← Klasemen Liga Mbak Diana

Chapter Twenty

Empat Belas Kali

POV: Diana

Nisa Aditya datang ke Jakarta hari Sabtu pukul sembilan pagi, dengan ransel besar, kardus berisi oleh-oleh keripik dari Bandung, dan satu misi yang dia umumkan bahkan sebelum turun dari kereta.

Aku tahu soal misi itu karena Mas Dimas meneruskan tangkapan layar chat adiknya padaku pukul sembilan lewat dua menit, dengan satu kata di bawahnya: Maaf.

Nisa: Kak, aku udah di Gambir.

Nisa: Aku mau ketemu kakak cantik martabak.

Nisa: Hari ini.

Nisa: Kalau nggak, aku pulang ke Bandung terus bilang ke Bu Neng Kakak masih jomblo.

Dimas: Bu Neng udah tahu.

Nisa: APA. BU NENG TAHU DULUAN DARI AKU??

Nisa: Aku adikmu satu-satunya, Kak. Ini pengkhianatan.

Kebohongan yang dia ucapkan ke Clara hampir dua minggu lalu, adik saya ke Jakarta, sekarang menjadi kenyataan.

Bedanya, kali ini aku sudah menunggu di food court mal dekat Gambir pukul sepuluh, duduk di meja dekat jendela, dengan rambut digerai, kemeja putih kasual, dan kegugupan yang tidak bisa kusembunyikan. Aku sudah ganti baju tiga kali sebelum berangkat. Lipstik dua kali.

“Mas,” kataku waktu dia datang lebih dulu untuk memesan minum. “Aku pakai baju yang bener, kan?”

“Bener.”

“Nggak terlalu formal?”

“Nggak.”

“Nggak terlalu santai?”

“Diana. Dia sembilan belas tahun. Dia pakai sandal jepit ke kampus.”

“Justru itu! Aku nggak mau kelihatan kayak tante-tante!”

Dia menatapku. Aku tahu apa yang dia lihat: Finance Lead yang tenang di depan direksi, yang bisa membuat vendor Surabaya menurunkan harga lima belas persen dalam satu telepon, sekarang memilin ujung kemeja putihnya dengan cemas di food court.

Dia mengulurkan tangan dan mengetuk punggung tanganku. Dua kali.

Aku menatap tanganku. Napasku melambat sedikit.

“Oke,” bisikku. “Oke.”


Nisa datang seperti badai kecil.

Dia muncul di pintu food court dengan ransel di punggung dan kardus di tangan, mengedarkan pandangan, menemukan kakaknya, lalu menemukanku di sebelahnya. Dia berhenti di tempat.

Matanya membulat. Mata yang sama persis dengan mata kakaknya, hanya jauh lebih berisik.

Lalu dia menjatuhkan kardus keripiknya, berjalan cepat ke meja, dan berdiri di depanku dengan mulut terbuka.

“Kakak,” katanya ke kakaknya, tanpa melepas pandangan dariku. “Ini beneran? Aslinya lebih cantik dari yang di foto kantor yang aku stalking.”

“Nis, sopan...”

“Kakak cantik martabak?” tanya Nisa padaku langsung.

Aku berdiri, gugup, mengulurkan tangan. “Halo, Nisa. Aku Diana. Iya, yang martabak.”

Nisa menatap tangan itu. Lalu, alih-alih menjabatnya, dia memelukku. Erat. Langsung. Seperti sudah kenal bertahun-tahun.

“Makasih udah mau sama kakakku,” katanya di bahuku, cukup keras untuk didengar tiga meja di sekitar kami. “Aku pikir dia bakal jomblo sampai umur empat puluh terus pelihara kucing.”

Aku tertawa, kaget, lalu memeluk balik. Di atas bahu Nisa, mataku bertemu mata Mas Dimas. Dan aku melihat sesuatu di mata itu yang membuat dadaku hangat. Lega. Dia lega. Seolah selama ini dia takut dua orang paling penting dalam hidupnya tidak akan saling suka.

“Kakakmu nggak suka kucing?” tanyaku.

“Suka! Itu masalahnya!” Nisa melepaskan pelukan, duduk, dan langsung menarik kursi lebih dekat padaku. “Kak Diana, aku mau nanya banyak. Boleh?”

“Boleh.”

“Kakakku pertama kali ngajak ngobrol Kakak gimana? Pasti kaku banget, kan? Dia pasti ngomong kayak robot.”

