKU PUNYA KAMU.

Aku berhenti membaca.

Lalu aku tersedak. Bukan karena kopi. Karena udara.

“Dim? Lo kenapa?” Kevin menepuk punggungku.

“Nggak... nggak apa-apa.” Aku terbatuk, menutup notifikasi secepat kilat. “Keselek.”

“Keselek apa? Lo nggak lagi minum.”

“Keselek... angin.”

Fajar mengangguk penuh pengertian. “Angin Jumat sore memang kencang.”

Ponselku bergetar lagi. Aku tidak mau membukanya. Aku tahu aku tidak boleh membukanya. Aku membukanya.

Finance (Laporan): Lihat ke kiri

Finance (Laporan): Jangan kelihatan

Aku melirik ke kiri, ke dinding triplek yang memisahkan warung Mang Udin dari tempat fotokopi.

Ada celah kecil di antara dua papan triplek, setinggi mata. Dan di balik celah itu, sebuah mata cokelat terang dengan bulu mata lentik mengedip padaku.

Lalu celah itu tertutup oleh secarik sticky note kuning. Ditempel dari sisi fotokopi. Di atasnya, tulisan bulat yang sudah kuhafal:

Klasemenku: kamu juara.

Aku menunduk ke cangkir kopi dan menahan senyum dengan seluruh otot wajahku.

“Dim,” kata Bastian pelan. “Lanjutin klasemennya.”

“Iya.” Aku berdeham. “Posisi dua, Kevin, dua puluh tiga poin.”

Aku melanjutkan membaca. Suaraku stabil. Wajahku datar.

Tapi saat aku mengangkat kepala setelah selesai, Bastian sedang menatapku. Bukan menatap wajahku.

Menatap kupingku.

“Lo chat sama siapa, Dim?” tanya Bastian ringan. “Dari tadi senyum ke HP.”

“Adik saya,” kataku. “Nisa. Dia kirim stiker.”

“Stiker apa?”

“Kucing.”

Bastian mengangguk pelan, menyesap kopinya. “Adik lo lucu ya.”

“...Iya, Mas.”

Di balik dinding triplek, terdengar suara mesin fotokopi berhenti. Lalu langkah sepatu hak tinggi menjauh, berirama, anggun, dan sangat puas dengan dirinya sendiri.


Malam itu, Bastian mengirim pesan ke grup.

Bastian: Aku belum nyerah.

Bastian: Diana bilang aku cuma bisa jadi teman. Oke. Tapi teman juga bisa nunjukin keseriusan.

Bastian: Senin aku bawa sesuatu. Sesuatu yang dia suka.

Kevin: Apa?

Bastian: Lihat aja nanti.

Aku membaca pesan itu di kasur, lalu membuka chat lain.

Dimas: Mas Bastian bilang Senin mau bawa sesuatu buat kamu.

Diana: Oh ya?

Diana: Kamu khawatir?

Dimas: Nggak.

Diana: Kamu bilang “nggak” kayak lagi lapor server down lagi.

Diana: Mas. Aku punya kamu. Udah aku kirim stikernya. Ada kucing sama ikannya. Itu kontrak resmi.

Dimas: Saya ikannya?

Diana: Kamu ikannya.

Diana: Dipeluk erat, nggak boleh kabur.

Aku menatap layar sampai meredup sendiri. Lalu aku menyimpan stiker kucing dan ikan itu ke galeri, di folder yang kunamai Dokumentasi Sistem, supaya tidak ada yang curiga.

Di folder itu, sejauh ini, ada satu file.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 6, Jumat

  • 1. Bastian — 62 poin
  • 2. Kevin — 23 poin
  • 3. Om Heru — 15 poin
  • 4. Rendy — 9 poin
  • 5. Fajar — 2 poin
  • 6. Ucup — 0 poin

Catatan wasit: Bastian +3, Kevin +3, Om Heru +3. Insiden proyektor rapat bulanan: kesalahan teknis wasit, tidak berkaitan dengan liga.

Daftar tersangka pria misterius versi Kevin: diterima sebagai dokumen kerja. Wasit tidak ada di daftar. Wasit tidak keberatan.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-78. Tiga hari pacaran. Aku ngetuk jepit rambut di depan seratus dua puluh orang dan dia bikin slide direktur lompat empat belas halaman. Aku kirim stiker kucing pas dia baca klasemen, terus ngintip dari celah triplek tempat fotokopi. Abang fotokopinya bingung kenapa aku fotokopi satu lembar kosong dua puluh kali. Aku nggak peduli. Telepon semalam aku ketiduran. Katanya dia dengerin aku napas lima menit. Lima menit! Siapa yang ngelakuin itu? Pacarku. Pacarku yang ngelakuin itu.