“Dia bilang ‘Baik, Mbak. Akan saya tindak lanjuti.’”

Nisa memukul meja sambil tertawa. “ITU! Itu kalimatnya kalau panik! Dari SMA! Dia pernah bilang gitu ke guru BK!”

“Nis,” kata kakaknya.

“Diem, Kak. Aku lagi interview.”


Dua jam berikutnya, Mas Dimas menjadi penonton di hidupnya sendiri.

Nisa menceritakan semua aib kakaknya, satu per satu, dengan detail yang mengerikan. Bahwa dia pernah tidur di halte bus karena ketiduran pulang lembur. Bahwa dia menangis waktu nonton film animasi tentang robot yang membersihkan bumi. Bahwa dia pernah memperbaiki kulkas tetangga jam dua pagi karena tetangganya menangis takut dagingnya basi.

Aku mendengarkan semuanya dan tertawa, dan setiap beberapa menit aku menoleh padanya. Dia duduk di seberang dengan es teh dan kuping merah, pasrah, tidak membela diri sedikit pun. Aku tahu tatapanku terlalu lembut untuk food court yang penuh orang. Aku tidak peduli.

Lalu Nisa mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto-foto lama.

Dia kecil, delapan tahun, dengan gigi depan ompong dan kaus kebesaran, menggendong bayi Nisa yang menangis. Dia SMA, berseragam, berdiri di samping ibu mereka yang tersenyum lebar di depan rumah kecil berpagar hijau. Dia kuliah, kurus, rambut berantakan, duduk di depan komputer tua dengan layar penuh kode.

Aku berhenti di satu foto.

Dia, dua puluh satu tahun, memakai kemeja hitam. Berdiri di samping dua nisan yang masih baru, dengan bunga tabur yang belum layu. Di sampingnya, Nisa tiga belas tahun, menempel di lengannya, wajah sembab.

Food court mendadak terasa sangat sunyi.

“Itu waktu Ayah sama Ibu,” kata Nisa pelan. Untuk pertama kalinya sejak datang, suaranya tidak ceria. “Kecelakaan bus. Pulang dari kondangan di Garut.”

Aku tidak berkata apa-apa. Tanganku menyentuh layar ponsel Nisa, di bagian wajahnya yang masih muda. Bahunya di foto itu terlihat terlalu sempit.

“Kakak waktu itu semester lima,” lanjut Nisa. “Dia bisa aja berhenti kuliah. Banyak yang nyuruh. Tapi dia nggak. Dia kerja sambilan benerin komputer warnet, ngajar les, jualan pulsa. Dia lulus. Terus dia nyekolahin aku.” Nisa menatap kakaknya di seberang meja. “Dia nggak pernah punya apa-apa buat dirinya sendiri, Kak Diana. Nggak pernah. HP-nya bekas. Motornya bekas. Bajunya flanel itu-itu aja. Semua uangnya buat aku.”

“Nis,” katanya pelan.

“Aku cuma mau Kak Diana tahu.” Nisa menatapku dengan mata yang mulai basah. “Kakakku itu nggak pinter ngomong. Tapi dia orang paling baik yang aku kenal. Jadi tolong jangan sakitin dia, ya, Kak.”

Aku menatap Nisa. Lalu menatap kakaknya, yang sedang menunduk ke gelas es teh dengan kuping merah dan mata yang tidak berani dia angkat.

Aku meraih tangan Nisa di atas meja dan menggenggamnya.

“Aku janji,” kataku.

Lalu, dengan tangan satunya, di bawah meja, aku meraih tangannya dan menggenggamnya juga.


Nisa menginap di kosnya selama akhir pekan. Dia akan tidur di karpet, Nisa mengambil alih kasur.

Sore itu, aku ikut ke kos. Atas undangan Nisa, yang memaksa dengan alasan Kak Diana harus lihat kamar Kakak supaya tahu betapa menyedihkannya hidup Kakak sebelum ada Kak Diana.

Kamar kos itu berukuran tiga kali empat meter. Kasur single di sudut. Meja kayu dengan laptop dan dua monitor bekas. Rak buku berisi buku pemrograman, buku resep masakan rumahan, dan satu album foto keluarga. Lemari kecil. Kipas angin. Jendela yang menghadap tembok kos sebelah.

Dan di dinding di atas meja, ditempel dengan selotip, satu sticky note kuning.

Tulisannya bulat. Lengkungan kecil di ujung huruf g. Tulisanku.

Jangan lupa makan, Mas.

Aku berhenti di depan meja, menatap sticky note itu.

“Itu dari kotak bekal,” katanya di belakangku. “Telur dadar.”

“Kamu tempel di dinding?”

“Di atas meja. Biar kelihatan tiap malam kalau lagi ngoding.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangkat tangan dan menyentuh sticky note itu dengan ujung jari. Pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.

Di belakang kami, Nisa berdeham sangat keras. “Aku mau beli gorengan dulu. Lima belas menit. Kak, jangan macem-macem. Pintunya jangan ditutup.”

Dia keluar dan, dengan sengaja, membiarkan pintu terbuka lebar.


Dia membuat wedang jahe di dapur bersama di ujung lorong kos. Aku duduk di kursi meja kerjanya, memutar-mutar kursi itu pelan, menatap kamar kecil itu seolah sedang menghafalnya. Kipas angin yang berderit. Kaus yang dilipat terlalu rapi. Wangi sabun cuci yang sama dengan wangi flanel yang kupakai tidur.

Ponselnya tergeletak di meja, di samping laptop. Layarnya menyala karena ada notifikasi masuk. Tidak terkunci. Dia memang jarang mengunci ponsel di kamar sendiri.

Notifikasi itu dari grup liga. Kevin mengirim stiker. Aku tidak berniat membacanya.

Tapi di balik notifikasi itu, aplikasi yang sedang terbuka di layar adalah aplikasi catatan. Dan judul catatan yang terbuka, dengan huruf tebal di bagian atas, adalah:

Klasemen Pribadi Wasit

Aku menatap judul itu. Aku tahu aku tidak boleh membacanya. Itu privasi. Diskualifikasi. Aturan nomor satu.

Aku membacanya.


Klasemen Pribadi Wasit

Senin minggu 1: Mbak Diana bilang flanel saya Senin ketiga berturut-turut. Dia menghitung. Saya juga mulai menghitung.

Selasa minggu 1: jari kami bersentuhan di gelas kopi. 1 detik.

Kamis minggu 1: lokasi Mbak Diana setelah kantin diketahui. Ruang server. Seblak level 5. Dia tertawa jelek. Paling bagus.

Jumat minggu 1: puisi Fajar berhasil. Tergantung siapa yang bacain.

Kamis minggu 3: dia tidur di bahu saya. 43 menit. Saya tidak bergerak. Dia ngiler. Saya tidak cuci kausnya.

Senin minggu 4: saya bilang dia cantik kalau marah. Dia tidak bisa bicara 7 menit. Rara yang menghitung.

Jumat minggu 5: rooftop. Hujan. Tidak dihitung. Tidak akan pernah dihitung.

Selasa minggu 6: pacar: 1.

Teh tiga menit: seumur hidup.

Rabu minggu 7: ruang server, 13.24. Saya yang mulai.

Selasa minggu enam. Siang itu, di ruang server, waktu aku kembali mengambil bantal dan dia buru-buru mengunci layar ponselnya sambil tersenyum sendirian. Jadi ini yang dia ketik.

Dan di bagian paling bawah, entri terbaru. Bertanggal kemarin.

Jumat minggu 9. Diana senyum hari ini: 14 kali.

Pagi di pantry: 2. Waktu lihat sticky note jahe: 1. Di rapat anggaran waktu direktur salah sebut angka: 1 (ditahan, tapi kelihatan). Makan siang ruang server: 5. Waktu saya kepedesan martabak isi cokelat (bukan pedas, saya keselek): 3. Di lift, waktu saya bilang “hati-hati” sebelum dia keluar: 1. Waktu pulang, dari jendela taksi: 1.

Target besok: 15.


Aku menatap layar itu sampai notifikasi baru masuk dan layarnya meredup sendiri.

Aku tidak menyadari aku menangis sampai setetes air jatuh ke punggung tanganku.

“Diana?”

Dia berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir wedang jahe di tangan. Dia menatapku, lalu menatap ponselnya di meja, lalu kembali menatapku.

Wajahnya berubah dari bingung ke horor dalam waktu satu detik.

“Kamu... baca...”

“Empat belas kali,” kataku. Suaraku bergetar. “Kamu ngitung aku senyum empat belas kali.”

Dia meletakkan dua cangkir jahe di atas rak buku dengan tangan yang tidak terlalu stabil. “Itu... itu catatan pribadi. Itu nggak seharusnya...”

“Pagi di pantry dua.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan, tapi air mataku terus keluar. “Di lift waktu kamu bilang hati-hati, satu. Dari jendela taksi, satu. Kamu lihat aku dari jendela taksi?”

“Saya... nganter kamu sampai lobi. Kamu noleh.”

“Dan kamu hitung.”

“...Iya.”

“Target besok lima belas.”

Dia menunduk. Kupingnya merah menyala. “Aku mau bikin kamu senyum lebih banyak. Tiap hari. Satu lagi.”

Aku berdiri dari kursi. Aku melangkah ke depannya di kamar tiga kali empat meter itu, dengan pintu yang terbuka lebar dan suara tetangga kos menonton TV di kamar sebelah.

Aku tidak menciumnya. Aku tidak memeluknya.

Aku mengambil ponselnya dari meja, membuka catatan itu lagi, dan mulai mengetik di bagian paling bawah.

Dia menatapku, bingung.

Aku selesai mengetik. Lalu menyerahkan ponsel itu kembali ke tangannya.

Di bawah entri Target besok: 15, ada satu baris baru. Diketik dengan huruf yang sedikit acak karena jariku gemetar.

Sabtu minggu 9. Diana sayang Dimas: tak terhingga. (Diinput oleh pihak terkait. Tidak bisa diaudit.)

Dia membaca baris itu.

Lalu membacanya lagi.

Lalu dia mengangkat kepala, menatapku yang berdiri di depannya dengan mata merah dan pipi basah dan senyum yang kecil, gemetar, dan sangat jujur.

“Itu senyum ke berapa?” bisikku.

Dia menatap senyum itu. Dia menelan ludah.

“Satu,” katanya pelan. “Hari baru. Satu.”

Aku tertawa basah. “Target hari ini?”

“Lima belas.”

“Masih kurang empat belas.”

“Aku tahu.” Dia meletakkan ponselnya di meja, mengulurkan tangan, dan menyeka air mata di pipiku dengan ibu jarinya. “Aku punya waktu sampai tengah malam.”


Dari balik bahunya, lewat pintu yang terbuka, aku melihat Nisa di ujung lorong kos.

Dia berdiri dengan kantong gorengan di tangan, bersandar ke dinding, tidak masuk. Dia sedang menatap ponselnya, dan bibirnya bergerak, berbisik pada sesuatu di layar. Lalu dia mengusap matanya dengan punggung tangan, memasang wajah ceria, dan berjalan masuk dengan suara keras.

“GORENGAN DATANG! Kak Diana, kenapa nangis? Kakakku ngapain? Kak, kamu ngapain?!”

Aku baru tahu apa yang dia bisikkan malam itu, pukul sebelas, saat ponselku bergetar di kasur apartemen.

Nisa: Kak Diana, ini Nisa. Nomornya aku ambil dari HP Kakak, jangan bilang-bilang.

Nisa: Tadi di lorong aku buka foto Ibu yang di makam itu.

Nisa: Terus aku bilang ke Ibu: Bu, Kakak udah ada yang ngitungin senyumnya.

Nisa: Makasih ya, Kak.

Aku memeluk flanel bersegitiga di lengan kiri itu sampai pagi.


UPDATE KLASEMEN — Minggu 9, Sabtu

Tidak ada update. Akhir pekan.

Catatan grup (dicatat wasit sesuai aturan transparansi): Fajar mengirim puisi baru berjudul “Sabtu Tanpa Dewi” ke grup pukul 21.14. Kevin bilang puisinya bagus. Rendy bilang Kevin aneh sejak nonton bioskop. Kevin tidak membalas.


Catatan Rahasia Diana

Hari ke-100. Seratus hari aku naksir dia. Dan hari ini aku ketemu Nisa. Dia meluk aku sebelum kenalan, cerita semua aib kakaknya, terus nunjukin foto yang bikin aku pengen meluk Mas Dimas sampai dia sesak napas. Dia nggak pernah punya apa-apa buat dirinya sendiri, kata Nisa.

Lalu aku nemu catatannya. Klasemen pribadi wasit. Dia nyatet semuanya. Jari yang nyentuh satu detik. Ngiler di bahu. Tujuh menit nggak bisa ngomong. Senyumku empat belas kali kemarin, termasuk dari jendela taksi. Target hari ini lima belas.

Aku nangis di kamar kosnya. Terus aku nulis di catatannya. Tak terhingga. Nggak bisa diaudit.

Sampai jam dua belas malam tadi, aku senyum enam belas kali. Dia ngitung. Dia lewat target. Katanya besok targetnya tujuh belas.